Tiba tiba itu yang terpetik dalam otakku ketika mobil yang di setiri Barori bersamaku harus menembus genangan banjir, di daerah Grogol, Sol Baru, Sukoharjo. “ Mas Pelan..!” teriak orang- orang kepada kami berdua. Awalnya kami hanya mengikuti saran mereka, mungkin saja mereka khawatir mobil kami terpeleset atau masuk selokan karena kami tidak bisa membedakan mana jalan, dan mana selokan. Namun ternyata ketika di lokasi genangan yang lumayan dalam, ada yg berteriak “ mas jangan cepat cepat, ombaknya bisa merusak pintu dan dinding kayu! “.. O.. ternyata mereka minta kami melambatkan laju mobil karena itu.
Kami berdua menahan nafas, karena kami berdua baru pertama menyetir mobil yang masuk ke air hingga setengah meter (bahkan lebih kayaknya..). Mesin mati..Selesai deh… Alhamdulillah setelah sekitar 500 meter genangan kami lewati, tanpa mesin mati. Dan kami sudah mendapati tempat yang kering. Ujian pertama sore ini yang menegangkan. Kemudian, kami terus menuju Grogol KM 17, tempat dimana anak anak Mapala UMY, yang bertugas mengevakuasi dan menjaga pengungsian disana.
Kami terus menembus air, karena ternyata ada 2 genangan Air lagi walaupun tidak sedalam genangan pertama tadi. Panjangnya juga tidak sepanjang tadi. Dan
Alhamdulillah kami bisa melewatinya, walaupun Barori kemudian minta
digantikan nyetir karena kakinya kram menahan rem dan kopling
bergantian selama ‘berenang’ . Aku tidak menyangka kalau daerah yang kemarin sore kami lalui itu sekarang tergenang sedemikian tinggi. Ketika kami melewatinya, tampak kampung dan kompleks perumahan di kanan kiri jalan terdendam lebih dalam. Ada yang sampai plafon rumahnya. Ada yang separuh rumahnya, sehingga tidak mengherankan kalau para penghuni memilih berkumpul di pinggir jalan. Rame banget. Feeling burukku terhadap korban bencana bermain. Dimana barang logistik yang kami bawa di mobil bisa bisa direbut mereka begitu saja sebelum sampai posko Grogol Km 17. Untung mobil kijang yang membawa nasi bungkus dari ibu ibu Aisyiyah Kota Yogyakarta berjumlah seribu lebih itu kami tulisi “PRESS, Website Muhammadiyah”, jadi kami aman tidak dianggap membawa logistik. Disamping itu karena dianggap PRESS, kami selalu ditolong warga dan selalu di bukakan penghalang penghalang yang dipasang oleh polisi.
Tampak
di mulut-mulut gang yang menampakkan pemandangan adanya ‘terendamnya
peradaban’ para laki laki membuat ‘gethek’ (rakit) untuk membawa barang
barang penting dari dalam gang ke pinggir jalan besar. Ada yang terbuat dari rakitan ban ban bekas, ada yang terbuat dari bambu, ada juga yang dari rangkaian Drum MInyak. Beberapa kami bertemu juga dengan perahu karet beberapa Mahasiswa Pecinta Alam.
Akhirnya
kami bertemu Wahyu & Gang’s di posko Mapala UMY. Tampak mereka
masih kelelahan habis menggotong perahu karet mereka dari salah satu
gang. Melihat kami datang, Alhamdulillah mereka yang tinggal di tenda
dome dan lapan pedagang kaki lima yang ditinggal penjualnya itu tampak
ceria. Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan ke arah Posko Kawan Kawan
Muhammadiyah Mobile Clinic dan Mapala UMS di Ruko Saraswati- Solo Baru.
—-
Lagu yg diputer pas nyertir menembus banjir : Kisah Klasik untuk Masa Depan…
