Salam…. Oke.. setelah ngeblog 4 bulan di FS, aku hiatus dulu barang beberapa saat. Lagi pengen menyelesaikan urusan di ‘dunia lain’ lagi….
Aku janji kembali dengan tulisan-tulisan yg lebih ‘mature’
Salam…. Oke.. setelah ngeblog 4 bulan di FS, aku hiatus dulu barang beberapa saat. Lagi pengen menyelesaikan urusan di ‘dunia lain’ lagi….
Aku janji kembali dengan tulisan-tulisan yg lebih ‘mature’
Suatu saat setiap orang akan merasa terasing dengan dirinya. Entah kapan itu akan datang, setiap manusia yg ’kebetulan’ terlahir dengan hati, akal, nurani dan ’antena’ penangkap sinyal ketuhanan akan mendaptinya. Entah itu akan mendapatinya di awal beranjak dewasa, pertengahan dewasa atau ketika umur sudah dianggap tua.
Setiap manusia juga akan mendapatinya dalam beberapa model. Ada yang mendapatinya sekali dalam seumur hidup, ada yang mendapatinya dua tiga kali dalam hidup.
Inilah yang kemudian disebut kondisi krisis. Dimana disaat itulah titik kritis konsep-konsep segitiga religiusitas-intelektualitas-humanitas berinteraksi dalam diri dan meminta jawaban. ( He..kok jadi kepengaruh IMM banget,… jujur aku sulit nyari istilah lain untuk menggambarkan entitat-entitas yang berkembang dalam kondisi kritis seseorang).
Seorang individu dalam kondisi kritis ini akan seperti orang yang kehilangan dirinya. Dia melihat jasadnya tiba-tiba dianggap tidak cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dirinya. Dia yang telah belajar tentang alam semesta ternyata akan tiba dalam kondisi dimana dia mengalami kesulitan untuk mendefinisikan tentang dirinya. Dia yang belajar tentang Tuhan dan ajaran-ajarannya merasa kesulitan untuk mencari bentuk sinergi dengan ’dirinya’. Dan terakhir, dia yang memiliki pengalaman kehidupan sosial juga menimbulkan pertanyaan tentang bentuk relasi kehidupan sosial dengan semua hal di atas. Intinya… orang akan penuh dengan pertanyaan dan kemudian terus menerus mencari jawaban yang sepertinya tanpa akhir.
Yang menjadi masalah, kadang seseorang tidak akan jujur dengan kebutuhan diri itu. Seseorang kadang selalu mematikan kondisi dimana tiba-tiba titik kritis itu hendak datang pda dirinya. Ketika tiba-tiba kita melihat Gunung dan kemudian bertanya tentang ’ Mengapa Tuhan menciptakan Gunung,….” mungkin kita akan dengan gagah berani mencari jawabannya. Namun ketika pertanyaan berubah menjadi ”….untuk apa dirinya sebagai manusia tercipta….?” dia akan buru buru untuk mematikan pertanyaan itu. Itulah pengingkaran terhadap kebutuhan diri dan bisa dipastikan dia tidak akan mendapatr jawabannya kalau memang tidak berani berproses untuk mencari jawabannya.
Resiko untuk berproses ’mencari diri’ itu kadang memang dalam kacamata empiris menjadi ironis. Seseorang yang berusaha ’mencari diri’ kadang akan terpaksa dianggap sebagai sosok ’gila’ yang ’kurang kerjaan’. Dia menjadi orang yang mungkin produktifitas praksisnya berkurang drastis, dan perenungan diri serta ’kegilaan’ mencari referensi baik buku maupun teman diskusi menjadi dominan dalam dirinya. Inilah yang kemudian ’mahal’ ,.. karena banyak yang menganggap ini adalah sebuah pertaruhan.
”Pertaruhan…?”
Kata itu bila diukur dalam kacamata pragmatis mungkin benar. Namun bukankan Allah SWT menjanjikan hambanya yang dengan sungguh-sungguh ’belajar’ akan mendapat hidayah-Nya ? Bukankah kalau kita manusia yang beriman akan dengan mudah bersandar pada ”…..Allahumma arinal haqqo haqqo warzuqnatiba’a warinal batila batila warzuqnatinaba....”?. Dan juga kita selalu yakin dengan konsep”..iyya kanaqbudu wa iyya kanasta’in....”?
Artinya,… jangan takut untuk berproses mencari diri ketika ’benak’ benar-benar penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang datang dan terus akan datang hingga ’mailbox’ benak kita penuh. Bayangkan kita nantinya akan menjadi seorang bapak atau ibu anak kita,.. dan secara polos mereka akan bertanya…. ” Pak… kenapa sih Allah membuat kita harus lahir… bukankah enak di dalam perut ibu terus…?”
Apakah kita akan mengulang jawaban –jawaban tradisional yang ada dalam masayarakat kita dengan jawaban ”….. jangan bertanya begitu..gak boleh…! Dosa,,,!” Atau akan menjawab ”….nanti kalau besar kamu akan tahu sendiri….” . Bayangkan,… sebagai anak jengkel gak kalau jawabannya seperti itu ?…. Padahal masa kanak-kanak adalah masa kritis pertama seorang manusia dan akan menjadi dasar untuk menghadapi masa kritis kedua, ketiga dan seterusnya yang akan selalu datang dalam perjalanan hidupnya.
Jujur,.. banyak filosifi hidup dalam hidupku terpatri kuat ketika masih kecil. Bapakku,…Ibuku…mBah Rayi (nenek)… Pak Dhe Nawi’ adalah guru –guru masa kecilku. Aku harus bersyukur dengan mereka yang ’cerdas’ dalam keterbatasan kapasaitas mereka. Mungkin aku harus iri dengan Ali Syariati yang memiliki bapak Muhammad –Taqi Syariati yang memiliki kedewasaan tingkat tinggi mendampingi proses kritis anaknya. Atau Soe Hok Gie dengan bapaknya. Namun aku harus sangat bersyukur karena tidak banyak generasi umat dan bangsa ini bisa seberuntung aku memiliki ruang dan waktu untuk bereksplorasi tentang diri.
Memang,.. orang tua kita yang bijak itu seakan berhenti suplay ’kecerdasannya’ ketika mereka memasuki masa-masa tua. Mereka yang ’luar biasa’ itu ketika kita beranjak dewasa sudah tidak banyak berkontribusi untuk perkembangan ’diri’ kita. Mereka hanya bisa berdo’a memohon bahwa ’anaknya’ yang juga ’ anak didiknya’ itu bisa menjadi sosok yang mampu menghadapi masa-masa kritis berikutnya.
Menurut Nurkholis Majid,…anggap saja masa kritis seseorang itu seperti ketika dia sedang menaiki anak tangga. Dia seperti ’kacau’ ketika dia sedang mengangkat kakinya dan sebelum mendapati anak tangga selanjutnya. Menahan diri berproses ’mencari diri’ sama saja menjadikan diri hidup statis dan ’mendholimi’ potensi diri yang ketika bisa menaiki anak tangga berikutnya maka Intelektualitas, Kesadaran Religi dan Fungsi Sosialnya jauh akan bertambah.
—————————————————-
Aku sering sharing dengan mahendra, yg ternyata se SMA dengaku , beda angkatan jauh. Salah satu hasil sharingnya adalah bagaimana membangun komunitas ‘Islam alternatif’ untuk anak-anak setipe anak SMA kami.
Anak-anak SMA kami, dan beberapa komunitas SMA Muhammadiyah lain di Jogja, adalah anak-anak yg sebenarnya punya spesifikasi khusus daripada komunitas lain. Berasal dari kalangan menengah ke atas (termasuk aku ,..menengah mepet bawah banget..he..he..). Memiliki independensi diri tinggi, akrab dengan life style terbaru, dan ‘nakal’.
Biasanya oleh komunitas ‘Islam Konvensional’ kami dianggap ‘Kurang Islami’. Hanya karena kami tumbuh dalam ‘dunia lain’ dibanding dunia para penganut ‘Islam Konvensional’ itu. Sehingga banyak dari kami yang kemudia memilih untuk ‘tidak berislam’ sekalian ( dalam artian tetep Islam secara privat, …namun ‘tidak Islami’ di wilayah publik).
Dalam perhitunganku dengan mahendra, kondisi kami tidak ada yg salah. Kami tetep ber-Islam. Dan kami tetep berada dalam koridor untuk tetap masuk dalam komunitas Islam. Namun bisa jadi karakter ke-Islaman kami yg cair dan memiliki gaya individuasi yang tinggi membuat tidak banyak ‘ustadz’ yang mampu mengawal manusia manusia alternatif seperti kami.
Prinsip dakwah tetap merekayasa perkenalan kehidupan normatif kepada mereka. Namun cara dakwah dengan mereka haruslah dengan tingkat kebijaksanaan yg tinggi. Mereka adalah manusia yang hiudpnya terbiasa dengan pilihan-pilihan yang banyak, sehingga tidak bisa untuk di dekte begitu saja. Mereka adalah manusia yang memiliki kebutuhan bereskpresi,.. sehingga mereka harus diberi kanal-kanal untuk mengekspresikan diri . Mereka juga butuh bentuk penyaluran ‘keberislaman’ sesuai dengan gaya hidup mereka. Mereka akrab dengan dunia pragmatis, profesionalisme dan spesific competency, yg membuat mereka malas bila diajak berorganisasi yg penuh dengan keribeten seperti Musyawarah, rapat, bahas AD/ART dll. Mereka adalah generasi Posmo yg akarab dengan cyber, daya jelajah tinggi, dan terbiasa bermimpi tanpa batas.
Apapun mereka, mereka adalah sosok-sosok yang tetap saja butuh legitiasi komunitas, karena itu mereka membuat sub culture yg disebut mereka genk atau klub-klub berdasarkan modal borjuasi mereka ( klub motor, mobil dll). Dengan demikian , untuk ‘ber-Islam ‘ dengan mereka, kita harus bisa menjadi sosok yg sabar , menunggu mereka bertanya bukan menceramahi mereka, mencari stimulasi-stimulasi cerdas untuk membawa mereka mengenal lebih dalam Islam.
Mengancam mereka dengan cerita Neraka atau versi Sinetron ‘Rahasia Ilahi’ bisa jadi efektif untuk perubahan jangka pendek, namun akan lebih baik membawa mereka ke perubahan secara reguler dan perlahan-lahan saja. Karena mereka adalah orang-orang cerdas yang tidak banyak butuh isi, hanya butuh stimulasi dan adukan saja.
Kalau bisa begitu, mereka yg memiliki kenggunggulan komparatif dalam hal fasilitas, finansial, dan juga konsep diri yg cukup matang akan menjadi kekuatan Alternatif Umat Islam.
"Kami Insya Allah tidak salah, hanya berbeda saja….."
Benar memang,.. setiap Ramadhan setan ‘dirantai’ jadi gak bisa ganggu manusia.
‘Tesis’ ini sebenarnya akan memiliki makna ganda. Makna pertama kita akan berfikir bahwa ternyata di ramadhan banyak orang-orang yang tiba-tiba menjadi baik. Sarung dan baju Koko laris, Mukena laris dan juga Jilbab. Masjid penuh. Dan banyak orang yang menjadi religius. (aku gak pengen memperdebatkan perbedaan simbol dan substasi disini…). Dari fenomena itu berarti dengan diikatnya syetan maka jangan berburuk sangka kalo tiba-tiba banyak temen kita, artis,dll yg tiba-tiba jadi ‘alim’.
Namun makna yang kedua bisa jadi ironis. Karena ternyata ketika kita coba keluar ke jalan, masih banyak kemaksiatan yang dilakukan , mungkin termasuk kita. Dalam keadaan itu kita kemudian berfikir, apakah kita sudah separah itu, tanpa godaan syetan saja kita masih berbuat maksiat.
Ya udah.. gak usah sedih. jalanin puasa tahun ini dengan baik…..itu saja dulu
Tadi malam ‘katanya’ Jogja Gempa. Katanya 5,7 Skala Richter. Katanya anak-anak yg tidur di POSKO pada lari keluar. Dan…aku tetep gak ngerti.Karena aku tetep tidur……bener aku baru tahu dari TV pagi ini.
"…he..he… dah 27 tahun…..dah tua……"
Ini moment yg seharusnya membuatku malu, karena sudah setua ini aku masih dianggap secara obyektif tetep "tidak jelas". Dan kemudian bertubi-tubi ungkapan masuk ke ‘ruang’ negative thingking-ku bahwa aku egois, gak peka lingkingan, gak peduli dengan realitas,…dll..dll.
Makasih. Ini ultah pertamaku yg dirayakan dengan kue tart ( sumbangan tentunya…). Makasih barori , temen baikku by ‘accident’….he..he.., makasih m’ Amah, P’ budi, dan seluruh anak-anak Posko. Makasih dah nguyur aku dengan Aqua gelas di tengah-tengah ruangan Posko (Tapi aku yg dihukum ngepel POSKO kemudian….hik….) Makasih buat, bidadari logistik, Ima dan Lika yg nemani aku ngejar Sunset di Parangtritis….dan hanya tak ‘bayar’ di oseng-oseng mercon. Makasih buat Dody dan Wike ( tak tunggu kado Jeans nya…beneran lo…). Makasih buat semua yang dah mendoakan aku untuk ‘enteng’ jodoh, rejeki, dan segera ‘eling’ (…’makasih pak budi…).
Makasih buat Kang Supre, Sadr, Aini, Luqman yg ikut ‘meramaikan’ pas jalan bareng di Malioboro kemarin. Makasih temen-temen yg mengirim SMS sampe aku kehabisan pulsa,…….( ini ultah pertamaku aku pegang HP he..he..). Juga buat temen yang ngucapin via Messenger, via friendster…
Makasih buat Pak Nurwan ( ..bapakku…) yg mengucapkan selamat via telpon ketika aku diatas truk sedang sibuk ‘nyogok’ kabel-kabel listrik dan pohon-pohon mangga yang nyangkut dengan alat-alat permainan TK yg dikirm ke Imogiri, Bantul, untuk korban gempa. Padahal waktu itu posisi di tengah kampung karangtengah, dan jadi pusat perhatian warga kampung. Dan…pada waktu itu bapakku menanyakan….." Dah.. mantep dengan yg itu…..?" Ha…ha.. aku jawab saja apa adanya di atas truk itu. Biarlah orang-orang korban gempa yang ‘teraniaya’ itu mendoakan kesuksesan diriku. ( padahal mereka juga pasti gak faham dengan apa yang kuobrolkan dengan bapakku di Telpon ,… yg tahu paling ada cowok pakai pakaian hitam-hitam gelantungan di atas truk Posko, megang kayu ‘nyogok’ kabel-kabel yg mau nyangkut, kadang ‘nyogok’ pohon mangga ,.. njawab telpon pake HP ,…. kadang teriak karena harus bersaing dengan suara mesin truk….)
Makasih buat M’ Nia dan Teh Ria yg dah mengingatkan aku bahwa ultah adalah moment berkurangnya jatah umurku. Makasih buat Zaini yg nyempatkanngucapkan selamat ditengah kesibukannya. Makasih buat luqman yg mengingatkan aku tuk gak berhenti berjuang. Makasih buat tofik yg mengingatkan aku untuk secepatnya memastikan dan memberi kepastian. Makasih buat Rano ( kamu gak salah tanggal Ran….), Makasih buat Otong ( ….yg lagi-lagi ngingetin aku kalau aku juga umat..he..he..). Makasih buat Rera Mahendra ( ‘gak nyangka kamu masih nganggep aku idup man..!) Makasih juga buat Mutia yg telat ngucapin selamat karena dikiranya tanggal 19,….he..he….payah… Ra’ seru….( Kado daging juga boleh…..Ya’)
Makasih semua temanku..gak nyangka di usia 27 ini aku masih punya banyak orang di kanan-kiriku,.. aku janji ultahku tahun depan akan lebih indah dan lebih jelas.
Hik…. ternyata semakin tua kita semakin banyak tuntutan. Jadi teringat slogan di iklan rokok " Tua itu pasti,..dewasa itu pilihan……" dan aku mengamini pesan "Saat kita menginginkan sesuatu , alam semesta selalu berpadu untuk membantu kita" ( sang Alkemis)
” kamu orang baik ?”
Coba apa yang akan kamu jawab bila suatu saat kamu ditanya begitu. Apalagi yang menanyakannya adalah orang yang kamu punya ‘kepentingan besar’ dengannya. Baik itu kepentingan dalam bentuk kepentingan profesional ( ketika mendaftar kerja), kepentingan politis ( ketika negosiasi politik) dan juga kepentingan ‘hati’, dimana yang nanya itu adalah orang jadi tambatan hatimu.
Bisa jadi respon kita akan sama secara spontan. Kita akan berfikir keras untuk melindungi image kita. Kita akan berfikir keras untuk JAIM dan JAIM. Mungkin inilah insting manusia, hidup kebalut image. Hidup terpenjara image.
Namun kemudian akan terlihat ‘maturity’ kita untuk menyusun langkah selanjutnya. Pada dasarnya kita akan menjadi orang baik tanpa harus menawab pertanyaan itu kalau kemudian kita secara spontan meniatkan diri untuk menjawabnya jujur. Karena bisa jadi demi Image kita gak bisa jujur. Baru kemudian level selanjutnya adalah pilihan,..apakah bentuk kejujuran itu adalah mengungkapkan semua ‘realitas’ kita, atau kita menahan beberapa ‘realitas’ yang bisa merusak image kita. Pilihan inipun mengandung konsekuensi yang gak ringan. Kalau kita mengungkapkan semua rahasia kita, bisa jadi kita tetep menjadi orang baik secara substantif, sedangkan secara riil kita berpeluang menjadi ‘orang tiadk baik’ dimana orang yang kita ‘pentingi’ tadi. Namun ada juga yang kemudian ( secara ‘insting’ tif) mengatakan jujur tapi tidak mengatakan semuanya.
Tapi yang sebenarnya ribet bukan sekedar hal dia tas, namun lebih kearah menentukan sudut pandang untuk menganalisis ‘kebaikan’ itu. Apakah orang baik dilihat dari keturunan ( katakanlah , anak PKI dianggap ‘tidak baik’), atau dilihat dari sejarah hidup (ada yg ngganggep , mantan preman tidaklah baik), dan ada yang kemudian memandang dari idealismenya ttg masa depan yang ingin dibangun.
Namun bisa juga menganalisi ‘kebaikan’ orang itu dengan melihat pada kelakuan keseharian kita. Kita tidak merokok, kadang dianggap baik. Kita rajin ke Masjid, kadang dianggap baik. Kita rajin bersih-bersih rumah, dianggap baik. Kita ber IPK tinggi, sering dianggap baik.
Sebenarnya kita akan tidak punya beban untuk menjawab pertanyaan itu kalau memang kita orang baik. KIta tidak punya masalah dengan siapapun , dimanapun, alasan apapun. Kita tidak pernah melanggar omongan kita sendiri.
Yang repot , kita adalah manusia yang kadang ‘terpaksa’ memiliki sejarah ‘tidak baik’ karena alasan alasan tertentu. Kita repotnya sulit jadi orang sempurna yang gak punya cacat. Dan satu lagi,.. kita berat banget mengambil resiko kelihatan tidak baik di depan orang yang kita ‘pentingi’ itu. Kata mbak Nia..” laki-laki memang sosok yang tidak berani mengatakan ketidakmampuannya (ketidakbaikannya) di depan wanitanya…..”. Mungkin.
Akhirnya aku jawab…”..kata temen-temenku aku memang orang baik,.. tapi kata ibuku aku anak yang nakal…. sejak dulu..he.he.”
Terus terang aku memang lagi penasaran ma mahluk yang namanya Wanita. Begitu m’ nurul di Milist Muhammadiyah Society memposting ini, langsung tak copy paste disini.
——————————————————————–
MENGAPA WANITA MENANGIS?
Nurah Tayeb*
Seorang anak lelaki bertanya kepada ibunya, “Mengapa
Bunda menangis?“ “Karena Bunda butuh menangis,“ jawab
sang ibu. “Aku tak mengerti,” ujar si kecil. Sang ibu
memeluk si kecil dan berkata, “Kau tidak akan pernah
mengerti.”
Berlarilah si kecil kepada ayahnya, “Ayah, mengapa
Bunda menangis tanpa alasan yang jelas dan bisa
kumengerti?” Semua perempuan seperti itu, menangis
tanpa alasan,” jawab sang ayah tanpa peduli.
Pergilah si kecil mencari guru mengajinya, masih dalam
kebingungan mengapa Bunda menangis tanpa alasan yang
jelas. “Wahai Usatadzah, mengapa Bundaku dan kaumnya
begitu mudah menangis?” Menjawablah sang Ustadzah,
“Ketika Allah menciptakan perempuan, maka Dia
menciptakan makhluk yang sangat spesial.”
“Allah ciptakan makhluk ini lengkap dengan dua buah
bahu yang sangat kuat untuk memikul semua beban dunia,
namun dengan lengan yang lembut untuk memeluk
anak-anaknya.”
“Allah karuniai makhluk ini kekuatan batiniah yang
luar biasa demi menanggungkan pedihnya melahirkan anak
yang kemudian akan meninggalkan dan mengabaikannya.”
“Allah berikan makhluk ini ketegaran yang
memungkinkannya terus bertahan dan berjuang ketika
semua orang lain sudah berputus asa, demi merawat
seluruh keluarganya di saat sakit dan lelah tanpa
mengeluh.”
“Allah hiasi makhluk ini dengan kepekaan untuk
mencintai anak-anaknya dalam semua keadaan, bahkan
saat si anak menyakiti hatinya.”
“Allah lengkapi makhluk perempuan ini kekuatan untuk
menerima suaminya dengan segala kekurangan dan
kelemahannya.”
“Allah ciptakan makhluk ini dari tulang rusuk
laki-laki demi melindungi hati si laki-laki. “
“Allah karuniai dia kebijaksanaan sehingga mengetahui
bahwa seorang suami yang baik tidak pernah menyakiti
istrinya, tetapi sering menguji kekuatan dan keteguhan
hati si istri dalam mendampinginya.“
“Akhirnya, Allah karuniai perempuan dengan air mata
untuk dipakainya setiap saat dia membutuhkan. Dia
tidak memerlukan alasan, penjelasan untuk
menggunakannya karena air mata itu adalah miliknya.“
“Anakku, kecantikan seorang perempuan tidak terletak
pada pakaian yang dikenakannya, tidak pada wajahnya
atau sisiran rambutnya. Kecantikan seorang perempuan
ada pada matanya, karena itulah pintu gerbang menuju
hatinya – tempat cinta bersemayam.”
Si kecil berlalu dengan membawa jawaban yang disimpan
dalam hatinya dan tidak pernah lagi dia bertanya
kepada ibunya, “Mengapa Bunda menangis?”
*Penulis seorang wartawati dari Afrika Selatan yang
bekerja untuk Aljazeera.com di Doha, Qatar.
* Diterjemahkan oleh Santi Soekanto
Aku punya masalah dengan tidur. Begitu orang bilang. Bukan insomnia alias gak bisa tidur, .. tapi aku gak bisa ngontrol ‘hasrat’ tidurku pada saat yang ( orang nganngep) tepat. Aku tertidur ketika di bonceng motor,.. itu penyakit sejak aku kecil. Aku tertidur ketika berdiri di bis kota. Aku tertidur ketika nontong di bioskop. Bahkan aku pernah tertidur ketika naik motor…. ( Nyaris masuk selokan…)
Jadi ketika aku naik bis umum, kalau sendiri bisa dipastikan tidur. Aku naik mobil, duduk di Jok bisa langsung tidur. Dan pengalaman take off pertama naik pesawat pun terlewat karena begitu duduk di kursi penumpang langsung tidur ( waktu itu dari Jakarta, ngerti-ngerti dah sampe Surabaya). Yang paling teringat temen-temen POSKO adalah ketika aku tertidur di rapak-rapat koordinsai POSKO. ( Banyak foto yg mereka ambil..ha..ha..).
Oke deh. Terus terang , ini masalah. Tadi pas mampir di Pos kesehatan lapangan, Sribit, sempat becanda minta obat ‘anti tidur’ setelah Barori marah marah karena aku tertidur ketika di boncengnya… ( Sory Dab…!).Ternyata mereka hanya memberi vitamin. (Aku yakin ‘hasrat’ tidurku bukan karena kurang vitamin,.. terhina juga,..ha.ha.). Kemudian aku teringat ada resep teman SMA ku dulu untuk tidak tertidur,… dia bilang.. resep paling tepat untuk tidak tertidur adalah dengan membeli permen polo. Permen kecil yang bolong tengahnya itu akan bisa menjadi ‘ganjel’ ketika di sisipkan di kelopak mata. Ha..ha..iya.. rasa mint nya bisa membuta ’semriwing’….. (Kangen ma komunitas ‘gila’ di SMA waktu itu….jogja memang adictif….)