Kemarin pagi aku masih di Loby Hotel Garuda Malioboro. Yah ketika banyak temen kader Muhammadiyah mengkritik penyelenggaraan Tanwir di Hotel Mewah itu, aku coba masuk dan tidak peduli, walaupun disitu juga hanya menjalankan tugas koordinasi Liputan dan membagi buku review kegiatan People Kampong Organized (PKO) Posko PP Muhammadiyah.
Pagi ini giliran aku harus mebagi buku tersebut di loby hotel. Padahal malamnya aku tidak tidus sampai pagi, setelah diajak mas Daan, Kang Yus dan Adi ‘ngejar’ nasi liwet ke solo, dilanjut dengan mengantar beberapa teman IRM keluar dengan berakhir di Turi, ‘Kulakan’ Salak.
Tiba tiba da seorang teman menelpon dan bercerita ttg hubungan antara dua teman kami. Dia cerita ttg bagaimana seorang teman cowok yg studi di seberang lautan sana yang ternyata sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang teman cewek di sebuah daerah di sekitar Jakarta. Katanya si teman cowok "Gak Niat", setelah si temen perempuan sudah mulai mau nerima , si cowok malah mau mundur.
Yah,… terlepas dari mana yg salah dan mana yg bener, aku fikir mereka harus berfikiran positif dulu lah. Coba komunikasi yag baik antar mereka berdua. Terlepas dari keterbatasan komunikasi karena hanya melalui email dan Yahoo Messenger, bagaimanapun juga harus mencari cra biar semua jadi efektif.
Yg jadi maslah fundamental bukan apakah nantinya akan jadi apa enggak, namun bagaimana mereka bisa membangun sebuah komunikasi efektif untuk saling memahami. Kalau nantinya jadi, tentu dengan pemahaman yg baik. Kalaupun gagal tentu dengan pemahaman yang tepat juga. Coba cari cara untuk memahami dengan segala keterbatasan sarana itu, paling tidak cari informasi kepada teman teman yg cukup dipercaya tentang latar belakang masing masing. Mungkin apa yg terkatakan itu butuh sebuah pemahaman lain, tidak sekedar apa yag terkatakan. Dan mungkin apa yang difahami itu walaupun sudah ada kesimpulan, perlu untuk difahami bagaimana seandainya tetap mejadi ‘pengetahuan kritis’ bukan sebuah pengetahuan final (gak ada yg final sebelum kita ketemu yg Maha Benar).
Mereka harus memahami, perasaan kalau memang sudah memilih konsekuensi apapun harus dijalani. Perasaan ketika sudah memilih, harus mencari cara untuk menjaganya. Perasaan bukan sesuatu yang mudah dilakukan negosiasi, karena negosiasi adalah wilayah logika, bukan perasaan. Negosiasi bisa terjadi kalau komunikasi keduanya sepenuhnya komunikasi logis bukan komunikasi emosional.
Namun lagi lagi, tidak mudah mencari cara berkomunikasi dengan hubungan jarak jauh seperti itu. (Walaupun hubungan jarak dkat juga tidak lantas lebih mudah). Namun sepenuhnya berpulang pada niat awal keduanya, berproses (dan tidak ada yg salah dengan proses). menyiapkan diri untuk terima hasil apapun (ingat hasil positif yg berakhir dengan komitment lebih berat dari hasil negatif yg berakhir kegagalan untuk menjalani kelanjutannya), dan terus menjaga dan saling mengingatkan untuk berfikiran positif.
AKhirnya, selamat menjadi dewasa dan lebih dewasa dua sahabatku. Untuk yg cowok, aku kenal kamu lama dan aku fikir kamu bisa mejalani ini untuk terus baik baik saja (terlepasa hasilnya nanti), dan untukyg cewek, aku kenal kamu hanya dari cerita seorang sahabt baikku dan seorang teman dekatku. Aku fikir kamu tidak berlu berprasangka buruk kepada laki laki , siapapun. Mungkin selama ini kamu hanya ’sial’, ketemu laki laki yg belum matang dan berani ambil resiko. Generalisasi adalah hal yg picik, walaupun dunia memang sempit, namun laki laki tidaklah sebodoh itu. Hanya mungkin butuh waktu untuk mendapat maqom yg pas untuk kalian.
Lelah….? Itu resiko hidup. Anggap saja sedang di tengah tengah pendakian Mahameru dan kita sedang menggerutu kenapa kita sudah memutuskan untuk mendaki bukan nonghkrong di rumah dan menonton TV. Karena rasa lelah akan sedikit berkurang ketika kita membayangkan betepa senangnya kalau kita bisa mengakhiri pendakian ini dengan sukses.
———————–
He..he.. ngasih nasehat untuk orang lain ternyata lebih mudah kertimbang nasehati diri sendiri….
