Archive for August, 2006

30
Aug

Kerinduan Datangnya Seorang Ksatria

Cimg9883 Kesatria. Knight. Warior. Samurai. Mungkin istilah-istilah itu tidaklah tepat sekali bila dianggap sebagai padanan kata. Namun, adalah sebuah kenyataan bahwa predikat – predikat di atas di tujukan pada orang-orang yang tidak sembarangan. Di setiap budaya dan peradaban pasti memiliki orang-orang seperti itu. Raja tanpa kesatria bukanlah raja sejati. Raja tanpa kesatria bukanlah sebuah tahta.

Memang. Secara resmi bangsa ini bukanlah bangsa yang terpimpin dalam sebuah sisitem kerajaan lagi. Mulai 1945 bangsa yang bernama Indonesia ini dipilihkan oleh para pendiri negeri ini untuk menjadi sebuah Negara Republik. Terlepas darimanapun teori yang dipakai untuk membentuk negara ini, yang jelas saat ini kenyataannya bangsa Indonesia bernama Negara Republik Indonesia.

Namun, bukan berarti saat ini bangsa ini tidak membutuhkan para kesatria kembali. Karena para kesatria sejatinya tetap dibutuhkan sepanjang masa. Bila ingin membangun peradaban, tanpa para kesatria tidaklah mungkin akan terbangun. Tanpa kesatria, sebuah sistem, apapun sisitem itu tak mungkin tegak.

Kesatria, Knight, Warior, Samurai adalah sosok-sosok yang mengedepankan militansi. Militansi, kesetiaan, keadilan, kebenaran, kemanusiaan dn kesetiaan. Mereka orang yang patuh namun bukan berarti tidak bisa bersikap. Mereka orang yang lurus namun bukan berarti tidak tahu politik. Mereka orang yang sabar, namun bukan berarti gentar menghadapi para penghianat. Mereka adalah manusia-manusai setia yang setia akan sumpahnya. Sumpah terhadap sebuah janji perjuangan. Sumpah terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dan satu lagi Kehormatan.

Mereka yakin, Tuhan menurunkan mereka bukan untuk menjadi raja. Tuhan menurunkan mereka untuk menjadi pembela kebenaran. Tuhan menurunkan mereka untuk menjadi benteng keadilan. Mereka bekerja karena Tuhan, bukan karena manusia. Tuhan bagi mereka dekat. Tuhan bagi mereka turun dalam keyakinannya. Tuhan bagi mereka adalah segalanya. Karena mereka yakin , Keadilan Tuhan harus terwujud di bumi ini. Dan koruptor, pencuri, pemerkosa, penggusur, penindas adalah musuh-musuh Tuhan yang berwujud manusia. Mereka harus musnah, bagaimanapun caranya.

Kesatria tidaklah bodoh. Kesatria tidaklah emosional. Kesatria tidaklah lemah. Kesatria bukanlah penghianat. Kesatria adalah perpaduan antara kecerdasan, keluhuran budi, kekuatan raga dan kejujuran. Kesatria tidaklah takut bila dia terpaksa menjadi seorang jelata. Kesatria juga tidak akan gagap bila sejarah menghendaki mereka menjadi seorang raja. Kesatria adalah seseorang yang siap untuk menjadi siapapun, dimanapun dan kapanpun Tuhan menghendakinya.

Namun, mengapa bangsa ini sepertinya sudah kehabisan para kesatria itu. Mana orang-orang yang santun, sabar, namun cerdas, tegas dan amanah itu berada di hadapan kita ? Mengapa setelah 60 tahun merdeka kita tidak bisa menghasilkan orang-orang itu. Ataukah mereka ada namun mereka tersingkir ? Ataukah mereka ada namun mereka memilih untuk menyepikan diri ?

Seorang kesatria juga akan tahu kapan dia harus tampil dan kapan dia harus pergi. Namun, bukanlah kesatria bila dia tidak ambil pusing dengan kebobrokan negeri ini. Dan bukanlah kesatria bila dia memilih menyepi, menangisi nasib negeri tanah tumpah darahnya ini.

Mana kesatria itu ? Kitakah ? Bukan saat ini untuk menjawabnya, namun waktu yang akan membuktikannya.

( Refleksi ini ditulis agustus setahun yang lalu, hebatnya aku dah kehilangan filenya ternyata diselamatkan di Multiply temenku, Dedi Ariyono. Makasih ded…)

30
Aug

The scientist ………..

The scientist does not study nature because it is useful; he studies it
because he delights in it, and he delights in it because it is beautiful.
If nature were not beautiful, it would not be worth knowing, and if nature
were not worth knowing, life would not be worth living.

–Jules Henri PoincarĂ© (1854-1912)

23
Aug

Merdeka..!?#$@#$

Img_0077Img_0042Img_0035Img_0314   

14
Aug

Ketika Manusia Tiba-Tiba Kehilangan Pegangan

Menjadi dewasa berarti menyadari bahwa hidup tidak semudah sebelumnya. Itu mungkin secarik makna yang bisa tak tangkap dari "Sang Pemimpi" nya Andrea Hirata.

Klasik sebenarnya, benturan antara idealisme dan relisme. Tapi inilah cerita abadi sejarah manusia. Manusia ketika dewasa terus mencari dirinya dengan terus membentur benturkan ’senyatanya’ dan ‘ Seharusnya’. Manusia dewasa terus menerus dipaksa untuk menentukan pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah. Manusia dewasa dipaksa ‘keadaan’ untuk mencari dirinya sekaligus ‘menghidupi’ dirinya. Keduanya tidak mudah, seringkali dimaknai oleh sementara orang menjadi sebuah bentuk ‘oposisi biner’ yang saling mematikan.

Mencari diri ternyata menjadi ‘pekerjaan’ yang dianggap mewah oleh sebagian besar manusia. Banyak orang yang menganggap upaya pencarian diri hanya upaya yang bisa dilakukan oleh mereka yang ‘mapan’ saja. Upaya pencarian diri dianggap sesuatu yang sekunder dari perjalanan yang dinamakan kehidupan. Bahkan ‘Preman’ sekelas Rahwana saja harus menyesali kelahirannya dan merengek kepada ibunya untuk dikembalikan kedalam kehangatan rahimnya karena dia tidak cukup memiliki ‘kemapanan’ diri untuk menghadapi kenyataan.

Em.. aku teringat Film Opera Jawa " Sinta Obong". Di Film itu aku menangkap pelajaran bahwa sesungguhnya manusia memiliki sisi sisi rapuh, sekuat apapun mereka. Sinta ( Siti..?) dari tampilan luar tampaknya tegar , namun dengan mengkambinghitamkan ‘keadaan’ ternyata pertahanan ‘idealisme’ nya ( nyaris..atau sudah..?) runtuh ditangan rahwana. Rama yang ‘orang baik’ ternyata tidak cukup. Orang baik seperti rama ternyata juga bisa menjelma menjadi sosok kerdil yang tidak bisa menerima kenyataan. Rama menjadi sosok lemah yang tidak bisa serta merta menjadi pelindung istrinya. Bahkan Rama kemudian menjadi lelaki yang paling memuakkan di dunia ketika dia  tidak bisa menggunakan hatinya untuk mempercayai istrinya.

Rahwana…? Terus terang aku tertarik dengan ‘kelaki-lakiannya’ dan perjuangannya mewujudkan keyakinannya bahwa hanya Sinta yang akan menyelesaikan masalah hatinya. Namun ternyata dia hanay sosok ‘Preman Manja’ yang  butuh pelampiasan atas ( lagi-lagi) kerapuhan dirinya.

Begitulah….

Pencarian diri adalah proses yang tidak pernah selesai untuk dilakukan. Bisa jadi Rama menajdi rapuh karena dia menghentikan proses pencarian diri, sehingga dia tidak siap dengan kemungkinan terburuk yang akan dihadapinya. Bisa jadi Sinta sebelumnya merasa bahwa ketika ‘menikah’ dengan Rama proses pencarian dirinya dianggap selesai, sehingga ketika ada ‘godaan’ dan ‘ goncangan’ dia tidak siap. Dan Rahwana bahkan berhenti melakukan pencarian diri karena dia berhenti pada fase anak-anak : Menghalalkan segala cara untuk memenuhi segala keinginannya.  ( Karena anak-anak memang tidak ‘diharuskan’ mengenal halal dan haram…).

Sehingga manusia-manusia hebat itu tiba-tiba terpuruk dan kemudian bingung dan terus bingung. Ketegaran seseorang kadang menjadi semu dan kemudian berubah menjadi kerapuhan yang sangat hebat. Mao Tse Tung saja di akhir hayatnya hanyalah pemimpin besar yang ‘kehilangan dirinya’. Demikian juga Hitler atau juga Soekarno dan Soeharto. Bisa jadi itu terjadi karena mereka menghentikan proses pencarian dirinya.

AL Ghozalipun bahkan pernah ‘kehilangan diri’ hingga dua kali. Namun dia terus survive dan terus melakukan pencarian….

Kalau kita kemudian kehilangan pegangan, maka sandaran utama kita adalah diri kita. Yang kedua adalah orang-orang yang menyayangi kita dengan tulus…… Yang ketiga ( dan seharusnya…) Allah SWT.

———————————-

Untuk teman baikku, teruslah berjuang untuk berkomunikasi dengan keadaan. Kadang memang dunia ini kelihatan ‘tidak adil’ ketika kita melihat orang-orang bisa bebas tertawa dan kita masih tertahan, entah sampai kapan. Tapi apakah kita juga yakin bahwa mereka yang tertawa bebas itu sudah lepas dari masalah dirinya ? Kita juga tidak tahu. Ketulusan bukan dalam kata-kata. Mereka yang ‘mengagungkan’ kita kadang adalah para penjilat yang mematikan ‘hatinya’. Atau mereka yang memang baru ’sedikit’ berproses ‘menjadi manusia’. Mereka yang berani berkata bahwa kamu (juga) rapuh…..mungkin merekalah sejatinya teman. Kamu yang tahu semuanya,………..kamu yang tahu dirimu sebenarnya. Kamu yang akan bertanggungjawab atas pilihanmu . Bukan siapa-siapa. Tegarlah….!

Mintalah kepada yang Maha memutarbalikkan hati untuk menetapkan hati. Kadang memang mata dan logika sejenak perlu kita istirahatkan. Kalau perlu menangis, menangislah. Namun…setelah itu kita butuh keyakinan untuk melanjutkan hidup.

13
Aug

Mimpi-Mimpi Manusia

Manusia berhak bermimpi. Namun manusia ternyata punya energi terbatas untuk terus bermimpi. Manusia kecil kadang harus dipaksa ‘bapak’ nya untuk bermimpi, namun ternyata ketika menjadi benar-benar Manusia kadang dia lelah dan kemudian ingin sekali mengganti mimpinya dengan kenyataan yang kokoh.

Manusia ketika bisa tetap masih bermimpi berarti dia masih mengakui adanya Hari esok. Manusia ketika bisa tetap bermimpi berarti dia memiliki keyakinan akan dirinya. Manusia pemimpi memang kadang sulit membedakan kesalahan dan kebenaran, namun manusia pemimpi adalah manusia yang berani menyatakan bahwa akhir dunia adalah sebuah keindahan.

————–Untuk kawan yang ternyata sudah merasa lelah untuk bermimpi.

06
Aug

‘Superman’ is Dead………..

Ada ungkapan seorang atheis…." Sayalah penolong diri saya. Biarlah saya tidak mengakui adanya Tuhan, karena Tuhan diam saja ketika saya ditindas, lapar dan ketakutan…."

Ada ungkapan seorang yang ‘bukan’ atheis " …. Gusti Allah Ora Sare….,kita pasrahkan saja, semua kesulitan kita adalah bagian dari takdir Allah"

Ada ungkapan seorang dokter "…..Saya sudah berusaha semampunya… namun Allah yang Menentukan semuanya.."

Ketiga ungkapan itu terucap dari mulut manusia. Manusia yang sering meperdebatkan hakikat dirinya dalam ‘perang abadi’ humanisme, religiusitas dan Intelektualitas ( Walah.. kok kemakan doktrin IMM banget….)

Ungkapan pertama dalah sebuah ungkapan ekstrim seorang penganut Huknaisme. Dia memandang hiudp adalah ditangganya sepenuhnya. Dialah penolong dirinya. Dialah penolong kesulitan dirinya. Bukan orang lain, bukan pula Tuhan. Dia percaya bahwa manusia itu terbatas, namun yang dia tahu keterbatasan manusia itu tidak perlu menjadi pembenar adalanya Tuhan .

Uangkapan kedua adalah contoh bagaimana ungkapan ‘nge less’ sosok manusia yang mengedepankan religusitas. Dalam bahasa pramudya, sosok ini smenganggap agama adalah terminal teralhir segala permasalahan. Dia berfikir bahwa dengan ‘menyerahkan’ segala kenyataan kepada Tuhan, semua dianggap selesai.

Ungkapan ketiga adalah ungkapan khas seorang dokter yang ada di Rumah Sakit pada sinetron-sinetron Indonesia (..ha..ha dah lama gak nonton sinetron). Mereka yang bagaimanapun juga merupakan sosok profesional yang memiliki intelektualitas kasta ‘tertinggi’ di masyarakat negeri berkembang seperti INdonesia ini. Ungkapan itu mencerminkan adanya relasi antara usaha dan Takdir Tuhan.

Terserah Anda mau memilih yang mana. Dan tolong jangan gegabah memetakan dimana posisi Saya dalam pilihan-pilihan di atas. Yang jelas saya dalam tulisan ini sedang membangun dialektika antara ketiganya sebagai semuah kenyataan dan sesuatu yang diijinkan Allah SWT ‘mengada’ di ranah dunia ini.

Manusia harus menolong dirinya sendiri, itu prinsip utamanya. Manusia harus menjadi sosok yang memiliki tanggungjawab terhadap apa yang terjadi pada diirnya sendiri. Ketika seorang manusia terbiasa ‘nge less’ sebuah ‘kegagalan’ diirnya dengan mencari kambing hitam, maka hanya kan ada dua kemungkinan dalam hidupnya : Menjadi sosok politisi ulung, atau menjadi sosok rapuh, kerdil dan menjadikan dirinya adalah sosok bodoh, sampah peradaban.

Manusia dianugerahi akal. Manusia dianugerahi energi. Manusia dianugerahi waktu. Ketiganya menyatu dalam diri manusia semenjak dirinya resmi menjadi manusia. Dalam konsep Islam, keberadaan manusia dimulai semenjak ruh ditiupkan di alam rahim.

Dari anugerah itu maka yang kemudian menjadi masalah adalah seberapa maksimal seorang manusia memanfaatkan ketiganya. Seberapa besar upaya manusia untuk menjadikan ketiganya sebagai modal untuk menolong dirinya ( minimal). Sehingga dirinya menjadi sosok yang ’selamat’.

Kadang yang kemudian ironis adalah ketika seorang manusia sering menjadi penolong manusia lain. Dia sosok ‘hero’ bagi kanan- kirinya. Bahkan ekspekstasi lingkungannya kepada dirinya ( kalau bisa) dia harus menjadi ‘Superman’.

Namun seperti layaknya cerita Superman ( Eh..akhirnya nyambung juga dg judul…), superman itu gagal menjadi penolong dirinya sendiri. Dia yang superbaik, superkuat, super……….. ternyata tidak bisa menolong diirnya sendiri ketika harus berhubungan dengan ‘fitrah’ dirinya.  Dia gagal dalam beberapa hal, termasuk ketika dia harus ‘melarikan diri’ ketika melihat kenyataan yang membuktikan ‘kegagalan’ dirinya menjadi manusia yang utuh. Mungkin kita akan nge-less ala Seureus band " Superman Juga Manusia……"

Anggap saja kita dalam posisi SUperman. Mengapa superman ‘gagal’ menjadi mansia ? Karena Superman sedang dalam tahap krisi identitas. Superman bingung dirinya siapa. Superman bingung apa tugas sejatinya di dunia ini. Superman bingung bagaimana menempatkan diri pada kenyataan yang dibangunnya bersama Daily Planet, Metropolis, Smallvile hingga menyelamatkan/memperjuangkan hubungannya dengan Lois Lane.

Balik ke bahasan awal tadi,….. kalau kita ingin menjadi "Penolong Umat’ , tolonglah diri sendiri juga. Namun tahap awal yang harus dilakukan adalah : Mengenali diri dan menentukan tujuan hidup ini.

Wallahu Alam Bissawab

——————————————————————————

Warnet Intersat Mangkuyudan

05
Aug

3 dunia plus satu

Dsc04177 Manusia tumbuh dan berkembang. Fisiknya berkembang. Intelektualitasnya berkembang. Spiritualitasnya berkembang. Fungsi sosialnya berkembang.

Manusia memiliki fase-fase dalam hidupnya. Fase pra anak-anak yang sejatinya adalah fase paling merdeka. Fase anak-anak yang mengenalkan kesuraman kehidupan. Fase remaja yang penuh dengan impian tak terbeli. Dan fase dewasa yang selalu diawali dengan krisis akan sulit menyatunya 3 dunia yang kalau jujur akan dimiliki setiap manusia.

Ketiga dunia itu adalah : Tanggung Jawab Profesionalismenya, Tanggungjawab Sosialnya dan Tanggungjawab finansialnya.

Tanggungjawab profesionalisme tidak selalu berbanding lurus dengan finansial, walaupun sering terjadi. Tanggungjawab profesionalisme ini merupakan tanggungjawab dimana setiap manusia dewasa diharapkan telah mengembangkan daya intelektualitasnya dengan bersinggungan dengan spesialisasi kompetensi dalam keilmuan. Tanggungjawab profesionalisme ini dalam berberapa profesi malah sudah berhubungan dengan sebuah kode etik di bawah sumpah profesi yang rigid. Tanggungjawab profesi ini juga berbanding lurus dengan tanggungjawab sosial dimana setiap profesionalisme seseorang selalu harus bermanfaat untuk masyarakat tempat dia tinggal.

Tanggungjawab sosial adalah tanggungjawab yang tumbuh ketika seseorang menduduki posisi tertentu secara sosial. Posisi ini baik berupa ‘jabatan’ informal maupun jabatan formal di organisasi-organisasi kemasyarakatan. Tanggungjawab sosial ini berbanding lurus dengan tingginya fungsi sosial ( politik)yang dia perankan di masyarakat. Bila seseorang bisa menjadi presiden, bisa diartikan dia memiliki tanggungjawab sosial yang tinggi secara formal. Bila seseorang menjadi ketua PP Muhammadiyah maka tanggungjawab sosialnya juga tinggi secara informal.

Sedangkan tangungjawab finansial adalah berbanding lurus dengan kebutuhan lahiriyah. Secara lahiriyah, logistik , kita selalu mengalami perkembangan kebutuhan. Kita perlu rumah, makanan, pakaian, pendidikan  dll dan bekembang sepanjang hari. Belum lagi biaya fungsionalisasi tanggungjawab profesional maupun sosial.

Ketiga tanggungjawab itu kadang sulit untuk bertemu dalam satu irisan yang sempurna. Ketiganya kadang muncul dalam sebuah pribadi kita dalam irisan-irisan yang tipis sekali. Dan seperti yang dinyatakan di atas, di fase dewasa awal manusialah yang  menghadapi dilema itu. Ada yang memilih untuk menitikberatkan dirinya pada profesinya. Ada yang memilih ke tanggungjawab sosialnya dan ada yang memilih kecenderungan ke tanggungjawab finansialnya.

Disinilah antara intelektualitas, wawasan, ideologi dan spiritualitas berperan. Elemen-elemen itu yang menentukan seberapa cerdas kita memperbesar irisan kita. Kecerdasan untuk menjadikannya satu ‘harakah’ adalah simbol sebuah kedewasaan. Walaupun kita semua sepakat bahwa kedewasaan itu adalah proses yang standarnya adalah sebuah relatifitas.

‘Kedewasaan’ untuk menghasilkan lebarnya irisan ketiga tanggungjawab diatas yang kemudian akan menentukan bentuk dunia tambahan yang dalam kehidupan awal kedewasaan manusia adalah sebuah pilihan : ‘berpasangan’. Karena bila ketiga tanggungjawab di atas irisannya terlampau tipis atau bahkan kacau sinerginya, dunia tambahan yang terakhir ini bisa-bisa hanya menjadi tambahan persoalan sinergisitas dari tiga tanggungjawab di atas. Sehingga masalahnya jadi bagaimana mensinergikan ( atau memperbesar irisan) tanggungjawab profesional, sosial , finansial dan ‘berpasangan’. Bayangkan saja repotnya…………….! Memilih untuk membiarkannya ‘chaos’ adalah sebuah bom waktu yang hanya akan menunggu meledak. Membangun dasar-dasar kecerdasan sebagai modal proses ’sinergisitas’ adalah pilihan tepat.

03
Aug

Dua Jendral Pengemis dan Wanita-Wanita Hebat

Dscn0095_1 Pengemis…?

Mungkin begitulah yang terjadi pada dua orang ‘Jendral’ aktifis mahasiswa yang kukenal sepekan ini. Dua orang jendral yang ‘pada masanya’ akrab dengan pikiran-pikiran radikal, revolusioner dan kerab dibumbui dengan gaya bahasa pesimis ala Pramudya tiba-tiba berubah menjadi pengemis. Mereka boleh saja punya curiculum vitee berkali-kali berteriak di jalanan untuk mengikuti dan memimpin demonstrasi. Mereka boleh saja selalu menjadi penyemangat kader-kadernya untuk berani menjadi martir perubahan. Mereka boleh selalu mengatakan kepada ‘rakyat’ bahwa kita harus membela harga diri kita. Bla..Bla…Bla…

Tapi minggu ini, secara hampir bersamaan keduanya jadi pengemis. Mereka benar benar takluk tanpa daya berharap terhadap orang lain. Mereka seakan menanggalkan wacana harga diri. Mereka seakan lupa bahwa mereka selalu berkhotbah bahwa perubahan harus dilalui dengan kehormatan. Mereka seakan tidak pernah membaca bagaimana ide-ide seorang Hatta tentang kehormatan atau idealisme.

Yah.. mereka menjadi pengemis karena mereka adalah laki-laki…… Mereka menjadi pengemis karena tiba-tiba ketemu ’sesuatu’ yang diyakininya adalah kutub yang menjadi ‘penarik sejatinya’. Mereka tiba-tiba menjadi sosok cengeng yang tiba-tiba tanpa daya bahkan daya tawar tentang dirnya, tentang masa depannya, tentang apa yang diperjuangkan selama ini. Mereka menjadi pengemis karena Wanita.

Mereka menjadi pengemis. Mereka benar-benar menjadi pengemis. Mereka seakan bukan jendral lagi. Mereka menjadi peminta minta yang benar-benar tidak punya kehormatan. Mereka lupa kalau mereka pernah berkata " ..memangnya dia siapa…..?"

Mereka kemudian bersama sadar bahwa mereka adalah jendral. Mereka sadar bahwa mereka juga punya kehormatan. Mereka sadar bahwa sebuah relasi (walaupun atas nama Cinta) adalah sebuah hasil negosiasi. Negosiasi sejajar, bukan negosiasi ketika satunya berada dalam posisi tawar rendah dan satunya dalam posisi tawar tinggi. Repotnya mereka sulit  ‘nyetrum’ dengan Wanita Biasa, dan tentu saja mereka hanya bisa ‘nyetrum’ dengan Wanita Hebat Saja.

Mereka setia dengan slogannya sendiri :’ Tidak ada Kemustahilan merubah keadaan, ketika Tuhan mengijinkan bentuk keadaan itu ‘ada’ dalam otak kita. Jujur mendengar suara hati… perjuangkan !’

Mereka bertemu, tersenyum getir dan kemudian membodoh bodohkan diri mereka sendiri. Mereka tertawa keras dan menyadari bahwa " Pilihan hidup jadi aktifis bukan berarti mengikuti jejak Soe Hok Gie yang harus membawa mati cintanya  di akhir cerita, tapi memperjuangkannya dengan penuh harga diri "

Dalam benaknya mereka berfikir " Seandainya Wanita bisa ‘diturunkan’ lewat demonstrasi" (Ha..ha..ha….Hebat memang para wanita itu….!!!)

Oke kawan… terus berjuang…. maju terus… bukan berarti mengemis….!!!!

———————————————————————————–

Tulisan ini difikir sambil senyum-senyum sendiri dalam perjalanan dari Sribit ke Jogja setelah merasakan enaknya pakai Batik pertama sepanjang hidupku (Kata anak-anak POSKO jadi tambah fresh…he..he…) Makasih juga buat Mas Ayip dan Istri, gak tau kenapa kalau ngeliat kalian aku jadi punya inspirasi….ha..ha..(Intinya sih ngiri…).