Archive for August, 2007
Salam… Met malem
Untuk seorang teman yang malam ini mengaku sedang bingung,
Menurutku, kalau kamu saat ini sedang menghawatirkan keadaan seseorang yang kamu sangat ingin tahu kabarnya, itu wajar. Karena kamu masih manusia.
Bila kemudian kamu cerita padaku kalau kamu merasa paling ngerti bagaimana menjadikan seseorang itu menjadi manusia paling bahagia di dunia ini, itupun wajar. Kamrena kamu memang masih dalam wadag manusia.
Bila kemudian kamu saat ini berontak dan marah dengan keadaan, kenapa kamu tidak bisa melakukan apa apa, bahkan mencari kabarnya, itupun wajar, karena kamu manusia yang memiliki potensi untuk marah dan tidak terima dengan keadaan.
Hanya saja, kewajaran itu semua hanya satu sisi dari sifat kemanusiaan kamu yang seakan kamu membenarkan bahwea itulah satu satunya pilihan kamu. Padahal , kalau kamu mau berhenti sejenak dan mencoba tuma’ninah memandangi diri, sifat diri hingga ‘kenapa ‘ harus ada diri, kamu akan menemukan sisi lain manusia yang sering kamu jalankan.
Sisi itu adalah sisi sisi kesatria.
Seseorang akan dikatakan kesatria kalau dia ketika menghawatirkan seseorang dan dia benar benar tidak memiliki hak atapun wewenang, dia akan mencoba mengajak dirinya bersuci dan menghadap Tuhan. Dia cukup meminta kepada Tuhan bahwa karena kecintaan kepada Tuhan itulah, maka dia menyerahkan nasib ’sosok’ yang sering dia fikirkan kepada Tuhan. Dan dia percaya bahwa kalau sudah dalam seting begini, dia akan yakin bahwa Tuhan akan mengatur ’sosok’ itu sebaik baiknya. Karena Tuhan lebih tahu apa yang akan terjadi.
Menghadapi cobaan, ujian, jangan banyak memakai perasaan untuk menjalaninya. Karena akan membuat kita tidak bisa beranjak untuk menyelesaikan tunggakan tunggakan masalah akibat ‘interupsi’ yang disebut cobaan atau ujian itu.
Dan saat itulah, senjata tertinggi manusia, akal, akan menghadapi dan mencari penyelesaian masalah serumit apapun.
Oke.. kawan
Tidurlan dengan nyenyak, jangan banyak merasakan banyak hal yang kami pikir belum saatnya.
Dulu jaman SMP aku punya teman yang namanya Untung, dia tiap hari mendengar bagaimana aku tiap hari selalu marah dengan keadaan di sekelilingku. Aku selalu mengomentari banyak hal dengan nada marah dan terus komentar, seakan aku yang paling benar dan mereka semua salah.
Pas SMA aku punya teman teman yang juga ‘terpaksa’ menjadi pendengar setiaku kalau sedang mengkritisi kanan kiriku. Sigit, Surya, Agung, Terzi sering jadi pendengar ketika aku marah.
DI Geologi UGM aku punya teman yang bernama Maulana dan Icuk. Mereka juga menjadi orang orang yang mendengarkan ketika aku marah dengan keadaan. Aku komentari banyak hal , dari sistem pendidikan kampus, Organisasi Mahasiswa hingga Negara .
DI IMM UGM ada Mas Wahid, Mas Zano, Mb Iin, Kang Erik, Kang Tosan, Mba Nia, Teh Erni, Luqman yang sering menjadi tempat sampah kalau aku lagi mulai ngomong panjang dengan marah. Bahkan kadang ada member lainnya, seperti Ima, Tofik, Defi.
Di Posko Bencana PP Muhammadiyah aku juga jadi terkenal tukang marah sama orang. Sempat dianggap sebagai raja tega. Pernah marah ke Pak Sentot yang pegang program perumahan korban. Bahkan sempat hampir ngelempar gelas kepada dr Erwin, Dekan FK UMY dalam sebuah rapat.
Di milis Pena - IMM pun aku jadi tukang marah.
Sekarang di Website Muhammadiyah aku juga masih dalam posisi tukang marah. Barori, Machendra, Odong, Ramdan sering jadi pendengar kemarahanku. Yang jadi sasaran kemarahan juga gak tanggung, tanggung. Bapak bapak PP Muhammadiyah kadang sampai tak kirim sms sms yang ‘cukup kasar’ kalau lagi marah.
Dan yang sepanjang hidupku hingga sekarang setia mendengar kemarahanku adalah ibuku.
Ternyata,… marah bukan solusi Man..!
Dan aku gak tambah gagah…
Aku gak tambah keren…
Karena ‘laki laki’ ada bukan karena kemarahan,
Tapi ketegasan dan solusi cerdas yang dihasilkan
Berubahlah….!
Kadang kita merasa bahwa kalau kita bisa marah terhadap sesuatu, kita seperti sosok yang gagah. Apalagi kalao kita bisa marah kepada orang yang kita anggap lebih punya power dari kita, sepertinya tiba tiba eksistensi kita tambah mantap. Begitulah…
Namun ternyata marah bukanlah penyelesaian yang gentle. Artinya, orang marah bukanlah sosok yang membuat kita ‘jantan’ dan ‘keluar aura laki laki nya’. Kita hanya menjadi sosok yang kemudian tukang emosi, dan ketika kemarahan kita kita keluarkan. Saat itulah anda harus rela kalau dikatakan Banci.
He.., bagi kita yang selama ini terbiasa marah dengan sesuatu hal yang dianggap salah, memang sebenarnya itu satu tahap menuju keberanian diri, dan jauh lebih baik dari pada mendiamkan sebuah kesalahan. Namun, bagaimanapun marah bukanlah sebuah upaya rasional seseorang . Karena marah hanya akan menimbulkan ‘efek’ pelepasan, bukan penyelesaian.
Oke…., mari kita berubah dari orang yang ‘pengecut’ karena gak berani bersikap tegas terhadap sebuah kesalahan menuju orang yang berani bersikap tegas tetapi tidak membelokkannya kedalam keadaan marah. Karena marah bukan metode komunikasi yang efektif, orang yang kita marahi kadang akan menjadi terhina. Dan alangkah lebih baik kalau kita menggunakan prinsip ‘politis’ orang jawa : Menang tanpa ngasorake…..
Keganjilan yang Cantik
“Bodoh…..!”
Lagi lagi
kata itu meluncur dari mulut perempuan berbibir tips itu. Dan si laki
laki tetap saja tidak beranjak dari kurisnya sambil terus menekat
tombol huruf huruf di keyboard komputernya.
“ kenapa sih masih saja kamu keras kepala gitu…” lanjut perempuan itu seakan berebut perhatian dengan layar monitor yang ditatap berjam jam laki laki itu.
”
kalo gak keras kepala aku gak disini, dah nyebur laut” jawab laki laki
itu dengan tetap menatap layar 15 inci flat di depannya.
Perempuan
itu akhirnya memilih menyulut rokoknya setelah membuka jendela kamar
kerja yang penuh dengan buku buku yang susunannya mirip yang kita lihat
di Kwitang atau Shoping Center di Jogja. Kamar yang bagi perempuan itu
ganjil bagi seorang laki laki yang dia kenal pertama setahun yang lalu
di sebuah bank tempat mereka bekerja bersama. Walaupun, sebenarnya Si
Laki laki juga mengganggap perempuan di depannya adalah perempuan
ganjil juga, karena dengan dengan pakaian baju kurung yang dia pakai,
lengkap dengan jilbabnya, ternyata terbiasa merokok setiap mereka
bertemu.
” Kamu memang keras kepala Yan…, ” lanjut perempuan itu.
” Dan karena kekeras kepalaan kamu itu aku bertahan disini” guman perempuan itu selanjutnya.
Bagi
perempuan itu, memang inilah misteri kehidupannya. Laki laki di
depannya inilah yang menaklukkan dirinya setelah dia sempat menyatakan
tidak akan ada laki laki yang bisa berlabuh di hatinya. Laki laki yang
keras kepala, yang kehidupan mapannya sebagai manajer Bank ternyata
bertolak belakang denga kehidupan aslinya sebagai manusia keras kepala
yang seakan tidak kenal kemapanan.
Bagi
perempuan itu, laki laki aneh di depannya ini seksi. Misterius dan
tidak biasa. Orang lain memilih untuk menjauhinya, sedangkan dia seakan terus terdorong untuk menjadikan laki laki ini pusat kehidupannya di dunia.
Laki
laki itu juga benar benar tertarik dengan keganjilan perempuan itu.
Dari sosok berjilbab yang cenderung normatif , ternyata dia seorang
perokok yang menurut laki laki itu sudah cukup menjadikan perempuan itu
sosok ganjil yang manis.
Mereka
sama sama tertarik , dan mereka sesungguhnya sama sama keras kepala.
Tapi hingga saat ini mereka tetap sama sama orang yang tidak berani
beranjak ke tahap selanjutnya hubungan mereka. Menikah…..
” Aku takut menikah Yan….. ” kata laki laki itu
” Aku juga….” timpal perempuan itu.
Dan ternyata mereka sama sama sosok penakut
Kadang seorang lagi laki laki
sepertiku tidak ingin kelihatan rapuh di depan orang orang umum. Sebagai laki
laki ‘biasa’ saja sudah harus menuruti ego dengan membentuk image ‘perkasa’
dengan menyembunyikan sisi sisi kerapuhannya di depan khalayak. Belum lagi
kalau kemudian bertambah predikatnya menjadi “laki laki yang berdampingan
dengan perempuannya”, ego kelaki lakian akan bertambah kuat. Bahkan ketika dia
dalam posisi itu, tentunya dia ingin menegaskan identitas kelaki lakiannya
dalam konteks ‘oposisi biner’ dengan perempuannya.
Ego akan semakin bertambah ketika
laki laki itu memasukkan dirinya di ruang publik. Dia butuh status sosial, dan
seandainya kemampuan sosialnya tak terbatas, jabatan apapaun akan dia ambil
untuk memuaskan ego kelaki lakiannya. Karena dia akan bertambah menjadi sosok
laki laki yang ‘super’ ketika dia menjadi sosok yang banyak menyandang ‘jabatan;
di ruang publiknya.
Namun tetap saja, laki laki itu
adalah sosok ‘brittle ’ yang punya
potensi besar terus ‘teralterasi’ karena interaksi ‘bahan dasar’ nya dengan
berbagai ‘elemen pengganggu’ termasuk ketika dia salah menempatkan ego kelaki
lakiannya di wilayah positif. Ke – Brittle-an ini akan terus berkembang ketika
dia terus membiarkan dirinya tenggelam bersama zat zat negatif yang kemudian
dalam bahasa agama disebut kemunafikan dan kefasikan. Ego kalau bertemu ‘bahan
dasar’ yang mendekati fitrah akan menjadi kekuatan posisitif dalam menyebarkan
energi kebaikan di muka bumi ini. Inilah kekuatan laki laki. Namun ego akan
menjadi kekuatan negatif ketika dia terus berinteraksi dengan ‘tubuh’ yang
banyak teralterasi zat zat negative dalam bentuk kemunafikan dan kefasikan.
Kadang laki laki harus mengakui
sisi kerapuhannya, bangunlah di sepertiga malam dan buat ‘Kencan’ dengan yang
menjadikannya masih bisa merasakan ego ego yang tentu saja bisa diartikan
nikmat dia hidup sebagai laki laki. Anggap saja, ibarat mobil, perlu disservice
berkala. Dan syarat kesadaran seseorang menservice mesinnya karena dia tahu
mesinnya sesungguhnya adalah ‘barang rapuh’ yang butuh service. Sama, ketika
seorang laki laki denga ego paling tinggi sekalipun kalau sadar bahwa dirinya
dalah sosok ‘mesin yang rapuh’ maka perlu untuk di service, yaitu di akhir
sepertiga malam terakhir. Anggap saja untuk memanggil kondisi fitrah.
Muhammadiyah dan Identitas ‘market’ Ke - Indonesiaan
Hari
ini di sebuah mailing list Muhammadiyah Society ada email :
Dear
all,
Kawan2
pasti sudah baca "Laskar Pelangi" karya seorang kader Muhammadiyah,
Andrea Hirata. Cerita yang menggugah tentang sebuah amal usaha muhammadiyah
(sekolah) di pelosok Belitong yang membela hak anak untuk mengenyam pendidikan
(yang membebaskan).
A
good news, novel ini akan di film kan
oleh Mira Lesmana dgn Riri Reza sebagai sutradaranya. Nah, kemarin sore Andrea
telp. saya meminta kawan2 Muhammadiyah di Jakarta
datang ke acara berikut ini. Dia agak
khawatir, dengan alasan "market" nama Muhammadiyah tidak akan muncul
di Film itu nanti. Mungkin kedatangan kawan2 bisa meyakin si film maker bahwa
Muhammadiyah juga market yang tidak perlu disembunyikan dalam adegan2an film
tersebut.
Semoga bisa banyak yang datang
Salam
Toni
Dari pesan diatas
sengaja kuberi karakter Bold tentang
pernyataan kekhawatiran Mira Lesmansa dan Riri Reza akan pencantuman nama
Muhammadiyah dalam Film yang berdasarkan Novel Laskar Pelanginya Andrea Hirata
itu.
Hal ini memang menjadi
pemakluman sebenarnya ketika ada sementara fihak menganggap Muhammadiyah
sesuatu yang dianggap bertentangan dengan ’selera pasar’. Hal ini bisa jadi
karena anggapan dari dua sisi, pertama karena anggapan bahwa nama Muhammadiyah
yang ternyata cenderung berubah beraura Politis dalam benak sementara orang,
sehingga dengan pencantuman nama Muhammadiyah dalam sebuah produk yang
mentargetkan ‘laku’ akan menyempitkan pasar.
Yang kedua karena
nama Muhammadiyah mungkin dianggap , kaum budayawan, \u003c/span\>seperti Riri Reza dan Mira Lesmana sebagai sebaagi\n'sesuatu' yang tidak begitu Indonesia, atau bahkan diragukan ke Indonesiaannya.\n\u003c/span\>\u003c/p\>\n\n\n\n\u003cp\>\u003cspan\>Memang, terobosan\nAndrea Hirata membawa nama Muhammadiyah ke ruang publik budaya (Novel popular)\ncukup membuat bayak fihak berdecak kagum. Hal ini karena dalam kurun waktu lama\nMuhammadiyah sudah berubah menjadi sebuah komunitas elit dan 'seperti' bukan\nmilik publik. Lihat saja, sepanjang orde baru apakah ada Film yang berani\nmemasang lambang Muhammadiyah dalam film mereka ? \u003c/span\>\u003c/p\>\n\n\n\n\u003cp\>\u003cspan\>Dari kasus larisnya\nNovel Andrea Hirata inilah yang membuktikan bahwa ternyata nama Muhammadiyah bukan\nsesuatu yang teraleniasi dari ruang publik riil masyarakat Indonesia. Dan,\npaling tidak masyarakat saat ini tidak peduli dengan merek sebuah 'pesan\nkebaikan', karena mereka sudah lebih berfikir substantive, khususnya masyarakat\nkota.\u003c/span\>\u003c/p\>\n\n\n\n\u003cp\>\u003cspan\>Mungkin sebenarnya\nfenomena larisnya novel Laskar Pelangi ini sama dengan fenomena larisnya\nsekolah sekolah Muhammadiyah di kota kota besar. Memang, di\ndaerah sekolah Muhammadiyah lebih elitis dan banyak melayani warga Muhammadiyah\nsaja. Namun di koto kota\nbesar, apalagi sekolah Muhammadiyah itu favorit, orang yang masuk ke sekolah\nMuhammadiyah itu tidak peduli dengan lambang Muhammadiyah yang ada di gerbang\nsekolah itu. \u003cspan\> \u003c/span\>Artinya pesan moral\nuniversal sekolah Muhammadiyah berhasil diterima khalayak luas tanpa mereka\nmempersoalkan logo Muhammadiyah yang tertempel di gerbang sekolah itu. Dan inipun\nsama artinya dengan yang terjadi di PTM PTM yang tidak sedikit diminati\nkhalayak awam – urban, bahkan dari non muslim.\u003c/span\>\u003c/p\>\n\n\n\n\n\n\u003cp\>\u003cspan\>Kalau benar kabar\nseorang teman tentang kekhawatiran orang akan efek yang menyebabkan tidak\nlakunya sebuah Film karena membawa label Muhammadiyah, bisa jadi karena alasan Muhammadiyah\nyang 'berbau' politis. Inipun sejatinya tidak banyak berlaku di kalangan anak\nMuda Kota, sebagai komunitas yang menjadi target penonton bioskop, namun lebih\nbanyak berlaku di daerah seperti pesisir utara jawa tengah dan daerah tapal\nkuda. “,1]
);
//–> seperti Riri Reza dan Mira Lesmana sebagai sebaagi
’sesuatu’ yang tidak begitu Indonesia, atau bahkan diragukan ke Indonesiaannya.
Memang, terobosan
Andrea Hirata membawa nama Muhammadiyah ke ruang publik budaya (Novel popular)
cukup membuat bayak fihak berdecak kagum. Hal ini karena dalam kurun waktu lama
Muhammadiyah sudah berubah menjadi sebuah komunitas elit dan ’seperti’ bukan
milik publik. Lihat saja, sepanjang orde baru apakah ada Film yang berani
memasang lambang Muhammadiyah dalam film mereka ?
Dari kasus larisnya
Novel Andrea Hirata inilah yang membuktikan bahwa ternyata nama Muhammadiyah bukan
sesuatu yang teraleniasi dari ruang publik riil masyarakat Indonesia. Dan,
paling tidak masyarakat saat ini tidak peduli dengan merek sebuah ‘pesan
kebaikan’, karena mereka sudah lebih berfikir substantive, khususnya masyarakat
kota.
Mungkin sebenarnya
fenomena larisnya novel Laskar Pelangi ini sama dengan fenomena larisnya
sekolah sekolah Muhammadiyah di kota kota besar. Memang, di
daerah sekolah Muhammadiyah lebih elitis dan banyak melayani warga Muhammadiyah
saja. Namun di koto kota
besar, apalagi sekolah Muhammadiyah itu favorit, orang yang masuk ke sekolah
Muhammadiyah itu tidak peduli dengan lambang Muhammadiyah yang ada di gerbang
sekolah itu. Artinya pesan moral
universal sekolah Muhammadiyah berhasil diterima khalayak luas tanpa mereka
mempersoalkan logo Muhammadiyah yang tertempel di gerbang sekolah itu. Dan inipun
sama artinya dengan yang terjadi di PTM PTM yang tidak sedikit diminati
khalayak awam – urban, bahkan dari non muslim.
Kalau benar kabar
seorang teman tentang kekhawatiran orang akan efek yang menyebabkan tidak
lakunya sebuah Film karena membawa label Muhammadiyah, bisa jadi karena alasan Muhammadiyah
yang ‘berbau’ politis. Inipun sejatinya tidak banyak berlaku di kalangan anak
Muda Kota, sebagai komunitas yang menjadi target penonton bioskop, namun lebih
banyak berlaku di daerah seperti pesisir utara jawa tengah dan daerah tapal
kuda. \u003cbr\>\nMungkin Riri Reza bisa bercermin dari kasus Film "kamulah Satu\nsatunya" yang dibuat oleh Hanung Bramantyo, dalam film itu salah seorang\ntokoh juga seorang siswa SMA Muhammadiyah I (mungkin karena Hanung\nseorang yg pernah sekolah di SMA Muhammadiyah). Walaupun terkesan malu malu. \u003cbr\>\nAtau mungkin bisa meyakinkan Riri Reza dan Mira Lesmana, mengapa di Film\n3 hari untuk selamanya mereka berani menampilkan situs Sendang Songo yang\nKAtolik banget dan juga nyebut SMA Tarki sebagais alah satu almamater seorang\ntokohnya sedangkan di laskar pelangi kok ragu menampilkan 'situs' SD\nMuhammadiyah Belitong' . \u003cbr\>\n\u003cbr\>\nAtau ketika mereka berani menampilkan identitas PKI melalui bendera bendera di\nFilm Gie, sebenarnya cukup alasan untuk memuat identitas Muhammadiyah dalam\nsebuah Film Indonesia\nsaat ini.\u003cbr\>\n\u003cbr\>\nEm…., mungkin perlu pendekatan yang jangan emosional dan terlalu fanatik,\nkarena nanti malah membuat para sineas takut dengan Muhammadiyah. Atau mungkin\nperlu ditampilkan sosok 'anak Muhammadiyah' yang plural-humanis dalam pemahaman\nreligiusitas yang cair tapi interaktif namun sebenernya tidak jauh dari\notentisitas referensi. ( Sory,,kalao beginilah tafsir ke Islaman gaya Muhammadiyah\nsaya,…..yg banyak terpengaruh sama perkenalan saya di SMA Muhammadiyah I YK\ndulu). \u003cbr\>\n\u003cbr\>\nIni kesempatan kita memperkenalkan Muhammadiyah menjadi sesuatu yang\n"benar benar milik Indonesia" , bukan seperti dalam benak kaum sineas\nyang mungkin mereka berkesan Muhammadiyah adalah sebuah 'mitologi' yang\nmenjadikan Film terlepas dari Keindonesiaannya karena memuat simbol\nMuhammadiyah. \u003cbr\>\n\u003cbr\>\n\u003c/span\>\u003c/p\>\n\n\n\n\u003cbr\>– \u003cbr\>”,1]
);
//–>
Mungkin Riri Reza bisa bercermin dari kasus Film "kamulah Satu
satunya" yang dibuat oleh Hanung Bramantyo, dalam film itu salah seorang
tokoh juga seorang siswa SMA Muhammadiyah I (mungkin karena Hanung
seorang yg pernah sekolah di SMA Muhammadiyah). Walaupun terkesan malu malu.
Atau mungkin bisa meyakinkan Riri Reza dan Mira Lesmana, mengapa di Film
3 hari untuk selamanya mereka berani menampilkan situs Sendang Songo yang
KAtolik banget dan juga nyebut SMA Tarki sebagais alah satu almamater seorang
tokohnya sedangkan di laskar pelangi kok ragu menampilkan ’situs’ SD
Muhammadiyah Belitong’ .
Atau ketika mereka berani menampilkan identitas PKI melalui bendera bendera di
Film Gie, sebenarnya cukup alasan untuk memuat identitas Muhammadiyah dalam
sebuah Film Indonesia
saat ini.
Em…., mungkin perlu pendekatan yang jangan emosional dan terlalu fanatik,
karena nanti malah membuat para sineas takut dengan Muhammadiyah. Atau mungkin
perlu ditampilkan sosok ‘anak Muhammadiyah’ yang plural-humanis dalam pemahaman
religiusitas yang cair tapi interaktif namun sebenernya tidak jauh dari
otentisitas referensi. ( Sory,,kalao beginilah tafsir ke Islaman gaya Muhammadiyah
saya,…..yg banyak terpengaruh sama perkenalan saya di SMA Muhammadiyah I YK
dulu).
Ini kesempatan kita memperkenalkan Muhammadiyah menjadi sesuatu yang
"benar benar milik Indonesia" , bukan seperti dalam benak kaum sineas
yang mungkin mereka berkesan Muhammadiyah adalah sebuah ‘mitologi’ yang
menjadikan Film terlepas dari Keindonesiaannya karena memuat simbol
Muhammadiyah.
Death Relationship
Lagi lagi perempuan itu menahan emosi dan tangisnya , dan
memilih untuk lekas berangkat kerja meninggalkan laki laki yang sepagi ini
sudah memarahinya. Beberapa detikkemudian ‘muka datar’ nya sudah menghiasi
wajahnya. Dan dia terus berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi.
Perempuan itu sangat mengerti kalau laki laki itu sebenarnya
manusia yang perlu dikasihaninya. Laki laki itu laki laki yang merasa selalu
dibawah dia, laki laki yang tidak cerdas, laki laki yang hanya punya otot dan ,
yang jelas, lakilaki yang hanya mengandalkan amarahnya.
Perempuan itu sayang dengan laki laki ini, walaupun
seandainya ada sebuah sesi interogasi kepadanya dengan lie detector, tentu mesin
itu akan berteriak ‘bohong…!’ kalau perempuan itu menjawab “ dia pilihan sadar
saya” . Karena dia sekarang bertahan dengan laki laki itu hanya karena rasa
kasihannya.
“ hei…. Kamu bohong..!”
Teriak seorang teman kerja ketika perempuan itu menjawab
bahwa hari ini baik baik saja. Namun perempuan itu memang manusia dengan daya
tahan yang tinggi, bahkan sangat tinggi. Dia memang tidak bisa menyembunyikan
keresahan, kegundahan hati, atau bahkan memar-memar di beberapa bagian
tubuhnya. Namun dia sosok pemegang komitmen yang hebat. Bagi perempuan itu “apapun
sebab dari terjadinya komitmen itu, intinya sekarang komitmen itu harus dijaga,
karena itu kehormatan terakhir dia”.
“Komitmen yang naïf..!” teriak teman kerjanya.
Perempuan itu tetep berlalu meninggalkan teman kerjanya
dengan ekspresi datar dan memang dia paling pintar untuk menjaga ekspresi itu.
Semua orang yang tahu mereka pasti akan mengatakan bahwa
laki laki yang kalah cerdas, kalah wawasan apalagi kedalaman berfikir itu
mencari cara untuk tetep menjadi laki laki. Paling tidak menjadi laki laki versi dia. Versi keluarga dia. Versi etnis dia. Dimana laki laki harus
memiliki keunggulan dibanding perempuannya. Dan sayangnya laki laki itu hanya
punya keunggulan otot, dan suara yang keras.
Laki laki itu
dimata sang perempuan tidaklah salah. Laki laki itu memang terdidik seperti itu
sejak kecil. Dia tidak mungkin menuntut laki laki itu untuk tambah pintar,
namun dia yang harus menurunkan ’bahasa’ nya menjadi lebih sederhana. Dia tidak
mungkin menyuruh laki laki itu terus menggali kedalaman berfikirnya, namun
perempuan itulah yang memilih untuk ’mendangkalkan’ bahasanya.
Kasihan ? Itu
kata beberapa teman yang mengetahuinya. Namun bagi perempuan itu, inilah
kehormatan. Dan bagi laki laki itu : ” aku juga tidak mau terlahir seperti ini,
ijinkan aku tetap menjagamu”
Hari ini aku menemukan sebuah tulisan seorang putra Pramudya Ananta Toer ttg bagaimana Pram mengajadi dia menulis :
Apa saja yang diajarkan Bapak?
Membaca
buku. Membaca koran. Kata Bapak, dalam membaca koran, baca dulu halaman
depan. Satu hari harus bisa menemukan dan memahami tiga kata baru yang
tak pernah kita tahu, seperti istilah daerah dan sebagainya. Bila perlu
itu dicatat dalam buku. Nama orang yang kita kenal. Semua ditulis.Bagaimana Pram mengajarkan Anda membaca. Maksud saya membaca buku?
Pertama
kali Bapak ngajar membaca buku adalah ketika Bapak menyodorkan buku
Ajip Rosidi yang sangat tebal dan itu pertama kali saya membaca buku
setebal itu. Semalaman saya bekerja keras memahami isinya. Pas ditanya,
ternyata bukan isinya, tapi siapa penerbitnya. Bapak mengajarkan bahwa
membaca itu harus semuanya. Tuntas. Semuanya. Bukan hanya isi atau
materi buku, tapi juga penerbitnya, nama pengarangnya, editornya, dan
seterusnya.Kalau Pram mengajarkan menulis?
Menulis
catatan harian. Bahkan sejak di Buru, kami semua sudah ditekankan untuk
menulis buku harian. Bukan cuma saya, tapi semua anaknya. Karena memang
itu yang dimau Bapak. Maka setelah beberapa saat bertemu, saya langsung
ditanya, mana buku harian. Dan saya kasih tiga buku harian. Kata Pram,
dalam buku harian itu apa saja harus ditulis, apa saja yang kita lihat,
kita tahu. Dia lihat begitu saja buku harian saya. Tapi Bapak nggak
komentar apa-apa. Sampai sekarang pun dengan cucunya dia masih menyuruh
buat buku harian. Alasan Bapak menyuruh demikian agar kelak ketika
besar kita semua tahu sejarah hidup diri sendiri.
Dari : http://indexpress.net/arsip/a_diabuku_load_2.html

Menonton Film ini seperti kita mencoba mengenal seorang yang
bernama William Wilberforce (1759-1833) , seorang pioneer anti perbudakan di
majelis rendah Inggris. Menarik, Film yang disutradarai Michael Apted
(The World is Not Enough, Coal Miner’s Daughter) ini
menyuguhkan sebuah profil manusia konsisten dengan idealisnya, yang sejak umur
21 sudah menjadi anggota majelis rendah kerajaan Inggris. Dia, bersama temen
temannya, mengusung RUU Anti Perbudakan yang terus diusungnya dengan berbagai cara
kampanye dan diplomasi “perlementarian” yang
baru bisa berhasil setelah mengusungnya selama 20 tahun.
Di awal Film kita disuguhkan bagaimana seorang muda Inggris
yang penuh dengan idealisme teguh dengan keyakinannya tentang penghapusan
perbudakan. Khas anak muda idealis dengan gairah dan terus mencari cara untuk
memperjuangkan keyakinannya. Hingga terlibat dalam suksesnya Perdana Menteri
Inggris paling muda dalam sejarah “Pit The Younger” (1759-1806) yang terpilih menjadi
Perdana Menteri pada umur 24 tahun.
Inilah ‘aktifis’ dengan idealisme dan kecerdasan. Dia tetap teguh dengan keyakinan dan
idealismenya tanpa harus mengandalkan
berbagai cara anarkhis dan kekerasan. Mungkin bagi sebagain orang, upaya
konsisten menempuh perjuangan melalui politik ini adalah sebuah ’ kebancian’
dan ’kurang laki laki’. Bagi sebagaian kita , terutama saat ini di Indoensia’ ,
perjuangan mengusung idealisme dan keyakinan melalui parlemen sepertinya
menurunkan derajat kita sebagai aktifis. Bahkan kalau bisa kenapa kita tidak
melakukan sebuah upaya ”Revolusi” yang lebih kongkrit dan bersifat fisik ?
Inilah yang
diajarkan oleh William Wilberforce ketika dia menolak ajakan untuk melakukan
Revolusi ala Revolusi Perancis. Terlepas setuju dan tidak setujunya kita dengan
kesetiaan William Wilberforce terhadap mahkota Inggris, dia menagjarkan bahwa perjuangan melalui
politik akan sangat lebih laki laki ketimbang menggunakan cara kekerasan atau
bahkan ala FPI jaman sekarang.
Berpolitik adalah
sebuah kecerdasan, dan ini anugerah tertinggi yang diturunkan Allah SWT.
Berpolitik, bernegosiasi, ’bermain’ akan terasa sangat laki laki dibanding cara
cara preman dengan melakukan kekerasan di jalanan. Berpolitik via parlemen akan
menjadikan kita sosok yang terus mengolah akal, jiwa, kecerdasan dan budaya
yang menjadikan kita sosok manusia seutuhnya, daripada sekedar ’ tukang gebuk’
yang tidak akan menyelesaikan masalah.
Berpolitik memang
melelahkan, karena berpolilik akan banyak memakai ’mesin’ yang paling menguras
energi yaitu akal. Berpolitik akan menjadikan kita teruji ( dan harus teruji)
untuk tetap menempatkan kita pada ’sisi putih’ yang kita yakini di tengah ’wilayah
abu-abu’ yang diintordusir mereka yang lemah akan akal untuk memikirkan dan
mencari cara cara ’berjuang’ dengan ’beradab’.
Film ini
didedikasikan untuk memeperingati 200 tahun keluarnya Undang Undang Penghapusan
Perbudakan yang sebenarnya ’dititipkan’ pada Undang Undang Anti Perancis,
ketika terjadi perang Inggris dan Perancis ketika Napoleon Berkuasa di Prancis.
Film ini jug kemudian ’link’ dengan ide ide pembebasan perbudakan masa kini ,
seperti trafficking, pekerja anak- anak dan berbagai varian lainnya yang
kemudian di introdusir melalui website : http://www.theamazingchange.com
Tetapi, yang
kemudian membuat iri adalah ketika diceritakan bahwa pada umur 38 tahun William Wilberforce menemukan istri, yang
se-ide dan terus menjadi pendukung upaya penghapusan perbudakan, Barbara
Spooner ketika gadis cerdas dan “bener bener nyambung’ ini berumur 20 tahun he..he., serius…. laki laki yang juga seorang pemimpin dan seorang idealis yang
konsisten ternyata bagaimanapun sangat tergantung dengan wanita seperti apa di
sampingnya ( he..he… kapan yah…?)
Catatan : Amazing
Grace adalah Judul Hymne yang sering dinyanyikan di Gereja di Inggris. Dikarang
oleh John Newton, biarawan yang mantan seorang kapten kapal budak dan ”bertobat”
dengan ungkapan terkenal ’aku hidup
bersama 20.000 hantu budak’.
William Wilberforce
: Ioan Gruffudd , Barbara Spooner : Romola Garai, Pit The Younger : Benedict Cumberbatch .