
Beruntung,.. hari ini sempat bareng bareng anak anak Posko ‘Nomat’ Denias. Hari pertama PKO pasca liburan idul fitri diisi dengan menonton bersama Film Indonesia yang menceritakan ttg nasib anak Papua itu.
FIlm ini agaknya ingin menco
ba mengikuti jejak FIlm Film garin dari sisi grafis,.. bumi Papua yang ‘keren’ di eksploitasi habis walaupun sayang kurang maksimal penggambilan gambar, editing dan pencahayaannya. Kerasa,… ibarat orang nyetir ,.. kameramennya sering keseleo ketika mengambil gambar muter,.. teruatam ketika muterin denias. Gambar kerasa dipaksa berhenti..padahal sosok denias yang ‘papua banget’ dengan back ground bumi papua yg hijau dan ‘jauh dari Korban Freeport’.
Tapi.. idenya keren… dan gak ngerti kenapa wajah wajah orang papua yang eksotis ( termasuk logat yg khas….jadi inget logat temen kuliahku asal papua……hermina..)harus di kontraskan dengan wajah wajah mulus marcela zalianty yg tetep tidak maksimal berakting karena tidak mau kelihatan jelek , atau wajah pemeran ‘Anjel’ ( nulisnya yg benar mungkin Angel..) yg mirip wajah pemeran sinetron TV yg Indo,.. rada bule…
Denias yg berjuang untuk bisa menjadi ‘warga negara’ selayaknya ‘kita’ yang di jawa. Denias pengen bisa sekolah yg tidak sekedar ‘ bisa dimana saja’ seperti kata Tentara ‘idealis’ Maleo. Denias pengen sekolah yang pakai seragam merah putih,.. sekolah yang dapat raport, sekolah yang ada upacara bendera …..karena dengan sekolah maka gunung akan takut dengan kita ( … begitu kata mamak denias yg meninggal karena kebakaran)
Kebetulan di barisan depan tempatku nonton,. ada sederet Mahasiswa Papua di Jogja yg terus terusan tertawa. Entah .. ada beberapa ungkapan yang tidak ku ketahui,.. namun bisa membuat ngakak mereka. Namun.. kelucuan kelucuan memang berhasil diungkap dalam Film ini,.. khususnya tokoh Enos…temen denias dengan wajah inocent ( ala papua tentunya..) selalu mencuru perhatian. ( Tokoh enos ini kasihan banget,…karena sepanjang Film dia harus berlari lari melewati padang rumput,…. ilalang,.. sampai masuk ke sungai dan pinggiran danau. Bahkan harus jatuh berguling guling ……..(gak ngerti bagian dari skenario gak…aku gak yakin..)
Intinya :… Denias cukup berhasil mengangkat cerita perjuangan seorang anak papua untuk mendapatkan haknya sebagai warga negara yang harus sekolah. Kata Marcela Zalianty… (aku lupa dia jadi siapa…yg jelas seorang Guru SD) sosok denias yang ‘bukan anak siapa siapa’ ini harus ada yang membela. Dan katanya… ternyata penindas orang papua itu bukan saja orang orang dari luar papua…. namun orang orang Papua sendiri ,… penikmat feodalisme.
Oke.. dalam benakku kemudian berfikir….kapan aku bisa lepas dari kenyamanku hidup di Jogja ini… aku ingin merasakan ‘tinggal’ di Papua,.. Kalimantan,.. Sumatera,…Nusa Tenggara… dan bisa melihat denias denias yang lain.
Semoga ada kesempatan…… kapan kapan…….