Ibrahim
mencari Tuhan. Dia menghancurkan secara fisik bentuk tuhan yang
dianggapnya salah, Berhala. Kemudian dia mencoba mengenal bulan, yang
mungkin sebagai Tuhan. Ternyata bulan hanyalah tuhan orang orang yang
menganggapnya tuhan, bukan Tuhan haqiqi. Kemudian Matahari menjadi
obyek selanjutnya. Dan kemudian yang terjadi sama. Bulan dan matahari
tidak dia hancurkan secara fisik, namun cukup dia tempatkan pada
definisi bukan Tuhan. Dan akhirnya dia menemukan Tuhannya.
Epic
perjalanan Ibrahim ini menjadi sebuah cerita herois bagi agama agama
Barat (demikian Karen Amstrong Menyebut Yahudi, Kristen dan Islam).
Epic ini seringkali menjadi sebuah latar belakang dan alasan bahwa
ketiga agama barat itu memiliki kekerabatan teologis yang dekat.
Sehingga, dalam khasanah Islam relatif mudah kemudian membedakan Islam
dengan kedua agama lainnya tersebut ( termasuk analasis rasional benar
salahnya). Walaupun kemudian tanpa sadar hubungan ‘kekerabatan’ ini
malah memicu konflik yang tak kunjung selesai , seperti di Palestina.
Terlepas
dari perdebatan ketiganya, ada pelajaran berharga bagi seluruh ummat
manusia bahwa kita harus ber-Tuhan secara benar. Tuhan yang didasarkan
pada kesadaran diri, bukan sekedar reduplikasi dari keyakinan orang
tua, atau keyakinan turun temurun. Disinilah definisi akhil baligh
sesungguhnya, dimana setiap orang yang dianggap dewasa adalah mereka
yang berani mendefinisikan ulang definisi Tuhannya tidak sekedar sama
dengan definisi definisi yang dia miliki sejak lahir.
Tuhan
berada dekat dengan urat nadi kita. Tuhan bukan kita, tuhan Ada, namun
tidak perlu dibayangkan dimana, karena Tuhan bebas ruang waktu dan
bentuk.
Memang
setiap anak lahir sebagai kertas putih, dan setiap orang lahir yang
kemudian tergantung kepada apakah orang tuanya Muslim, Nasrani, Majusi
(bisalah dikembangkan kearah Budha, Hindu, dsb.). Dan beruntunglanh
kalau seorang anak lahir dalam pelukan pasangan orang tua hanif, lurus.
Dalam pemahamanku, apapun agamanya kalau dia seorang yang hanif, lurus,
dan mau jujur kepada nuraninya pastilah nur Tuhan akan menjadi bagian
hidupnya.
Yang
kemudian menjadi masalah adalah ketika seorang anak harus menjadi
dirinya, memasuki masa akil baligh. Harusnya saat itulah dia akan
menentukan jalan yang akan dia pilih. Dia harus diupayakan untuk cerdas
menegnali dirinya, cerdas mengenali jalan lurus, cerdas mengenali
nuraninya, dan cerdas membedakan benar dan salah, baik dan buruk, nyata
dan semu.
Dia
harus menjadi sosok Ibrahim yang berani memanggil nuraninya, berani
menolak Berhala dan menghacurkannya. Berani mendefinisikan ulang tuhan
bulan dan tuhan matahari untuk menempatkannya pada tempatnya sebagai
mahluk. Dan kemudian mencari wahyu yang representatif sebagai petunjuk
dari hidupnya. Dan dia harus berani mempunyai definisi sendiri tentang apa itu Tuhan !
Buya
Hamka mengatakan bahwa Wahyu adalah Pemanggil Nurani. Untuk berTuhan,
nurani sekiranya cukup, namun untuk menjalankan konsekuensi ber-Tuhan,
kita perlu Wahyu. Wahyu yang representatif, wahyu yang sejalan dengan nurani.
Berhala,
ternyata tidak akan hilang begitu saja seketika kita mengenal nurani
dan wahyu. Berhala ternyata akan terus muncul dalam perjalanan hidup
kita hingga kematian kita. Berhala itu berwujud ketika kita meyakini
sesuatu tanpa ada daya kritis terhadap diri kita sendiri. Berhala itu
berwujud ketika kita merasa takut melanjutkan perjalanan berikutnya,
dari fase perjalanan kita. Berhala itu berwujud ketika kita berhenti
belajar dan walaupun kita mengerti kita jauh dari mengerti. Berhal itu
berwujud kesombongan, layaknya peringatan Muhammad SAW ketikan tentara
badar kembali ke Medinah, berhala itu adalah hawa nafsu.
Ambil Kapak…..! Hancurkan Berhalamu ! Hancurkan Kesombonganmu ! Tinggalkan Kemapananmu !
(Termasuk mapan dalam ketidakmapanan)