Kesatria. Knight. Warior. Samurai. Mungkin istilah-istilah itu tidaklah tepat sekali bila dianggap sebagai padanan kata. Namun, adalah sebuah kenyataan bahwa predikat – predikat di atas di tujukan pada orang-orang yang tidak sembarangan. Di setiap budaya dan peradaban pasti memiliki orang-orang seperti itu. Raja tanpa kesatria bukanlah raja sejati. Raja tanpa kesatria bukanlah sebuah tahta.
Memang. Secara resmi bangsa ini bukanlah bangsa yang terpimpin dalam sebuah sisitem kerajaan lagi. Mulai 1945 bangsa yang bernama Indonesia ini dipilihkan oleh para pendiri negeri ini untuk menjadi sebuah Negara Republik. Terlepas darimanapun teori yang dipakai untuk membentuk negara ini, yang jelas saat ini kenyataannya bangsa Indonesia bernama Negara Republik Indonesia.
Namun, bukan berarti saat ini bangsa ini tidak membutuhkan para kesatria kembali. Karena para kesatria sejatinya tetap dibutuhkan sepanjang masa. Bila ingin membangun peradaban, tanpa para kesatria tidaklah mungkin akan terbangun. Tanpa kesatria, sebuah sistem, apapun sisitem itu tak mungkin tegak.
Kesatria, Knight, Warior, Samurai adalah sosok-sosok yang mengedepankan militansi. Militansi, kesetiaan, keadilan, kebenaran, kemanusiaan dn kesetiaan. Mereka orang yang patuh namun bukan berarti tidak bisa bersikap. Mereka orang yang lurus namun bukan berarti tidak tahu politik. Mereka orang yang sabar, namun bukan berarti gentar menghadapi para penghianat. Mereka adalah manusia-manusai setia yang setia akan sumpahnya. Sumpah terhadap sebuah janji perjuangan. Sumpah terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dan satu lagi Kehormatan.
Mereka yakin, Tuhan menurunkan mereka bukan untuk menjadi raja. Tuhan menurunkan mereka untuk menjadi pembela kebenaran. Tuhan menurunkan mereka untuk menjadi benteng keadilan. Mereka bekerja karena Tuhan, bukan karena manusia. Tuhan bagi mereka dekat. Tuhan bagi mereka turun dalam keyakinannya. Tuhan bagi mereka adalah segalanya. Karena mereka yakin , Keadilan Tuhan harus terwujud di bumi ini. Dan koruptor, pencuri, pemerkosa, penggusur, penindas adalah musuh-musuh Tuhan yang berwujud manusia. Mereka harus musnah, bagaimanapun caranya.
Kesatria tidaklah bodoh. Kesatria tidaklah emosional. Kesatria tidaklah lemah. Kesatria bukanlah penghianat. Kesatria adalah perpaduan antara kecerdasan, keluhuran budi, kekuatan raga dan kejujuran. Kesatria tidaklah takut bila dia terpaksa menjadi seorang jelata. Kesatria juga tidak akan gagap bila sejarah menghendaki mereka menjadi seorang raja. Kesatria adalah seseorang yang siap untuk menjadi siapapun, dimanapun dan kapanpun Tuhan menghendakinya.
Namun, mengapa bangsa ini sepertinya sudah kehabisan para kesatria itu. Mana orang-orang yang santun, sabar, namun cerdas, tegas dan amanah itu berada di hadapan kita ? Mengapa setelah 60 tahun merdeka kita tidak bisa menghasilkan orang-orang itu. Ataukah mereka ada namun mereka tersingkir ? Ataukah mereka ada namun mereka memilih untuk menyepikan diri ?
Seorang kesatria juga akan tahu kapan dia harus tampil dan kapan dia harus pergi. Namun, bukanlah kesatria bila dia tidak ambil pusing dengan kebobrokan negeri ini. Dan bukanlah kesatria bila dia memilih menyepi, menangisi nasib negeri tanah tumpah darahnya ini.
Mana kesatria itu ? Kitakah ? Bukan saat ini untuk menjawabnya, namun waktu yang akan membuktikannya.
( Refleksi ini ditulis agustus setahun yang lalu, hebatnya aku dah kehilangan filenya ternyata diselamatkan di Multiply temenku, Dedi Ariyono. Makasih ded…)