Malam ini aku bareng Mas Dede, Farid mbak Isti mampir makan malam di warung bu Dhe yg disamping rumah mas Arif Jamali dan Mb Hang. Disana kami diskusi ttg ribetnya masalah IMM, dan juga ngobrol masalah Muhammadiyah. Bisa ditebak kalao sudah ngomong ttg nama komunitas tempat kami berhidmat ini, bisa bisa diskusi dilakukan sampe pagi..ha..ha.. seandainya fisik kuat.
Benar….mas Ayip keluar rumah dan bergabung. Setelah sejenak ‘ngosip’ ttg DPP IMM, Din Samsudin, Tanwir, Amin Rais hingga Buya Syafi’i akhirnya masuk dalam perdebatan panjang ttg realitas sosiologis Muhammadiyah dan siapa penentu arah perubahan ini sebenarnya…
Pertama aku coba mengulas tulisan Buya Syafi’i ttg realitas sosiologis warga ‘pendukung’ Muhammadiyah. Beliau menulis bahwa sesungguhnya Muhammadiyah yang tadinya di klaim sebagai gerakan Islam perkotaan, adalah salah. Karena yg benar adalah ‘gerakan warga kelas dua kota’, atau dalam bahasa Buya, Muhammadiyah tetap saja bukan merupakan produk warga urban sebagai penentu kebijakan tetapi produk warga kelas dua kota atau tetetp saja wong cilik dalam wujud ‘Muhammadiyah Cetakan Jawa’ dan ‘Cetakan Seberang’ (Minang) . Kalau Muhammadiyah ingin mengawal perubahan, tentunya harus bisa masuk ke kalangan warga kelas satu yang menjadi penentu arah peradaban itu.
Perdebatan kami mulai berkembang dalam topik : Lantas siapa warga kelas satu versi Buya Syafi’i yang akan menentukan arah peradaban itu ? Apakah mitos Kelas menengah independen (yg melakukan bunuh diri kelas….kata Tofik ), atau mereka para pemegang akses modal, pemegang tradisi kekuasaan, para Priyayi di Jawa, Datuk di Minang, Gusti di banjar, Tengku di Aceh…..?
Perdebatan kemudian beralih kepada fenomena perdebatan wacana Liberal - Fundamentalis di Tubuh Muhammadiyah. Kami sepakat bahwa JIMM bukanlah JIL. Mereka entitas yg berbeda baik dari sisi ruang dan waktu serta substansi ‘keliberalan’. Namun kemudian kami berbeda pendapat tentang bagaimana relasi yg mungkin terjadi antara kawan kawan ‘liberal’ di Muhammadiyah itu dengan para Ustadz yg sering disebut Konservatif.
Dalam keyakinanku, yg penting adalah bentuk komunikasi. Komunikasi yg terbaik adalah komunikasi kultural, yg sejuk dan santun serta jujur. Namun, akan lebih baik bila bisa mengupayakan komunikasi intelektual. Baru bila semua mentok, usahakan komunikasi politik, sebagai posisi sementara sembari mengusahakan dua bentuk komunikasi yag lain di atas.
Diantara kami ada yg berpendapat bahwa sulit itu akan terjadi, karena perdebatan mereka sudah masalah benar dan salah. Entah, aku utopis atau apapun terserah,.. aku masih berfikir dan optimis bahwa komunikasi akan terjadi secara efektif bila kita mengkondisikan tingkat kesantunan demi tingkat kesantunan. Seandainya memang masih mentok, jangan segera mengatakan bahwa ‘hati mereka telah tertutup‘. Kita tidak berhak mengatakannya, hanya Allah yg berhak mengatakannya.
Para Ustadz Muhammadiyah dan Kawan Liberal di Muhammadiyah harus terus dicarikan jalan untuk mencari pola komunikasi efektif. Kepala tetap dingin, yg tua menyayangi yg muda dan yg muda menghormati yg tua. Keduanya boleh saja sama sama memegang faktor politis untuk mengamankan diri, yg tua memegang ‘kekuasaan’ struktural, sedangkan yg muda harus memiliki bargaining fungsional yg tentu saja dalam sejarah manapun akan dikuasai orang muda.
Komunikasi efektif selain didasari niat baik, etika berdebat juga harus dilakukan pada posisi politis yag sama. Adalah bodoh bila kita memiliki ide namun posisi politis kita masih lemah, untuk mengkomunikasikan pada target audience kita. Dan adalah kebodohan bila kita kelelahan mencoba membuka komuikasi dengan mereka yg kita sebut konservatif.
Kita bukan berada dalam sebuah relasi tirani dan yg yang tertindas, antara penguasa tafsir ala Gereja Ortodok dengan Kaum Protestanian. Itu terlalu hiperbolik dan mengada ada. Tidak perlu kita membawa idiom idiom minhaj sembari memposisikan diri layaknya al halaj dengan penguasa Irak. Itu terlalu berlebihan dan lagi lagi bodoh dalam membangun pola komunikasi kita.
Masalahnya sederhana, ada perbedaan cara pandang terhadap makna Liberalisme dan Pluralisme. Padahal hati kecil kita sepakat bahwa musuh kita adalah Thoghut, musuh kita adalah para penindas kaum Du’afa dan Mustadzafin. Musuh kita adalah tiran tiran yang membelenggu kita entah yag kelihatan dalam bentuk kekuasaan yg zalim dan koruptor atau dalam bentuk substansi substansi yang menindas kita.
Obrolan malam ini berakhir dengan sebuah komunikasi antara kami dimana ada yang masih kekeuh dengan politik fungsional dan ada yg menganut politik strutural……
Gak ngerti,.. aku masih yakin bahwa revolusi akan terjadi dimulai dari kesadaran ‘kaum pekerja baru’ yg profesional, spesific, spesialis dan menguasai ilmu sophisticated…..bukan dari tangan para ‘politisi pasaran’ seperti yang main di parlemen sekarang.
Mungkin……