Archive for April, 2007

29
Apr

Memahami orang lain

Kemarin pagi aku masih di Loby Hotel Garuda Malioboro. Yah ketika banyak temen kader Muhammadiyah mengkritik penyelenggaraan Tanwir di Hotel Mewah itu, aku coba masuk dan tidak peduli, walaupun disitu juga hanya menjalankan tugas koordinasi Liputan dan membagi buku review kegiatan People Kampong Organized (PKO) Posko PP Muhammadiyah. 

Pagi ini giliran aku harus mebagi buku tersebut di loby hotel. Padahal malamnya aku tidak tidus sampai pagi, setelah diajak mas Daan, Kang Yus dan Adi ‘ngejar’ nasi liwet ke solo, dilanjut dengan mengantar beberapa teman IRM keluar dengan berakhir di Turi, ‘Kulakan’ Salak.

Tiba tiba da seorang teman menelpon dan bercerita ttg hubungan antara dua teman kami. Dia cerita ttg bagaimana seorang teman cowok yg studi di seberang lautan sana yang ternyata sedang menjalani hubungan jarak jauh dengan seorang teman cewek di sebuah daerah  di sekitar Jakarta. Katanya si teman cowok  "Gak Niat", setelah si temen perempuan sudah mulai mau nerima , si cowok malah mau mundur.

Yah,… terlepas dari mana yg salah dan mana yg bener, aku fikir mereka harus berfikiran positif dulu lah. Coba komunikasi yag baik antar mereka berdua. Terlepas dari keterbatasan komunikasi karena hanya melalui email dan Yahoo Messenger, bagaimanapun juga harus mencari cra biar semua jadi efektif.

Yg jadi maslah fundamental bukan apakah nantinya akan jadi apa enggak, namun bagaimana mereka bisa membangun sebuah komunikasi efektif untuk saling memahami. Kalau nantinya jadi, tentu dengan pemahaman yg baik. Kalaupun gagal tentu dengan pemahaman yang tepat juga. Coba cari cara untuk memahami dengan segala keterbatasan sarana itu, paling tidak cari informasi kepada teman teman yg cukup dipercaya tentang latar belakang masing masing. Mungkin apa yg terkatakan itu butuh sebuah pemahaman lain, tidak sekedar apa yag terkatakan. Dan mungkin apa yang difahami itu walaupun sudah ada kesimpulan, perlu untuk difahami bagaimana seandainya tetap mejadi ‘pengetahuan kritis’ bukan sebuah pengetahuan final (gak ada yg final sebelum kita ketemu yg Maha Benar).

Mereka harus memahami, perasaan kalau memang sudah memilih konsekuensi apapun harus dijalani. Perasaan ketika sudah memilih, harus mencari cara untuk menjaganya. Perasaan bukan sesuatu yang mudah dilakukan negosiasi, karena negosiasi adalah wilayah logika, bukan perasaan. Negosiasi bisa terjadi kalau komunikasi keduanya sepenuhnya komunikasi logis bukan komunikasi emosional.

Namun lagi lagi, tidak mudah mencari cara berkomunikasi dengan hubungan jarak jauh seperti itu. (Walaupun hubungan jarak dkat juga tidak lantas lebih mudah). Namun sepenuhnya berpulang pada niat awal keduanya, berproses (dan tidak ada yg salah dengan proses). menyiapkan diri untuk terima hasil apapun (ingat hasil positif yg berakhir dengan komitment  lebih berat dari hasil negatif yg berakhir kegagalan untuk menjalani kelanjutannya), dan terus menjaga dan saling mengingatkan untuk berfikiran positif.

AKhirnya, selamat menjadi dewasa dan lebih dewasa dua sahabatku. Untuk yg cowok, aku kenal kamu lama dan aku fikir kamu bisa mejalani ini untuk terus baik baik saja (terlepasa hasilnya nanti), dan untukyg cewek, aku kenal kamu hanya dari cerita seorang sahabt baikku dan seorang teman dekatku. Aku fikir kamu tidak berlu berprasangka buruk kepada laki laki , siapapun. Mungkin selama ini kamu hanya ’sial’, ketemu laki laki yg belum matang dan berani ambil resiko.  Generalisasi adalah hal yg picik, walaupun dunia memang sempit, namun laki laki tidaklah sebodoh itu. Hanya mungkin butuh waktu untuk mendapat maqom yg pas untuk kalian.

Lelah….? Itu resiko hidup. Anggap saja sedang di tengah tengah pendakian Mahameru dan kita sedang menggerutu kenapa kita sudah memutuskan untuk mendaki bukan nonghkrong di rumah dan menonton TV. Karena rasa lelah akan sedikit berkurang ketika kita membayangkan betepa senangnya kalau kita bisa mengakhiri pendakian ini dengan sukses.
———————–
He..he.. ngasih nasehat untuk orang lain ternyata lebih mudah kertimbang nasehati diri sendiri….

21
Apr

Ketemu ‘Jodoh’ Falak

Falak
Sejak kecil aku mimpi tentang bagaimana berada dalam sebuah komunitas keilmuan yang tidak banyak terpengaruh dengan kepentingan kepentingan pragmatis.  Artinya, aku  ingin hidup dalam komunitas keilmuan yang mengedepankan  idealisme, kemudian berkarya dan berkarya tanpa harus berfikir tentang kekurangan makan.

Setelah berinteraksi dengan wacana Pergerakan dan KeIslaman, mimpi kemudian berubah. Ingin mejadi pioner sebuah gerakan yang mampu menjadikan Islam dan Keilmuan dalam satu tarikan nafas yang sama. (He.he.. nyadur istilah Buya Syafi’i Ma’arif). 

Setiap hari terus kepikiran bagaimana mewujudkan kelompok studi tentang Sains dan Islam. Bagaimana mewujudkan sebuah kelompok riset yang menjadikan Sains akan berkembang di kalangan Islam dan sebagainya. Sampai sekitar tahun 2003 setiap hari ‘keranjingan’ baca buku filsafat Ilmu dari Gaya Maurice Bucaile, Harun Yahya hingga aliran Kuntowijiyo, Mehdi Nankosten, dan  juga buku buku Mizan.

Beberapa konsep menari nari di kepala. Ada tentang komunitas yang bisa mejadikan Training Center bagi anak anak Muhammadiyah agar bisa melahirkan anak anak yang memiliki kompetensi sains tinggi. Ada komunitas IT Muhammadiyah dan sebagainya. (Masih berkutat di Muhammadiyah, …). Sampai sempat tiap hari diskusi di komunitas IMM tentang gerakan IPTEK IMM, Muhammadiyah atau Umat Islam.

Sepertinya memang setiap kita harus terus bermimpi dan tidak perlu menghentikan mimpi. Setiap hari kita memproduksi konsep konsep tentang sesuatu yang status ontologisnya hanya ‘impian’. Namun ternyata semua itu berguna sekali.

Ketika tiba tiba melihat Website Muhammadiyah yang kurang terurus,… dan ditawari untuk mengurusnya… ternyata hal ini bisa tak jalani dengan berawal dari mendownload impian impian tentang Islam dan IT yang sudah lama jadi mimpi. Ketika diminta bergabung dalam Posko Muhammadiyah Bencana Alam Gempa Bumi DIY Jateng, juga diawali dengan mendownload impian tentang  Geologi khususnya Disaster Manajemen dan Umat Islam. Dan terkahir ketika di minta Pak Dr. Suziknan dan Mas Ruli bergabung di Pusat Studi Falak, seperti ketemu impian lama yang terimpikan ketika kecil dulu.

Salah satu impian masa kecil dulu adalah bagaimana belajar tentang bintang, planet, planet dsb. Bagaimana bisa bergabung dengan komunitas manusia manusia yang berhubungan dengan teropong bintang, perhitungan peredaran bulan dan kalau perlu jadi astronot.

ha..ha.. benar, jadi Astronot… itu impianku jaman kecil dulu. Sering aku pakai jaket berlapis lapis dengan ransel Pandu nya bapakku. Lengkap dengan helm ‘cakil’ dan juga selang yang terimajinasi sebagai pengganti Neil Amstrong atau Edwin Aldrin (terlepas kontroversi APOLO XI).

Kadang kepikiran bagaimana ambil bagian dalam gerakan mengembalikan Kejayaan Sains umat Islam. Bagaimana cara , usaha dan upaya yang mungkin dilakukan untuk itu. Bahkan kadang terlarut dalam khayalan mewujud menjadi Ibnu Sina, Al Khawarizmi dan banyak tokoh Sains Abad Pertengahan.

Bersama Pusat Studi Falak tak pikir impian ini mulai terwujud. Seperti ketika meniatkan diri bergabung dalam manajemen website muhammadiyah atau PKO Posko Muhammadiyah.

Makasih, impian impian terus berujud satu demi satu. Dan teruslah bermimpi . Karena mimpi adalah barang mahal di negeri yang serba pragmatis ini.

————————-

Tapi impian yg juga sudah mewujud adalah hidup bersama manusia manusia unik saat ini, yang menjadikan Nasi Goreng Pele Alun alun utara jadi tempat yg paling  nyaman untuk mendengarkan pengamen pengamen bernyanyi tentang banyak hal , termasuk tentang kebodohan laki laki he..he..

10
Apr

Apa kabar mimpi….?

Tak terasa kita seharian mengejar pemenuhan deadline demi deadline. orang lain melihat kita orang orang sibuk. Bahkan para pengangguran menganggap kita kemaruk dengan pekerjaan. Dan beberapa orang menganggap aktifitas ini hanyalah pengisi waktu yang ‘tidak boleh luang’. Dan ada sekelompok kawan lagi yang menyebutnya ‘aktifisme yang memabukkan’.

Namun yang menjadi masalah, kita kadang lupa kalau kita pernah punya mimpi. Mimpi yang masih inginm kita wujudkan itu ternyata terpaksa terlupakan hanya karena kita menuruti aktifitas aktifitas yang membuat kita, bahkan, merenung saja tidak sempat. Karena bermimpi butuh syarat, yaitu waktu sejenak untuk merenung. Dan merenung butuh syarat yaitu keikhlasan  untuk ‘berinfaq’ terhadap indahnya mimpi.

Apa Kabar Mimpi…?

Mimpi tentang sebuah kebun anggrek dan aglonema di depan kamar, sehingga setiap bangun pagi mereka seakan menyapa ‘ selamat pagi bos..!"

Mimpi tentang upacara 17-an agustus di puncak mahameru.  Mimpi tentang toko buku kecil di pojokan jalan dan menjadikannya tempat ‘mojok. para pemimpi sejati : anak-anak.

Apa kabar Mimpi….?
Mimpi tentang kampung tanpa penindasan, politik yang beradab, dan profesional yang beretika.
Mimpi tentang jalan jalan melihat salju dan menonton pertandingan Softball di lembah UGM. Atau nongkrong buktikan keangkeran pojok pojok kampus Depok, UI. Atau sekedar ngerasakan lagi ‘manasik’ haji di kampus Tembalang, UNDIP.

Apa Kabar Mimpi…?
Mimpi harus terus berjalan, bukan kemudian dimatikan begitu saja karena kita takut bermimpi. Mimpi tidaklah norak, karena mimpi dunia tanpa hukum. Mimpi tidak kenal dosa, karena dosa berlaku du dunia khayalan. Mimpi membenarkan keadaan sempurna. Dan mimpi membenarkan kita terus membangun keadaan sesuai yang kita inginkan.

Tetaplah bermimpi tentang gurun sahara, jabal rahmah dan munkin pedalaman palestina yang ingin engkau cium tanahnya. Mimpilah dengan pencarian Blaxk Dahlia atau sekedar bercengkerama dengan Cendrawasih atau Orang Hutan. Tetaplah bermimpi  tentang sosok sosok pengganti al khawarizmi yang juga penyuka lagu lagu Seila on 7. Tetaplah bermimpi tentang laki laki dan perempuan yang senang travelling dengan bekal minim bahkan hampir nol.

Apa kabar mimpi…?
Ma’af….aku meninggalkanmu demi mengejar deadline deadlineku…..
Tak perlu mengeluh kalau ini tak nyata,….
Tak perlu menangis kalau ternyata kita harus terbangun ketika matahari melibas malam…..

———————–
ditulis setelah seharian mematikan HP dan mencoba menyapa mimpi, tapi gagal

04
Apr

nJaga Komitments

Ternyata hal paling mudah itu ‘membuat Komitment’
dan yang paling susah dalam hidup ini adalah ‘menjaga komitment’

Gak ngerti , ada seorang temen dekat meng sms ku pagi ini. Jelas aku gak pernah buat komitment apapun dengan temen SMA ku ini, termasuk komitmen untuk membalas SMS he,..he.. Jadi SMS ini mungkin hanyalah curhatnya dia ke aku, atau salah kirim SMS. Gak ngerti. Akupun males konfirmasi.

Hanya saja, memang kata kata temanku itu benar. Membuat komitmen itu mudah, dan menjaga komitment itu yang susah. Bisa jadi, kalau kita punya mental politikus, membuat komitment jadi jauh lebih mudah, dan menepati komitment adalah sesuatu yang bahkan tidak terfikirkan.

Oke… dalam keseharian, ternyata menjaga komitmen agar tetap pada rel awal benar benar sulit. Hal ini bisa terjadi karena seting paradigma kita tentang janji, hutang dan konsep kemunafikan yang salah. Jadi lebih ke nuansa teologis. Sehingga akan melahirkan sosok manusia yang menggampangkan janji tanpa berfikir dosa dan tidak dosa. Dianggapnyalah Tuhan tidak ada urusan dengan komitment kita dengan seseorang , lembaga dan sebagainya.

Macam kedua adalah  ada masalah di mentalitas. Bisa jadi seseorang yakin akan implikasi teologisnya tentang ‘penjagaan komitment’ . Namun karena mental menggampangkan masalah, dia akan dengan mudah melanggar komitment walaupun tetap saja dikejar kejar perasaan berdosa. Namun dia tetap saja menjalani hidup dengan terus menerus ‘nge less’ , cari alasan pembenaran dari kealahan dia. Paling tidak dia sering sering minta ma’af, dengan sering sering mengulang kesalahannya.

Yang ketiga , seseorang yang melanggar komitment tanpa dia benar benar mau melakukannya. Dia terpaksa melanggar komitmen karena keadaan. Energinya tidak cukup lagi untuk melanjutkan kimitmennya. Waktunya sudah tidak cukup lagi. Atau daya jangkau kewilayahannya sudah tidak bisa kompromi lagi. Lebih lebih masalah hukum atau komitment lain yang bertentangan dengan komitment awal. Dalam model yang ketia ini akan menjadikan sosok manusia yang tiba tiba jadi introvert, mengasingkan diri, bahkan tiba tiba jadi Paraniod. Takut dengan hal hal yang sebenernya hanya cara berfikir negatif dan hiperbolik semata.

Hati hati membuat komitment dengan orang, dan juga hati hati ngajak orang untuk membangun komitmen. Jangan paksa orang berkomitment dengan kita kalau dia memang tidak sanggup menjalaninya. Atau bahkan jangan buat keadaan yang membuat orang tidak bisa menolak ajakan kita untuk berkomitment. ( yg terakhir ini biasanya gaya politikus…. he..he..).

—————————————–
lagi mati matian jaga komitment dengan Mas Agus Hendratno, Mas Arifudin, Mas Agung Harjoko, Pak Joko Wintolo, Pak WIdi di Kampus  dan juga manajemen www.muhammadiyah.or.id  , Doakan semua lancar….