Archive for January, 2007

31
Jan

Membuka ‘Rahasia Ilahi’

Benar….., Tidak mungkin seorang manusia menjadi Tuhan. Manusia tidak akan menjadi anak Tuhan. Manusia tidak akan menjadi bagian tubuh dari Tuhan. Namun..manusia berhak untuk mendekat pada Tuhan.

Ilahi penuh rahasia. Allah memiliki otoritas menentukan mana yang menjadi kenyataan dan mana yang  hanya sebatas Impian. Allah memiliki maksud sendiri ketika seorang hamba yang sangat yakin akan sebuah keinginan tiba tiba berubah drastis karena ‘Invisible hand’ ( makasih Ramdan dah ngasih istilah ini). Upaya maksimal terhadap sebuah keinginan yang kemudian harus menghadapi kenyataan yang jauh dari harapan.

Tawakal… ( makasih Mas Ahmad, dah ngingetin istilah ini). Ini pilihan terakhir seorang  hamba yang hanya memiliki senjata do’a dan usaha. Karena hamba tidak memiliki hak menentukan. Hamba hanya menunggu berapa persen akomodasi Allah terhadap do’a dan usaha yang kita lakukan.

Mengusahakan diri pada titik netral, ini yang kemudian penting. Kondisi yag menjepit dan membuat sesak dada kadang akan bener benar lega setelah kita mencari cara untuk benar benar bertawakal. Dan tidak setiap orang bisa merasakan tawakal. Pasrah dan berserah diri bersujud meminta Allah untuk merengkuhnya hingga diirnya hangat dalam selimut Ilahi. Berserah dan mencoba terus intim dengan Allah Sang Maha Pemurah dan Kasih untuk terus memeluknya dalam perjalanan sisa kehidupan.

Tawakal bukan berarti putus asa. Dan tawakal bukan berarti kesedihan. Tawakal bukan berarti ketidak berdayaan. Tawakal bukan berarti kebodohan. Tawakal bukan berarti ketidak mampuan untuk terus bergerak dan ‘mencari cara’. Tawakal adalah terus mendekat pada Allah SWT dan terus meminta petunjuk untuk ditenangkan hati, dimudahkan urusannya dan kemudian diberi keluasan pandangan untuk bergerak meneruskan hidup. Apapun yang kemudian terjadi.

Tawakal adalah ketika diri harus terus bersujud diantara rasa raja’ dan khouf akan ketetapan yang akan diterima di kemudian ’saat’ ( bukan sekedar hari). Tawakal adalah ketika diri menyerahkan jasad, jiwa, logika, indera, hati dan intuisi kepada Sang Pemilik itu semua.  Tawakal adalah saat dimana ide tentang "Cinta Suci" benar benar menemui tempatnya mendekati Sang Pencipta Cinta. Tawakal berarti ketika diri yang egois menangis karena terlalu memikirkan diri sendiri. Tawakal adalah ketika diri yang Sok Tau menghiba minta ampunan telah banyak meninggalkan Sang Penentu dalam penentuan penentuan urusan. Tawakal adalah ketika diri tiba tiba menghapus rasa takut akan apapun, akan siapapun dan dimanapun. Tawakal adalah ketika diri tiba tiba menjadi sangat rindu dekapan-Nya. Dan tidak ada lagi yang berarti kecuali ‘mencari cara’ untuk mendekat kepada-Nya.

Tawakal berarti mema’afkan orang orang yang selama ini dianggap menjepit diri dan memintakan ma’af kepada-Nya kalau ternyata mereka telah berbuat salah sehingga menjepitnya. Tawakal berarti mengusahakan noktah noktah kebencian, buruk sangka, dendam, niat buruk dan kekecewaan dihapus bersih dan kemudian diisi dengan ayat ayat Cinta-Nya semata.

Tawakal berarti siap menyambut kesuksesan hidup untuk kemudian lebih berguna bagi manusia yang lain. Tawakal berarti siap mengambil keputusan demi keputusan dengan kebeningan hati dan kkuatan jiwa. Tawakal berarti menjadikan diri dewasa dan menganggap orang lain juga dewasa. Tawakal berarti terus mencari sinergi dan mencari yang terbaik dari yang baik. Tawakal berarti menjadikan diri dekat dengan "Yang membagi kebahagiaan dan kesedihan" tanpa harus takut untuk bersedih atau gagap untuk bahagia.

————————————————

Terimakasih buat "ungu’ dah nemeni malam tafakkurku …buat kawan kawanku, terimakasih buat barori yg mau menemani aku ngomong tentang ‘dunia cuci otak kita’, dari ‘kehujanan bareng’  hingga ‘hidup’ sampai pagi. Terimakasih mb Isti yang tiba tiba menjelang subuh ini memberiku ruang diskusi tentang ketegasan dan idealisme. Terimakasih Mas Dede yg tiba tiba mesenin Nasi Ayam Mc Donald jam 3 pagi. Terimaksih buat Imron, malam ini kamu bener bener ngajari aku ttg kejujuran dan kesatriaan…dan terimakasih Pak Budi yang pagi ini menjajariku ttg Kesetiakawanan, penghargaan dan kesederhanaan.

29
Jan

Menawarkan diri

Kemarin, Kali pertama di dalam persinggunganku dengan Muhammadiyah aku menawarkan diri untuk menempati posisi tertentu. Padahal aku selama ini berprinsip, tidak akan menawarkan diri untuk sebuah posisi strategis dalam sebuah institusi di Muhammadiyah. Namun, dalam konteks manajemen web www.muhammadiyah.or.id aku terpaksa melakukannya. Dan kali ini tanpa istikharoh.

Sebagai pembenaran, mungkin ini sebuah pertanggungjawaban moral bagi diriku yang sudah terlanjur masuk dan memiliki fungsi strategis dalam mendevelop website Muhammadiyah ini. Mungkin ini juga sebagai sebuah bentuk komitment total pada  pilihan hidupku untuk bergabung dalam gerakan Muhammadiyah. Tidak jelas, yang jelas kemarin aku menawarkan diri untuk menduduki posisi cukup strategis dalam manajemen website ini.

Hal yang sulit dilakukan diriku yang terinfluence kultur Jogja yang kadang sulit untuk menawarkan diri. AKu terus terang tidak suka dengan logika kita hanya terus mengkritik padahal kita sendiri lari dari tanggungjawab untuk memperbaiki. Karena itu tanpa banyak berfikir kemarin aku menawarkan diri pada posisi Manager Operasional website.

Biarlah,…. yg jelas aku coba membangun komitment dengan manajemen lebih mantap. Aku coba tutup kuping dulu dari suara suara negatif ttg pilhanlu ini. Walaupun hatiku juga was was jangan jangan pilihanku ini akan bisa sulit difahami oleh teman temanku. Alhamdulillah , sosok bapak dan ibuku tetap berpesan " Yang penting secepatnya Lulus". Insya Allah kalau yg ini tidak bisa ditawar lagi. Cuman kadang takut juga gak bisa ngatur konsentrasi untuk memerankan beberapa fungsi yang kupegang saat ini.

——————————

"Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat " (Q.S. 2:186)

28
Jan

Tuhan Bukan Anestesi, Agama bukan terminal

Em.. sebuah ungkapan seorang Pramudya yang mengatakan bahwa dia anggap setiap manusia memerlukan terminal terminal untuk mengakhiri masalahnya dan dia pilih agama bukan terminal itu. Beginilah cara fiki rseorang Pramudya yang mungkin akan sulit difahami kaum agamawan literalis yang menganggap ‘agama’ sebagai segalanya (terminal masalah masalah kita).

Em.. aku liberal..?
Bentar. Dalam artian, menurut Ibnu Rusd kalau kita sebagai manusia awam, beragama secara harfiah tentunya sesuatu yang paling aman.Beragama sebagaimana agama dijadikan ujung kanal kanal permasalahan. Beragama secara literalis, tekstual adalah sesuatu yang tidak salah. Karena posisinya sebagai sosok yang awam ( awam beragama karena mungkin sibuk dengan amanah pemahaman yang lain). Namun alangkah baiknya kalau manusia tidak sekedar awam. Karena bila dia tidak sekedar awam dia akan bisa beranjank pada tingkat tingkat kearifan yang memungkinkan dia memahami dan menggali kebenaran kebenaran dari sumber kebenaran lain. Al Qur’an, Wahyu tidak kurang dan tidak perlu diragukan kebenarannya dan ke syammilannya. Namun Al qur’an juga akan menjadi kaya dan menjangkau ruang dan waktu lain baik dalam wilayah filosofis maupun praksis bila didialogkan dengan sumber sumber kebenaran lain. Dengan demikian kita posisikan Al Qur’an ( dan Islam) tidak sekedar agama (religi) namun sebagai Din. Sesuatu yang melintas ruang dan waktu.

Artinya, Al Qur’an dalam kacamata pemeluk post literalis terposisikan pada tingkatan yang lebih tinggi tidak sekedar pemecah segala masalah, namun malah menjadi guide untuk mencari rumusan rumusan kebenaran yang terkandung dari sumber sumber kebenaran lain. Disinilah yang kemudian pemeluk akan menjadi toleran dengan kearifan kearifan lain.

Islam memang merupakan ajaran sejak nabi Adam. Namun hanya al Qur’an yang memiliki pertanggungjawaban kebenaran secara Ilmiah. Padahal Al Qur’an lahir di saat peradaban peradaban lain sudah mapan. Sehingga kebenaran AL Qur’an akan terbukti mampu mengatasi peradaban peradaban sebelumnya dan peradaban peradaban sesudahnya hanya dengan mendialogkannya.

Inilah yang kemudian akan menjadi embrio Rahmatan Lil alamin. Islam akan tampil di dunia sebagai sebuah sistem etika yang cerdas dan disegani peradaban peradaban lain bukan karen pedang atau karena ancaman ancaman siksa neraka. Islam akan disegani karena mampu berdialog secara cerdas dengan peradaban peradaban lain, mampu membangun teori teori baru tentang berbagai hal setelah melakukan dialog, dialog dengan peradaban lain. Dan mampu ikut serta memecahkan masalah masalah di dunia ini dengan kecerdasan tinggi.

Merujuk cara berfikir Almarhum Pak Kunto, Al QUr’an dan Sunnah bagi umat Islam perlu terus di internalisasikan dalam diri. Namun bentuk pengeluarannya tidak perlu hanya dalam bentuk eksternalisasi semata. Dalam artian dalam bentuk ekspresi keagamaan ekskulusif semata yang memang sebagai bentuk kontrak antara pemeluk Islam dan Syariat Nabi Terkahir , Muhammad SAW. Menurut Pak Kunto, bentuk pengeluaran keyakinan kita akan Islam juga harus dalam bentuk Objectivikasi. Sehingga keyakinan kita bisa berbentuk dalam ekspresi keagamaannya  dapat diterima sebagai kebenaran universal tanpa orang lain harus memeluk Islam.

Menurutku, Objectivikasi ini tidaklah akan efektif kalau dialog dialog dengan sumber kebenaran lain kita hentikan bahkan menutup diri. Kita harus berfikir bagaimana melihat, membac dan merasakan bentuk bentk kearifan lain dan kemudian mengekspresikannya sebagai ekspresi universal walaupun secarap personal tetap diniatkan sebagai bentuk pengamalan keagamaan.

Jangan bangga sebagai orang awam, karena kalau ternyata kita punya potensi untuk melepasakan diri dari keawaman kita dan kita tidak melakukannya…maka kita sama saja dengan kufur nikmat….khianat…

27
Jan

Hari baru, Dunia Baru

Gak nyadar ternyata sudah berada di akhir januari. Dan lagi lagi aku harus sejenak bergulat dengan deadline deadline komitmen yang selalu kusanggupi untuk tersaji di senin besok.

Sejenak aku mikir tentang apa yang terjadi semalem. Setelah malam mingguan bareng anak anak IRM SMA MOEHI yang bener bener bisa nge refresh otakku, hingga dini hari yang kuakhiri dengan nonton Pacificier , Flm lama yang bener bener nyentuh. Hebat..!

Pagi pagi harus cepet ke kantor redaksi web ngembalikan lap top. Sampai sini buka susu Full Cream 100 ml dan kuniati jadi sarapanku pagi ini ( gak ngerti baru sadar tiba tiba badan jadi kurus gini…). Kusiapkan sound terbaik muter MP3 Player Laluna se album " Indah Pada Waktunya".  Setelah YM ku OL, kulihat Adi Korea OL dengan Status ucapan selamat untuk Razan. He…he.. pagi dunia baruku ini kumulai dengan mengucapkan selamat untuk putra seorang temen yang sangat intim namun belum pernah punya kesempatan bertemu ini.

Seperti yang kutulis di blog sebelumnya tentang dunia cuci otakku, semalem bersama anak anak IRM  MOehi ini seperti mengingatkanku akan cara hidup berbeda yang memang kami  miliki. Dulu pernah aku tulis ttg ‘cara Berislam alternatif’ yang berlaku disana . Dan ketika tadi malam aku berinteraksi sejenak dengan mereka, benar benar masih belum berubah cara hidup itu. Cara hidup substantif yang asik dan bener bener membuat kangen untuk dinikmati.

Melihat cara mereka mengekspresikan ide ide ttg Islam, Organisasi, Tanggungjawab dan Komitment benar benar masih belum banyak berubah. Mereka masih mewarisi kultur "Islam yang Gak Garing" dan juga "Islam yang Dinamis" . Namun tetep "Deep"

Ada harapan besar dalam diriku setelah mengucap salam perpisahan dengan mereka. Merekalah yang akan memenangkan pertaruhan hidup ini. Hidup yang memang butuh diberi lukisan lukisan alternatif, tidak sekedar hitam putih kebenaran. Hidup yang ‘berani bermimpi’ dan penuh alternatif pemecahan, yang tidak sekedar linier dan jumud. Hidup yang menjadikannya musti memiliki kearifan sendiri dan sistem etika sendiri. Hidup yang memang mejadikan semuanya menjadi penting namun tidak ribet, cepat, detail, fokus dan dewasa.

Oke… makasih adik adikku,  aku berharap di kemudian hari kalian ambil peran peran alternatif tidak ngekor atau malah taklid, sehingga Idealisme dan Keyakinan terbahasakan ke dunia dengan lebih asik, substantif dan benar benar siap menghadapi perubahan jaman.

Selamat..berjuang manusia manusia ambang batas…!

————————————————-

Met ulang tahun buat Razan, Semoga cita cita tahun depan bisa nengok kamu bareng salju salju korsel kesampaian….he….he…

26
Jan

Dunia Cuci Otak Kami….

Dalam 6 bulan terakhir ini aku menemukan sebuah kesimpulan tentang dunia yang disebut MOEHI dan MOEHA di jogja. Sebuah tempat  yang ternyata memnjadikan otak kami, para alumninya tercuci otak sedemikian rupa hingga disebut sebagai komunitas ‘orang orang gila’ yang mengharuskan kami untuk  ‘mengolah’ mana perasaan, mana pernyataan dan mana kenyataan. Begitulah..

Kami dikondisikan untuk memiliki relasi relasi substantif. Yang penting untuk sebuah hubungan cowok cewek bagi kami bukanlah tanda tanda atau sekedar ‘jalan bareng’. Dua orang cowok cewek yang jalan bareng, makan bareng, nonton bareng atau bahkan ‘midnight’ bareng kalau memang pernyataan awalnya teman ya teman. Dan dosa besar kalau salah satu daru keduanya habis ‘prosesi’ kemudian meminta pertanggungjawaban atas ‘pemberian harapan’ dalam bentuk mau diajak jalan bareng itu.

Gak ngerti ini budaya urban atau apa, setahuku model kayak gini banyak ditemui di komunitas komunitas di SMA SMA yang memang berisi kalangan menengah ke atas di perkotaan. Dalam konteks aku, aku adalah orang kampung , desa dan bener bener gak masuk ke kalanga menengah secara ekonomi yg dipaksa keadaan untuk cuci otak dan kemudian tiba tiba tanpa disadari menjadi sosok yang seperti itu.

Paling sebel bagi kami adalah ketika ada seorang dari komuitas lain yang tidak memahami cara berfikir kami ini. Bukannya kami tidak punya perasaan, dan bukannya kami menggampangkan perasaan orang, namun bukankah manusia modern itu lebih mementingkan kepastian dari pada main tebakan gitu…? Dalam bahasa lain, bukankah kita musti profesional dan proporsional dalam memnyikapi hubungan..?

Adalah hal yang biasa ketika kemudian kami memiliki temen dekat yang banyak dan bahkan sampai sangat dekat dan tetep sekedar teman. Dan adalah yang biasa bila kemudian kami tetep baik dan akrab dengan mantan mantan ‘pacar’ atau bahkan ‘mantan calon istri’ kami. Sekali lagi bukan kami tidak punya perasaan atau menggampangkan perasaan, namun kami orang orang yang mencoba melihat kenyataan sebagai kenyataan, pernyataan sebagai pernyataan dan perasaan sebagai perasaan.

Taruhlah, ada seorang cowok yang  putus dengan seorang cewek. Mungkin sempat cowok itu merasa down, dan si cewek juga down. Namun terlepas dari masalah kenapa mereka tidak bisa meneruskan hubungan, ..mereka relatif cepat untuk mengembalikan kondisi masing masing.  Mungkin perasaan mereka sama dengan orang orang kebanyakan, namun otek mereka yang bersemboyan " yg penting kan pernyataannya kami sebagai apa dan profesional njalaninya" itu yang menjadi aturan kami. Jadi jangan kaget kalau kemudian mereka masih akrab walaupun statusnya sudah mantan dan memutuskan untuk tidak balik lagi.

Patah hati, Cemburu, Ge’er itu sesuatu yang sama kami rasakan. Kami juga bisa down habis dan bahkan kami sampai butuh anestesi untuk mencoba sejenak mematikan perasaan kami. Namun itu bukan sesuatu yang akan membelenggu kehidupan kami. Biarlah itu kami rasakan sendiri, karena yang penting adalah menepati keputusan kami. Itu kehormatan kami. Konsisten dengan keputusan kami, profesional dengan kesepakatan bentuk hubungan kami dan kemudian kondisikan diri sebaik mungkin. Yang penting kenyataan, dan pantang bagi kami untuk larut dalam kesedihan, cemburu dan ke ‘ge’eran. Sekali lagi,..bukan kami tidak mau jujur, cuman kami sepertinya di takdirkan untuk menjadi manusia manusia dengan gaya seperti itu. Dalam konteks kehidupan…. kami harus segera mengambil keputusan…mengambil langkah kongkrit dan terbaik  dan melanjutkan kehidupan…..

Memang, ketika harus berhubungan dengan cara hidup lain kami harus mengkondiskan diri dan terpaksa menjadi sosok yang lebih dewasa. Ternyata kadang kami lupa kalau tidak semua orang terkondisikan seperti yang kami rasakan. Banyak orang yang terkondisikan dalam sebuah kehidupan yang mementingkan perasaan. Dalam bahasa diatas… " berangkat jadi temen…mau diajak nonton bareng.. abis nonton.. minta pertanggungjawaban… karena udah dikasih harapan…ha..ha..".

Memang kemudian kami harus berfikir bahwa perasaan orang lain harus dihormati. Orang lain punya perasaan dan cara berfikri lain. Dan mereka juga tidak salah untuk memiliki kehidupan seperti itu. Seandainya kita memilih pasangan hidup seperti itu, kami tidak bisa menyalahkan mereka. Kalau mereka super posesif, wajar karena kerepotan membayangkan dunia kami yang serba substantif. Kalau mereka merasa khawatir, dan kerepotan memahami dunia kami, yah wajar karena dunia kami memang butuh dirasakan, bukan sekedar di curigai.

Santai saja. Kami masih punya perasaan kok. Namun logika kami juga jalan. Bisa jadi sistem etika kami berbeda. Namun kami yakin,..kamilah yang akan survive dengan masa depan. Bukan kami raja tega ( kata mas Dede di testi terahirku,..) cuman kami sadar bahwa hidup itu gak lama, dan rugi banget kalau musti dilalui hanya dengan mengikuti perasaan. Kami orang orang baik yang ingin menjadi tambah baik… walaupun mungkin aneh…

Yang penting bukan sekedar apa yang kita lakukan, namun apa yang kita sepakati dan akan kita jalankan. ……

Perasaan, Pernyataan dan Kenyataan musti ditempatkan pada tempatnya……

Perasaan…? Gak bisa dibohongi. Nikmati saja sendiri dan tidak perlu diredam , jangan dilawan, gak enak. Karena yg penting bukan bentuk perasaannya, tapi gimana kita ngontrol ekspresinya…Disinilah kemudian yang akan memperlihatkan apakah kita kampungan apa enggak,.. norak apa enggak…Bukan "Muna" kok….Yg penting dah memperjuangkan perasaan kita sampai ambang batas ikhtiar… inilah kebanggaan itu….

Pernyataan.., inilah batasannya. Pernyataan sebagai teman harus dijalani sebagai teman. Pernyataan sebagai relasi, jalani sebagai relasi. Pernyataan sebagai Suami-Istri, harus dijalani sebagai suami Istri. Semua ada sistem etikanya sendiri sendiri. Gak boleh lebih dan gak boleh kurang, entar jadi fitnah….!….Profesional lah….! Ini kehormatan manusia…..

Kenyataan…, tidak perlu dicurigai, kasihan.. dia gak salahkarena tidak ada kenyataan yang salah. Kalaupun sempat konfrontasi,…cepatlah kenyataan itu kita ajak berdamai dan kemudian mengajak koalisi Tuhan untuk menjadikannya lebih indah……inilah kedewasaan…..

23
Jan

Komunikasi Orang orang ‘Kampung’

Berkaitan dengan cara memperoleh
pengetahuan, manusia pada hakekatnya memiliki empat fungsi, yaitu sebagai
mahluk spiritual, mahluk ilmiah, mahluk berperasaan dan mahluk indrawi. Keempat
fungsi tersebut bila difahami secara bijak, maka akan membantu seseorang untuk
memposisikan diri untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Bila
seseorang sedang berdo’a tentu berbeda dengan ketika kita sedang berdebat
ilmiah. Kedua kondisi tersebut juga berbeda ketika kita sedang curhat dengan
seseorang. Berbeda juga ketika kita sedang mengamati sesuatu. Memang keempat
fungsi ini tidak bisa terpisah dan tidak memiliki kaitan, tetapi bila kita bisa
bijak akan bisa membuat kita tepat menempatkan diri dalam berdialog dengan
orang lain.

Ketika
seseorang sedang berdiskusi ilmiah seharusnya dia akan menghindari kata-kata
“Saya rasa” atau “Saya tidak Suka” atau “Saya Berharap”. Karena kata-kata
tersebut bukan produk ilmiah namun produk perasaan. Seharusnya kata-kata
tersebut diganti dengan kata “Menurut pemahaman saya” atau “ Saya tidak setuju
karena….” atau “Estimasi saya….persen”. Hal ini karena dalam komunikasi
ilmiah sebisa mungkin digambarkan secara obyektif dan rasional. Bahkan kata-kata “Saya Yakin”
saja seharusnya diganti menjadi “ Estimasi saya 100%”. Karena kata Yakin adalah
bahasa sepiritual. Atau ketika kita menyatakan bahwa suatu produk makanan
haram, tentu bila kita ingin membahsakannya dalam bahasa ilmiah maka perlu
disiapkan sederetan alasan obyektif tentang materi-materi yang menjadikannya haram.

Mari
kita bayangkan sebuah komunikasi ilmiah yang tercampur dengan bahasa perasaan.
Ketiak ada diskusi yang hangat tentang sebuah rumus fisika, tiba-tiba ada yang
mengatakan bahwa “Saya tidak suka dengan Einstein”. Tentu saja kata-kata
tersebut akan menutup pintu diskusi selanjutnya, karena ketidaksukaan merupakan
sesuatu yang tidak obyektif. Atau ketika
seseorang memiliki keyakinan tentang tingkat keamanan sebuah konstruksi
jembatan, tentu saja dalam komunikasi ilmiah dia harus membeberkan perhitungan-perhitungannya
saja. Keyakinan dia cukup disimpan dalam hati.

Dalam
mengkomunikasikan hal-hal yang direspon oleh indra pun seseorang harus mencari
bahasa-bahasa yang memungkinkan menjadi obyektif. Sebagai contoh ketika seorang
dokter memeriksa suhu badan pasien. Ketika memeriksa bisa saja dia hanya
menggunakan tangan dan membuat klasifikasi dingin, hangat dan panas. Namun
ketika dia harus berkomunikasi ilmiah dengan fihak lain dia harus membahasakannya
dalam satuan derajat, apalagi bila dikomunikasikan dengan orang dari disiplin
ilmu yang berbeda.

Hati-hati
dalam boerkomunikasi ilmiah. Bisa-bisa seseorang yang pada awalnya ingin
berdiskusi menjadi kebingungan bila standarnya tidak sama, atau bila muncul
kata-kata yang timbul dari perasaan, atau bahkan bila yang keluar adalah
klaim-klaim teologis. Ha….ha.. salah salah dikatain liberal…..

Paling parah kalau  ketemu
komunitas yang bener bener gak mau diajak diskusi…, hanya menutup diri bahkan
selalu pakai klaim-klaim ‘Pokoknya’. Anti logika. Hanya mementingkan perasaan sendiri (dan tanpa ngerti perasaan orang lain).

Paranoid !  Kampungan..!

22
Jan

Pangeran Impian Perempuan

Alhamdulilah,
sebuah bakti sedikit demi sedikit sudah kuukir untuk sosok sosok tercintaku,
bapak dan ibu, Kakek dan nenekku baik dari bapak maupun dari ibu. Ahad kemarin aku menjadikan mereka bisa menegakkan kepala di depan 1000 orang teman teman mereka.


Memang mereka
tidak pernah meminta sesuatu dalam bentuk verbal, namun bagaimanapun anak-cucu
mesti cerdas menerjemahkannya dalam bentuk bentuk pengabdian. Kuakui aku anak- cucu yang selalu membuat mereka was was dengan kenekatan kenekatanku akhir akhir ini. Sehingga yang
kuberikan  adalah kejutan kejutan … bukan sesuatu yang mereka inginkan namun
aku yakin adalah sesuatu yang dibawah sadar mereka impikan
…he…he..

Sejak kecil bapak selalu mengingatkan akan
bagaimana aku menjadi sosok yang bisa mengembangkan diri semaksimal mungkin.
Beliau sering bercerita tentang bagaimana bekerja keras. Bagaimana bekerja
dengan sungguh sungguh. Bagaimana membangun komitmen dan menepati komitmen. Dan
lagi lagi bagaimana menyikapinya dalam konteks ‘intervensi vertikal’.
Beliau selalu mengingatkan bagaimana
perencanaan dan bagaimana aku membangun atitude diri. Aku selalu diajari
bagaimana merapikan sprei tempat tidur. Katanya “ dari sini kamu memulai
kedisiplinan…”. Aku selalu diingatkan bagaimana menyapu halaman demi “ kamu
harus belajar membantu pekerjaan rumah tangga dari mebantu ibumu..” . Dan
banyak hal …

Beliau yang cukup ‘berhasil’ dalam karir
sebagai guru SD lulusan SPG (tentu berhasil disini bukan berarti ‘kaya’) selalu
bercerita bahwa semua ini dulu juga tidak terfikirkan. Yang beliau tahu adalah
bagaimana berdedikasi sebagai guru. Beliau adalah sosok PNS yang baik.  Beliau mengatakan bahwa ketika beliau menjadi
kepala sekolah, penilik sekolah, kepala Diknas Kecamatan bukanlah sesuatu yang
beliau raih dengan menjilat, menyuap dan hal hal negatif yang dilakukan oleh
beberapa orang yang beliau kenal. Dan lucunya diakhir cerita beliau cerita itu
dalam sebuah keminderan tentang prestasi beliau. (Entah beliau tidak ingin aku
jadi PNS… seperti beliau).

Setiap orang belajar dari sejarah dirinya. Itu
kesimpulan nya. Dan setiap orang menginginkan anaknya tidak mengulang
‘kesalahan’ dirinya. Itu kesimpulan kedua. Dan sayangnya, ketika sejarah
dirinya menjadi sebuah ‘kenangan kurang baik’ setiap orang terjebak dalam
sebuah konteks penyesalan akan jalan hidupnya dan ‘melarang dengan sangat ‘
anak anaknya mengikutinya. Tapi mereka tidaklah salah berfikir begini….


Bapakku adalah sosok yang ingin anaknya mencontoh kerja kerasnya, kesuksesan
kerjanya, namun tidak ingin anaknya mencontoh bentuk kongkrit prestasinya sebagai PNS, logis…beliau seperti trauma jadi PNS. Trauma yang beliau syukuri juga.

Lain lagi dengan kakekku. Kakek yang seorang
pejuang, keluar masuk penjara belanda, ketika Class I dan II Perang Kemerdekaan
ternyata memliki sejarah yang cukup khas tentang kesuksesan. Kalau bapakku
adalah sosok yang selalu bercerita tentang perjalanan hidupnya dan terus
diulang ulang. Kakekku adalah sosok yang tidak banyak cerita. ( Aku beruntung..
. sebagai sedikit cucu yang merasakan interaksi dengan kakekku yang tidak kalah
hebat dengan bapakku itu).

Kakekku idealis…! Tentu saja. Beliau
ternyata bisa mendidik istrinya untuk menjadi sosok kuat dan jauh dari
kerapuhan dengan pilihan pilihan hidupnya yang cenderung ekstrim untuk
lingkungannya. Kakekku memilih menjadi pejuang yang tentu saja tidak banyak
yang mau melakukannya. Kakekku berani mengeluarkan diri dari status PNS nya dan
memilih mengurus kebunnya karena idealisme tentang kejujuran yang beliau
junjung tinggi. Kakekku menjadi sosok pediam yang menjadi figur hebat bagi 3
putera dan 7 putrinya. Dan yang membuat aku terkesima,….ketika kakeknya
melihat ke 8 perempuannya (ditambah nenekku tentunya) ribut ribut dengan banyak
hal yang mereka punyai. Kakekku biasanya merasa bangga ketika melihat para
perempuanya berkumpul dan ribut itu. Kakekku yang super pendiam itu seperti
mendapat hiburan ketika melihat para perempuannya itu ribut. Mungkin seperti
menadapatkan tingakt ekstase tertentu ketika kakekku berada di tengah keributan
perempuan perempuannya itu…he..he…

Lucunya,… nenekku yang sangat ikhlas menjadi
istri seorang pejuang, idealis, keras, dan pendiam itu ternyata dibawah
sadarnya tetap saja berfikir tentang hal yang ‘lebih baik’ untuk putri
putrinya. Nenekku yang bersuamikan ‘pensiunan PNS’ super dini itu ternyata
ketika memilihkan suami untuk putri putrinya juga selalu memilih yang memiliki
kejelasan bukan sepertri kakekku yang relatif ‘tidak jelas’. Dalam bahasa lain,
ternyata dalam alam bawah sadar nenekku tetap saja menginginkan suami untuk
putri putrinya tidak seperti suaminya yang seorang petani di ladang, keras dan
idealis sehingga mengorbankan kesempatan karirnya dan kemudian menjadikan
keluarganya ‘agak susah’ bernafas dalam logika ekonomi. ( Mayoritas menantunya
adalah PNS dan Karyawan Swasta).

Apakah nenekku salah…? Apakah nenekku
inkonsisten…? Apakah nenekku sosok yang memiliki paradoks….?

Tentu saja tidak . Ini sesuatu yang manusiawi.
Seorang ibu ingin anaknya memiliki security finansial yang jelas dari
suaminya. Seorang ibu ingin anaknya memiliki kejelasan nasib secara obyektif .
Intinya beliau tidak ingin berjudi. Itu saja….?

Lantas bagaimana dengan kakekku ? Apakah
nenekku menyesal hidup dengan kakekku yang memilih idealismenya daripada
kemapanan ?

Ini adalah masalah yang berbeda. Nenekku tentu
saja sangat bangga mendampingi sosok pejuang ini. Nenekku juga sangat ikhlas
menjadi istri seorang idealis yang terbukti sebagai seorang pekerja keras dan
‘ternyata’ mampu membuktikan bisa mendidik putra putrinya lebih dari standar
umum di masyarakat sekitarnya. Dan kakekku berhasil menjadi figur ayah yang
memiliki integritas super dimata putra putrinya. Dan nenekku adalah sosok
perempuan yang patut mernjadi contoh bagi para perempuan lain bagaimana
cinta bisa menjadikan mereka bertahan
dalam keterbatasan keterbatasan yang mereka hadapi. Bahkan bukan sekedar
keterbatasan, namun juga ambang batas kehidupan,..seperti ketika kakekku harus merasakan
bagaimana penjara dan gerilya.

Ibuku denga suami bapakku, nenekku dengan
suami kakekku memang memiliki nasib yang berbeda. Nenekku mencintai suaminya
yang serba terbatas dengan tulus. Kakekku memilih ‘ketidakmapanan’ juga bukan
berarti tidak mencintai keluarganya yang tentu saja membutuhkan kemapanan. Nenekku
memastikan kemapanan bapakku sebelum menikahi ibuku juga karena ketulusan cintanya
kepada ibuku. Nenekku memastikan kemapanan bapakku bukan berarti beliau
menyalahkan pilihan hidup kakekku.  Ibuku
mencintai bapakku yang mapan bukan berarti menganggap bahwa bapakku memiliki tingkat
idealisme lebih rendah dari kakekku yang memilih pensiun dini dan menjadi
petani.

Mungkin ini karena pada dasarnya setiap
perempuan selalu saja memiliki mimpi tentang pangeran impianya yang ideal.
Pangeran yang mapan tapi idealis. Pangeran yang mapan namun tetap baik. Pangeran
yang berkuasa namun tetap bijak. Pangeran yang sejuk , jauh dari ke-jayus-an
namun tetap pintar. Sayangnya pangeran pangeran ini butuh waktu untuk
menjadikan dirinya seperti yang perempuan perempuan itu bayangkan. Ada pangeran
yang sudah menyadari bahwa dirinya mesti mengusahakan seperti yang diinginkan
perempuannya. Namun ada juga pangeran yang tidak menyadari akan hal ini. Ada
yang menyadarinya dalam sebuah keterlambatan. Namun ada juga yang menyadarinya
dalam waktu yang tepat. Dan ada pangeran yang masa bodoh dengan semua itu…..

Karena itu, seorang perempuan seperti nenekku
yang sangat puas dan bangga dengan sosok kakekku yang idealis, baik, alim dan keukeuh
dengan prinsip hidupnya itu tetap
memiliki obsesi bahwa putri putrinya mendapatkan sosok yang ‘mungkin tidak se
ekstrim kakek’, namun memiliki sesatu yang sejatinya ‘kalau boleh memilih’ juga
musti dimiliki kakek : Kemapanan. Sayangnya pilihan pilihan hidup sulit untuk
memenuhi segala impian para perempuan itu. Akhirnya mereka harus memilih dan
mereka harus menerima apa adanya pangeran pilihannya. Mencintai, membanggakan,
menghormati dan menyayangi  pangerannya
lengkap dengan kelemahannya. Bagaimanapun prosesnya penentuannya.

18
Jan

Bukan siapa yang salah, tapi siapa yang rapuh…..

Ketika kita menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan cita cita kita selama ini, saat itulah yang kemudian kita bertemu yang bernama ujian. Ujian terberat adalah ketika cita cita itu benar benar dilandasi keyakinan dan ternyata kenyataan yang kita hadapi berkehendak lain.

"Epistem" Keyakinan adalah hasil olah rasa, referensi, kepentingan dan juga refleksi akan hakekat diri dan tujuan hidup. Dengan keyakinan inilah manusia bisa dikatakan hidup. Karena tanpa keyakinan hanyalah "Mayat hidup yang Takut Mati". Hanya saja keyakinan walaupun berawal dari referensi wahyu Ilahi tetap saja memiliki dimensi relatifitas kemanusiaan. Dalam bahasa kita ‘penentu kenyataan ‘ bukan keyakinan, namun tetap saja hak prerogatif Sang Penguasa Alam. Walaupun hak prerogatif ini dalam prosentase tertentu mengakomodasi peran peran ikhtiar dan do’a yang tentu saja berlandaskan keyakinan. Masalah mau menagkomodasi seberapa prosen itu yang menjadi rahasi Ilahi. (Wallahu Alam bissawab)

Nah.. kemudian yang menjadi masalah, standar lolos ujian ini apa….? Tentu saja  standarnya bukan dalam bentuk kita tidak sakit hati (kecewa,patah hati etc.), bisa bisa kita tidak bisa lagi dikatakan manusia. Lantas dalam bentuk apa….?

Standarnya dalam bentuk kita masih bisa menikmati kekecewaan dalam porsi yang tidak berlebihan. Kita menjalaninya dalam sebuah orientasi untuk membangun keikhlasan. Mungkin kita harus menangis, namun cukuplah untuk melepas beban dan kemudian menyadarinya akan bagaimana mengembalikan kondisi diri.
Dan mungkin kita harus sebentar melepaskan perasaan kita namun tidak untuk membangun prasangka.

Hal paling bahaya ketika  kenyataan ternyata berbeda dengan keyakinan adalah timbulnya prasangkan dan pencarian kambing hitam. Kalaupun ada kenyataan bahwa ada yang salah dalam kacamata publik, adalah sangat baik untuk secepatnya kita ma’afkan. Bahkan kalau kenyataan itu dalam kacamata obyektif ternyata memang akibat kesalahan persons, masalah paling mendesak adalah bukan membangun prasangkan akan motif ‘kejahatan’ itu,namun bagaimana kita dengan tulus mema’afkannya.

Kesedihan adalah manusiawi. Apalagi ketika keyakinan akan sebuah ‘kehidupan’ yang ternyata harus berakhir dengan ‘kematian’. Atau keyakinan akan sebuah ‘penyatuan’ ternyata harus berakhir dengan ‘pemisahan’. Lagi lagi kita harus bersedih dengan adil. Bersedihlah kalau memang harus bersedih, menangislah kalau memang harus menangis. Namun yang inti adalah Hidup Harus Berlanjut……

Sebuah perpisahan dua pemula memang berat ibarat dua sayap yang baru saja belajar mengepak ternyata harus menghadapi kenyataan untuk kembali mencari cara untuk belajar. Yang jadi masalah adalah sayap tetap harus terkepak, walaupun mungkin sementara harus sendirian. Bukan masalah berat atau ringan karena itu hanya akan menampakkan kerapuhan kita saja. Yang penting adalah mau atau tidak melihat kenyataan dan kemudian menyusun keyakinan baru tentang kelanjutan hidup. Inilah keikhlasan. Keikhlasan bukan berarti musti terbebas dari kesedihan. Keikhlasan adalah sebuah keyakinan akan bentuk hak prerogatif Sang Maha Kasih dan Maha Sayang untuk menetukan prosentase peran ikhtiar dan do’a dalam membentuk kenyataan.

Pemisahan dan penyatuan seringkali tidak bisa jauh jauh dari masalah Cinta. Dan sekarang bukan saatnya berdebat apakah cinta itu diciptakan atau datang begitu saja. Saat ini bukan pula saatnya berdebat mana  sebenarnya cinta sejati dan yang "tidak sejati". Yang perlu semua orang tahu adalah bahwa cinta terbukti berperan sebagai energi dahsyat yang berhasil memberi inspirasi dan menggerakkan ‘revolusi revolusi besar’ di dunia ini, walaupun kadang hanya sempat bereaksi sebentar dalam ‘reaktor’  dan  kapasitas ruangan yang kecil.

Tidak ada yang salah. Bukan pula masalah siapa yang salah dan siapa yang jahat. Hanya masalah bagaimana kita menghadapinya dengan adil. Karena yang menjadi tantangan adalah bagaimana kita ikhlas menghadapinya dan tetap menjadikannya  sebagai   inspirasi dan penggerak revolusi revolusi selanjutnya. Jalani keyakinan kita….. hilangkan prasangka prasangka kita…..

Manusia hidup adalah manusia yang punya tujuan hidup

Manusia pintar adalah manusia yang ngerti bagaimana buat ‘Peta Kehidupan

Manusia cerdas adalah manusia yang mampu mengendalikan diri kapan harus beraksi dan kapan ahrus menunggu

Manusia jujur adalah manusia yang bisa senang, sedih, cemburu,Ge Er dan Patah hati

Manusia berhasil adalah manusia yang mendapatkan hasil  akhir sesuai dengan yang diharapkan

Dan Manusia beruntung adalah manusia yang bisa ikhlas menerima
apapun bentuk hasil akhir dan tetap memandanginya sebagai sebuah
keindahan

——————–

Turut berduka dan semoga bisa bersabar untuk  dua orang teman lama. Seorang teman  lama yang ibunya barusan meninggal dan untuk seorang teman lama juga yang kakaknya baru kemarin  meninggal

16
Jan

Tarik Nafas..,Ikuti Kata Hati, Jalankan……

Setiap orang punya saat bimbang. Setiap orang punya saat bingung. Setiap orang punya saat kalut. Setiap orang punya saat panik. Ternyata rumusnya hanya satu, karena dia tidak lagi nguasai diri. Dirinya tiba tiba tercabut dari ‘kuasanya’ dan kemudian dia ‘kehilangan’ diri barang sejenak.

Namun yang kemudian menjadi masalah, apakah kita akan membenarkan diri kita ‘lepas’ ? Karena disinilah sumber permasalahan hidup. Ketika ‘diri’ lepas , maka saat itulah kita akan mengambil keputusan keputusan bodoh.

Betapa indah bila kita bisa berbicara dengan diri terkuasai. Rasional dan ‘cantik’. Kita bisa berbicara dengan tanpa ketakutan ketakutan yang sebenarnya adalah produk dari ‘negative thinking’ kita saja. Dan saat itulah saat terindah sebuah pembicaraan. Walaupun sedang menghadapi masalah yang benar benar pelik, kalau kita bisa bicara setenang mungkin, serasional mungkin, selogis mungkin kita akan mengalami saat saat terindah dalam hidup. Semakin parah krisis yang kita hadapi, namun kita benar benar menanngapinya dengan tenang, rasional, logis maka saat itulah satu tahap kemenangan bisa kita raih.

Adalah sudah menjadi rumus umum bahwa seseorang yang lebih tenang dia akan memenangkan pertarungan. Pertarungan apapun. Dan orang yang ‘parno’ biasanya akan keluar hal hal kacau, rahasia rahasia yang tidak boleh keluar ‘terkeluarkan’, dan juga mimik panik dan kacau. Saat itulah seseorang dalam posisi kritis dimana musuh tinggal menunggu kelengahannya saja.

Begitulah, saat saat lemah seseorang adalah ketika dia panik, ge-er, cemburu dan patah hati. Jadi kalau ingin bertahan lama dalam sebuah ‘pertarungan’ hindari kepanikan, ke ge-eran, kecemburuan dan ke-patah hati-an. Sedikit saja kelihatan dan kemudian terbaca lawan, makan tunggu hantaman balasan yang mematikan. Walaupun sebenernya posisinya dalam kondisi unggul.  Dan kondisi lawan dalam hitungan detik sudah TKO.

Bila keputusan sudah dipilih, tak perlu lagi nenggok kebelakang. Tinggal ikuti kata hati, jalankan . Bila tiba tiba ketemu saat saat ke ragu-an, ke-ge er-an, kecemburuan dan ke-patah hati-an mendingan  ikuti tips seorang teman "ketika hati itu bicara, beranjaklah, Dan pergilah kemana hati membawamu….. "

——————-

malam yang indah…..

05
Jan

Mayat Hidup yang Takut Mati

Kemarin sempat ‘nengok rumah’ . Bener bener neggok rumah karena pulang ke rumah diSukorejo, Kendal  cuma tiga jam, ngobrol bareng bapak dan ibu sebentar dan kemudian balik ke Jogja. He..he.. biasa. Bapak ibuku dah hafal walaupun selalu bigung mencari rankaian kata terbaik untuk menerangkan ‘kelakuanku’ ini kepada ‘Mbah Roko’ yang selalu menanyakan ‘kelakuanku’ ini. Yah..maklum…musti cepet bali ke jogja, janjian sama kawan kawan ‘perintis’ redaksi website www.muhammadiyah.or.id .  Tak niati..ini bingkisan terakhirku untuk Muhammadiyah sebelum mencoba masuk dunia lain….  Gantian gih..! Nyari tantangan lain..!

Sepanjang perjalanan balik ke Jogja aku bareng orang orang yang pulang kerja. Bergelayutan mereka di pintu samping bis . Bagi mereka seperti tidak ada pilihan lain selain harus bergelayut di  pintu bis itu. Wajah merekapun gak ada yang kelihatan mengeluh dengan kejadian ini. Mereka tidak ada yang kelihatan pengen protes kepada pemerintah mengapa mereka harus memeras tenaga untuk sekedar memakai alat transportasi. Mereka juga jauh dari wajah mahasiswa-mahasiswa yang setiap hari selalu mengjkritisi keadaaan, selalu berpidato tentang kondisi ’seharusnya’ , tentang berbagai ‘penyakit’ peradaban dari masalah perdagangan bebas dunia, isu nuklir hingga masalah poligami atau sekedar masalah mengapa Dian Sastro ikut ikutan mengembalikan Piala Citranya ….

Mereka adalah warga negara yang mungkin gak sadar bahwa mereka memiliki hak untuk menuntut negara. Atau mereka benar benar anak bangsa yang bagi mereka selalu bersemboyan ‘jangan tanya apa yang diberikan negaramu padamu, tanyakan apa yang engkau berikan pada negaramu’.

Ahh…gak ngerti persis…Yang kutahu mereka orang orang baik yang berusaha jadi tetep baik dan sering tidak berdaya kalau ‘dikerjain’ oleh orang orang tidak baik. Ini yang pasti…..

Sepanjang jalan aku lagi lagi berfikir tentang keyakinan. Aku teringat ‘petuah’ penyiar radio yang mengatakan bahwa kita hidup karena ada keyakinan. Keyakinan adalah milik kita pribadi. Ketika seseorang tidak berdaya untuk memepertahankan keyakinannya…. saat itulah dia sejatinya berubah status menjadi seorang manusia tertindas. ( he..he. keseringan dengerin suaragama kalau dah jam 12 malem lebih…).

AKu bayangkan, dulu sempat aku selalu takut untuk menentukan bentuk keyakinan keyakinan dalam hidupku. Saat dimana kondisi diri macet. Gak ngerti apa yang menyebabkannya waktu itu.. yang jelas tiba tiba ku ngabur bimbingan sekripsi pada posisi  tinggal finishing touch…. banyak orang yang mengatakan bahwa aku ‘bodoh’.. ‘ gila’.. ‘gak jelas’….. Yang jelas aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi kecuali satu..: Aku gak punya cita cita lagi untuk masa depanku.

Susah payah aku coba membangun kembali diriku. Coba untuk bangkit… dan lagi lagi terpuruk lagi. Aku seperti kapas yang kabur ke kanan dan kekiri. Aku seperti sosok manusia yang setiap hari cuma memiliki target ‘membunuh waktu’. Seperti  orang yang hanya menunggu mati walaupun secara jujur takut mati. Mayat hidup yang takut mati….Gak Jelas…!

Setiap hari aku tersiksa karena teringat omongan omongan idealisku yang dulu kukhotbahkan di berbagai tempat. Kemakan omongan sendiri… setiap hari…Aku yang dulu mengejek orang yang mengalami bad mood,..akhirnya mengalami hingga sekronis itu. Aku yang dulu mengejek orang yang gak selesai selesai nulis Sekripsi…akhirnya aku juga terpuruk dan mengalami. Aku yang berkhotbah tentang pentingnya kenunggulan kompetensi kader umat, waktu itu tiba tiba tidak ingin lagi meneruskan pendidikanku di Teknik Geologi.

Namun inilah resiko orang dewasa…. setiap masalah selalu harus dihadapi sendiri. Tidak boleh kita menyalahkan siapapun. Kata seorang temen yang seneng 7 habits nya Covey, kita mesti pro aktif.  Aku pengen waktu itu ada sosok yang mendekatiku dan membimbingku. Namun dunia SMA sudah berakhir, tidak ada logika Guru BP sepertu bu Tuti di MOEHI dulu yang selalu menanyakan kesulitanku. Atau Bu Nurjanah guru Fisikaku yang selalu mengajak makan di rumah kalau tanggal tua… waktu itu aku rindu sosok sosok mereka….

gak ngerti persisnya kapan sedikit demi sedikit aku berani bercita cita lagi. Aku berani membangun keyakinanku tentang hidupku. Aku sedikit sedikit membangun kepercayaan diri yang hancur lebur karena ‘penyakit misterius’ yang kualami. Aku perlahan bunuh penyakit inferior complex yang melandaku ketika melihat kenyataan bahwa aku sudah ditinggal teman temanku dan mereka sudah ‘berhasil’ mengatasi sekripsi dan bekerja. Dalam hatiku aku berjanji.. aku harus melakukan percepatan…..Meningkatkan Speed dan Memanfaatkan Jalur Alternatif… bahkan jalur Luar Biasa…!

Alhamdulillah… dengan keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin kecuali aku sendiri yang menciptakan ketidak mungkinan itu aku bisa sedikit demi sedikit kembali. AKu ingat..ternyata aku pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya..walaupun tidak separah ini. Waktu itu ketika lulus SMA. Ketika aku harus menunggu pungumuman UMPTN. waktu itu aku drop…. gak ngerti….

He..he… ternyata masalah terbesar dalam hidup kita adalah ketakutan yang kita bangun sendiri dalam bayangan bayangan kita sendiri. Masalah mestinya kita anggap sederhana…. yang membuat tidak sederhana ternyata bayangan kita sendiri. Dan yang paling parah kalau kita sudah benar benar tidak memiliki keyakinan akan kelanjutan kehidupan kita. Kita gamang menjalani kelanjutan kehidupan kita dengan terus terusan mencari kambing hitam keterpurukan kita. Jangan sampai kita tidak yakin dengan ketercapaian cita cita kita.

Setiap manusia harus menangung sendiri resiko pilihan pilihannya. Gak ada pembenaran kita tebengkan resiko pilihan kita kepada siapapun termasuk Tuhan.  Sosok manusia yang memilih ‘mencari aman’ ini sejatinya adalah sosok manusia yang berada dalam kebingungan yang sangat akut. Dia tidak punya cita cita lagi dan tidak terima kalau disalahkan.

Sosok manusia yang tidak punya cita cita lagi berarti dia tidak memiliki keyakinan akan pilihan jalan hidupnya. Setiap orang yang tidak memiliki keyakinan akan pilihan jalan hidupnya berarti dia hanya seosok mayat hidup yang sebenernya takut mati. Dia melalui hari harinya hanya untuk membunuh waktu. Sia sia…..!