Archive for May, 2007

31
May

Edensor….

Edensor_1
Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan -kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar le arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang -orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut di cengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup ! Ingin merasakan saripati hidup !

Andrea Hirata membuatku mabuk kepayang !
-Linda Cristanty, cerpenis 

28
May

Lembur Rasa Global…

Img_1054 Terserah mo bilang apa, yg jelas malam ini aku lembur ditemeni Burger MD. Lumayan… gak keluar kantong bisa makan makanan sampahnya ‘amertika’ yang kalo buat beli Burger Monalisa di Jalan Kaliurang ( Semua anak SMA Img_1052_3di Jogja, pasti pernah ngerasa) bisa dapet tiga biji. Apalagi kalo buat beli burger di depan kantor PP Muh Lama, bisa dapet 5 biji.

Lain lagi kemarin. Ahad kemarin, berempat ditraktir makan sekilo udang rebus dan setengah kilo kepiting di sop. Tempat makannya di atas kolam air di tengah areal persawahan godean. He… he.. serius ini bener bener berkah, merasakan makanan ‘orang orang beruntung‘ di negeri ini ( Pinjem istilah Si Bonaga..)

Dan bener kata Bonaga, mereka yang beruntung , rajin bekerja dan bekerja keras…

Keterangan : Foto diambil setelah udang dan kepiting ‘ludes’ he..he.

21
May

Kata Spiderman : “Hidup mesti punya pilihan !”

Ambarukmo Plaza- Demikianlah  akhir dari Film Spidermen 3, kata kata itu
terucap disaat pemakaman Harry, putra musuh spiderman yang terbunuh di
Spiderman 1. (Spiderman 2 gak sempat nonton). Gak ngerti persisnya, apa maksud
dari kata kata itu. Mungkin saja si Spidy pengen penonton belajar dari
kehidupan harry dimana dia tidak boleh mengatakan bahwa ”tidak ada pilihan
lain kecuali jadi penjahat
”.

Yak.. begitu
mungkin yang pengen diajarkan si pembuat Film. Juga pada scene sebelumnya
dimana Seorang Penjahat yang kemudian karena ’reaksi fisika’ (yang gak jelas ikut hukum fisika yang mana) jadi ”Sand Man” yang kemudian ’bertobat’  setelah ’dinasehati’
Spiderman bahwa menjadi penjahat bagaimanapun bukanlah pilihan.

Berbicara tentang
pilihan, jadi teringat sebuah novel sciece fiction berjudul Anomali  karya Santopay, seorang dosen Fisika ITS. Di situ
diceritakan bahwa dunia kita bisa saja merupakan dunia amoeba. Dimana setiap
kita memilih sebuah pilihan, maka ’diri’ kita membelah antara yang mengikuti
pilihan satu dengan yang mengikuti pilihan yang lain. Terciptalah dunia
paralel. (Walaupun lagi lagi masalah klasik yang kemudian sering meribeti
kenyamanan baca novel ber-genre ini  adalah ketika ada pertanyaan : terus bagaimana
dengan konsep takdir……?)

Di dalam novel
itu diceritakan bagaimana dibangun sebuah mesin yang memungkinkan dunia dunia
pararel itu berhubungan. Dengan demikian karena pengontrol mesin itu bisa seenaknya
menghidupkan dan mematikan, dan juga memilih siapa dan untuk apa dihubungkan,
maka pemilik mesin itu menjadi ’Tuhan’ baru , yang kemudian oleh sang Superhero
harus di musnahkan.

Nah…,
sebentar.. rasio anda mungkin sulit menerima konsep ini. Dan mungkin akan lebih
nyaman menerima konsep Filosofis dari Spiderman yang sipenuhi adegan yang sulit difahami nalar itu.
(Jangan salah, Spiderman bukan film Scince Fictian ..tapi Film Fantasi. Jadi
kalau nonton jangan banyak pakai referensi fisika, kimia, biologi anda.. entar
gak nyaman…kebanyakan protes..jadi jangan difahami ..tapi : dinikmati).

Namun, sebenarnya
dari dua konsep di atas kita bisa belajar bahwa : ”Jangan katakan kita tidak
punya pilihan lain , ketika melakukan sebuah kesalahan
” dan konsep kedua ”biarkan
orang lain memilih pilihannya sendiri, jangan memaksakan pilihan
” .

Lantas pilihan
itu bisa benar atau salah….? Benar atau salah sesungguhnya bukan pada
pilihan. Karena pilihan salah adalah sebuah kekonyolan. Setiap orang punya ’radar’
kesalahan dan kebenaran. Bayangkan dunia pilihan kita seperti dalam sebuah
Grafik Cartesian
. Dimana kalau kita menggunakan radar kebenaran kita kita akan
selalu bermain di wilayah X=positif, Y=positif dan Z=Positif. Mencoba
memikirkan untuk mengganti salah satu variabel ke negatif , sama saja sebuah kebodohan,
kejahiliyahan atau kefasikan. (kok jadi ngeri gini istilahnya……he..he..ma’af)

Dalam ’dunia pilihan’
yang ada adalah pilihan yang ketika memutuskannya melalui proses yang cerdas
atau sebaliknya. Apakah semua daya upaya dikerahkan atau sekedar memilih tanpa
bersungguh sungguh memikirkan, merefleksikan dengan referensi dan menjaganya
sebagai ” Pride and Honour” dari kehidupan kita.

———————–

Pas pulang ada yg nanya :Film Spiderman ini untuk anak anak atau orang dewasa sih….? Halah..!@#$%^&

01
May

Berebut Penentu Arah Peradaban

Malam ini aku bareng Mas Dede, Farid mbak Isti mampir makan malam di warung bu Dhe yg disamping rumah mas Arif Jamali dan Mb Hang. Disana kami diskusi ttg ribetnya masalah IMM, dan juga ngobrol masalah Muhammadiyah. Bisa ditebak kalao sudah ngomong ttg nama komunitas tempat kami berhidmat ini, bisa bisa diskusi dilakukan sampe pagi..ha..ha.. seandainya fisik kuat.

Benar….mas Ayip keluar rumah dan bergabung. Setelah sejenak ‘ngosip’ ttg DPP IMM, Din Samsudin, Tanwir, Amin Rais hingga Buya Syafi’i akhirnya masuk dalam perdebatan panjang ttg realitas sosiologis  Muhammadiyah dan siapa penentu arah perubahan ini sebenarnya…

Pertama aku coba mengulas tulisan Buya Syafi’i ttg realitas sosiologis warga ‘pendukung’ Muhammadiyah. Beliau menulis bahwa sesungguhnya Muhammadiyah yang tadinya di klaim sebagai gerakan Islam perkotaan, adalah salah. Karena yg benar adalah ‘gerakan warga kelas dua kota’, atau dalam bahasa Buya, Muhammadiyah tetap saja bukan  merupakan produk warga urban sebagai penentu kebijakan  tetapi produk warga kelas dua kota atau tetetp saja wong cilik dalam wujud ‘Muhammadiyah Cetakan Jawa’ dan ‘Cetakan Seberang’ (Minang) . Kalau Muhammadiyah ingin mengawal perubahan, tentunya harus bisa masuk ke kalangan warga kelas satu yang menjadi penentu arah peradaban itu.

Perdebatan kami mulai berkembang dalam topik : Lantas siapa warga kelas satu versi Buya Syafi’i  yang akan menentukan arah peradaban itu ? Apakah mitos Kelas menengah independen (yg melakukan bunuh diri kelas….kata Tofik ), atau mereka para pemegang akses modal, pemegang tradisi kekuasaan, para Priyayi di Jawa, Datuk di Minang, Gusti di banjar, Tengku di Aceh…..?

Perdebatan kemudian beralih kepada fenomena perdebatan wacana Liberal - Fundamentalis di Tubuh Muhammadiyah. Kami sepakat bahwa JIMM bukanlah JIL. Mereka entitas yg berbeda baik dari sisi ruang dan waktu serta substansi ‘keliberalan’. Namun kemudian kami berbeda pendapat tentang bagaimana relasi yg mungkin terjadi antara kawan kawan ‘liberal’ di Muhammadiyah itu dengan para Ustadz yg sering disebut Konservatif.

Dalam keyakinanku, yg penting adalah bentuk komunikasi. Komunikasi yg terbaik adalah komunikasi kultural, yg sejuk dan santun serta jujur. Namun, akan lebih baik bila bisa mengupayakan komunikasi intelektual. Baru bila semua mentok, usahakan komunikasi politik, sebagai posisi sementara sembari mengusahakan dua bentuk komunikasi yag lain di atas.

Diantara kami ada yg berpendapat bahwa sulit itu akan terjadi, karena perdebatan mereka sudah masalah benar dan salah. Entah, aku utopis atau apapun terserah,.. aku masih berfikir dan optimis bahwa komunikasi akan terjadi secara efektif bila kita mengkondisikan tingkat kesantunan demi tingkat kesantunan. Seandainya memang masih mentok, jangan segera mengatakan bahwa ‘hati mereka telah tertutup‘. Kita tidak berhak mengatakannya, hanya Allah yg berhak mengatakannya.

Para Ustadz Muhammadiyah dan Kawan Liberal di Muhammadiyah harus terus dicarikan jalan untuk mencari pola komunikasi efektif. Kepala tetap dingin, yg tua menyayangi yg muda dan yg muda menghormati yg tua. Keduanya boleh saja sama sama memegang faktor politis untuk mengamankan diri, yg tua memegang ‘kekuasaan’ struktural, sedangkan yg muda harus memiliki bargaining fungsional yg tentu saja dalam sejarah manapun akan dikuasai orang muda.

Komunikasi efektif selain didasari niat baik, etika berdebat juga harus dilakukan pada posisi politis yag sama. Adalah bodoh bila kita memiliki ide namun posisi politis kita masih lemah, untuk mengkomunikasikan pada target audience kita. Dan adalah kebodohan bila kita kelelahan mencoba membuka komuikasi dengan mereka yg kita sebut konservatif.

Kita bukan  berada dalam sebuah relasi tirani dan yg yang tertindas, antara penguasa tafsir ala Gereja Ortodok dengan Kaum Protestanian. Itu terlalu hiperbolik dan mengada ada. Tidak perlu kita membawa idiom idiom minhaj  sembari memposisikan diri layaknya al halaj dengan penguasa Irak. Itu terlalu berlebihan dan lagi lagi bodoh dalam membangun pola komunikasi kita.

Masalahnya sederhana, ada perbedaan cara pandang terhadap makna Liberalisme dan Pluralisme. Padahal hati kecil kita sepakat bahwa musuh kita adalah Thoghut, musuh kita adalah para penindas kaum Du’afa dan Mustadzafin. Musuh kita adalah tiran tiran yang membelenggu kita entah yag kelihatan dalam bentuk kekuasaan yg zalim dan koruptor atau dalam bentuk substansi substansi yang menindas kita.

Obrolan malam ini berakhir dengan sebuah komunikasi antara kami dimana  ada  yang masih kekeuh dengan politik fungsional dan ada  yg menganut politik strutural……

Gak ngerti,.. aku masih yakin bahwa revolusi akan terjadi dimulai dari kesadaran ‘kaum pekerja baru’ yg profesional, spesific, spesialis dan menguasai ilmu sophisticated…..bukan dari tangan para ‘politisi pasaran’ seperti yang main di parlemen sekarang.

Mungkin……