Manusia kadang tidak butuh Tuhan. Karena kadang manusia sudah mencukupkan dirinya untuk menjadi Tuhannya.
Ini kenyataan. Disaat manusia tiba tiba terus menerus melakuan kesalahan demi kesalahan, dan tidak segera memperbaiki atau setidaknya mengimbanginya dengan berbuat baik, maka saat itu tuhannya sedkit demi sedikit tersekutukan dengan dirinyam bahkan kemudian bisa saja total menuhankan dirinya.
Tuhan ada yg mengatakan tergantung konsep kita saja. Ketika kita tidak memiliki konsep tentang Tuhan, saat itulah kita disebut Ateis. Atreis bukannya tudak bertuhan, namun suatu kondisi ketika konsep kita tentang Tuhan tergantikan dengan berbagai argument menjadi konsep yang tidak memerlukan Tuhan. Sehingga hakekat Tuhan dalam konsep dirinya tergantikan dengan konsep tak perlu Tuhan. Konsep tak perlu tuhan inilah yang disebut Tuhan barunya.
Masalah besar ketika kita tetap pengen mengakui keberadaan Tuhan, namun kita selalu melakukan pembohongan pembohongan pada diri sendiri yang berarti melanggar aturan Tuhan. Apapun pembenarannya, tetap saja sebuah kesalahan tetap kesalahan. Kalaupun ada pemafan di masayarakat (dan kita memang diwajibkan memaafkan kesalahan orang lain) itu hanya dalam rangka tertib social. Islam ingin dengan tersebar ajarannya, akan membawa tertib social. Sehingga ketika sebuah kesalahan memiliki implikasi social, Islam memberikan software untuk menjamin tertib social akaibat kesalahan seseorang di dunia ini.
Namun urusan akhirat mejadi lain. Ketika seseorang terus dikejar kejar rasa bersalah, berartio dia masih memiliki iman. Semakin tinggi rasa bersalah ketika dia melakukan kesalahan, maka semakin tinggi imannya. Dengan demikian, semakin masa bodoh, semakin rendah imannya.
Rasa bersalah akan terus menghantui kita bila kita tidak segera memperbaiki kesalahan kita.
Ada kesalahan yang memang bisa dipeerbaiki, namun ada juga yang memiliki akibat permanent dan tidak bisa diperbaiki lagi. Bentuk yang kedua ini cukup memerlukan permintaan ma’af dan pemberian ma’af yang tulus dari ‘korban’ secara social. Namun urusan akhirat, urusnya secara pribadi dengan Tuhan.
Setiap orang melakukan dosa, yang berimplikasi ke dosa social dan vertical. Urusan social kalau memang masih bisa diperbaiki, perbaiki. Namun bisa tidak perlu, atau lebih baik memang tidak perlu, cukup ketulusan ‘korban’ secara social yang kita perlukan dan keintiman kita dengan Sang Maha Pema’af. Mungkin dari kita melakukan kesalahan (yg mungkin besar) kita diberi kesempatan untuk mendekat, merayu dan menangis mendekat pada Tuhan kita yang sering kita Tinggalkan, termasuk ketika kita memutuskan untuk berbuat sebuah kesalahan.
——————————–
Pengumuman : Aku dah dapet MP3 OST D’Bijis.
