
Teringat seorang kawan yang sudah menikah dan memiliki
seorang anak berumur 3 tahun bercerita. Katanya, seorang laki laki ketika
berada di hadapan perempuannya tugasnya hanya satu : memberi solusi, dalam
bentuk aksi.
Kata temanku itu, perempuan adalah sosok yang mampu dengan
bebas akan mengkritik realitas dengan
emosinya. Dari merekalah para laki laki akan terus dipaksa membuka mata akan
keadaan sekelilingnya. Dari merekalah banyak hal bisa terungkap dengan lugas.
Karena perempuanlah yang terbiasa untuk berteriak terhadap realitas, ketidak
adilan, penindasan dan sebagainya. Dan dari perempuanlah idealisme laki laki
akan terjaga dan terus dikobarkan.
Teringat ketika
ibuku keukeuh mendorong bapak untuk
terus membela keyakinannya ketika harus berperang dengan atasannya, dulu. Saat
itu bapak seakan terus mendapat amunisi tambahan ketika pulang dan kemudian ibu
terus memberi semangat sekalian menyiapkan air hangat ketika bapak membutuhkan.
Dan, mungkin
benar kata seorang teman. Setiap laki laki hebat pasti akan didukung oleh
perempuan hebat. Setiap laki laki hebat akan selalu butuh sandaran perempuan hebat. Setiap laki laki hebat selalu
butuh suntikan energi perempuan hebat.
Mungkin perempuan
ketika mengkritik realitas terbalut emosi dan tampak sporadis. Bahkan tanpa berfikir hitung hitungan politis apalagi matematis. Namun,
sesungguhnya itulah kejujuran, itulah nurani. Tugas laki laki yang memang lebih
mampu sistematis memetakan keadaan, dan lebih bisa memainkan alur politik adalah
mewujudkannya dalam sebuah tatanan kenyataan.
Perempuan kadang
tidak sabar dengan keadaan, dan mungkin setiap Revolusi dunia berawal dari
jeritan para perempuan, karena kelugasannya. Laki laki harus memandang hal itu
menjadi sesuatu yang positif. Laki laki harus memandangnya sebagai sebuah ’kejujuran
nurani’ yang kadang dalam dunia laki laki terpaksa tertutup karena zig zag
kepentingan dan politik yang disorientasi. Politk tanpa cita cita.
Tuhan menciptakan
perempuan untuk menjaga visi, sedangkan laki laki bertugas untuk memanajemen
pembentukannya. Tidak perlu dikatakan mana yang lebih mulia, karena Tuhan
menciptakan laki laki dan perempuan untuk sama derajatnya dengan fitrah masing
masing.
Saranku, kalau
mendengar perempuanmu mengeluh, protes, dan menghujat realitas, jangan buru
buru kamu jawab apalagi membangun apologi demi apologi. Karena mereka memang
harus didengarkan, dan hanya perlu didengarkan saja. Mungkin mereka akan marah
ketika kamu hanya diam mendengar semua itu. Namun mereka akan lebih ’ilang feeling’ ketika kamu buru buru
membangun preposisi preposisi yang bermaksud membela naluri kelaki lakianmu
yang kadang tersinggung.
Suara Perempuan,
Suara Realitas…..
Ma’afkan
perempuanku, pagi ini aku membuat satu kebodohan, dengan apologi apologi ‘gak penting’ ku…
pagi ini aku baru mengenal sisi lain dirimu……