Pertama, aku minta ma’af kepada Ibu Masturah Seman Said Harun yang telah berusah payah melahirkan "Sang Juru Damai" tepat pada tanggal 24 Desember atas kelancanganku memilih judul yang sama sekali tidak terjadi pada anaknya Si Ikal.
Kedua, aku minta ma’af kepada Aqil Barraq Badruddin, yang sudah kufitnah di judul Blog Ku ini, semoga gak marah.
Ketiga, aku minta ma’af pada Njoo Xian Ling yang mungkin bisa sangat ‘patah hati’ ketika tiba tiba melihat judul yang tak jamin gak terjadi pada si Ikal. Btw,.. seandainya memang A Ling ini beneran ada,.. beruntunglah perempuan ini…. Gak ada sosok laki laki yg sedemikian besarnya memendam cintanya dari pojok Belitong sampai Pedalaman Zaire… dari Puisi Cinta di Laskar Pelangi sampai Cerita ‘Surga Dunia’ di Edensor….
Oke.. Andrea Hirata Berulah lagi !, janjinya untuk nerusin buku Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi dia tepati. Dan.. di edensor kali ini ‘rasa andrea’ kerasa lagi (Jujur di Sang Pemimpi kerasa rada garing..gak ngerti..atau karena waktu itu aku lagi bener bener gak bisa fokus ….?).
Via Edensor ini Andrea cerita ttg ‘Seorang Laki Laki’ , bukan lagi seorang ‘anak-anak’ yang tiap hari ketemu wejangan ibu muslimah, dan seorang ‘remaja tanggung’ yang nyoba nyoba nonton film denga bintang ‘berpakaian Minim berwarna Merah’ dan sekarang jadi Aktifis Perempuan ( Pas Acara di Jogja, Andrea gak mau ngaku….waktu itu ada pengunjung yg nebak kalo si aktris itu sekarang aktifis partai politiknya bapak Wapres JK…bukan Jarwo Kuat tentunya).
Satu Hal yang berbeda dari Edensor dibanding Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, .. di akhir buku tidak ada lagi Glosary untuk menerangkan istilah istilah. (Di Laskar Pelangi, banyak banget istilah…..ilmiah.. daerah… ungkapan.. dll, juga di Sang Pemimpi ada beberapa lembar Glosary).
Mungkin mirip ‘evolusi kreatif’ Dewi Lestari di Seri Supernova…. yg lama lama gak banyak ngeluarin istilah sulit dalam novelnya. Mungkin kedua novelis ini sama sama menemukan istilah istilah dalam bahasa ‘common sense’ setelah evolusi kreatif yang konsisten mereka jalani. Apa gitu mungkin proses kreatif itu berjalan…? Di awal awal mereka memilih bahasa bahasa ‘egois’ untuk menerangkan ide ide mereka…. setelah beberapa lama berdialog dengan audience melalui sambutan sambutan penggemar dan novel novel sequel. Mereka lambat laun berbicara dengan ‘bahasa ummatnya’ bukan dengan bahasa ‘ langit’ atau bahasa ‘manusia setengah dewa’.
Bagi yg pernah baca laskar pelangi, ingat surat A Ling kepada Ikal….? Waktu itu A Ling menulis surat yang mengumpat ‘marah tapi kangen’ sama Ikal yg sudah datang dalam kehidupannya dan mengganggu tidurnya….dan ngerti kan bagaimana Ikal kemudian cari cara untuk ‘jalan bareng’ sama A Ling ?.
Dari cerita inilah benang merah yang menjadi panduan cerita novel ini. Juga cerita di Sang Pemimpi ttg Sakit Gila no 13 nya si Arrai yg tidak bisa membedakan antara di tolak dan diterima oleh Zakiah Nurmala. Dan kalo gak salah kata Edensor juga sudah di jumpai dalam Novel Laskar Pelangi, saat itu kalau gak salah merupakan nama sebuah tempat impian A Ling.
Cerita dimulai dengan halaman yg memuat kata kata yg dalem banget "Banyak orang yang panjang pengalamannya, tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendekmencerahkan sepanjang hidup". Kemudian dia cerita ttg definisi laki laki yg bisa berjuang menaklukkan tantangan, dan mengejar mimpi ( tidak sekedar bermimpi).
Yg ‘keren’ adalah cerita ttg kebadungan Ikal ketika kecil, dimana di Laskar Pelangi Ikal jarang di eksplorasi kenakalannya. Cerita ttg badungnya dia hingga harus ganti nama tiga kali, bagaimana dia ngerjain orang di surau. Dan lagi lagi ,.. cerita ttg bagaimana tiba tiba dia jadi anak yg cerdas, rajin dan sering mandi ( yg ini tak tambahin sendiri…he..he..), yg ternyata karena missi masuk ke kehidupan A Ling. Pendek kata, ternyata Ikal jadi anak baik bukan karena ngaji atau karena sekolah sebagai sebab utama, namun karena jatuh cinta. ( Bayangin anak sekecil itu udah jatuh cinta…gimana gedhenya ha..ha.. )
Kali ini Andrea mengeksploitasi cerita tentang bagaimana schock culture ketika ‘anak udik’ ketemu dengan peradaban lain, eropa. Dimana mana ternyata ide ini membuat sesuatu yang segar dan menarik. Dari jaman Charlie Caplin , Dono-Kasino-Indro hingga Extra Vaganza selalu memakai resep ini. Hal in juga dilakukan Andrea untuk melatar belakangi cerita pada laskar pelangi dan sang pemimpi, bedanya pada laskar pelangi berupa benturan antara ‘budaya proletar’ kaum ‘kuli tambang melayu’ dengan budaya elit PN Timah. Sedangkan di Sang Pemimpi antara budaya ‘melayu udik’ dengan budaya urban depok, bogor dan jakarta.
(Sepertinya ide pertentangan/konflik budaya ini memang selalu menjadi latar belakang cerita yang menarik, Nagabonar jadi 2 juga berhasil dengan membawa latar belakang ini.)
Memang seperti di dalam Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, Andrea membawa kita dalam konflik budaya yang kemudian terjadi berbagai negosiasi cerdas. Dalam Edensor bentuk negosiasi ini cukup menarik, yaitu dengan menjadikan pertentangan budaya itu dalam bentuk paradoks paradoks yang menggelitik.
Taruhlah ungkapan Andrea ttg. Kehidupan Mahasiswa Cerdas di Sorbonne yang disebutnya sebagai paradoks kedua: .
" Sering aku merasa heran. Kawan kawanku The Brits, Yankee, kelompok Jerman, dan Belanda adalah para pub crawlwr kawakan. Mereka senang bermabuk mabukan. Tak jarang mereka mabuk mulai jum’at sore dan baru sadar senin pagi.Sebagian hidup mereka seperti bohemian, mengaitkan anting di hidung, mencandu drugs, musik trash metal, beriorientasi seks ganjil, dan tak pernah terlihat tekun belajar, namun mereka sangat unggul di kelas. Aku yang hidup sesuai dengan tuntutan dasa darma pramuka, taat pada perintah orang tua, selalu belajar dengan giat dan tak lupa minum susu, jarang dapat melebihi nilai mereka"
Dan juga di sana sini terjadi sentilan sentilan untuk negeri asal seperti cerita tentang pejabat Indonesia yang dilihatnya ada di Brussel, markas besar Uni Eropa, dengan muka rendah diri..’pasti urusan hutang’ katanya. Tak kalah lucu cerita tentang tradisi ’sok wah’ para pejabat yang mau meminta utang itu, katanya pejabat Indonesia datang ke pertemuan pembahasan utang itu dengan menyewa lomosin di Prancis sana, sedangkan orang orang jepang yang mau ngurus utang datang dengan hanya naik bis.( Ha..ha..ha. inilah kita..)
Membaca petualangan Ikal dan Arai keliling eropa dan afrika mengingatkan kita denga Novel ‘SI Roy’ nya Gola Gong dulu. Sepertinya khusus untuk Edensor kalau ada acara bedah buku, perlu datangkan Gola Gong sebagai pembanding atau second opinion.
Petualangan yang lagi lagi khas sebagai orang Indonesia yang berpetualang, dan lagi lagi motivasi petualangannya adalah karena Mimpi mimpi masa kecil ketika ingin menaklukkan sebagain muka bumi dan juga ‘cinta sejati’ si Ikal, demi menemukan A Ling yang terus dia cari. Dia aduk aduk dari pedalaman Skandinavia, Balkan sampai Pedalaman Zaire. Bayangkan gimana tersanjungnya A Ling dengan perjuangan laki laki ‘ bodoh’ tapi ngagenin ini ha ha ha.
Terus Katya siapa ? Siapa Aqil Barraq Badruddin ? Bagaimana Ikal dan Arai membiayai perjalanan mereka ? Atau terus Edensor itu akan muncul dimana…? Yah baca saja yah, gak seru kalau diceritakan detail.
Yang jelas kali ini aku bisa baca edensor berulang ulang sampe puas, karena bukan seperti ketika baca Laskar Pelangi yang tak tamatkan di Gramedia, karena waktu itu lagi pengen baca buku tanpa harus beli (sekitar seminggu bolak balik ke gramedia..he…he..), atau Sang Pemimpi yang waktu itu mahal banget rasanya yang namanya konsentrasi.
Akhirnya, makasih Andrea…, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor….sudah jadi latar belakang cerita hidupku.
Ada petuah ibu Muslimah yang dikutip Ikal di Edensor ini lagi, "Kalau ingin pintar, Bacalah Al Qur’an, Bersekolahlah , dan Berkelanalah……" .