Archive for March, 2007

31
Mar

Ketika Tuhan Kemudian Dibutuhkan

Manusia kadang tidak butuh Tuhan. Karena kadang manusia sudah mencukupkan dirinya untuk menjadi Tuhannya.

Ini kenyataan. Disaat manusia tiba tiba terus menerus melakuan kesalahan demi kesalahan, dan tidak  segera memperbaiki atau setidaknya mengimbanginya dengan berbuat baik, maka saat itu tuhannya sedkit demi sedikit tersekutukan dengan dirinyam bahkan kemudian bisa saja total menuhankan dirinya.

Tuhan ada yg mengatakan tergantung konsep kita saja. Ketika kita tidak memiliki konsep tentang Tuhan, saat itulah kita disebut Ateis. Atreis bukannya tudak bertuhan, namun suatu kondisi ketika konsep kita tentang Tuhan tergantikan dengan berbagai argument menjadi konsep yang tidak memerlukan Tuhan. Sehingga hakekat Tuhan dalam konsep dirinya tergantikan dengan konsep tak perlu Tuhan. Konsep tak perlu tuhan inilah yang disebut Tuhan barunya.

Masalah besar ketika kita tetap pengen mengakui keberadaan Tuhan, namun kita selalu melakukan pembohongan pembohongan pada diri sendiri yang berarti melanggar aturan Tuhan. Apapun pembenarannya, tetap saja sebuah kesalahan tetap kesalahan. Kalaupun ada pemafan di masayarakat (dan kita memang diwajibkan memaafkan kesalahan orang lain) itu hanya dalam rangka tertib social. Islam ingin dengan tersebar ajarannya, akan membawa tertib social. Sehingga ketika sebuah kesalahan memiliki implikasi social, Islam memberikan software untuk menjamin tertib social akaibat  kesalahan seseorang di dunia ini.

Namun urusan akhirat mejadi lain. Ketika seseorang terus dikejar kejar rasa bersalah, berartio dia masih memiliki iman. Semakin tinggi rasa bersalah ketika dia melakukan kesalahan, maka semakin tinggi imannya. Dengan demikian, semakin masa bodoh, semakin rendah imannya.

Rasa bersalah akan terus menghantui kita bila kita tidak segera memperbaiki kesalahan kita.

Ada

kesalahan yang memang bisa dipeerbaiki, namun ada juga yang memiliki akibat permanent dan tidak bisa diperbaiki lagi. Bentuk yang kedua ini cukup memerlukan permintaan ma’af dan pemberian ma’af yang tulus dari ‘korban’ secara social. Namun urusan akhirat, urusnya secara pribadi dengan Tuhan.

Setiap orang melakukan dosa, yang berimplikasi ke dosa social dan vertical. Urusan social kalau memang masih bisa diperbaiki, perbaiki. Namun bisa tidak perlu, atau lebih baik memang tidak perlu, cukup ketulusan ‘korban’ secara social yang kita perlukan dan keintiman kita dengan Sang Maha Pema’af.  Mungkin dari kita melakukan kesalahan (yg mungkin besar) kita diberi kesempatan untuk mendekat, merayu dan menangis mendekat pada Tuhan kita yang sering kita Tinggalkan, termasuk ketika kita memutuskan untuk berbuat sebuah kesalahan.

——————————–

Pengumuman : Aku dah dapet MP3 OST D’Bijis.

24
Mar

Bordertown

Bordertown8ot
Film ini gambaran perempuan perempuan Juarez, daerah
Industri Mexico yang sedang giatnya membangun industrinya karena perdagangan bebas. Film bareng
Jeniver Lopes dan Antonio Banderas ini cukup berani mengambil posisi peihakan :
Kritik terhadap kejamnya pasar bebas.

Cukup detail cerita tentang wanita wanita pekerja pabrik
motor yang setiap harinya harus rela menjadi robot robot kapitalisme. Mereka
digambarkan menjadi pekerja yang setia saat terus digenjot kecepatan produksinya
dan kemudian setelah selesai bekerja selalu diminta secepatnya meninggalkan
tempat mereka bekerja. Mereka tidak salah, mereka hanya perempuan
perempuan yang sedang mengejar impiannya
, bersaing di pasar bebas.

Bahkan merekapun tidak mengerti apa itu pasar bebas. Salah
satu dari mereka, Eva Morales, mengatakan kalau dia menjadi pekerja karena dia
tergusur dari desanya yang hijau. Dia diusir karena orangtuanya tidak bisa
membayar pajak. Janji janji Hak Asasi Amerika ternyata benar benar busuk. Di negeri
yang tidak mau menerima modal mereka, mereka sebut negeri itu pelanggar HAM,
sedangkan di negeri yang membungkukkan diri dan mejadi anteknya, Amerika seakan
menutup mata dengan apa yang bernama HAM.

Andrian, sang jurnalis The Rolling dari Chicago menjadi pembuka cerita ini. Perempuan
yang diperankan Jeniver Lopes ini menjadi wanita Amerika dengan pilihan Single, Smart dan Sukses (walupun ternyata tetep mengaku kesepian). Dia terbang ke Juarez

dengan target mendapatkan berita ttg pembunuhan
perempuan perempuan pekerja yang selalu tak terungkap. Di Juarezlah dia bertemu
Eva Morales, seorang korban yang lolos dari pembunuhan (yang ternyata juga
dibarengi perkosaan).

Yah……, Film ini berkisah tentang seorang anak perempuan, 16
tahun, yang mencari keadilan akibat perkosaan dan pebunuhan (walaupun gagal)
yang dilakukan thd nya. Seorang Adrian, jurnalis dengan dedikasi thd
kemanusiaan yang tinggi dan seting kejam pasar bebas yang kemudian disebut
perbudakan modern.

Setingnya sebenarnya biasa bagi negeri berembang yang sudah
ngebet mengejar mimpi mimpi kemanmuran. Ada pekerja, pabrik, ada penindasan,
ada perampasan paksa, ada perlindungan keamanan dari preman dan aparat, ada
ketidakpercayaan rakyat thd polisi, ada orang orang idealis, ada
oportunis…………..yang jelas Film ini berhasil membawa isu Kebusukan Pasar Bebas,
neo –liberalisme, kedalam Film apik dan menarik.

Terakhir, film ini cukup bagus untuk jadi pemantik diskusi
bagi para kawan kawan yang ingin melihat sebuah sudut pandang lain tentang apa
itu ‘peradaban’. Dengan film ini kita bisa sejenak merenung begitu beruntungnya
bila kita selamat dari system ini. Film ini cukup membuka pikiran kita tentang
deskripsi busuknya neo liberalisme, walaupun sebenarnya kita masing tahu.

24
Mar

Soekarno Muda

Pada suatu pagi di awal 1923, sebagai seorang mahasiswa
Soekarno muda dipanggil untuk menghadap Rektor THS (sekarang ITB), yakni Prof.
Ir. G. Klopper, M.E. Kepada mahasiswanya yang berusia duapuluh tahun itu, sang
professor berkata : “Kamu harus berjanji bahwa sejak sekarang kamu tak akan
lagi ikut ikutan dengan gerakan politik”.”Tuan,” jawab Soekarno, “Saya berjanji
untuk tidak akan mengabaikan kuliah-kuliah yang Tuan berikan di sekolah.”
“Bukan itu yang saya minta,” sanggah Sang Profesor. “Tetapi hanya itu yang bisa
saya janjikan, Profesor” jawab Soekarno lagi.

 (Adams, Cindy, An Autobiography As Told to Condy Adams’,
1965)

—————————

Dari Makalah Budiman Sujatmiko, di Rakernas IRM sore ini

04
Mar

Miyamoto Musashi

"Semua Ilmu, entah ilmu Pedang, Berdagang, Seni Minum Teh, Zen, atau bermain Kecapi jika ditekuni terus menerus akan membawa ketitik akhir semua ilmu: Pencerahan Batin "

- Miyamoto Musashi; Samurai-