
Hem… sorry kalau judul review ini jadi personal
banget.. tapi begitulah yang terlintas dalam otakku sesaat setelah Film
yang ditonton tidak lebih dari 7 orang di Studio 3 21 Amplaz itu
selesai. Film ini perempuan banget dan Indonesia
banget. Film ini terasa “perempuan
banget” dan seperti ditujukan kepada laki-laki egois dengan idealismen
dan cita-citanya. Hem….memang Film itu tidak menyebut satukatapun kata
egois.. ..kata ini ku ingat terlontar dari Atin, temanku ketika berbicara dengan seorang teman laki-lakinya ”yg relawan bencana alam” ketika laki-laki itu berada di titik kritis antara cintanya, idealismenya, dan karirinya.
Film
ini menceritakan tentang dua orang laki-laki yang ingin menebus
kesalahan masa lalunya. Satunya bernama Antares (Yama Charlos) seorang sutradara Film Dokumenter yang kata
Bos-nya (Tio Pakusadewo) bisa hidup dalam kemewahan, masih bisa membaca
sastra, sambil tetap mengembangkan empati kemanusiaannya. Laki-laki
yang lain bernama Ganang (Lukman Sardi), seorang beretnis jawa, bos
usaha Laundry di Jogja yang siap berangkat Umroh.
Antares merasa berhutang ketika May (Jenny Chang) seorang gadis beretnis Tionghoa karena pada tahun 98 dia yang sedang membuat dokumenter aksi Mahasiswa
98 harus meninggalkan kekasihnya itu sehingga May ikut menjadi bagian
dari tragedi 13 mei 2008. Dia diperkosa perusuh dan kemudian ditolong
seorang warga ekspatriat dan kemudian hidup di Malaysia sebagai penyayi
club. Sedangkan Ganang merasa berhutang kepada Ibu May yang ketika
terjadi kerusuhan Mei 98 di Jakarta Ganang memanfaatkan keadaan menukar
tiket pesawatnya dengan sertifikat rumah Ibu May yang juga butuh
meninggalkan Jakarta dan pindah ke Malaysia.
Keterangan waktu yang dipakai Film ini adalah peristiwa Reformasi tahun 98 dan Kata-Kata
yang menyiratkan bahwa kejadian yg lain terjadi sepuluh tahun kemudian
(tahun ini…..2008). Dan walaupun selalu dikatakan dalam berbagai
berita bahwa Film ini bukan Film Politik, namun sepertinya Film ini
berhasil menjadi alat pengingat kita, warga negara Indonesia, bahwa
bangsa kita telah berlaku tidak adil kepada saudara-saudara korban kerusuhan Mei 98 dengan tidak melakukan apa-apa padahal hingga sekarang tidak ada tindakan hukum yang dilakukan.
Film
ini menjadi drama yang cukup menarik ketika mengetengahkan paradok yang
terjadi ketika Antares yang idealis dan humanis (walaupun kurang
kelihatan kecuali dari perkataan Tio Pakusadewo) harus menginkari janji
menjemput kekasihnya beberapa jam yang kemudian membuat malapetakan
yang selaam sepuluh tahun menghantui dia. Tergambar paradoks juga
seorang Ganang yang hidup berkecukupan, akan naik haji ternyata
menggunakan rizki yang ’tidak jelas’ karena memanfaatkan keadaan dengan
’memeras’ para pengungsi yang tidak punya daya tawar. Ditampilkan juga
para paradoks seorang Istri Ganang yang ’matre’ dan suka pamer ternyata
seorang yang cukup religius dan terus meneru smengingatkan harus
menacari uang yang halal dan mendukung upaya suaminya untuk jatuh
miskin lagi asal bisa membayar hutang masa lalunya. (Karena Ganang
tidak pernah bercerita sebelumnya). Dan paradok lain adalah terjadi
pada May…dimana dia diceritakan selama sepuluh tahun mendendam kepada
Antares, pemerkosa dan dirinya. Dia menolak upaya Antares kembali ke
kehidupannya dia karena kesalahan Antares juga karena dia merasa sudah
kotor setelah pemerkosaan itu. Paradok-paradoks ini terjalin dalam
rangkaian cerita maju mundur yang cukup bisa diikuti. Paradok lain juga
tampil secara verbal dalam kata-kata ustadz penceramah selamatan
keberangkatan Umroh Ganang dan Istri
yang mengatakan bahwa keberhasilan Ganang dari pelayan Hotel menjadi
Bos Laundry itu adalah wujud Reformasi….( lelucon getir yang cerdas).
Paradoks juga terlontar ketika orang-orang Tionghoa yang terusir itu
ketika diminta mengungsi mengatakan bahwa mereka sudah tinggal di tanah
itu sejak nenk moyang mereka selama 200 tahun. (Sebuah
penegasan bahwa mereka bukanlah orang asing lagi di negeri ini). Ada
juga perkataan Tio Pakusadewo yang memerankan seorang batak…. dia
marah ketika berkali kali dipanggil Mas dan protes " Pangil Mas….!
… Memangnya se- Indonesia ini semua Orang Jawa…!!" (Kritik lagi
terhadap kesadaran multikultural kita…)
Akting Jenny Chan yang harus
banyak menangis dan ”lipsing” menyanyi di kafe cukup bagus, walaupun
menurutku masih kaku juga. Akting Yama Charlos di Film ini malah mirip
Fuazy Baadilah. Tidak banyak ngomong….namun cukup kaku juga. Yah..
mereka cukup bagus ketika menggambarkan cerita ketika mereka pacaran,
namun ketika muka menjadi murung dan
menggambarkan seorang ’psyico’ sepertinya masih kurang mengena. Namun
akting Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Tuty Kirana, Niniek L. Kariem, dan
Ira Irawan cukup membuat Film ini enak ditonton.
Penggambaran
tempat dimana cerita ini berlangsung masih kurang mengeena.
Penggambaran Kuala Lumpur, Jakarta dan Jogja masih butuh penegasan
sebenarnya . Walaupun menara petronas, kata-kata Jalan Gadjah Mada
Terbakar (mungkin di sekitar Klender kampung pecinan ini… cuman aku
gak ngerti persis apakah disana ada kampung pecinan) dan Candi Plaosan
yang terlihat dari rumah Ganang adalah upaya-upaya untuk menunjukkan
setting tempat cerita ini. (Pengambilan Candi Plaosan mengingatkan
cerita Opera Jawa dimana rumah Siti menghadap Candi Plaosan yg seakan
di tengah sawah).
Sempat
di akhir cerita aku ingin tidak Happy Ending…. Dimana mungkin tidak
perlulah semua harus berakhir bahagia.. sehingga semua berkumpul
(seperti acara Ria Jenaka TVRI jaman dulu he.he.). Namun mungkin
sebagai empati kepada kawan-kawan korban kerusuhan Mei 98, perlulah
Film ini berakhir bahagia sehingga akhirnya mereka bisa pulang ke Jakarta dan dua pria bersalah itu bisa membayar hutangnya.
Akhirnya….
Seharusnya tanpa bermaksud merendahkan Film Ayat –Ayat Cinta, Presiden,
Wapres, menteri-menteri, Jaksa-jaksa dan politisi kita menonton Film
ini. Kalau selesai menonton mereka tidak menangis.. berarti tangisan
ketika nonton AAC kemarin hanyalah tangisan para buaya…., apalagi
kalau hatinya tidak tergerak untuk menuntaskan kasus kerusuhan Mei
98….. bisa menjadi penegasan bahwa mereka bagian dari kerusuhan
itu…. (SBY waktu itu bawahan Wiranto, sebagai Asospol Mabes ABRI).
Wallahu alam….





