Biasa, setiap mau masuk Ramadhan dan Idul Fitri umat Islam berdebat
panjang. Orang Muhammadiyah kadang berbeda dengan orang NU karena
metode penentuan yang berbeda. Sedangkan orang orang diluar dua
organisasi itu menjadi jengkel, karena gara gara kedua organsasi itu di
Indonesia, Idul Fitri di Indonesia jadi ‘gak seru’, karena kadang
sekeluarga saja bisa berbeda. Yah… sebagai orang yang hidup dalam
komunitas Muhammadiyah aku coba membacanya dengan rasional.
Dalam
pemahaman saya, perbedaan yg terjadi ini karena umat Islam adalah
komunitas yang selalu belajar dan belajar. Sehingga karena proses
belajar itulah menghasilkan pemahaman yang berbeda beda, mungkin karena
beda referensi, beda konteks pemahaman sebuah dalil, dan sebagainya.
Kalau mau melihat sejarah penentuan Ramadhan versi Muhammadiyah juga
terus mengalami revisi dari masa ke masa. Coba bisa dilihat di HPT.
Jadi pemilihan metode Hisab lebih karena komitmen Muhammadiyah untuk
ber-Islam dengan Ilmu, mencari ilmu dan terus mengkoreksi diri. Dulu
sempat juga HPT memutuskan metode Ru’yah yang dianggap lebih mu’tabar.
Namun
saya kadang berfikir, mengapa akhir akhir ini kita mau saja
diintervensi orang orang di luar Islam yg mengejek bahwa kita umat
bodoh yang lebaran saja tidak bisa bareng. Menurut saya inilah
kelebihan umat Islam yang meminta pemeluknya untuk beragama dengan
menggunakan akal sekaligus mengakui relatifitas akal. Karena Islam
mengakui adanya variabel ‘akal’, ‘belajar’, dan ‘ilmu’ inilah yang
kemudian kita dalam berhari raya bisa memiliki varian yang bermacam
macam. Karena di Islam tidak ada institusi ‘kependetaan’ atau ‘otoritas
tahta suci’ layaknya Katolik misalnya.
Saya pernah berdebat
dengan mahasiswa asal Iraq, sudah tiga tahun yll yg kuliah di UGM, kata
dia inilah ‘kejahilan’ orang Islam Indonesia, yang tidak bisa Idul
Fitri bersama. Namun saya ngotot, bukanlah ini yang diminta Islam,
setiap orang pada dasarnya harus mencari cara untuk menjadikan dirinya
bukan sekedar awwam, apalagi taklid. Sehingga karena di Indonesia ummat
Islam memahami ‘perintah’ Islam itu, maka mereka memiliki ilmu dan
ketika ilmu diturunkan menjadi semacam sistem operasi dan kemudian
digunakan dalam ranah praksis akan menghasilkan hasil yang berbeda.
Dalam keyakinan saya, Allah akan mengampuni orang yang salah berijtihad
daripada orang yang taklid hanya menuruti emosi sosial untuk bersatu
dalam satu hari hari raya.
Kalau kita coba mendekati dengan
konsep pemahaman ttg ilmu, sebenarnya kita walaupun berbeda hari raya
namun tetap satu kok. Dalam ranah empiris kita berbeda. Dalam ranah
logis kita bisa berdebat sengit. Namun dalam ranah normatif sebenarnya
kita tetap satu, Al Qur’an dan Hadist yang menjadi rujukan kita sama.
Inilah yang menjengkelkan kadang, kita terjebak dalam ranah kebenaran
empiris atau malah sudah pragmatis yang kadang menjadi emosional.
Beragama itu masalah ‘benar ‘ dan ’salah’ dengan didekati melalui
‘belajar’ dan ‘berilmu’. Bukan sekedar ‘mengikuti kebiasaan’ dan
‘enaknya’. ( termasuk gak enak kalao idul fitrinya berbeda). Masalah
benar dan salah bisa berbeda layaknya hasil ijtihad yang memungkinkan
berbeda, ada pema’afan kalo salah. Namun proses ‘belajar’ dan
‘berilmu’ adalah kewajiban dan tidak boleh ditinggal.
Kayaknya
di buku kelompok kelompok ajaran Kyai Dahlan ada yg membahasnya secara
khusus ttg. beragama bukan dengan ‘biasanya’ atau’ enaknya’ atau
‘umumnya’. Bahkan sudah masuk ke wilayah konsep tauhid kayaknya…(
entar coba tak periksanya..).
Bayangkan..kalau seandinya Umat
Islam di Indonesia lebih memekankan persatuan normatif dengan
menyepakati rujukan ‘ultimate’ yang sama, ya itu Al Qur’an dan Sunnah,
terus membudayakan iklim pencarian ilmu dan dialog antar ‘mahzab’ (
termasuk mahzab ru’yat dan hisab ), dialog antar kepentingan dalam
koridor saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, dan
memaklum implementasi konkrit yang berbeda, tentunya Islam di Indonesia
akan besar dan terus besar.
Jangan jangan Islam akan ‘buram’
cahayanya bukan karena serangan ‘ummat lain’, namun karena orang orang
Islam yang sudah meninggalkan tradisi ‘belajar’ dan ‘berilmu’ nya..
karena salah faham bahwa dalam beragama yang paling aman ya ikut ulama.
Ulama orang yang lebih berilmu dari kita, kebanyakan ummat. Orang
berilmu lebih harus dihargai dan dihormati. Namun kenapa kita tidak
berniat mengejar ilmu ulama itu ? Jangan jangan ada kesalahan faham
lagi dimana predikat ulama itu dianggap sebuah pilihan profesi layaknya
dokter, insinyur. Dan semoga bukan dalam pemahaman bahwa predikat ulama
adalah predikat genetik, dimana setiap anak ulama otomatis akan menjadi
ulama juga.
Bukankah ‘predikat’ ulama adalah predikat abstrak yang memang harus dikejar setiap muslim, entah nyampe apa tidak…..
Ma’af….. ini sekedar keresahan saja…bukankan yang ‘lebih’ wajib itu belajarnya bukan hasilnya ?