Archive for November, 2007

28
Nov

Hancurkan Berhalamu !

Ibrahim
mencari Tuhan. Dia menghancurkan secara fisik bentuk tuhan yang
dianggapnya salah, Berhala. Kemudian dia mencoba mengenal bulan, yang
mungkin sebagai Tuhan. Ternyata bulan hanyalah tuhan orang orang yang
menganggapnya tuhan, bukan Tuhan haqiqi. Kemudian Matahari menjadi
obyek selanjutnya. Dan kemudian yang terjadi sama. Bulan dan matahari
tidak dia hancurkan secara fisik, namun cukup dia tempatkan pada
definisi bukan Tuhan. Dan akhirnya dia menemukan Tuhannya.

   

Epic
perjalanan Ibrahim ini menjadi sebuah cerita herois bagi agama agama
Barat (demikian Karen Amstrong Menyebut Yahudi, Kristen dan Islam).
Epic ini seringkali menjadi sebuah latar belakang dan alasan bahwa
ketiga agama barat itu memiliki kekerabatan teologis yang dekat.
Sehingga, dalam khasanah Islam relatif mudah kemudian membedakan Islam
dengan kedua agama lainnya tersebut ( termasuk analasis rasional benar
salahnya). Walaupun kemudian tanpa sadar hubungan ‘kekerabatan’ ini
malah memicu konflik yang tak kunjung selesai , seperti di Palestina.

   

Terlepas
dari perdebatan ketiganya, ada pelajaran berharga bagi seluruh ummat
manusia bahwa kita harus ber-Tuhan secara benar. Tuhan yang didasarkan
pada kesadaran diri, bukan sekedar reduplikasi dari keyakinan orang
tua, atau keyakinan turun temurun. Disinilah definisi akhil baligh
sesungguhnya, dimana setiap orang yang dianggap dewasa adalah mereka
yang berani mendefinisikan ulang definisi Tuhannya tidak sekedar sama
dengan definisi definisi yang dia miliki sejak lahir.

   

Tuhan
berada dekat dengan urat nadi kita. Tuhan bukan kita, tuhan Ada, namun
tidak perlu dibayangkan dimana, karena Tuhan bebas ruang waktu dan
bentuk.

   

Memang
setiap anak lahir sebagai kertas putih, dan setiap orang lahir yang
kemudian tergantung kepada apakah orang tuanya Muslim, Nasrani, Majusi
(bisalah dikembangkan kearah Budha, Hindu, dsb.). Dan beruntunglanh
kalau seorang anak lahir dalam pelukan pasangan orang tua hanif, lurus.
Dalam pemahamanku, apapun agamanya kalau dia seorang yang hanif, lurus,
dan mau jujur kepada nuraninya pastilah nur Tuhan akan menjadi bagian
hidupnya.

   

Yang
kemudian menjadi masalah adalah ketika seorang anak harus menjadi
dirinya, memasuki masa akil baligh. Harusnya saat itulah dia akan
menentukan jalan yang akan dia pilih. Dia harus diupayakan untuk cerdas
menegnali dirinya, cerdas mengenali jalan lurus, cerdas mengenali
nuraninya, dan cerdas membedakan benar dan salah, baik dan buruk, nyata
dan semu.

   

Dia
harus menjadi sosok Ibrahim yang berani memanggil nuraninya, berani
menolak Berhala dan menghacurkannya. Berani mendefinisikan ulang tuhan
bulan dan tuhan matahari untuk menempatkannya pada tempatnya sebagai
mahluk. Dan kemudian mencari wahyu yang representatif sebagai petunjuk
dari hidupnya. Dan dia harus berani mempunyai definisi sendiri tentang apa itu Tuhan !

   

Buya
Hamka mengatakan bahwa Wahyu adalah Pemanggil Nurani. Untuk berTuhan,
nurani sekiranya cukup, namun untuk menjalankan konsekuensi ber-Tuhan,
kita perlu Wahyu.  Wahyu yang representatif, wahyu yang sejalan dengan nurani.

   

Berhala,
ternyata tidak akan hilang begitu saja seketika kita mengenal nurani
dan wahyu. Berhala ternyata akan terus muncul dalam perjalanan hidup
kita hingga kematian kita. Berhala itu berwujud ketika kita meyakini
sesuatu tanpa ada daya kritis terhadap diri kita sendiri. Berhala itu
berwujud ketika kita merasa takut melanjutkan perjalanan berikutnya,
dari fase perjalanan kita. Berhala itu berwujud ketika kita berhenti
belajar dan walaupun kita mengerti kita jauh dari mengerti. Berhal itu
berwujud kesombongan, layaknya peringatan Muhammad SAW ketikan tentara
badar kembali ke Medinah, berhala itu adalah hawa nafsu.

   

Ambil Kapak…..! Hancurkan Berhalamu ! Hancurkan Kesombonganmu ! Tinggalkan Kemapananmu !

   

(Termasuk mapan dalam ketidakmapanan)

15
Nov

“ Kulo Pamit Pejah”

Orang jawa konon terkenal dengan ketidak terusterangannya. Orang jawa konon terkenal dengan hipokritnya. Dan orang jawa banyak terkenal dengan ketidak konsistennya. Karena itulah, kemudian konon yang menyebabkan orang jawa banyak jadi politikus kelas menengah (saja), atau sekalian menjadi presiden. Atau, dalam mitologi raja jawa, dikenal sebuah pameo ‘nabok nyilih tangan’ (memukul dengan tangan orang lain), atau bahwa orang jawa itu bisa membunuh dengan tersenyum. Hal ini sering disimbolkan dalam simbol keris orang jawa yang disimpan di belakang, bukan di dada seperti pada suku suku lain di Nusantara. Ingat cerita ‘raja jawa terakhir’ ? Jendral Soeharto yang terkenal dengan sebutan Smiling General .

Jelek banget yah… citra orang jawa seperti diatas. Sepertinya prinsip prinsip kesatria tidak ada dalam kamus orang jawa. Sepertinya orang jawa itu punya karakter pengecut, karakter culas dan cengeng Sepertinya seperti itu….

Mitos mitos yang dibalut cerita berawalan ‘konon’ di atas sepertinya tidak perlu untuk dibuat pledoinya, termasuk olehku yang 100% berdarah jawa. Anggapan khalayak itu anggap saja sebuah refleksi dari orang orang ‘bukan jawa’ yang sayang dengan orang orang jawa. Artinya, mereka yang menganggap seperti diatas, berarti memiliki perhatian dengan orang jawa yang memang punya sejarah panjang dengan ‘perebutan kekuasaan’ dan gelimang kemakmuran bumi ‘jawa dwipa’ yang memang dikenal subur dalam konteks peradaban agraris.

Ada ungkapan yang aku teringatkan dari ‘perempuan bukan jawa’ hari ini. Katanya, kalau orang jawa akan berperang selalu pamit dengan kata kata “Kulo Pamit Pejah” (Ma’af….. Cantik…..tak koreksi… bahasa halusnya mati = pejah). Terus terang, aku tidak pernah mendapat ajaran filosofi begitu langsung dari mulut orang jawa. Aku teringat cerita kepahlawanan Agung Sedayu, Mahesa Jenar di Api di Bukit Menorehnya SH Mintarja, atau cerita cerita Asmaraman Kho Ping Ho jaman kecil dulu. Memang benar, dalam cerita para kesatria jawa itu, ada sebuah ungkapan bahwa ketika seorang laki laki jawa akan berperang dia pamit kepada keluarga, guru dengan ungkapan di atas ”kulo pamit pejah”. Atau dalam konteks ketika seorang laki laki jawa berpamitan dengan perempuannya dia akan mengungkapkan kata ” relakno patiku” ( relakan kematianku).

Ternyata dalam kasus ini, cerita orang jawa yang ’pengecut’ tidak sepenuhnya benar. Seorang ksatria jawa ternyata memiliki definisi kehormatan sama dengan definisi kehormatan para Samurai (teringat Tha Last Samurai dan Mushashi). Atau cerita kesatria persia yang sering menggunkan ungkapan ” tidaklah seorang menjadi laki laki, ketika diam mendengar teriakan perempuan terdhalimi”. Mungkin saja selama ini banyak orang melihat orang jawa pada kelas kawulo, bukan kelas kesatria. Sehingga bagi mereka kawulo-abdi dalem ( dan kadang menurun mentalitasnya ke keturunannya) tidak akan banyak berkembang mentalitas kesatria tadi. Dalam fikiran mereka yang terpenting adalah mobilitas vertikal, perbaikan nasib.

Atau selama ini orang banyak melihat pada kelas priyayi, yaitu kelas yang mewarisi mentalitas feodal, mentalitas yang selalu berfikir bahwa kemakmuran, kekayaan adalah hasil dari keturunan. Bapak kaya, pejabat, anak akan demikian juga.

Jadi, mentalitas kesatria yang ”pamit pejah” itu sebenarnya berkembang pada kelas kesatria jawa, yang tidak banyak terekspose keluar. Mereka bukan orang yang berburu popularitas, mereka bukan orang yang berebut melakukan mobilitas vertikal. Mereka orang orang yang ” semeleh”, ”khusyuk”, ” tawadhu” demi menjalankan apa yang menjadi keyakinannya, apa yang pernah terucap dari mulutnya, dan apa yang menjadi tugasnya. Mereka bukanlah sosok yang tidak mengerti politik, namun mereka mengerti mana kebenaran dan kesalahan. Mereka juga bukan sosok bodoh yang tidak berpengetahuan, namun mereka memilih hanya ’sedikit’ mengungkapkan pengetahuannya karena takut menjadi ujub dan sombong. Dalam fikiran mereka, apalah gunanya orang mengerti kita ’banyak tahu’ kalau kita ternyata ’tidak mampu’. Ada ungkapan Jawa lainnya, Ajining diri ono ning Lati = kehormatan diri ada di lidah-perkataan, atau ada ungkapan lain : wong lanang kuwi sing dicekel omongane = laki laki itu yang dipegang omongannya. ( Ternyata berat jadi orang Jawa….)

Dan merekalah teman ’wong cilik’ atau juga ’santri’ yang biasanya berada di daerah Monconegoro (daerah kekuasaan kerajaan jawa yang diluar pengaruh kultural kerajaan jawa.. seperti suku Samin …perguruan hindhu, budha, Islam..) yang biasanya juga mendefinisikan diri sebagai manusia manusia independen yang tidak butuh mobilitas vertikal, maupun telikang telikung politik ’jawa’ yang terkenal kejam.

Akhirnya, ternyata hipokrit, cengeng dan sombong adalah penyakit universal, sama dengan kebenaran universal yaitu sifat sifat kesatria yang juga selalu dimiliki oleh setiap suku dan bangsa.

”Kulo Pamit Pejah !”
——————–
Perempuan Cantik itu ternyata akan lebih jujur ’melihat’ kenyataan sesaat setelah bangun tidur.

13
Nov

Revolusi Tanpa Kamu….? Gak Deh..!

Ingat lirik Mars
Slankers…?

Lagi yang sempat
juga menjadi soundtrack film Nagabonar Jadi 2 ini menarik. Mencoba memainkan
emosi anak muda negeri ini untuk menjadi solusi sebuah masalah. Sebuah solusi minimal
untuk dirinya sendiri. Dan coba ‘menurunkan’ (bukan menihilkan) common sense manusia hidup : uang.

 “ Disini .. Tempat Mencari Senang…”

“ Salah tempat kalau
mencari uang…”

…………dst.

Sebuah lirik yang
menurutku enak untuk dicerna dan diikuti. Enak untuk ‘diajarkan’ ke anak anak
kecil, dan menurutku berkorelasi kuat dengan statemen Andrea Hirata di UMY ahad
Kemarin, lagu ini mencoba membangun Positive Thinkin, Positive Feeling dan
Positive Action.

Hem… dalam
perenunganku, Fonemena Naga Bonar, Slank dan Andrea Hirata terasa menjadi ’Hero’ dalam kehidupan bangsa
ini. Mereka hero-hero ‘tengil’ dan ‘nakal’ yang dilahirkan dalam paradoks
sejarah negeri ini. Mereka para pengkritik perjalanan negeri yang tidak
melulu harus mengumpat atau memasang tampang melas dan terkasihani. Mereka
’entitas’ negeri yang memilih jalan positif, atau dalam bahasa Gedhe Prama,
memilih Jalan Cinta.

Sebenarnya ada satu ’icon’ cinta yang cukup membekas dalam hidup generasi negeri
ini. Dia adalah ’Iwan Fals’. Heros of Asia versi Times Asia ini harus diakui
menjadi lebih hebat dari tokoh fiktif ’Naga Bonar’, artis ’jalan lain’ seperti
Slank dan juga ’anak desa’ tengil seperti Andrea Hirata.

Sebenarnya dalam refleksi hidupku, aku sempat bertinteraksi dengan gaya
Pramudya Ananta Toer dalam mebahasakan kepedihan. Sempat asyik masyuk dan nyaman
terprovokasi dengan tetralogi Pulau Buru, Arus Balik dan Panggil aku kartini
saja. Namun, alam bawah sadarku saat ini merasa gaya Pramudya yang memang hebat
itu hanya mampu untuk mencari ’kebenaran lain’, bukan mencari solusi kreatif
dalam iklim Positive Thinkin, Positive Feeling dan Positive Action tadi. (Atau mungkin suatu saat aku harus
membacanya lagi.. semoga ada waktu lagi….. bareng anakku kelak mungkin).

Atau mungkin memang aku sudah saatnya untuk mencoba membangun diri ala John
Wood dengan Room to Readnya. Yah, dia
sosok manusia positif dari seberang yang mencoba menerapkan perubahan, social approach dan kritik peradaban
dengan aksi nyata dan profesional, membangun perpustakaan untuk anak anak
miskin di negeri miskin. (Dalam bahasa Pak Busro Muqoddas kemarin, termiskinkan
secar kultural dan struktural). Atau….mungkin saja sosok yang hidup dalam
mitologi orang orang Muhammadiyah, KHA Dahlan yang
tidak mau meneruskan pengajiannya di
Surat Al Maun yang berisi kewajiban dari Tuhan agar manusia ’beruntung’
menyantuni orang miskin. Sehingga memaksa murid muridnya saat itu juga memandikan
gelandangan gelandangan pasar Yogyakarta demi menjalankan surat Al Maun tadi.

Oke…, landasan ’ketuhanan’ sudah cukup, landasan sejarah sudah ada, peta
kebenaran sudah terpampang, peta masalah sudah sedemikian detail. Dan ’gaya
positif’ sudah dapat. Sekarang tinggal membangun cara pandang bahwa Revolusi
hanya bisa efektif digerakkan oleh orang orang nomor satu, orang orang yang
’gak mati gaya’ dan orang orang yang masih punya cinta.

Dan tentu saja, oleh orang orang kaya…..ha..ha..( Kata Matahari Cantikku,
Lha Wong Nabi Muhammad saja bisa melamar Khadijah dengan puluhan
Onta…….Makasaih cantik.. dah mengingatkan…)

Ada idiom jaman di BEM FT UGM dulu, ” Revolusi tanpa Cinta.. Garing
Man….!”
Dan sekarang ”Revolusi tanpa kamu Cantik ?…., Gak Deh…!” He..he…

Diposting dengan susah payah karena internetnya lemot….

06
Nov

Surat (terbuka) untuk Arif Nur Kholis

Assalamualaikum,
Salam kenal. Apa kabar? Semoga sehat.
Terimakasih atas surat yang ”tidak biasa” yang anda kirimkan ke kotak e-mail saya 26 Oktober lalu. Saya baru membacanya dua hari ini. Sekali lagi saya ingin mengucapkan terimakasih atas apresiasinya, terutama keperpihakan anda terhadap para penulis IMM.
Bicara soal dunia penulisan, beberapa hari yang lalu saya menghadiri pertemuan komunitas penulis muda muhamadiyah se-jogja. Saya menangkap ada kekhawatiran dari teman-teman melihat menurunnya penulis muda muhamamdiyah secara kuantitas.
Saya tak tahu, apakah hanya di kalangan muhammadiyah saja, atau memang perubahan sosial-dunia yang semakin absurd membuat langkah kaum muda ini mulai goyah. Tapi yang jelas, fenomena ini merpakan fakta bahwa banyak kaum muda yang semakin kehilangan resistensinya akan zaman yang saban hari kian menelikung kita.
Saya pernah bertanya kepada beberapa teman: untuk apa menulis? Dan kenapa mesti menulis? Salah seorang teman lantas menjawab, ”menulis itu seperti meminumkan obat untuk penyakit, ia bisa menyembuhkan kegelisahan hidup.” Yang lain menjawab, ia menulis untuk sekedar menemani malam-malam panjang karena insomnia yang dideritanya. Ya, beragam alasan kenapa seseorang menulis: ingin terkenal, mencari uang, atau menulis hanya untuk menulis. Namun bagi saya, menulis adalah sebuah ”keharusan” hidup.
Bagi saya, hidup ini bagaikan sebuah gumam. Kadang suaranya tak terdengar dan dimengerti oleh manusia. Ia berlari di antara sudut-sudut kota, memantulkan suaranya dari ruas-ruas jalan, ruang-ruang keluarga, meja-meja makan, kamar tidur, hingga mengalir dalam urat nadi kita.
Namun, terlalu banyak orang yang tidak memahaminya. Konflik sosial yang terjadi, bukankah karena manusia semakin sombong saja, sehingga tidak bisa mendengar dan memahami saudaranya sendiri? Begitulah hidup, terkadang tidak semuanya dapat kita mengerti.  Maka menulis adalah upaya menangkap suara dari gumam-gumam tersebut. Agar ia bisa dimengerti – paling tidak oleh diri kita sendiri.
Inilah yang coba saya lakukan ketika memberanikan diri menerbitkan sebuah buku.
Tepatnya sekumpulan refleksi atas puzzle-puzzle kehidupan yang bagian-bagiannya tercerabut entah ke mana. Saya mencoba mengumpulkan potongan-potongan dari puzzle tersebut, untuk sekedar bercerita tentang hidup, tentang manusia, dan tentang siapa kita.
Waktu tak pernah berjalan menghampiri manusia, ia seolah berlari dan terus berlari. Begitu banyak hal yang belum sempat dilakukan manusia, namun waktu tak sedikitpun melampaikan tangannya untuk sekedar berkata, ”selamat pagi!”. Maka menulis adalah berkompromi dengan waktu, di mana kita bisa melakukan pendokumenasian diri dalam ruang dan waktu yang kita inginkan, tanpa takut bahwa waktu akan berlari meningalkan kita.
Oya, baru saja kita memperingati hari Sumpah pemuda 28 Oktober lalu. Saya tidak terlalu sepakat dengan isu yang diangkat beberapa aliansi pemuda, bahwa saatnya kaum muda memimpin! nuansanya terlalu politis. Bagi saya, kini saatnya kaum muda berkarya membangun bangsa ini, melalui pendidikan, ekonomi, , sosial, budaya, serta politik.
Sekali lagi saya ucapkan terimamakasih!
Senang sekali membaca surat anda.
Wassalamu’alaikum.
– Faris Alfadh
———-
Diterima siang ini, 6 November 2007
04
Nov

Peluang Terakhir

Kemarin aku ditelpon bapak-Ibuku, setelah malamnya aku
sempat cerita ttg ‘nasib’ sekripsi ‘purbaku yang menghawatirkan. Bapak sempat
membuatku terdiam ketika fokus pembicaraan bukan pada sekripsiku, tapi pada berapa
kali aku meninggalkan shalat malamku. Bapak ibuku sudah pasrah dengan nasib
kuliahku, mereka hanya berpesan “Usahakan sampai titik akhir “.Dorong adikmu yg
juga ‘aktifis’, jangan sampai nyusul kamu….( Juga adikku De’ Ari, Dyah dan Mbah
Rayi, Mbah Oko…dan seluruh keluarga besarku)

Dua hari lalu Aeni, istri sahabatku- Fatur, sempat juga chat
dan terus menanyakan kenapa sih aku sulit banget untuk sekedar ‘lulus’ dari S1
ku ini. Padahal dia yang umurnya dibawahku sudah lulus S2 kemarin. Belum lagi
minggu lalu, mbak elisa dari
bandung wanti wanti,  yg mengatakan kalau aku
harus fokuskan urusan ini. Kemarin juga sempat mbak Nia dari Jakarta .

Kemarin juga sempat mendengar adik adikku (Taufiq dan Widi)
yang sudah lulus. Berita dari Ghufron yang sudah mendaftar sidang.  Juga semangat Devi untuk menyusulnya. Atau
candaan Ribki yang mengatakan kalu dia saja sudah mulai menulis sekripsi. Atau Ana
yang berteriak ‘sekripsi ! Mas’ setiap ketemu. Sekar yang juga sering
menanyakan. Belum lagi pertanyaan Nia –bogor kalau lagi chat, Supre dengan gaya
candanya. Jawa’ dengan gaya
anarkhisnya. Juga Siar, Basyir, Adi, Ramdan di menteng. Atau Ima yg sering mengingatkanku, Barori dengan gaya ‘satir’nya, Odong yang seakan mengatakan
‘kamu bisa lebih beruntung’. Ceuceu’
yang baik. Atin yang ‘nakal’. Mbak Amah dari Amerika dan menantang untuk segera
menyusul kesana. Dan  juga Pak Budi  dan juga sempat teringat ‘seorang sahabat’ yang
begitu ingin melihatku lulus sarjana.

Tanpa diduga , Yanti, teman seangkatanku yang sudah jadi
dosen Geologi di Papua
sana,
telpon aku dan memberi gambaran lain tentang ‘perlunya’ ijazah S1. ( tidak
berfikir tentang ‘pentingnya’ lagi). Kemudian Beta yang senasib denganku –bersama
Ira- ternyata sudah bergerak selangkah dan tinggal maju sidang bulan ini. Dia
memberitahuku tentang peluang yang masih terbuka dan harus diperjuangkan. Dan terakhir,
tiba tiba pagi ini aku diajak chat mbak trias, yang ternyata tetangga Mas
Arifuddin , salah satu dosenku yang baik dan selama ini termasuk yang
memperjuangkanku.

Mbak Trias sempat berpesan :
kalau lulus kan birrul walidain
tugas tp don’t forget
to keep on ur
study
keep focus on that
matter
keep health
keep spirit juga yach
hope u fine
and geeting more
success
getting more happines
 

Hem…..terakhir.. untuk Matahari
Cantikku
di seberang lautan, aku ingin bercerita suatu saat nanti. Kalau aku
bisa survive karena sahabat sahabatku ini. Makasih supportnya pagi ini, untuk “mengejar
matahari”-ku hari ini

Mahasiswa Teknik Geologi Univ. Gadjah Mada  Semester 19 yg semoga akhirnya Sarjana.

04
Nov

Memoar Jelang Tidur

Malam ini mungkin
malam yang akan menjadi berbeda dengan malam malam sebelumnya. Mungkin,….. kita
tidak tahu. Yang pasti, kita berharap kita bisa melalui malam ini dengan nyaman hingga kita bisa bangun tidur
dan kemudian menemui matahari cantik kita di pagi harinya.

Setiap tidur, kita
ingin melupakan semua masalah kita. Setiap tidur kita ingin menyerahkan beban
berat hidup kita kepada ‘apapun’ yang mau menanggung masalah masalah kita.
Begitulah kenapa setiap mejelang tidur setiap kita ingin mencurahkan semua
masalah kita, dan berharap lega dan kemudian bisa tertidur.

Kadang banyak orang
percaya bahwa ketika sebelum tidur kita belum ‘merelakan’ semua masalah yang
menimpa kita, akan membaut kita bermimpi buruk. Seperti ketika kita tidak
terima dengan ‘kejadian’ yang kita dapatkan, ketika keihlasan belum menjadi
bagian cara berfikir kita terhadap kejadian tersebut, maka terbawa kemimpi
kita. Dan tidak ada yang berharap akan mendapat mimpi buruk tentunya.

Namun, agama
menuntunkan bahwa setiap orang ketika akan memasuki tidurnya harus mengingat
akan kematian. Sedih memang. Namun inilah kenyataannya. Ketika akan memasuki
alam tidur kita, kita dituntunkan untuk mengucapkan : Bismika Allahumma Ahya Wa Bismika Amut. Kita diminta mengingat
kehidupan kita sepanjang hari dan mengingat kemungkinan bisanya mati setiap
saat.

Ketika berfikir
diatas,  mungkin ada benarnya ungkapan
matahari cantikku hari ini yang mengingatkanku untuk tidak banyak berencana. Mungkin kita berencana dan benar benar ikhlas
seandainya rencana rencan itu tidak terealisasi, ekstrimnya karena terhalang
kematian. Namun bagaimana seandainya rencana rencana itu menyangkut rencana
rencana yang berkaitan dengan orang lain ? Tentunya tidak semudah itu mengajak
orang lain mengikhlaskan kegagalan rencana.

Takut rencana tidak
bisa tercapai sama saja membenarkan diri ketika diri tidak mau memperjuangkan
sebuah rencana dengan maksimal. Pasrah bukan berarti sebuah pembenaran untuk
tidak memperjuangkan sebuah rencana dengan maksimal. Namun ketika disetiap
menjelang tidurnya mengingat apa yang dilakukan sepanjang hari dan kemudian
menutupnya dengan mengingat mati sama artinya dengan meyakini bahwa keindahan
itu tidak hanya di dunia, namun juga di kehidupan kekal di akhirat nanti.

Keindahan sepanjang
hari akan lengkap dengan mengingat bahwa keindahan itu harus kita perjuangkan
hingga akhirat nanti. Mengingat mati
tidak berarti  mengurangi semangat
dan keindahan hidup. Karena mengingat mati bukanlah harus berarti kesedihan. 

Mengingat mati juga  bukan berarti menghentikan kita untuk
merencanakan hidup.

"Alhamdulillahil-ladzi ahyaanaa ba’da maa amaatana wailaihin - nusyuur"

02
Nov

PLASENTA

Bunda…
Darahmu mengisi tubuhku…
Energimu tercurah untuk kematangan selku
Semangatmu mendorongku tuk segera melihat dunia

Bunda..
Di dalam 3 lapis kegelapan
Kudapat merasakan nikmatnya nasi goreng
Kudapat merasakan segarnya sayur asem
Kudapat merasakan masamnya buah mangga

Bunda..
Kutendang perutmu..
Kukoyak dinding perutmu..
Ku ingin keluar … keluar… keluar.. melihat dunia

Bunda .. saatnya tiba ..
Kau merintih kesakitan.. namun tersirat kebahagiaan
Ketika palsenta diputus
Aku Bingung Bunda..
Kemana aki bisa mendapatkan semua yg dulu kurasakan

Bunda..
Ternyata dunia tidak seindah bayanganku waktu diperutmu
Kuingin kembali ke perut 3 lapis kegelapan-mu
Merasakan semuanya melalui plasentamu, seperti dulu….
—————

Ini puisi seorang ibu di banyuwangi yang dikirim kepadaku lima tahun yang lalu,  sepekan setelah melahirkan ditengah vonis ‘mati’ dokter dengan  penyakit lupus-nya, seorang kawan yang tangguh menghadapi hidup. Sudah tiga tahun ini tidak mendengar kabarnya. Insya Allah, hidup hebatmu terus mejadi inspirasiku kawan.

02
Nov

Pagi Ini Milik Kita

———–
Pagi ini menjelang
subuh aku dah posisi standby
(kebiasaan yg berhasil ku kembalikan pasca lebaran). Setelah subuh, menyapa
‘mahluk lecek tapi cantik’, dan kemudian ganti pakaian dan berangkat lari pagi.
Head Set posisi ready di kedua telinga.
Dan “Mengejar Matahari” dari ari laso
mengawali perjalanan pagi ini.

Oke !  Pagi ini milik kita Cantik…!
————
Postingnya tertunda sehari, kemarin harusnya.