Archive for December, 2007

30
Dec

Mobil Amfibi

Solo_baru_prahuums
Ini Harus Kuceritakan ! 

Tiba tiba itu yang terpetik dalam otakku ketika mobil yang di setiri Barori bersamaku harus menembus genangan banjir, di daerah Grogol, Sol Baru, Sukoharjo.  “ Mas Pelan..!” teriak orang- orang kepada kami berdua. Awalnya kami hanya mengikuti saran mereka, mungkin saja mereka khawatir mobil kami terpeleset atau masuk selokan karena kami tidak bisa membedakan mana jalan, dan mana selokan. Namun ternyata ketika di lokasi genangan yang lumayan dalam, ada yg berteriak “ mas jangan cepat cepat, ombaknya bisa merusak pintu dan dinding kayu! “.. O.. ternyata mereka minta kami melambatkan laju mobil karena itu.

Kami berdua menahan nafas, karena kami berdua baru pertama menyetir mobil yang masuk ke air hingga setengah meter (bahkan lebih kayaknya..). Mesin mati..Selesai deh… Alhamdulillah setelah sekitar 500 meter genangan kami lewati, tanpa mesin mati. Dan kami sudah mendapati tempat yang kering. Ujian pertama sore ini yang menegangkan. Kemudian, kami terus menuju Grogol KM 17, tempat dimana anak anak Mapala UMY, yang bertugas mengevakuasi dan menjaga pengungsian disana.

Kami terus menembus air, karena ternyata ada 2 genangan Air lagi walaupun tidak sedalam genangan pertama tadi. Panjangnya juga tidak sepanjang tadi. Dan
Alhamdulillah kami bisa melewatinya, walaupun Barori kemudian minta
digantikan nyetir karena kakinya kram menahan rem dan kopling
bergantian selama ‘berenang’ . Aku tidak menyangka kalau daerah yang kemarin sore kami lalui itu sekarang tergenang sedemikian tinggi. Ketika kami melewatinya, tampak kampung dan kompleks perumahan di kanan kiri jalan terdendam lebih dalam. Ada yang sampai plafon rumahnya. Ada yang separuh rumahnya, sehingga tidak mengherankan kalau para penghuni memilih berkumpul di pinggir jalan. Rame banget. Feeling burukku terhadap korban bencana bermain. Dimana barang logistik yang kami bawa di mobil bisa bisa direbut mereka begitu saja sebelum sampai posko Grogol Km 17. Untung mobil kijang yang membawa nasi bungkus dari ibu ibu Aisyiyah Kota Yogyakarta berjumlah seribu lebih itu kami tulisi “PRESS, Website Muhammadiyah”, jadi kami aman tidak dianggap membawa logistik. Disamping itu karena dianggap PRESS,  kami selalu ditolong warga dan selalu di bukakan penghalang penghalang yang dipasang oleh polisi.   

Tampak
di mulut-mulut gang yang menampakkan pemandangan adanya ‘terendamnya
peradaban’ para laki laki membuat ‘gethek’ (rakit) untuk membawa barang
barang penting dari dalam gang ke pinggir jalan besar. Ada yang terbuat dari rakitan ban ban bekas, ada yang terbuat dari bambu, ada juga yang dari rangkaian Drum MInyak. Beberapa kami bertemu juga dengan perahu karet beberapa Mahasiswa Pecinta Alam. 

Akhirnya
kami bertemu Wahyu & Gang’s di posko Mapala UMY. Tampak mereka
masih kelelahan habis menggotong perahu karet mereka dari salah satu
gang. Melihat kami datang, Alhamdulillah mereka yang tinggal di tenda
dome dan lapan pedagang kaki lima yang ditinggal penjualnya itu tampak
ceria. Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan ke arah Posko Kawan Kawan
Muhammadiyah Mobile Clinic dan Mapala UMS di Ruko Saraswati- Solo Baru.

—-

Lagu yg diputer pas nyertir menembus banjir : Kisah Klasik untuk Masa Depan…

25
Dec

Untuk Sahabat Sahabat Cantikku

Hari ini tepat tiga tahun Tsunami  mengehempas Aceh. Ma’af aku sampai hari ini
belum sempat menginjakkan kaki, walaupun sejenak di  tanah rencong itu. Hanya saja secara
emosional, jauh sebelum terjadinya Tsunami itu, sebagain hatiku tertaut di bumi
itu. Dan betapa menyesalnya aku tidak terlibat sedikitpun waktu itu, hanya ikut
heriok melihat layar tivi, dan sekedar membantu mensortir pakaian bekas di
posko Muhammadiyah Yogyakarta, tepatnya hanya sempat dua hari. ( Maskernya
bahkan masih tak simpan….tergantung di kamar kos ku). Jadi mungkin inilah yang menyebabkan aku
berani bertaruh dengan ‘masa depanku’ ketika 27 Mei 2006 terjadi Gempa Bumi di Yogyakarta. Heroisme dan Romantisme
Aceh (sekaligus), misteriusnya Aceh,  yang kembali (berkesempatan) meninggalkan
bekas lagi di kemudian hari.

Adalah sebuah penghianatan ku kira, bila kemudian dalam umur
menjelang kepala tiga ini seseorang belum pernah melakukan hal yang besar dan
berarti untuk orang orang di sekitarnya. Adalah sebuah kebodohan kukira bila seorang laki laki yang
selama hidupnya hampir sepuluh tahun digunakan untuk tidur ( hitung saja kalau
sehari 8 jam) belum pernah melakukan hal yang berarti untuk masyarakatnya. Dan
sebuah kerugian kalau seorang laki laki menjelang usia 30 nya belum pernah
berkorban, walau sedikit untuk apa yang dia namakan kemanusiaan.

Bencana, Relawan dan Proyek memang sesuatu yang bercampur
aduk tidak karuan. Bukan rahasia lagi kalau disetiap bencana selalu muncul manusia
manusia busuk yang memanfaatkan keadaan ‘chaos’. Banyak pula mata mata rabun
yang sulit membedakan mana manusia baik dan mana manusia jahat. Dan bahkan,
tidak sedikit manusia Ikhlas yang tidak saja harus berjuang menolong korban,
menjaga kondisi dirinya, namun juga harus bertarung dengan untuk meyakinkan khalayak
bahwa dia ‘tidak jahat’.

Bayangkan, waktu Gempa jogja, aku harus berjuang meyakinkan
sahabat sahabat ku sendiri bahwa aku akan mengusahakan mereka mendapat
prioritas pertolongan ketika aku juga harus bergelut dengan SOP Posko yang
butuh pertanggungjawaban jelas. Aku harus terus terus meyakinkan sahabat
sahabatku bahwa selama ini mereka benar benar mengenalku dan mereka harus
bersabar bahwa aku juga memperjuangkan sekedar mie instan untuk mereka
secepatnya. Dan ternyata tidak banyak yang bisa kuyakinkan…. (Mungkin karena
modal sosialku tidaklah cukup waktu itu). Dan lagi lagi, ketika aku bergabung
dengan Program Muhammadiyah-AUSAID untuk 6 pasca Juni 2006, aku lagi lagi harus berjuang meyakinkan semua sahabatku
bahwa aku yang tiba tiba mendapatkan
satu mobil operasional, gaji dan banyak hal lainnya adalah untuk menjadi
penolong mereka 24 jam dengan manajemen terukur. Lagi lagi aku dipersimpangan
untuk menjadi sosok manusia yang menyatakan bahwa “ Aku mau menolong kalian,
kapanpun dengan cara apapun, namun aku bukan Superman yang tidak mungkin kuat
tanpa fasilitas ‘minimalis’ yang menurut kalian mewah ini. Terserah…, toh aku
tidak bertambah kaya dengan menjadi Area Manager Program itu…,bahkan lagi lagi
aku harus bertaruh dengan masa depan dan ‘kehilangan’ kepercayaan dari orang
orang yang kusayangi.

Ya Allah, Ikhlas tidaknya aku melakukan semua ini hanya
Engkau yang Tahu

Ditulis Bareng lagi Ikan Lautnya Gigi dan Musisi jalanan

14
Dec

Pencarian Diri Nietzche

Nietzsche
Pagi ini
aku
kirim SMS ke Eno “ Sahabatku, menurutmu kapan seseorang harus menghentikan
pencarian diri ?” . Tidak ada lima
menit Eno membalas “Ketika dia tidak menemukannya. Karena  semua sudah ada dan tak perlu dicari”.

Aku sengaja kirim
SMS ini setelah aku menyelesaikan Film ”When Nietzsche Wept”. Sebuah Film Berat
( begitu kata mas yg jaga Movie Box) kepadaku. Dan gak ngerti, kemarin dia
menawariku DVD ini apakah karena melihatku berwajah ’pecinta film berat’ atau
malah ’wajah penuh masalah’. Yah.., terima kasih…, paling tidak bisa jadi teman  sepiku akhir pekan ini.

Film ini
menurutku memang sebuah film yang mengajak kita merefleksikan apa yang dinamakan
pencarian diri. Dimana banyak orang yang menurutku tidak berani melakukannya.
Atau lebih tepat, tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya. Biasanya karena
dianggap bahwa pencarian diri ini adalah sesuatu yang mewah, dan hanya menjadi
sebuah ’petualangan’ yang dianggap mahal.

Dalam pandanganku, beruntunglah setiap anak Adam yang berkesempatan
melakukannya. Seperti ketika seorang Ibrahim berkesempatan mendefnisikan ulang
tuhan seperti konsepsi orang orang ditempat dimana dia terlahir.

Dalam Film ini diceritakan bahwa bukunya, Zarathustra,  terlahir dalam kondisi Friedrich Nietzsche  menderita
migrain hebat, yang dalam presepsiku mirip yang di derita
John Forbes Nash, penerima  Nobel Laureate (Economics) mathematician dalam Film Beautiful Mind, penyakit Schizoprenia.

He….., aku jadi inget. Aku sempat merasa curiga dengan diriku menderita penyakit
yang sama. Tapi kemudian aku sadar, aku tidaklah sehebat mereka yang mampu
menyumbangkan pikiran pikiran besar bagi peradaban manusia. Kalaupun aku
mengalami penyakit itu, tidaklah se akut itu. Jauh dari yang mereka rasakan.
Dan tidak perlulah aku menjadi seperti mereka. Aku takut.Terlalu sakit.

Friedrich Nietzsche  ternyata
menderita kesepian yang akut. Dia yang ’berfatwa’ bahwa seseorang untuk menjadi
bebas haruslah tidak berumah, tidak beristri, tidak memiliki anak dan tidak
memiliki kewajiban kiwajiban ternyata malah terbelenggu dengan ’Fatwa’ nya
tersebut. Belenggu ’fatwa’ sendiri itulah yang ternyata menjadi sebab penyakit
migrain hebat yang dia derita.

Filosof yang berfikir bebas ternyata malah
terbelenggu dengan hasil hasil berfikir bebasnya. Seorang Nietzsche menurutku
bukanlah sosok yang terbelenggu karena gengsi bahwa fatwanya itu memiliki
kelemahan. Namun karena dia waktu itu salah, tidak bisa melepaskan diri dari asumsi
relatifitas pemahaman yang dia anut. Padahal  dia sadar bahwa pemahaman yang mapan memiliki
kelemahan kelemahan sehingga dengan sangat tepat (menurutku) dia menyimpulkan
tuhan telah mati dibunuhnya (Tuhan dalam definisi masyarakat dimaan Nietzsche
hidup tentunya, bukan Tuhan hakiki).  Sehingga kemudian dia membangun preposisi
preposisi lain. Dalam prasangka baikku, inilah jalan Nietzsche yang bertafakkur dengan hebat, dan terus berifikir, untuk mencari jalan lurus, kehanifan.

Namun dia lupa, bahwa preposisi yang dia buat dan dia anut itu
seharusnya juga dia pandang sebagai sebuah kerelativitasan. Karena itulah dia,
dalam masa yang diceritakan pada film itu, menderita ’kesepian’ hebat.Dia terpaksa menjalani terapi  untuk mencari diri yang  tersesat itu.Terapi tersebut merupakan rekayasa seorang perempuan Rusia sebagai pengagum sekaligus pendebat fatwa-fatwa Nietzsche. Perempuan cantik itu  yang sempat  membuat Nietzsche  (menurutku) terjebak dalam dilema antara Cinta dan  ‘teori kebebasan’ yang dia ciptakan dan ‘harus’ dia anut.
(Dalam sebuah
ceramahnya Nietzsche sempat berkata ” Women are considered deep - why? Because one can never discover any
bottom to them. Women are not even shallow
”).

Beberapa saat sebelum mengahiri tulisan ini aku
sms Eno lagi. Aku tanya ”Terus bagaimana menghentikan pencarian itu ? ”.
Eno jawab cepat ” dengan tidak
mencarinya lagi”.

Aku jadi teringat kata kata bapakku ketika memergoki aku membaca buku buku Filsafat ketika aku memutuskan untuk sejenak berhenti kuliah Geologiku, beberapa tahun yang lalu.  " Bapak juga pernah….." begitu  kata Beliau, sambil menyiratkan muka senang sekaligus khawatir dengan kadar sama sama berat. (Laki laki terhebat yang kutahu dan yang paling memahamiku..).