15
Jun

May: FIlm untuk Laki-Laki Egois

May_the_movie_2
Hem… sorry kalau judul review ini jadi personal
banget.. tapi begitulah yang terlintas dalam otakku sesaat setelah Film
yang ditonton tidak lebih dari 7 orang di Studio 3 21 Amplaz itu
selesai. Film ini perempuan banget dan Indonesia

banget. Film ini terasa “perempuan
banget” dan seperti ditujukan kepada laki-laki egois dengan idealismen
dan cita-citanya. Hem….memang Film itu tidak menyebut satukatapun kata
egois.. ..kata ini ku ingat terlontar dari Atin, temanku ketika berbicara dengan seorang teman laki-lakinya ”yg relawan bencana alam”  ketika laki-laki itu berada di titik kritis antara cintanya, idealismenya, dan karirinya.    

Film
ini menceritakan tentang dua orang laki-laki yang ingin menebus
kesalahan masa lalunya. Satunya bernama Antares (Yama Charlos) seorang sutradara Film Dokumenter yang kata
Bos-nya (Tio Pakusadewo) bisa hidup dalam kemewahan, masih bisa membaca
sastra, sambil tetap mengembangkan empati kemanusiaannya. Laki-laki
yang lain bernama Ganang (Lukman Sardi), seorang beretnis jawa, bos
usaha Laundry di Jogja yang siap berangkat Umroh.

Antares merasa berhutang ketika May (Jenny Chang) seorang gadis beretnis Tionghoa  karena pada tahun 98 dia yang sedang membuat dokumenter aksi Mahasiswa
98 harus meninggalkan kekasihnya itu sehingga May ikut menjadi bagian
dari tragedi 13 mei 2008. Dia diperkosa perusuh dan kemudian ditolong
seorang warga ekspatriat dan kemudian hidup di Malaysia sebagai penyayi
club. Sedangkan Ganang merasa berhutang kepada Ibu May yang ketika
terjadi kerusuhan Mei 98 di Jakarta Ganang memanfaatkan keadaan menukar
tiket pesawatnya dengan sertifikat rumah Ibu May yang juga butuh
meninggalkan Jakarta dan pindah ke Malaysia.

Keterangan waktu yang dipakai Film ini adalah peristiwa Reformasi tahun 98 dan Kata-Kata
yang menyiratkan bahwa kejadian yg lain terjadi sepuluh tahun kemudian
(tahun ini…..2008). Dan walaupun selalu dikatakan dalam berbagai
berita bahwa Film ini bukan Film Politik, namun sepertinya Film ini
berhasil menjadi alat pengingat kita, warga negara Indonesia, bahwa
bangsa kita telah berlaku tidak adil kepada saudara-saud
ara korban kerusuhan Mei 98 dengan tidak melakukan apa-apa padahal hingga sekarang tidak ada tindakan hukum yang dilakukan.

Film
ini menjadi drama yang cukup menarik ketika mengetengahkan paradok yang
terjadi ketika Antares yang idealis dan humanis (walaupun kurang
kelihatan kecuali dari perkataan Tio Pakusadewo) harus menginkari janji
menjemput kekasihnya beberapa jam yang kemudian membuat malapetakan
yang selaam sepuluh tahun menghantui dia. Tergambar paradoks juga
seorang Ganang yang hidup berkecukupan, akan naik haji ternyata
menggunakan rizki yang ’tidak jelas’ karena memanfaatkan keadaan dengan
’memeras’ para pengungsi yang tidak punya daya tawar. Ditampilkan juga
para paradoks seorang Istri Ganang yang ’matre’ dan suka pamer ternyata
seorang yang cukup religius dan terus meneru smengingatkan har
us
menacari uang yang halal dan mendukung upaya suaminya untuk jatuh
miskin lagi asal bisa membayar hutang masa lalunya. (Karena Ganang
tidak pernah bercerita sebelumnya). Dan paradok lain adalah terjadi
pada May…dimana dia diceritakan selama sepuluh tahun mendendam kepada
Antares, pemerkosa dan dirinya. Dia menolak upaya Antares kembali ke
kehidupannya dia karena kesalahan Antares juga karena dia merasa sudah
kotor setelah pemerkosaan itu. Paradok-paradoks ini terjalin dalam
rangkaian cerita maju mundur yang cukup bisa diikuti. Paradok lain juga
tampil secara verbal dalam kata-kata ustadz penceramah selamatan
keberangkatan Umroh Ganang dan Ist
ri
yang mengatakan bahwa keberhasilan Ganang dari pelayan Hotel menjadi
Bos Laundry itu adalah wujud Reformasi….( lelucon getir yang cerdas).
Paradoks juga terlontar ketika orang-orang Tionghoa yang terusir itu
ketika diminta mengungsi mengatakan bahwa mereka sudah tinggal di tanah
itu sejak nenk moyang mereka selama 200 tahun.
(Sebuah
penegasan bahwa mereka bukanlah orang asing lagi di negeri ini). Ada
juga perkataan Tio Pakusadewo yang memerankan seorang batak…. dia
marah ketika berkali kali dipanggil Mas dan protes " Pangil Mas….!
… Memangnya se- Indonesia ini semua Orang Jawa…!!" (Kritik lagi
terhadap kesadaran multikultural kita…)

Akting Jenny Chan yang harus
banyak menangis dan ”lipsing” menyanyi di kafe cukup bagus, walaupun
menurutku masih kaku juga. Akting Yama Charlos di Film ini malah mirip
Fuazy Baadilah. Tidak banyak ngomong….namun cukup kaku juga. Yah..
mereka cukup bagus ketika menggambarkan cerita ketika mereka pacaran,
namun ketika muka menjadi muru
ng dan
menggambarkan seorang ’psyico’ sepertinya masih kurang mengena. Namun
akting Lukman Sardi, Tio Pakusadewo, Tuty Kirana, Niniek L. Kariem, dan
Ira Irawan cukup membuat Film ini enak ditonton.

Penggambaran
tempat dimana cerita ini berlangsung masih kurang mengeena.
Penggambaran Kuala Lumpur, Jakarta dan Jogja masih butuh penegasan
sebenarnya . Walaupun menara petronas, kata-kata Jalan Gadjah Mada
Terbakar (mungkin di sekitar Klender kampung pecinan ini… cuman aku
gak ngerti persis apakah disana ada kampung pecinan) dan Candi Plaosan
yang terlihat dari rumah Ganang adalah upaya-upaya untuk menunjukkan
setting tempat cerita ini. (Pengambilan Candi Plaosan mengingatkan
cerita Opera Jawa dimana rumah Siti menghadap Candi Plaosan yg seakan
di tengah sawah).

Sempat
di akhir cerita aku ingin tidak Happy Ending…. Dimana mungkin tidak
perlulah semua harus berakhir bahagia.. sehingga semua berkumpul
(seperti acara Ria Jenaka TVRI jaman dulu he.he.). Namun mungkin
sebagai empati kepada kawan-kawan korban kerusuhan Mei 98, perlulah
Film ini berakhir bahagia sehingga akhirnya mereka bisa pulang ke Jakarta dan dua pria bersalah itu bisa membayar hutangnya.

Akhirnya….
Seharusnya tanpa bermaksud merendahkan Film Ayat –Ayat Cinta, Presiden,
Wapres, menteri-menteri, Jaksa-jaksa dan politisi kita menonton Film
ini. Kalau selesai menonton mereka tidak menangis.. berarti tangisan
ketika nonton AAC kemarin hanyalah tangisan para buaya…., apalagi
kalau hatinya tidak tergerak untuk menuntaskan kasus kerusuhan Mei
98….. bisa menjadi penegasan bahwa mereka bagian dari kerusuhan
itu…. (SBY waktu itu bawahan Wiranto, sebagai Asospol Mabes ABRI).

Wallahu alam….

Pemain :
             Jenny Chang               
                              Yama Carlos                              
             Jajang C. Noer               
             Lukman Sardi               
             Niniek L. Karim               
             Tutie Kirana                              
             Ria Irawan               
                        

          

Sutradara : Viva Westi                              
                                    
Penulis :Dirmawan Hatta
Homepage :
                            http://may-themovie.com/                         
21
May

Melihat Keimanan Kita

Islam mengajarkan bahwa yg namanya Iman itu
berkaitan langsung dengan penolakan terhadap kemungkaran. Dimana ketika
ada kemungkaran orang yg beriman harus merubah dengan tangannya, bila
ternyata tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya dan apabila tidak
mampu silahkan rubah dengan do’a. Namun merubah dengan do’a ini disebut
sebagai selemah-lemahnya iman.

   

Nah…kadang
kita lupa kalau ber Islam itu ada dua sayap, sayap pertama itu Amar
Ma’aruf dan sayap yg lain Nahi mungkar. Artinya, orang beriman itu
ternyata tidak cukup hanya menjadi ‘orang baik’ saja, namun juga harus
menjadi ‘orang pemeberani’ untuk menggerakkan tangan, lisan dan do’a
kita kalau ada kemungkaran.

   

Merubah
dengan tangan bisa diartikan merubah dengan kekuasaan. Artinya,
ternyata kalau mau menikmati keberimanan tingkat tinggi kita harus
memiliki kekuasaan. Sayangnya sebagai manusia kita juga punya kelemahan
kalau menjadi penguasa. Mungkin inilah mengapa Islam juga mengajarkan
bahwa beruntunglah orang yang berani mengatakan kebenaran di depan
penguasa, walau itu pahit. Dan di Indonesia ini mungkin bentuk
’kekuasaan’ ini bisa dalam bentuk penguasaan thd politik,
modal/kekayaan, atau ilmu yg tinggi. Nah…untuk menguasai ini semua yg
memang butuh kesabaran. Bahkan dalam AL Qur’an disebutkan tipikal para
penguasa politik, intelektual dan modal dalam simbol Firaun, Qorun dan
Balam (Ali Syariati: menjadi manusia haji). Dengan tiga simbol penguasa
ini… kita diberi alat baca yaitu untuk membedakan mana kawan dan mana
lawan sekaligus untuk memberi peringatan agar kita kalau berkuasa (agar
keimanan bisa maksimal), jangan sampai terperosok pada tiga bentuk
tersebut. Nah ….. kadang repotnya.. kita salah juga membedakan
perubahan dengan kekeuasaan/pemerintahan/sistem yg rapi dan perubahan
denganbergerak sendiri-sendiri seperti pada perusakan masjid
orang-orang Ahmadiyah….adn bom bali.. .karena kita lupa bahwa Islam
juga mengajarkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan
kesabaran.

   

Bentuk
ekspresi keimanan kedua adalah dengan melawan kemungkaran melalui
‘lisan’. Disinilah posisi demonstrasi di jalanan, nulis di koran,
nge-blog, protes ke DPR  dan sebagainya. Hanya
pada peringkat kedua. Namun, inipun kadang tidak banyak yang berani
terlibat. Demonstrasi walaupun ’diberitakan’ berakhir kericuhan…. ini
hanya simbolik bukan benar-benar ricuh. Setiap aksi pasti bukan diisi
orang-orang bodoh yg berdemo dengan memilih anarkhi (Kecuali
orang-orang yg memang tidak menegrti manajemen aksi itu sebenarnya).
Setiap perangkat aksi dan jalannya aksi adalah sebuah upaya
tersistematis untuk menyampaikan simbol-simbol aspirasi.  Dan
target utama tetap media massa, mengikuti konsep bola salju….. yg
demo simbolik.. dan isu bisa tersampaikan ke fihak yg dituju dan juga
khalyak yg ’dicerahkan’. Jadi mirip bermain Film atau sandiwara di
pangung.. target pesan tersampaikan… Namun memang sayang..kadang ada
provokator yg membuat massa aksi terprovokasi….karena  kadang kita
saking semangatnya lupa kalau  massa aksi itu harus satu komando dan
disiplin

   

Bentuk
ekspresi keimanan terakhir adalh berdo’a. Ini adalah selemah-lemahnya
iman. Namun harus diakui akan terjamin ke-Ikhlasannya karena tidak
peduli dengan liputan media dan investasi politik. Namun secara
sunnatullah yg dirubah juga tidak akan banyak, atau secara matematis
tidak banyak berubah. Kata AAGym.. konsep berdo’a itu bukan setelah
berdo’a lantas pasrah.. namun setelah berdo’a itulah yg kemudian
menimbulkan spirit untuk berbicara dan bergerak. Dalam konteks ’nahi
munkar’ setelah berdo’a maka akan menjadi spiirit untuk berkata dan
berbuat. Wallahualam bissawab.

11
May

Mahluk Introvert Itu

"Coba kamu buka komunikasi..mungkin mereka akan mengerti.. setidaknya
ada negosiasi" aku coba katakan itu, sementara isak tangis di seberang
telpon sana bersaing dengan suara kereta malam BIMA yang kutumpangi.

"Aku
kan sudah bilang…! Sejak kecil aku tidak pernah bisa mengatakan
perasaanku kepada mereka !", demikian suara perempuan itu.

Aku
memilih tidak mendebatnya, aku biarkan dia terus meracau, mengumpat dan
menangis di telpon. Sementara aku ketar-ketir pulsa SIMPATI PeDe-ku
akan segera habis. "Mungkin aku aku hanya bisa membantu mendengarkan
tangis dan racauannya malam ini" demikian batinku. Batinku yang
seharusnya ikut menangis dan bahkan mungkin seharusnya akulah yang
menangis lebih keras.

Jari-jariku terus menyentuh keyboard untuk
menyelesaikan proposal sambil sekali-kali membuka window bahan
presentasiku. Aku khawatir lap top ini akan kehabisan baterai,
sedangkan propsal in ibelum selesai kuedit. Belum lagi masih harus debugging
yang tidak mungkin cepat kulakukan. Sementara sudah dua kali sejak
meninggalkan Stasiun tugu tadi petugas Kereta memperingatkanku untuk
menjaga barang inventaris kantor ini agar tidak senasib dengan para
penumpang KA sebelumnya yang sudah jamak kehilangan Lap top.

Beberapa
kali suara di kejauhan sana terputus. Entah .. mungkin barusaja kereta
melewati terowongan Ijo, tempat si Kliwon di Daun Di Atas Bantal mati.
Sehingga sinyal hilang. Aku beberapa kali redial dan
dia masih menangis di kejauhan sana. Bahkan aku tak berani bertanya
dimana posisi tepatnya dia. "Mungkin dia menginap di kantornya" batinku
setelah ngobrol dengan otakku  ketika logikaku menyimpulkan bahwa dia
tidak mungkin menangis keras jam 11 malam seperti ini, kalau dia masih
di rumahnya. Sementara perang dingin masih terjadi di rumahnya. Bahkan
aku khawatir sudah terjadi perang terbuka.

Kereta masih terus bergerak. Perempuan di seberang sana masih terus menangis, dan aku seperti biasa, munafik,
membalasnya dengan kata-kata bijak yang kumaksudkan agar dia tenang.
He… benar hanya sekedar obat penenang bukan penyelesai masalah.
Kepalaku sedikit demi sedikit terasa berdenyut, pusing. Perutku  mulai
terasa meilit. "Kamu stress.." begitu biasanya ibukku membalas  kalau
aku mulai mengirim sms keluhanku itu. Dan  beliau  kemudian akan
menelponku, menanyakan presensiku shalat lima waktuku.Puasa senin
kemisku. Dan selalu aku jawab dengan jawaban bohong. Aku yakin ibuku
mengerti kalau aku bohong, namun kemudian istri setia bapakku itu
berpesan kepadaku "Ambi air wudhu dulu le’….. dunia akan terasa
cerah.. akhirat juga ". Biasanya air mata munafikku kemudian menetes.

"Ah seandainya ibuku ada disini…." kataku kemudian di handfree
yang tersambung ke SE K610i ku. "Ibuku akan benar-benar menjadi teman
yang tepatmu malam ini " kataku spekulatif. Perempuan yang masih
menangis di seberang sana itupun menimpali " kamu beruntung bisa
mendapatkan ibu seperti itu" .

Sejenak aku merasa serba salah.
Aku berfikir, kalau perempuan yang sedang kalut di seberang sana ini
akan lebih baik bicara dengan  ibuku, perempuan tehebat daam hidupku
yang benar-benar mengerti apa itu  cobaan. Paling  tidak mereka
sama-sama perempuan yang mungkin akan lebih tepat berbicara sebagai
sesama perempuan. Namun disatu sisi, aku sama saja membuat perbandingan
dengan ibunya, yang sampai saat ini bahkan tidak mau bertemu denganku.
Ibunya yang sedang menggunakan otoritas agama, adat, rahim dan nafkah
demi menuruti apa yang dianggapnya benar untuk anaknya. Namun.. sungguh
aku tidak bermaksud untuk membuat perbandingan itu. Dan aku sejujurnya
muak dengan masalah ini…. Ini karena penyakit bawaan kamu, Introvert !

Aku
ingin mengumpat kepada perempuan yang sudah kubuat susah tiga tahun
terakhir ini karena kupolitisir untuk mengenalku dan mencintaiku. Aku
ingin mengumpat karena dialah sumber masalah. Karena dia terlahir
dengan cacat yang selalu membuatnya bermasalah.Cacat yang seharusnya
bisa dia atasi hanya dengan memaafkan nasibnya, memaafkan ayahnya,
ibunya dan dunianya. Dan saat ini ketika saat genting, dimana semu
aharus dibicarakan dan benar-benar tidak ada jalan lain kecuali
berbicara, dia hanya bisa menagis, kabur dari masalah.

Lagi-lagi..
perutku melilit. Jatah makan malam Kereta Eksekutif ini tak kusentuh.
Nasi dingin dengan sayur kacang panjang yang menurutku tidak ada logika
manusia sehat akalnya yang memilih menu untuk jam 11 malam, seperti
ini.  Inilah kereta eksekutif di pulau paling maju infrastruktunya ini.

Namun aku yakin, perutku melilit karena aku benar-benar merasa
tertekan. Perempuan di seberang sana masih terus menangis. Hampir
kubanting Lap Top di pangkuanku karena tiba-tiba Hang dan memaksaku
harus me restatnya lagi. Ingin aku lari dari semua ini. Pulang ke
lereng sindoro-sumbing sana. Memilih mengurus bunga-bunga di kebun
bapakku. Pergi dari idealisme-idealisme yang terus kuucapkan,
kudfakwahkan, kuketikkan dan kuperjuangkan ini. Pergi dari cintaku yang
tidak mungkin kupertahankan lagi ini. Pergi dari MOU-MOU yang setiap
hari harus ku kejar realisasinya ini. Menghianati semua
komitmen-komitmenku denga yang namanya perubahan…..

Dan aku
baru sadar.. kalau di gerbong 13 ini aku satu-satunya penumpang. Atau
aku sudah benar-benar dalam kondisi tidak sadar……..?

08
May

Jangan Larang Aku Bangun Atlantis di Dasar Lautku

Atlantis_sm
Aku pernah kehilangan buku berjudul Biografi Politik  Ali
Syariati. Buku yang cukup tebal itu bagiku sangat penting bukan saja
karena isinya yang memang belum selesai kubaca, namun juga karena buku
itu dibeli saat aku benar –benar mengalami transformasi ketika
‘tiba-tiba’ menjadi Area Manager Posko Bencana Gempa Jogja di PP
Muhammadiyah. Buku itu juga terbeli ketika aku harus tiap hari
mati-matian meyakinkan seorang perempuan yang menjadi pilihanku. Dari
buku itu aku belajar banyak yang namanya perjuangan, yang namanya
idealisme, yang namanya keterpurukan, terabaikan dan yang namanya cinta. 

Dari
buku itu aku belajar tentang eksistensi. Bagaimana seorang Ali Syariati
terbentuk menjadi pemuda cerdas, menganalisis dengan tajam dan berani
bersikap dan bergerak karena keberadaan dirinya yang jauh-jauh hari
‘diakui’ ayahnya. Yah.. diakui. Artinya keberadaannya yang seakan
terabaikan oleh kesibukan ayahnya, nyatanya adalah ‘teraakui’.
Bagaimana dia dibiarkan ayahnya membaca buku apapun di perpustakaan
ayahnya sejak kecil. Bagaimana dia ditunggui dengan sabar oleh ayahnya
ketika melewati krisis demi krisis (entah krisis keagamaan, ideologi,
intelektual) tanpa harus cepat-cepat dihakimi oleh ayahnya sebagai
‘anak sesat’ atau’ anak tidak jelas’. Aku menangkap bagaimana ayah
seorang Ali Syariati yang tidak memotong proses ‘krisis’ yang dialami
anaknya seperti orang tua kebanyakan yang atas nama nama baik keluarga
dengan semena mena memotong proses bahkan menghardik anaknya yang
tiba-tiba kebingungan dengan dirinya, keranjingan membaca, keranjingan
berdiskusi, keranjingan berdemonstrasi, mempertanyakan diri, Tuhan dan
kemapanan. Benar-benar sebuah interaksi cerdas (bahkan super cerdas)
antara ayah dan anak yang (mungkin) sadar akan melahirkan orang besar.

 

Saat
itu aku buai perempuan itu dengan mimpi-mimpi seperti Ali Syariati dan
Ayahnya terjadi. Kadang aku berfikir eksistensiku kubangun dari
preposisi wacana demi wacana, dari kopsepsi demi konsepsi, dari
mimpi-mimpi yang kadang nihilis atau kadang fatalis. Ha..ha… aku paksa
perempuan itu terbang bersama ide-ide yang bertebaran. Tiap hari kuajak
dia berbicara seakan akulah Ali Syariati dan perempuan itu, gadis yang
AlI Syariati taksir saat kuliah. Aku terus membuatnya berfikir bahwa
gadis bodohlah yang tidak mau menjadi gadis yang membuat Ali Syariati
tergila-gila karena kecerdasan dan sambung-menyambung wacana yang
mereka berdua bangun. Dan ketika ide -ide bergumul dengan cinta sudah
mulai mendapatkan formulanya, dunia ide dan rasa seakan tak akan ada
yang mampu memisahkannya.

 

Namun,
eksistensi  yang terbangun ternyata hancur bukan bersama buku yang
belum selesai kubaca itu. Eksistensi itu hancur karena tangan kekuasaan
yang memaksa perempuan cerdas itu menutup buku-bukunya tentang dunia
ide. Eksistensi itu hilang ketika ada kekuasaan yang tak bisa kusaingin
legitimasinya dan memaksakan perempuan itu melihat kenyataan sebagai
kenyataan. Kelaparan sebagai sebuah kelaparan. Dan Kematian sebagai
sebuah kematian.

 

Luluh, lantak dan bangunan ide yang
tidak hanya terbangun semalam itu hilang begitu saja bagaikan istana
pasir yang kubuat dimasa kecil dulu. Benarkah cinta yang terbangun dari
ide-ide yang meloncat-loncat tak beraturan diantara dua kepala itu
serapuh itu ? Atau inikah konsekuensi sebuah perjuangan ide layaknya
seorang Ali Syariati yang harus terasing  dari negeri sendiri dan kemudian mati muda. Benarkah para pembangun cinta atas ide akan mati muda ?

 

Entahlah. Buktinya ketika ide-ide itu kembali coba kubangun  lagi dan kutawarkan kepada sosok cantik di borneo sana, ternyata aku harus  mendapatkan jawaban  bahwa
aku hanya pembangun Istana Pasir. Aku tidak berani memaksanya mengerti
ide-ideku lagi padanya, aku takut ada penguasa dirinya yang memaksanya
untuk menutup dunia ide yang kubangun menjadi bagian dari hidupnya. Dan
sosok cantik itu kusimpulkan tidak akan mau tinggal di istana yang
dianggap orang rapuh. Benarkah cinta yang kubangun dari ide-ide ini harus kuakhiri  ?

 

Kadang
aku mau mengutuk Marx, karena dia mengajarkan bahwa pandanglah perut
sebagai perut, kelaparan sebagai kelaparan, dan kemiskinan sebagai
kemiskinan. Akupun ingin menghutuk Darwin yang mengajarkan manusia
modern itu bahwa kemenangan adalah mematikan
lawan. Akupun ingin memaksa Comte merevisi semua teroinya. Ha..ha..
tapi mungkin saja Marx, Darwin, Comte hanya memetakan konflik manusia
sejak Qobil dan Habil ?

 

Atau mungkin aku
belum bisa ketemu dengan mereka yang tidak merasa lelah dengan ide demi
ide …? Jujur aku takut ketika ide-ide ini coba kurangkai dan memasuki
kepala “Laut” ku saat ini. Aku takut hanya akan kembali mendapat jawaban  “Hentikan mimpimu membangun Atlantis di dasar lautku”.

 

Ya Allah.. semoga itu tidak terjadi. Dan aku belum berani beranjak dari reruntuhan Istana pasirku.

16
Apr

Kenapa Dewi Pesik Disalahkan ?

E760donotenter
Dahulu aku berfikir bahwa lembaga sensor itu perlu. Namun beberapa
waktu terakhir ini aku memandangnya menjadi sesuatu yang tidak perlu.
Karena keberadaan lembaga sensor menurutku ada karena
‘penguasa’ menerapkan prespektif militeristik. Dimana sebuah ancaman
itu harus dilarang, ditahan, bukan dilokalisasi atau kanalisasi.

Memang, dengan model sensor, larang, cekal kelihatannya mudah dan murah. Namun proses pelarangan, pencekalan atau pensensoran sesungguhnya sebuah proses yang jauh dari logika mendidik dan mendewasakan. Karena
pensensoran, pencekalan dan pelarangan adalah proses dimana penguasa
diasumsikan menjadi ‘manusia suci’ dan ‘kebal kesalahan’ sedangkan
masyarakat dianggap ‘orang bodoh’ yang ‘mudah tergoda syetan’. He..padahal aku yakin, setiap manusia ketika ditanya.. tidak mungkin hal ini terjadi.

Oke.. setiap individu terlahir lengkap dengan
software hati nurani ( ini mengutip pernyataan Dian Sastro di majaah
Madani terbaru). Dengan hati nurani, setiap manusia mengerti ada baik
dan ada buruk. Atau dalam bahasa Al Qur’an, setiap manusia lahir
setelah berkomitmen  ‘beriman’ kepada Allah SWT. Nah…
masih perlukan sensor bila setiap manusia ternyata sudah lahir dengan
perangkat selengkap itu ? Setahuku sih kalau dalam pandangan Islam,
yang membedakan befungsinya hati nurani atau belum adalah baligh atau
belum baligh. Atau dalam bahasa agama, setiap anak lahir seperti kertas
putih… tergantung orang tuanya (dimasa belum baligh) akan membawa
anaknya ke Nasrani, Majusi, dsb. Dan kalau memakai norma agama….. tidak
ada pemaksaan dalam beragama,… (karena menurutku pemaksaan adalah cara
berfikir dalam cara pandang militeristik, jadi Islam dalam kondisi
normal, jauh dari militeristik).

Dalam konteks perlu tidaknya sensor, yang kemudian
menjadi masalah adalah bagaimana Negara melakukan pendidikan kepada
rakyatnya, bukan memilihkan tayangan yang cocok atau yang tidak.
Pendidikan adalah bagaimana memberdayakan rakyatnya untuk bisa
berpengetahuan, punya karakter dan menggali value-value untuk membangun
kearifan dan integritas. Pendidikan bukan indoktrinasi, bukan menjejali
setiap hari dengan hafalan hafalan tentang kebaikan, dan bukan dengan
membuat mereka  terkungkung dari ‘godaan syetan’. Mungkin
lebih baik membiasakan anak didik siap berhadapan dengan syetan
daripada ‘mengisolasi’ mereka dari syetan. (karena tidak akan mungkin,
syetan bisa masuk ke pembuluh darah, bahkan bisa dalam bentuk guru,
tembok sekolah, teman sekolah dsb).

Nah…. Kesimpulannya.. selama negeri ini masih ada
Lembaga Sensor Film, ada Pemblokiran Situs oleh Kominfo, masih ada
Pencekalan Dewi Persik dkk…. Maka bisa dinyatakan bahwa pemerintah
mendeklarasikan dirinya gagal melakukan pendidikan kepada rakyatnya.
Kalau MUI dan para ulama masih mendukung adanya lembaga lembaga itu,
berarti para ulama menyatakan dirinya gagal dalam dakwah mereka. Yah…
seperti buruk muka cermin dibelah….

Permasalahannya, kefrustasian  penguasa dan para juru dakwah ini sampai
kapan terus memakan korban dua fihak. Fihak pertama… masyarakat yang
terus terusan tidak terdidik dan terdewasakan, fihak kedua adalah para
seniman, penyanyi dsb yang kreatifitasnya juga tidak berkembang karena
selalu tesensor dan tecekal.  Bagiku sih masalah dewi
persik atau film Indonesia yang berbau seks dsb bukan masalah besar
bila pemerintah memang mau terus melakukan pendidikan, dan para ulama
tidak mengambil cara berdakwah instan. Bukankah kalau masyarkat kita
sudah pandai memilih, suasana menjadi dialogis dan sehat ? bukankah
cara paling efektif agar dewi persik merubah goyangnya dengan
kesepakatan para laki-laki untuk tidak menonton dan menjadi laki-laki
baik-baik yang menjaga pandangan dan kehormatan perempuan ? Bukankah
demikian bentuk Baldatun Toyibatun Warobun Ghofur….? Bukan dengan
memasang larangan dimana mana… dilarang ini dilarang itu.. gak boleh in gak boleh itu….. (Temenku menyebut negeri seperti ini sebagai negeri  kaum frustasi…..).

Oke..pemberdayaan…pendidikan… ini harus menjadi pilihan bagi pendakwah dan  pemerintah…..

Akhirnya ada sebuah analogi dalam kasus pelacuran……..

Sebuah pelacuran (sebagai idiom paling ekstrim)
akan habis bila tidak ada laki-laki yang mau melakukannya. Jadi mengapa
harus merusak lokalisasi ? Bukan mensweeping para laki-laki
hidung belang..? Ah.. sepertinya memang beginilah sifat laki-laki,
kalau ada kaumnya yang salah yang disalahkan adalah para
perempuannya….Padahal dimana mana yg rajin datang pengajian ya para
perempuan  (Dalam bahasa  agama, pelacur dan ‘pembelinya’ sama sama berdosa, namun dalam prespektif sosial harusnya laki-laki , dan yg  berkuasa, yang salah karena mereka mau melakukannya dan tidak mampu melakukan pendidikan dan pemberdayaan rakyatnya).

Satu hal lagi, dalam kasus celana perempuan pemijat yang dipasangi
gembok di Batu, Malang. Mengapa lagi-lagi perempuan yang disalahkan
bila terjadi pelecehan seksual…, atau pelayanan pijat plus ? Mengapa
bukan laki-lakinya yang digembok celananya…, bukankah tidak ada sebuah
pemerkosaan bila laki-lakinya tidak mampu ‘melakukan’ ?  Bahkan
kalaupun bicara kejadianm ekstrim.. bukankah secara fisiologis syarat
wajib terjadinya coitus tergantung dari laki-lakinya ? Ah…kenapa bangsa ini menjadi bangsa Instan sih……

(Sepertinya tulisan diatas terpengaruh Dialog Riri Reza dan Adyaksa
Dault di Topik SCTV malam ini dan Wawancara Madina Magazine dengan Dian
Sastro di edisi April ini)

10
Apr

Three Kingdom : Penghianatan Itu Sakit, Keikhlasan juga Sakit

610x
Nonton Film Andy Lau…..! 

Begitu batinku itu, ketika berniat mencari film untuk ditonton. Film yang tadinya kutunggu sebenarnya Forbidden Kingdom, pengen ngerti gimanba bentuknya kalau Jet Li dan Jacky Chan main.

 

Film Tri Kingdom menarik karena memperlihatkan gambar-gambar yang indah.Adegan perkelahiannya keren. Detail Kostumnya juga keren,
kostum raja, kostum tentara, kostum panglima, kostum jagoan.Semuanya
Keren. Tentu saja bukan dalam cara pandang realis, dimana kostum di
Film itu mewakili kejadian disaat legenda “Tri Kingdom” itu terjadi.
Anggap saja sedang nonton Film ala komik Tapak Sakti….. ( Kapan
yah…terakhir ketemu komik itu..).

 

Ceritanya, heroik. Mungkin mirip dengan cerita Aria Kamandanu di
sandiwara radio Saur Sepuh jaman dulu. Dimana seorang biasa yang hebat
dalam ‘olah kanuragan’, terus mendapat momentum untuk memperlihatkan
kehebatan sekaligus kebaikannya di depan Raja. Dan Kemudian diangkat
menjadi pejabat kerajaan, tepatnya menjadi Punggawa kerajaan yang juga
memperlihatkan sebuah kesetiaan terhadap kehormatan kerajaannya.

 

Polemiknya
mirip dengan cerita jagoan biasanya, tugas Negara, idealisme tentang
perdamaian, janji untuk kembali kepada seorang wanita, perhabatan
sekaligus penghianatan. Seakan.. .. inilah patron sebuah Film jagoan.
Dan setiap Film jagoan.. seakan belomba untuk mendramatisir konflik itu dalam pertempuran sengit, kharisma personal dan pengorbanan…

 

Film ini kurang berhasil mengangkat tema antara sang jagoan dengan perempuannya. Seakan kisah pertemuan dan
kemudian pengikatan janji setia antara Zhao Zilong (Andy Lau) dan
perempuannya (kayaknya bernama Zhao Bao) menjadi tidak begitu penting
dalam penuntasan teka-teki permasalahan yang dihadapi Zhao Zilong  di
akhir cerita. Seandainya eksistensi komitmen dua hati itu lebih
diangkat, mungkin kisah tragis di akhir cerita (khas Film Andy Lau..
jagoannya mati di akhir cerita he..he…) tidak sekedar menginspirasi
penonton tentang kepahlawanan, tentang kesetiaan teerhadap tugas,
tentang hutang budi, namun juga ttg komitmen laki-laki thd
perempuannya……. Jujur… di Film ini, karakter  Maggie Q yang berperan menjadi Cao Ying cukup membuatku terkesima. Entah
mungkin karena dia cantik ( he.he. jelas lah…) atau karena perannya
sebagai sosok ‘pahlawan’ juga, yang diceritakan cerdas dalam siasat
perang, jago kelahi dan yang tergambar khas.. perempuan yang kejam…..

 

Sempat
kepikiran juga, kok sosok jagoan ceweknya ‘agak bule’ ( Maggie Q kan
Cina kelahiran Amerika..yg kalo diliat ada bule bulenya…),
cuman…lagi-lagi aku memang berniat menonton Film ini seperti membaca
Komik Tapak Sakti.. atau Street Fighter… yang mungkin adanya
karakter-karakter yang ‘subhat’ ada dalam tokoh-tokoh Film berseting
Mandarin ini.

Akhirnya.., sebagai sebuah Film, film ini cukup
menghibur. Gambar gambar cantik, kostum-kostum menarik. Kalau bicara
ttg Inspirasi….., film ini agaknya bisa menginspirasi bahawa kesetiaan
adalah segalanya. Entah itu kepada Negara, pasangan, sahabat atau
bahkan ‘aturan perang’. Kehormatan adalah segalanya, dan yang terakhir
menjadi pahlawan atau pengecut adalah pilihan.. bukan keterpaksaan…..

03
Apr

Kite Runner : Mencari Definisi Kejantanan

Kiterunner2
Sebelumnya aku belum jelas kebayang bagaimana kondisi kota Kabul , Afgahnistan sebelum menonton Film ini. Kota Kabul menjelang Soviet datang, dan kota Kabul ketika Thaliban berkuasa. Sebagai orang Islam, jujur emosiku teraduk
aduk melihat Film ini. Karena Film ini menyuguhkan Islam dalam
kenyataan manusia modern. (Karena Film… tentu saja kenyataan disini
berarti kenyataan hasil tafsir para sineas).   

Islam sebagai sebuah background cerita akhir –akhir ini memang cukup menarik. Mungkin inilah hikmah
dibalik tragedi 11/9 , yang membawa Simbol Islam kedalam kesadaran
publik. Inilah kejadian di era informasi ini, Islam sebagai sebuah
entitas yang masuk ke kesadaran public dalam pesan yang controversial
akan memenangkan rating ‘kata kunci’ diskusi, pembicaraan, bahkan
(mungkin) frekuensi pencarian dalam mesin pencari di Internet.

Ketika melihat Kite Runner, disuguhkan dihadapan kita drama anak manusia yang mengalamai
konflik layaknya manusia-manusia lain di dunia. Disuguhkan kepada kita
bagaimana seorang anak laki laki afghan yang harus menjadi obyek obsesi
bapaknya, dimulai obsesi bapaknya bahwa anaknya harus memenangkan adu
laying-layang se Kabul karena bapaknya ketika kecil juga Juara. Diceritakan juga laki-laki kecil yang harus terusir dari negaranya, pindah ke Amerika, karena ayah yang idealis, dan menjadi kritikus Soviet dan sekaligus Thaliban. Kemudian
diceritakan seorang anak laki-laki yang berhasil (dengan terpaksa)
membahagiakan ayahnya, dengan menjadi seorang sarjana, walaupun
kemudian bekerja di pusat ‘pemulung’ (Tentu saja gaya
Amerika…). Cerita berlanjut pada kisah seorang laki-laki muda yang
memperjuangkan Cintanya walaupun ‘hanya’ menjadi penulis. Dan terakhir
diceritakan bagaimmana seorang laki-laki dewasa migrant di Amerika yang
rindu tanah kelahirannya , Afghanistan, namun dia harus berbesar hati
untuk melihat kenyataan bagaimana Negara-nya dikuasai saudara
se-agamanya (Islam-Thaliban) dengan tafsir lain yang jauh dari yang dia
fahami. Terjadilah dialog melalui gambar tentang bagaimana Islamnya
seorang Imigran di Amerika dengan Islamnya para Pejuang Thaliban.
Sebuah konflik inter Islam yang menarik untuk dibahas, dan disuguhkan
kepada khalayak. Tentunya sah –sah saja kalau ada sekelompok orang yang
menganggap lebih benar Islam ala Thaliban, namun bisa jadi ada
sekelompok orang yang menganggap nilai-nilai Islam yang difahami oleh
Migran Afghan di Amerika itu yang benar. Semua sah, karena wahyu sudah
berhenti turun, dan Islam agar menjadi agama ‘operasional’ berhak untuk
ditafsirkan oleh banyak khalayak. Kita Runner
ini bisa mengingatkan kita bagaimana melihat bahwa Islam yang Rahmatan
Lil Alamin itu difahami oleh dua kelompok menjadi sesuatu yang berbeda. 

 

Dalam
Film yang mengetengahkan tokoh utama dua anak kecil ini dimulai dengan
obsesi ( buatan) untuk memenangkan pertandingan adu layangangan se Kota
Kabul. Kedua laki-laki kecil itu diperankan actor bocah yang ber acting
dengan baik. Keduanya sebagai dua orang teman dekat, kemudian terlibat
masalah yang berakhir dengan pemfitnahan salah satu oleh yang lain,
hanya karena laki-laki yang memfitnah merasa tidak adal pilihan lain
untuk menyelamatkan kepentingan yang (dianggapnya) lebih besar.

Di
Film ini juga seakan aku dipaksa merenungkan definisi Maskulinitas,
dimana di FIlm ini tergambarkan seorang anak laki-laki dengan ayah
obsesif yang cenderung ‘kurang jantan’, dengan sahabat (yg ternyata
anak selinkuhan ayah dan pembantunya) yang ’sangat jantan’. Atau ketika
disuguhkan definisi kejantanan dalam bentuk sosok ayah yang idealis
dengan keyakinan, seorang laki-laki teman ayah anak itu yang bijak,
seorang laki-laki mudah penulis Novel yang memperjuangkan perempuannya,
kejantanan seorang pengasuh anak-anak Afghan yang terpaska menjual satu
demi satu anak untuk menghidupi anak-anak yang lain, atau seorang
laki-laki yang merasa bertanggungjawab dengan mempertaruhkan nyawa
menyusup ke Afghanistan hanya untuk mempertangungjawabkan kesalahan
masa lalu bapaknya. He..memang Film ini bercerita tentang para
laki-laki dengan pergulatan definisi kejantanan. Bahkan di Film ini
tergambar kejantanan dalam bentuk perilaku seorang pemerkosa ’sodomi’
kepada anak-anak Afghan atau perilaku seorang ‘ningrat’ yang ‘idealis’
namun dia menyembunyikan kesalahan masa lalunya dengan berselingkuh
dengan pembantunya, demi kemuliaan dirinya.   

Sebagai
sebuah cerita, film menurutku film ini berhasil membuat penontonnya
berddiskusi ( minimal dengan diri dan referensi referensi) tentang
Islam, Manusia dan Agama, dan berbagai masalah kemanusiaan yang
melingkupinya. Film ini memang mengetengahkan citra Thaliban yang
irasional dan kejam, bahkan menampilkan bagaimana seorang perempuan
‘pendosa’ yang di rajam sesaat setelah
pertandingan sepak bola di sebuah stadion. Mungkin juga akan mengusik
emosi sementara golongan dari ummat Islam yang memiliki simpati kepada
Thaliban dengan cara dan apa yang mereka yakini. Namun, menurutku,
tidaklah benar untuk berbondong-bondong marah membela Thaliban dengan
alasan emosi dan penghinaan ketika menonton Film ini. Katakanlah apa
yang digambarkan di Film ini tentang Thaliban benar, tentunya kita
cerdas untuk mencari tahu kenapa Thaliban melakukannya seperti itu.
Bila ternyata kita tidak sepakat, tinggalkan saja, toh thaliban
sekarang sudah turun dari kekuasaan.

Yang
kumengerti. Manusia, walupun itu Muslim, walaupun itu berjenggot dan
bejubah, walaupun itu bergamis, walaupun dia ulama, tetaplah dia
seorang Manusia yang memiliki kelemahan. Kebenaran ada dimana saja,
walaupun itu ada di tangan orang kafir. Karena bagiku, cukuplah Allah
pelindungku dengan keyakinanku bahwa setiap manusia sebelum lahir semua
sudah melakukan baiat kepada Allah SWT. Tidak perlu berfanatik kepada
satu faham atau tafsir keagamaan yang dibawa siapapun. Cukuplah berfikir positif untuk memandang segala sesuatu, ucapkan Allahumma Arinal Haqqo-Haqqo warzuqnatibaa, waarinal baatila baatila warzuqnatinaba….

 

Akhirnya,
tontonlah Film bagus ini dengan obyektif…, bedakan mana kebenaran dan
mana fanatisme kebenaran. Termasuk kebenaran tentang Kejantanan

24
Mar

Vantage Point (2008) : Cerita Agen Amerika yang India Banget

Vantage_point_poster
Bagi yang belum Nonton Film ini , mendingan Jangan Baca Review ini
Karena akan kehilangan efek terpenting dari Film ini, Serius….!
   

Btw..
bagi yg ngeyel pengen baca review ini, atau memang sudah nonton Film
ini silahkan lah baca Review Film yang menurutku film cerita biasa
dengan teknik bercerita luar biasa.

 

Awalnya, aku bareng Mahe, Rori, Odong ma Gindah spontan saja memutuskan nonton Film ini. Tadi
malam begitu salah satu dari kami ada yg ngajak nonton, kami langsung
saja berangkat tanpa berfikir mo nonton Film apa. Namun, berdasarkan
referensi dari www.21cineplex.com,
kami memutuskan akan menonton Vantage Point, tanpa ngerti detail-detail
bahwa itu Film yang buat siapa, bintangnya siapa, dan tentang apa. ( yg
kami ngerti ya… semacam agen-agen rahasia
gitu…., maklum kalau ‘squadranya tukang nonton’ seperti kami, Film yang
paling kami hindari adalah Film Horor,Karena ada satu orang diantara
kami yang benar-benar benci /trauma nonton Film Horor…….he..he..)

 

Adegan diawali dengan musik yang mirip Borne Ultimatum (Aku, Mahe, Odong langsung spontan menyepakatinya..). Kemudian layar mengetengahkan sebuah gambar bagaimana suasana KTT Negara-Negara Koalisi baru penentang Terorisme pimpinan
Amerika Serikat lengkap dengan demonstran penentangnya. Disisi lain
gigambarkan bagimana kesibukan sebuah mobil liputan stasiun TV GNN.
Cerita ini settingnya di Spanyol.

 

Sesaat kemudian, Layar mengisahkan bagaimana
presiden Amerika Serikat bernama Ashton ( gak ngerti.. ini presiden
Amerika kapan..) yang datang ke Acara yang berlangsung di lapangan
terbuka tersebut dan kemudian tertembak di podium, yang selanjutnya ada
dua peledakan bom. Cerita Film ini kemudian berlanjut dengan bagaimana
agen rahasia Amerika berusaha menyelamatkan presiden, mengejar
penembak, dan mengungkap konspirasi terrorisme ini dalam tempo yang
cepat. He…. Saat inilah tempo yang mirip seperti dalam Bourne Ultimatum
berhasil dihidupkan Pete Travis, Sutradara Film ini.  Bagi
anda yang belum nonton Film ini,.. saya sarankan jangan sekali-kali
melengos dari layar atau bahkan telat datang ke bioskop, atau sekedar
ke kamr kecil. Tahan……..! Karena kalau anda melakukan itu.. saya jamin…
potongan Puzle yang menjadi pembangun cerita Film ini akan hilang dan
anda akan salah faham…..( uring –uringan dan bingung… melihat cerita
Film ini…..).

 

Puzle…….!?

 

Begitulah..
kesimpulanku. Pantas kalau poster Filmnya juga bergambar sosok
laki-laki berpistol yang terangkai Puzle karakter-karakter yang ada di
Film ini.

 

Namun,  Sekali
lagi kunyatakan, Film ini ceritanya biasa, namun teknik berceritanya
yang luar biasa. Karena kemudian ceritanya mundur ke jam 12.00 , 15
menit sebelum penembakan, yang diulang-ulang. Dengam menampilkan sudut
pandang cerita dari masing-masing tokoh. He…he… penonton selalu
berteriak Huu… ketika sebuah sudut pandang cerita seorang tokoh berakhir hingga
meledaknya Bom pasca penembakan presiden. Namun, setelah film berakhir
aku mikir… ketika layar menampilkan gambaran Rewind kembali ke jam
12.00 dengan ganti sudut pandang kisah pada tokoh yang lain inilah
penonton diberi kesempatan untuk menghela nafas dan menyiapkan
diri untuk memperhatikan detail berikutnya, dari tokoh yang akan
diceritakan untuk 15 menit berikutnya. Dari sinilah ketika di
awal proses kami celetukan, di ulangan kisah kedua kami kaget (karena
kok ada rewind segala) , di ulangan kisah ketiga kami sudah melotot
untuk tidak mau ketinggalan detail-detail cerita, untuk menyatukan dan
menyusul Puzle-Puzle cerita yang ada dalam isi kepala kami. Setiap
tokoh presiden AS, agen rahasia, pengawal, turis amerika, anak kecil
spanyol bernama Anna, polisi kota, perempuan kekasih polisi, OB sebuah
Hotel, dan Seorang berwajah Arab  yang
diceritakan dalam ulangan cerita ini semua penting dan menjadi benang
merah cerita. Katakanlah.. satu tokoh dihilangkan… rangkaian cerita
akan menjadi kacau. Puzle itu hanya akan terangkai dengan utuh diu
akhir Film dengan kata kunci underpass.

 

Namun pagi ini aku tersadar, kok teknik berceritanya mirip Long Road to Heaven (LRTH)-nya Enison Sinaro (kalyanashira, 2006), bahkan temanya mirip… sama-sama tentang Terorisme.
Cuman beda tempo ceritanya. Wah…, jangan-jangan Pete Travis
terinspirasi dengan Film Indonesia ini….., dan dia bisa membuat Film
dengan gambar yang bagus, figuran yang jauh lebih banyak, cerita yang
lebih kuat karena Pete Travis menggarapnya dengan cara, anggaran dan dukungan industri film sebesar Colombia Pictures, Holywood. Atau mungkin saja motifnya beda, di  LRTH
adalah menghadirkan kisah nyata dengan pesan humanis yang pengen banget
di kisahkan, sedangkan di Vantage Point adaah film yang bermotif jadi
Film Hiburan dengan unsur  dramatisasi yang dilakukan sekuat mungkin  (namun tetap logis). Bisa jadi Film ini terinspirasi denga adanya Bom Madrid (11 Maret 2004).

 

Hal
yang mengganggu ya tetap saja ketika penggambaran teroris yang mereka
sebut Kelompok Mujahid. Ada gambaran bom bunuh diri yang dilakukan
seorang OB di Spanyol yang sebelum bunuh diri memandangi foto keluarga
Arab. Dan ..lagi-lagi cerita heroiknya seorang agen rahasia Amerika
dalam menyelamatkan presiden Amerika ( diceritakan bagaimana Presiden
Amerika ternyata punya Kembaran yang gentian tampil di publik…). Ketika
semua pertahanan, kawalan berlapis, hingga multi  skenario
tampilnya preseiden Amerika Serikat ternyata ditembus oleh teroris yang
menurutku beraksi mirip cerrita The A Team atau Mission Imposible itu,
akhirnya bisa diselesaikan seorang pengawal presiden seorang diri.  Btw… mengingat cerita ini aku  jadi teringat cerita-cerita Film India….( bukan teknik bercerita nya) dimana ada seorang Hero yang
ketika banyak teman dia kalah terus, giliran dia khir Film ketika dia
hanya sendirian akan memenangkan pertarungan ( Biasanya kelahinya
diiringi hujan –hujanan…. dan pukul-pukulan dengan efek pukulan
hiperbolis ha..ha….). 

 

Gindah sempat  berkometar….., teroris yang berhasil menembus keamanan
Amerika Serikat itu ternyata bisa dikalahkan hanya karena takut
menabrak anak kecil di tengah jalan. Rori koment.. kok jadi teroris gak
serius..menembak orang jedar jeder.. mosok nabrak anak kecil tidak
berani….?  Yah.., cerita ini memang diakhiri
dengan mobil ambulan yang jadi alat untuk menculik Presiden Amerika
Asli (bukan kembaran) terbalik Karena menghindari menabrak anak kecil
spanyol bernama Anna. (Tak fikir di awal cerita.. anak kecil yang
diceritakan es krimnya jatuh karena menabrak turis Amerika ini hanya
hiasan Film…. Ternyata malah penyelesai cerita). Mungkin ada missi
humanis juga, bahwa seteroris terorisnya seseorang.. juga cinta
anak-anak…..

 

Akhirnya, bagi yang belum
nonton. Tonton saja. Namun jangan salahkan saya, kalau efek terpenting
dalam Film ini (rasa penasaran) akan berkurang, bahkan hilang gara-gara
baca Review ini. ( Salah sendir udah diperingatkan diawal ..malah
ngeyel….he..he.). Yang jelas , anda akan melihat teknik bercerita yang lain…, walaupun mirip LRTH tadi. Paling tidak…, aku merasakan sensasi nonton Vantaga Point ini mirip merasakan sensasi nonton Petualangan Luar Angkasa  di Dufan ( Coba saja seandainya 21 kursinya bisa gerak-gerak kayak di Dufan….he..he…).

————–
Cast

Dennis Quaid, Matthew Fox, Forest Whitaker, Sigourney Weaver, William Hurt, Zoe Saldana
Director(s)

Pete Travis

Writer(s) Barry L. Levy
Status In theaters (wide)
Genre(s) Action/Adventure
Release Date Feb. 22, 2008
Running Time 90 minutes
(movies.go.com)

23
Mar

De Winst by Afifah Afra

Dewinst
Novel berjudul De Winst ini
awalnya menarik karena sampulnya, ketika berjalan jalan di Islamic Book
Fair Jogja kemarin. Sampulnya lumayan mengundang penasaran, kesannya ‘dalem’. Ketika melihat nama penulis dan penerbit, bagiku ini asing. Afifah Afra dan
penerbitnya namanya Afra Publishing. Setelah kulihat sampul
belakangnya, aku baru ngeh….kenapa nama ini asing…, karena memang sudah
lama aku tidak berinteraksi dengan Novel-Novel terbitan FLP. (Terakhir
aku baca novel komunitas FLP karangan Gola Gong…sebuha trilogy novel
kalau gak salah……, soalnya dulu bosen karena kebanyakan memprovokasi
diriku untuk menikah…..he..he..).
   

Oke…
setelah tak coba masukkan nama Afifah Afra ke ‘mbah’ Google ( Dukun
paling ngerti apapun di dunia Internet), akhirnya didapat jatidiri
penulis  sbb:

 

Afifah
Afra adalah nama pena Yeni Mulati. Belakangan, penulis kelahiran
Purbalingga, 18 Februari 1979 ini, mulai diakui keberadaannya di dunia
perbukuan, terutama fiksi. Salah satu novelnya,
Bulan Mati di Javasche Oranje, menjadi salah satu karya terbaik FLP Award 2002.

      

Oke.. kembali ke De Winst....
Novel
terbitan Januari 2008 ini menarik. Alur konflik yang dibangun dalam
Novel ini cukup mengambarkan bagaimana setting pada jaman pergerakan
nasional sedang bergolak di Indonesia. Diceritakan bagaimana seorang
tokoh bernama Rangga Puruhita yang masih cucu Pakubuwono X, pulang
belajar Ekonomi dari Negeri Belanda, dan pulang ke Indonesia harus
mengalami ‘benturan peradaban’ antara status kepangeranannya,
mimpi-mimpi modernisasinya, Islamnya dan Cintanya. (He..he.. nih mbak
Yeni Muliati memang menganut pakem bahwa cerita Revolusi paling pedihpun harus disertai dengan cerita Cinta..dan kalau perlu juga pedih he..he..).

   

Sang
Tokoh Rangga Puruhita, kemudian kerja di pabrik Gula De Winst, yang
sahamnya 20 % milik ayahnya. Di Pabrik inilah dialektika referensi
penulis Novel menjadi sebuah dialog antar tokoh-tokoh besar Dunia yang
diwakili ucapan-ucapan dan pemikiran tokoh-tokoh yang ada di Novel ini.
Muncullah seorang Karl Marx, muncul Adam Smith, muncul Spinoza, muncul
Hegel dan juga muncul Haji Samanhudi, Soekarno, Hatta, dan juga
Muhammad SAW. Dalam sebuah paragraf tak lupa ada narasi tentang tokoh
Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna. Sepertinya penulis punya afiliasi
ideologis dengan tokoh terakhir ini…..seperti kebanyakan (sependek
pengetahuan saya) tentang para penulis di FLP…  (Sesuatu yang sah
saja..seperti  orang  Muhammadiyah dengan Kyai Dahlan dan  orang NU
dengan  Hasyim Asyari..)

   

Menariknya,
selain tokoh–tokoh tersebut….penulis juga mencoba mengangkat tentang
bagaimana repotnya pencarian identitas diri sebagai seorang Muslim yang
bersentuhan dengan Modernisme sekaligus Nasionalisme dalam
narasi-narasi besar Liberalisme dan Marxisme. Menurutku adalah
beruntung bila sebelum membaca Novel ini kita sudah terbiasa membaca
sejarah pergerakan Nasional, tepatnya setelah Pemberontakan PKI atau
pecahnya Sarikat Islam dengan adanya SI Merah Semarang. Tentu saja akan
lebih enak kalau sebelumnya kita juga sudah mengerti siapa itu Karl
Marx, Spinoza, Hegel, Adam Smith, Hasan Al Banna, Haji samanhudi,
Cokroamonoto, Soekarno, Hatta dan tulisan atau pemikiran mereka.
Seorang tokoh kunci yang menurutku tertinggal dalam Novel ini adalah
sosok Haji Misbah yang terkenal dengan Kyai Kiri.
Hal ini menurutku penting karena setting Novel ini adalah sebuah
sejarah nyata bangsa ini dan bertempat di Solo, dimana di masa itu
setahuku Haji Misbah menjadi salah satu penggerak perlawanan
‘Islam-Kiri’ di Solo. 

   

Dalam
membangun cerita Cinta, Novel ini cukup cantik menggambarkan cerita
yang tidak melulu ceramah menjelang pernikahan (he.he.. ini kesanku
jaman dulu ketika membaca novel novel FLP). Diceritakan adanya perasaan
seorang Bangsawan Jawa yang tertarik dengan kecantikan seorang Noni
Belanda yang baru dia kenal, namun harus kandas karena Orang tua sang
Noni Belanda harus merelakan pernikahan anaknya karena hutang (
He..he.. Siti Nurbaya Banget…), terus ada kisah bagaimana perasaan
Cinta seorang Sekar Prembayun  kepada Jatmiko dan Pratiwi kepada Kresna
karena pertimbangan “Lelaki Pemimpin Revolusi yang Cerdas itu  Seksi”
(seperti Lana Lane yang memimpikan Superman yang diangapnya krisis
eksistensi), dan juga diungkap bagaimana definisi kehormatan dan
pengabdian perempuan Jawa dimasa itu, bagaimana cinta harus terpisah
karena tirani dan politik. Dan yang terakhir bagaimana sebuah
pernikahan yang sah secara Syariat (antara Rangga dan Nonon Belanda
yang menjadi Islam), namun dalam benak sang Laki-laki masih teringat
seorang perempuan lain. Mungkin ungkapan “Cinta dan Perasaan untuk
Memiliki menjadi sesuatu yang berbeda” (seperti kata-kata Maria di Film Ayat Ayat Cinta) sejalan dengan kasus ini.   

   

Novel ini menurutku kurang dalem dalam mengungkap dialektika naras narasi besar yang menjadi content
Novel diatas, dan kuakui ini hal yang sulit karena harus mencari cara
membahasakan konsep para idealis dalam bahasa populis. Mungkin kita
bisa bandingkan dengan konflik  dalam  Novel-Novel
Hamka seperti Dibawah Lindungan Ka’bah dimana ada dialektika cantik dan
‘dalem’ antara Islam, Isu Feminsime dan Adat sekaligus cerita cinta
yang mendalam dan mengundang tangis..he.he…

   

Adalah
akan mejadi hal yang sangat menarik seandainya  detail yang
menggambarkan eksotiknya kota Solo jaman tersebut, Kraton, Budaya
Eropa, Arab dan  Cina , Kampung Batik Laweyan serta kehidupan Buruh Pabrik Tebu , sehingga Novel ini menjadi Filmis…

   

Satu
lagi..penulis sepertinya lupa ketika menceritakan Pesta Dansa yang
berlangsung di Batavia. Dimana diceritakan bahwa pesta dansa itu di
Hotel, namun seorang tokoh ada yang mengatakan ketika ada ancaman
kepada seseorang yang dianggap pengganggu bahwa dia akan dilaporkan ke
petugas Kapal…..

   

Akhirnya,
Novel ini perlu dibaca oleh semua orang yang ingin mengenal dirinya
sebagai orang Indonesia. Bagaimana dialektika menjadi seorang Indonesia
seutuhnya bisa diawali dengan membaca Novel ini. Keresahan spiritual,
benturan realitas dan idealitas, serta kebingungan para pecinta menjadi
hal-hal yang teramu menarik dalam Novel ini. Sayang.. tampilan novel
keren ini menurutku harus terganggu dengan tulisan di cover depan
bagian bawah : Sebuah Novel Pembangkit Idealisme. ( he.he.. lagi-lagi
tulisan seperti inilah yang menyebabkan aku tidak tertarik membaca
Novel  Ayat-Ayat Cinta….)

   

 

Lihat : http://www.afifahafranews.blogspot.com/

17
Mar

Agama untuk Cinta, Atau Cinta untuk Agama

175pxpartition
Film Partition (2007) menurutku Film
yang cukup menarik untuk dilihat, dimana isu ‘asmara’ harus berkelidan
dengan isu politik dan agama. Dari Film ini kita bisa belajar bahwa ternyata di tataran realitas, Agama
(teks normatif..historis), yang oleh sebagian kita dianggap sebagai
alat baca benar-salah realitas tidak sepenuhnya mudah. Dalam Film ini
kita disuguhkan bahwa Agama sebagai sebagai sebuah keyakinan personal,
harus memiliki legitimasi kesukuan-ras, politik (negara). Agama dan
Politik dalam film ini digambarkan sebagai sebuah dialog yang gagal
(menurutku) sehingga mengorbankan banyak orang lemahdalamperpisahan
(partition) India dan Pakistan pada tahun 1947. Walaupun begitu aku
sangat menghormati pikiran-pikiran Muhammad Iqbal yang menggagas negeri
Pakistan dan aku juga mencoba terus mengapresiasi kearifan Gandi, sang
bapak India Modern.
   

Secara
garis besar sih Film ini menceritakan percintaan dua orang anak manusia
berbeda jenis, berbeda agama dan status kenegaraan. Tergambar ,
bagaimana orang Muslim dikejar kejar orang Hindu dan mereka berlarian
ke arah Pakistan (sekarang).
Kemudian ada seorang muslimah tertinggal dari  rombongan, ditolong laki-laki India (Sikh) dan kemudian mereka
saling naksir. Mereka menikah dengan agama tetap masing-masing
(kayaknya kita belum melihat Fiqh mahzab apa yang dianut), dankemudian
memiliki anak.

   

Suatu
saat, sang perempuan ingin mencari keluarganya di Pakistan, dan istri
berangkat sendiri. Setelah beberapa waktu ditunggu, sang perempuan
tidak pulang-pulang, karena ternyata di sandera keluarganya yang Muslim
dan tidak boleh kembali ke India. Kemudian, sang suami dan anak yang
kangen ibunya menyusul ke Pakistan, namun dia harus menjadi beragama
Islam sebelum masuk Pakistan. Pada sesi inilah kita harus melihat
terjadi dialektika antara agama dan cinta personal. Dan dalam Film ini
akhirnya agama (laki-laki) memilih menjadi Islam.

   

Bapak
dan anak itu mencari ibunya, dan terjadilah konflik antara keluarga
sang perempuan dan suaminya. Kekuatan cinta yang selama ini mereka coba bangun dengan menafikkan isu agama dan politik (serta dendam) ternyata harus diuji.
Ibu
sang perempuan dan kakak-kakak laki-lakinya terus menekan si perempuan.
Terjadilah kejadian tragis dalam konflik ini, dan kemudian sang
laki-laki terbunuh oleh keluarga perempuan. Pembunuhan muslim atas
muslim akibat dendam dan kesukuan

   

Isu
agama yang kadang jadi pembenaran egoisme dan dendam kesumat dalam Film
ii coba diangkat. Perpecahan, pertarungan dan perselisihan yang sering
memperalat agama sebagai pembenar oleh Film ini dikritik habis. Bukan
menempatkan cinta diatas agama menurutku, namun coba membuka realitas
bahwa ternyata seorang Muslim juga bisa gelap mata, terus menyimpang
dendam dan itu dilegitimasi oleh ke-Islamannya. Sehingga borok itu
terkuak ketika musuh dari suku lain itu kemudian masuk Islam, mereka
tetap memandangnya sebagai hutang darah dibayar dengan darah. Sehingga
sejatinya permusuhan mereka disini bukan atas nama agama lagi. Cerita
ALi bin Abi Thalib yang membatalkan menebas leher musuh karena diludahi
musuh tidak terjadi disini. Emosi, egoisme dan dendam menjadi utama
disini. Dan lagi-lagi memiliki pembenarannya…

   

Permusuhan
sejatinya adalah pertarungan ego manusia semata, namun kadang agama
sering diperalat untuk membenarkan egoismenya semata.