Archive for October, 2006

30
Oct

Denias, Gunung dan Sekolah

Comic01_22
Beruntung,.. hari ini sempat bareng bareng anak anak Posko ‘Nomat’ Denias. Hari pertama PKO pasca liburan idul fitri diisi dengan menonton bersama Film Indonesia yang menceritakan ttg nasib anak Papua itu.

FIlm ini agaknya ingin menco
ba mengikuti jejak FIlm Film garin dari sisi grafis,.. bumi Papua yang ‘keren’ di eksploitasi habis walaupun sayang kurang maksimal penggambilan gambar, editing dan pencahayaannya. Kerasa,… ibarat orang nyetir ,.. kameramennya sering keseleo ketika mengambil gambar muter,.. teruatam ketika muterin denias. Gambar kerasa dipaksa berhenti..padahal sosok denias yang ‘papua banget’ dengan back ground bumi papua yg hijau dan ‘jauh dari Korban Freeport’.

Tapi.. idenya keren… dan gak ngerti kenapa wajah wajah orang papua yang eksotis ( termasuk logat yg khas….jadi inget logat temen kuliahku asal papua……hermina..)harus di kontraskan dengan wajah wajah mulus marcela zalianty yg tetep tidak maksimal berakting karena tidak mau kelihatan jelek ,  atau wajah pemeran ‘Anjel’ ( nulisnya yg benar mungkin Angel..) yg mirip wajah pemeran sinetron TV yg Indo,.. rada bule…

Denias yg berjuang untuk bisa menjadi ‘warga negara’ selayaknya ‘kita’ yang di jawa. Denias pengen bisa sekolah yg tidak sekedar ‘ bisa dimana saja’ seperti kata Tentara ‘idealis’ Maleo. Denias pengen sekolah yang pakai seragam merah putih,.. sekolah yang dapat raport, sekolah yang ada upacara bendera …..karena dengan sekolah maka gunung akan takut dengan kita ( … begitu kata mamak denias yg meninggal karena kebakaran)

Kebetulan di barisan depan tempatku nonton,. ada sederet Mahasiswa Papua di Jogja yg terus terusan tertawa. Entah .. ada beberapa ungkapan yang tidak ku ketahui,.. namun bisa membuat ngakak mereka. Namun.. kelucuan kelucuan memang berhasil diungkap dalam Film ini,.. khususnya tokoh Enos…temen denias dengan wajah inocent ( ala papua tentunya..) selalu mencuru perhatian. ( Tokoh enos ini kasihan banget,…karena sepanjang Film dia harus berlari lari melewati padang rumput,…. ilalang,.. sampai masuk ke sungai dan pinggiran danau. Bahkan harus jatuh berguling guling ……..(gak ngerti bagian dari skenario gak…aku gak yakin..)

Intinya :… Denias cukup berhasil mengangkat cerita perjuangan seorang anak papua untuk mendapatkan haknya sebagai warga negara yang harus sekolah. Kata Marcela Zalianty… (aku lupa dia jadi siapa…yg jelas seorang Guru SD) sosok denias yang ‘bukan anak siapa siapa’ ini harus ada yang membela. Dan katanya… ternyata penindas orang papua itu bukan saja orang orang dari luar papua…. namun orang orang Papua sendiri ,… penikmat feodalisme.

Oke.. dalam benakku kemudian berfikir….kapan aku bisa lepas dari kenyamanku hidup di Jogja ini… aku ingin merasakan ‘tinggal’  di Papua,.. Kalimantan,.. Sumatera,…Nusa Tenggara… dan bisa melihat denias denias yang lain.

Semoga ada kesempatan…… kapan kapan…….

27
Oct

Ulang tahun Perempuan Hebat…..

Ada seorang teman perempuan di sebuah chating sekitar agustus 2005 yang lalu mengatakan bahwa seorang laki-laki pasti akan ‘menderita’ Mothers Complex….. paling tidak itu katanya ketid\ka dia mengenal diriku. Yah.. ,apapun itu yang kutahu aku memang sangat terpengaruh oleh sosok ibuku.

Semua orang tahu , beliaulah yang ‘bertaruh’ nyawa melahirkanku. Beliau yang mengenalkan aku pendidikan normatif sebelum kemudian aku bertemu dengan realitas yang tidak sepenuhnya normatif. Beliau yang mengkondisikan diriku pada kondisi ideal, sebelum aku harus berterus terang pada dunia bahwa kondisi itu hanyalah ada di dalam ‘dunia kecil’ku yang bernama anak-anak. Beliaulah yang membawaku kenal diriki, mengenal lingkunganku, mengenal kawan-kawanku dan mengenal banyak hal ttg dunia ini, termasuk ttg wanita.

Beliau yang memaksaku ‘mengaji’ dikala  para ustadz yang membimbingku tak biarkan ‘merasa gagal’ mengajariku ngaji. Beliau yang mengajakku berlatih mengenal bagaimana itu bersih,… bagaimana itu sehat…, bagaimana itu cermat. Beliau memang yang paling ‘cerewet’  denganku dulu,… beliau tidak suka aku telat mengisi lampu minyak ( waktu itu belum ada listrik),.. beliau tidak suka aku telat menimba air untuk bak mandi, beliau tidak suka aku melamun sendiri ( Kau dulu dah kenal Blog… mungkin gak perlu ngelamun..he..he..).

Beliau yang mengenalkanku apa itu Islam,.. keberagamaan,… Shalat dan yang paling teringat..apa itu najis. Terpatri dalam ingatanku bagaimana ibuku yang mirip mbah rayi’ itu selalu mewanti wanti bahwa syarat utama sahnya ibadah adalah suci. Beliau selalu mengingatkan bagaimana mengepel lantai yang bebas dari najis,… bagaimana mencuci pakaiman yang bebas dari najis… dan yang paling teringat adalah larangan : Jangan letakkan gayung di lantai kamar mandi..! ( aku ingat,… kena marah hingga puluhan kali…)

Belau tidak pernah menuntutku untuk menjadi ‘yang terbaik ‘ di sekolah seperti ibu-ibu teman temanku. Beliau hanya berpesan : Belajarlah dengan baik, pergunakan kesempatan sekolah( Astaghfirullah….. ini yang bener bener aku sia siakan sekarang…). Beliay tidak suka membanding bandingkan diriku dengan anak-anak temannya, atau anak anak budhe dan bulikku. Beliau mengajariku : jadi diri sendiri,…

Beliau yang sering melarangku berpergian tanpa pamit ( ma’af bu…. kalau harus pamit aku mungkin tidak bisa seperti sekarang ini…). Beliau yang melarangku berboohong. Beliau yang mengajriku untuk selalu terbuka ( … termasuk ketika aku naksir cewek ketika SMP dulu….ha..ha..).

Beliau mengajariku bersikap adil, beliau mengajariku menyayangi, beliau mengajariku mencitai dengan tulus,… beliau mengajariku menjadi laki-laki.

Beliau mengajariku untuk selalu berguna untuk orang lain. Beliau mengajariku untuk selalu menjadi contoh orang-orang di sekitarku.

Senyum beliau ketika mendengar ide-ideku selalu menyemangatkanku untuk selalu berfikir tentang berbagai hal yang baru. Senyum beliau selalu mengerem pikiran pikiran liarku yang kadang terlintas dalam benakku. Senyum beliau selalu membuatku nyaman dan tenang untuk pulang.

Sekarang,.. beliau menjadi pendengar setia pengalaman pengalamanku. Belia mendengarkan ceritaku tentang bagaimana aku bermain main dengan ‘dunia’, beliau menjadi pendengarku tentang petualanganku,beliau mendengarkanku tentang perasaanku.

Saat ini beliau tidak lagi mengajariku ketika aku harus memilih. Saat ini beliau hanya senyum dan kemudian mengelus kepalaku. Saat ini beliau hanya berpesan… hati-hati.

Beliau bahkan selalu meminta pertimbanganku tentang masalah keluarga besar kami, belaiu sering meminta pendapatku tentang bagaimana mengurus sekolah,… bagaimana mengatasi murid nakal,..bagaimana memecahkan persoalan-persoalan kurikulum yang beliau sudah mengeluh… ‘ibu sudah tua untuk memahami’.

Beliau sekarang berusia 51 tahun. Tepat hari ini ketika anak-anak sekolah upacara bendera, walaupun hari pertama masuk setelah libur lebaran. Selamat ulang tahun Ibu Siti Masfiyah binti Cipto Di joyo . Insya Allah 51 satu ini tidak ada yang sia sia,.. Selama 27 tahun diasuhmu tidak ada catatan buruk sekalipun tentang dirimu dalam hidupku. Semoga Allah SWT selalu menjadikan harimu menjadi hari hari yang terbaik.

Ma’afkan anakmu ini yang masih berhutang banyak dengan janji janjiku. Mohon relakan anakmu ini untuk menjadi terus berguna bagi orang banyak. Mohon do’akan anakmu ini untuk selalu ingat dengan tanggung jawab.

Selamat ulang tahun ……….

26
Oct

Mengakhiri Kebuntuan……

"Masalah sudah buntu ? "

Itu ungkapan ketika kita mengganggap rasio kita sudah tidak bisa menemukan lagi jalankeluar dari masalah yang  kita hadapi. Persisnya,… masalah kita pemecahannya sudah memenuhi jalan buntu, mungkin begitu lebih tepat.

Manusia pada prinsipnya adalah mahluk yang memiliki kompetensi dasar untuk merekayasa keadaan. Setiap manusia adalah Enginer….. tukang rekayasa… Sehingga setiap manusia selalu saja akan menemukan jalan keluar dari masalah masalah yang dihadapi dalam hidupnya. Seperangkat ’software’ beserta’ hardware’ untuk membantu manusia memecahkan masalah masalahnya sudah built in pada diri seorang manusia ketika manusia itu lahir ke dunia. Sehingga, tidak ada sebenarnya kamus adanya masalah yangtanpa pemecahan. Demikian konsep normatifnya.

Namun,…. ada kalanya kejadiannya seperti pada alenia pertama tadi. Kita menemukan diri kita terjebak dalam masalah yang ribet dan sepertinya kita tidak memiliki jalan keluar untuk memecahkannya. Dunia menjadi seperti tidak berfihak kepada kita. Dan juga nasib. Bahkan tidak sekedar jalan buntu yang kita hadapi,.. sebuah jalan buntu dengan tembok tinggi yang seakan akan siap menjepit diri kita dan meluluhlantakkan kita. Saat itu kita merasakan dunia sekan berakhir… dan kadang terlintas dalam otak manusia untuk mengakhiri hidup saja.

Ada juga tipe orang yang senang untuk menunda nunda penyelesaian masalah. Dia banyak dalih, .. sibuk lah… sedang mengerjakan yg lebih penting lah…. sedang mensiapkan suasana ,.. menunggu mood datang.. atau sampe beralasan…"biaralah entar kalau waktunya tiba juga selesai". Tipe ini ternyata adalah sebuah penyakit,.. dan apapun alasannya ini adalah sebuah gejala kelainan jiwa.  Biasanya orangnya kemudian menggampangkan banyak masalah,.. dan kemudian menjadi sosok yang gak serius dengan hidupnya.

Bayangkan,…potensi diri yang include dengan dirinya ketika lahir itu ternyata dia sia siakan. Dia tidak memaksimalkan ‘amanah’ yang dia punya itu. Dia bagaimanapun alsannnya harus dikatakan sebagai seorang yang dzalim,… mendzalimi diri sendiri. Saar tidak sadar dia membuat dirinya perlahan tapi pasti masuk ke zona kebuntuan.

Kadang sosok itu menjelma pada seseorang ‘biasa’. Efeknya tentu saja hanya kan kecil dan terjadi pada sekelilingnya saja. Sedangkan bila sosok ini tampil pada sosok yang secara sosial diakui sebagai ‘leader’,.. bisa bisa orang ini akan banyak membawa kemudharatan bagi orang orang yang dipimpinnya. Bayangkan kalau seorang leadernya adalah sosok yang ‘berpenyakit jiwa’ seperti yang dikatakan dulu. Tim yang dia pimpin akan kacau walaupun awalnya kompak. Dan yang lebih parah lagi kalau ternyata para anak buah itu tanpa sadar dan tahu kalau mengikuti ‘pemimpin linglung’

Oke ,… bangun… sadar….. kalau gak mau terus kejepit atau menjepit diri sendiri….

——————————————–

…..upaya mengultimatum diri sendiri

18
Oct

Kenapa Revolusi Selalu Berawal Dari Sepi

"Revolusi Sepi….!"
Begitu Soe Hok Gie menamakan bentuk ‘Revolusi’ di akhir hayatnya. Dia berfikir dan menulis dari kesepian-kesepiannya tentang kebenaran. Metode berfikirnya simple : bangun konsep idealis di otak dan bandingkan dengan realitas. Inilah hakekat kegelisahan. Dan kalau gak mau gelisah,… jangan praktekkan metode berfikir itu. Adictif…!

Sejak jaman Nabi Ibrahim, Filosof Jaman Yunani, hingga Nabi Muhammad mereka mengawali revolusinya dari kesepian. Mereka selalu berfikir untuk merenungi adanya sesuatu yang salah dengan diri dan lingkungannya. Mereka berfikir dan berfikir. Dan merenung dan merenung.

Ibrahim mencari tuhan. Namun bukan berarti berhenti seperti itu. Ibrahim mencari Tuhan karena dia mengganggap tuhan-tuhan umatnya ternyata tidak mampu mengubah bani Israil dari penjajahan Firaun. Ibrahim mencari Tuhan berawal dari kearifan universal yang dia dapat. Kearifan universal inilah yang membuat setiap orang memiliki alasan untuk gelisah. ( Walau bukan berarti Tuhan sekedar pelarian dari ‘rasa sakit’ ). Intervensi wahyu tentunya memang logika irasional atau tepatnya extra-rasional. Namun ternyata tetap saja ada proses menuju kesitu…. tidak ada Nabi yang tidak melalui proses kegelisahan sebelum ada intervensi wahyu.

Lantas apa perlu kita jadi nabi..?
Nabi dengan baiat teologis sudah berakhir. Kalau kita berani ngaku-ngaku nabi saat ini, tak jamin dari FPI sampai MUI akan melabrak kamu. Paling selamet senasib Lia Aminudin,… dan paling parah mirip Musailamah Al Kazab. Nah…..namun kearifan universal ternyata tidak pernah berhenti. Inilah intervensi Tuhan yang maha Kasih dan maha Sayang kepada umatnya. Tanpa ada Kearifan Universal dunia ini akan penuh dengan manusia mansuai jahat secara sosial.

Karena itu, manusia manusia gelisah terus bermunculan dan tak akan berhenti sampai Tuhan menghentikan kearifan universal di bumi ini. Manusia-manusia gelisah dan terus gelisah akan terus bermunculan dari setiap titik penjuru dunia. Dan biasanya akan muncul dari segolongan orang-orang tertindas, dhu’afa dan mustad’afin.

Kegelisahan menghasilkan Revolusi ?
Syarat utama revolusi adalah adanya manusia manusia gelisah. Manusia manusia gelisah kadang menjadi tidak peduli dengan dirinya, karena itu kemudian dia menjadikan dirinya layaknya lilin. Rela membakar diri dan meleleh untuk cahaya sekitarnya. Ada juga yang bahkan menjadi sekedar korek, terbakar demi menghidupkan yang lain ketika kemudian dirinya musnah dengan cepat. Dan konon harusnya jadilah obor,.. bisa selalu menerangi sekitarnya.

—-
ma’af,.. aku gak bisa menghentikan kegelisahan  ini.

09
Oct

Lebaranku tahun ini….

"Tahun ini Lebaran ada dua macam lagi…!"

Ungkapan itu kadang menjadi sebuah sesuatu yang mengerikan bagi segenap umat Islam di Indonesia. Tak tekecuali tokoh dan ulama di Indonesia. Ada yang berfikir "apa kata orang kalau lebaran saja berbeda, .. persatuan umat Islam tidak bisa terwujd" ,…ada juga yang berfikir "bagaimana mau ngurus negara, ngurus lebaran bersamaan saja sulit.."

Aku sendiri memilih untuk menahan senyum bila mendengar ungkapan-ungkapan di atas. Kadang kita salah menempatkan posisi penentuan Idul Fitri ( Lebaran..) sekedar sebagai masalah sosial semata. Bahkan kadang secara awam kita mengkaitkannya dengan masalah politik. Inilah sisi kesalahan kita. Dan mungkin inilah gejala taklid dalam versi lain.

Taruhlah yang terjadi dalam komunitas Muhammadiyah, yang terkenal dengan ‘kebandelannya’ mengumumkan penentuan Idul Fitri sering berbeda dengan Departemen Agama. Banyak yang kemudian terjadi di kalangan bawah Muhammadiyah ini menafsirkan perbedaan ini sebagai ‘masalah sosial’ atau ‘eksistensi’ Muhammadiyah semata. Bayangkan, komunitas yang mengusung anti taklid ini di tataran bawah banyak yang beralasan mengikuti pilihan sebuah hari raya yang kebetulan berbeda dengan pemerintah dengan alasan :"Kita kan orang Muhammadiyah, maka kita harus ikut PP Muhammadiyah"….

Ha..ha. ambivalent bukan ? Mengapa mereka tidak menjawab dengan dasar-dasar dalil dan ilmiah walaupun sekedarnya? Bukankah dengan begitu status Taklid sudah gugur dari dirinya ? Bagaimana dengan jargon Komunitas ini sebagai komunitas muslim cerdas dan berkemajuan ?

Bahkan kadang dimaknai secara politis. Beberapa waktu yang lalu ketika Partai Keadilan Sejahtera menentukan sendiri tanggal Idul Adha dan berbeda dengan Muhammadiyah, banyak dari kalangan Muhammadiyah yang menyikapinya dengan " Biar saja…kita lihat mana yang setia dengan Muhammadiyah dan mana yang setia dengan PKS…"

Saya kembali ingin tertawa. Sebegitu parahkah logika warga Muhammadiyah menyikapi hal tersebut. Kenapa yang kemudian mengemuka adalah masalah sosial, politik, dan eksistensi organisasi / jama’ah ?

Seharusnya setiap muslim berusaha tahu (walaupun sesuai dengan kemampuannya) ttg masalah penentuan 1 Syawal ini. Setiap Muslim seyogyanya tahu hadist Rasulullahnya ttg dasar penentuan. Kemudian bagaimana wacana yang bekembang di kalangan umat Islam dan terakhir  bagaimana organisasi atau partai ataua negara yang dia anut itu memilih dasar penentuan dasarnya.

Taruhlah perbedaan antara Muhammadiyah dan Pemerintah yang ‘hanya’ terletak dalam perbedaan mendefinisikan eksistensi hilal. Muhammadiyah memilih faham bahwa kelihatan tidak kelihatan kalau dalam perhitungan sudah melampaui ufuk berarti sudah bulan baru. Sedangkan Pemerintah  menggunakan dasar bahwa bulan baru hanya bisa dinyatakan masuk kalau hilal sudah berada 2 derajat di atas ufuk.

Untuk tahun inipun ada keunikan. Dimana di Indonesia dalam versi Muhammadiyah yang sudah masuk 1 Syawal tanggal 23 Oktober hanya Jawa Bali dan Sumatra, sedangkan daerah Sulawesi , sebagian Kalimantan hilal belum wujud. Sehingga perdebatannya adalah… mereka yang belum masuk itu ikut wilayah Indonesia yang sudah masuk atau tidak..? Majelis Tarjih memilih penentuan berdasarkan Wilayah Hukum Indonesia, dimana menggunakan dasar bila di suatu wilayah hukum sudah ada yang melihat hilal, maka seluruh wilayah hukum itu sudah mengakhiri puasanya dan ber idul fitri.

Oke….yang kemudian menjadi masalah adalah bagaimana kita menyadarkan warga bahwa masalah penentuan idul fitri adalah masalah pebedaan tafsir terhadap hadist dan beimplikasi pada metode ilmiah yang dipakai untuk menentukannya.

Dalam benak saya, benar benar keren agama Islam ini. Agama yang tidak sekedar memerlukan ritual semata, namun juga memerlukan pengetahuan ilmiah dalam kehidupan keberagamaannya. Dan yang lebih ‘keren’ lagi,.. Islam mengajarkan kita berfikir holistis dan multi prespektif untuk melihat segala hal.

Dengan perbedaan Idul Fitri tahun ini, seharusnya kita mengambil hikmah dan barokahnya. Kita yang awam harusnya tersadar bahwa keawaman kita bukan pembenaran terhadap kemalasan kita untuk mencari tahu. Kita yang taklid kemudian tesadar bahwa kita bisa kok lepas dari ke-taklid-an itu walaupun hanya sekedar berusaha mendengarkan penjelasan ilmiah ttg penentuan Idul Fitri ini. Kita yang berfikir politis harusnya tersadar bahwa interest politik kita kadang membuat kita, dan umat kita, menjadi bodoh dan tebodohkan.

Islam menuntut akal kita terus berfikir,..hati kita terus berzikir,.. dan raga kita terus bebuat. 

Pilihan kita tidak tergantung pada apa organisasi kita, tapi mana keyakinan kita. Kita menghadap ke hadirat-Nya nanti bukan karena Organisasi, Partai atau Negara yang kita anut. Kita adalah kita. Tanggung jawab kita adalah di pundak kita.

"Ternyata kepastian itu sering ditolong ketidakpastian "

Wallahu alam bissawab

07
Oct

Kebenaran Menurutku

Benar … sama dengan Betul. Kebenaran tidak sama denga kebetulan. He..he. itu cara becanda Srimulat jaman dulu ( sekelompok manusia paling cerdas di Jamannya). Apapun itu,… menemukan kebenaran tidaklah sama dengan menemukan ‘kebetulan’.

            Sepanjang sejarah manusia, manusia selalu berdebat tentang apa itu kebenaran. Setiap jaman akan dilalui sebuah cerita tentang manusia-manusia ‘gelisah’ yang mencari kebenaran. Setiap jamanpun selalu ada sejarah peperangan antara kebenaran satu dengan kebenaran yang lain.

            Sejatinya apa itu kebenaran  ?

            Menuturku… kebenaran haqiqi hanya milik Allah SWT. Manusia hidup butuh dan diperintahkan mencari kebenaran. Namun karena manusia tetaplah manusia, dan tidak mungkin jadi Tuhan, maka manusia hanya bisa mendekati kebenaran haqiqi itu. Tidak ada manusia yang akan yang bisa mengklaim bahwa dia memiliki kebenaran haqiqi.

            Lantas bagaimana dengan sumber kebenaran ?

            Sumber kebenaran ada dua, satu berupa wahyu yang merupakan paket dari Tuhan untuk manusia ttg kebenaran. Dan satulagi realitas alam semesta ( baik eksak maupun sosial), sebagai ’sumber ilmu’ membangun konsep kebenaran. Kebenaran Al Qur’an adalah mutlak. Kebenaran ’kauniyah’ adalah juga mutlak. Namun manusia akan bisa memahami dua sumber itu dengan mentafsirkannya. Tafsir Al Qur’an menggunakan ’ilmu alat’ tafsir yang ’presisinya’ akan terpengaruh variabel variabel seperti pengetahuan, wawasan, dan kedewasaan pentafsir. Sedangkan Tafsir ’kauniyah’ akan memiliki kendala pada ’presisi’ alat tafsir berupa metodologi ilmiah, alat pengukur dan deskripsi dan sebagainya. Dan kita semua mengetahui bahwa ’alat tafsir’ Al Qur’an dan Kauniyah ini sama sama buatan manusia bukan paket dari wahyu itu sendiri. Disinlah kemudian ada relatifitas kebenaran. Al Qur’an mutlak, Alam Semesta Mutlak, namun keterbatasan manusia untuk memahaminya itu yang menyebabkan ’ketidakpastian’ kebenaran. Setiap manusia dikaruniai akal dan indera adalah untuk memahami sumber-sumber kebenaran itu. Setiap manusia diikat dengan fitrah/nurani yang akan menjadi kontrol pada proses pencarian kebenaran itu. Dialog antara Al Qur’an, Alam semesta dan fitrah /nurani akan menjadi proses pembelajaran yang ’mendebarkan’ dan ’luar biasa’ yang dialami setiap manusia. Namun sayang, banyak dari manusia yang menghindari proses itu,..bahkan takut. Memang proses itu akan membawa seorang manusia bertransformasi kearah kesempurnaan ( walaupun tetap tidak akan mencapai kesempurnaan itu).

            Apa yang menyebabkan kita terhijab dari kebenaran ?

            Hal utama yang menyebabkan kita terhalang dari kebenaran adalah karena kesombongan kita. Dalam diri kita tertanam potensi kesombongan itu. Sehingga biasanya menghalangi interaksi antara ketiga sumber kebenaran itu. Sejak awal kisah penciptaan adam A.S. , sebab kenapa Iblis harus ingkar dari kebenaran bukan karena Iblis adalah mahluk bodoh, namu karena Iblis adalah mahluk yang sombong.

            Manusia yang takut untuk menginteraksikan ketiga sumber kebenaran itu sama saja manusia yang ’cari aman’ padahal sama saja dia membangkang perintah untuk mendekati Allah SWT dengan ilmu. Bahkan setiap manusia ( mungkin dalam kapasitas berbeda beda) memiliki nikmat alat kecerdasan yang bila tidak menggunakannya sama saja dengan ’mengkufuri nikmat’ alat kecerdasannya untuk mencari ilmu. Dalam logika kemanfaatan, ilmu dicari bukan untuk sekedar diketahui. Namun agar seorang manusia bertransformasi ke dalam tiga arah , mengetahui hakekat diri sendiri sehingga menyadari dirinya sebagai Al Insan ( banyak orang yang benar benar tidak mampu mendefinisikan dirinya), menjadikan dirinya tunduk dan bertasbih sebagai hamba Allah (  Ilmu harus menjadikannya sebagai Abdullah), dan menjadikan diri sebagai Khalifatullah ( karena ilmu adalah senjata utama seorang khalifatullah).

            Berat….?
            Tidak berat, hanya butuh: Buka mata, Buka Hati dan Buka Al Qur’an. . Nikmati petualangan suci mencari konsep diri, ketundukan diri dan kemanfaatan diri. Jangan klaim bahwa diri paling benar karena setiap kita layaknya para pendaki gunung yang sampai kapanpun akan berbeda pendapat tentang bentuk utuh gunung, karena kita melalui jalan dan melihat dari sisi sisi yang berbeda. Karena ’Klaim atas kebenaran’ sama saja sebuah kesombongan.

            Wallahu alam bissawab