Aku
ikut sekitar sembilan Milis komunitas kaum Islam, mahasiswa Islam, atau
Partai dan Ormas Islam. Namun, pagi ini aku menemukan satu
ketidakenakan di sebuah milis, yang isinya orang-orang yang mengaku
Islam dan taat beragama. Milis itu ‘dihuni’ laki-laki dan perempuan.
Mungkin perbandingannya sekitar 70-30 dengan total populasi ( alamat
email) 1050.
Entah
kenapa, di milis tersebut yang rajin posting dari kalangan perempuan
hanya sedikit sekali. Mungkin hanya satu atau dua orang. Bahkan sebulan
ini hanya satu orang perempuan yang rajin ikut posting. Dan kebetulan,
dia berseberangan terus dengan member milis lain, khususnya ketika dia
sedang ‘gemes’ sama aktifitas sebuah Partai Politik berlabel Islam,
yang menurut dia sudah berubah jadi partai para ustadz yang Hipokrit
(yah partai kan buatan manusia mbak.…..jadi yah..maklum saja kalau
kadang-kadang terkena godaan Syetan…godaaan duit….repotnya kita kadang
lebih toleran sama partai yang jelas-jelas partai preman…jadi lebih
jujur kalau berbuat maksiat dan lebih ‘gak muna’).
Mbak yang satu ini juga rajin posting wacana-wacana yang bertema besar kesetaraan Gender. Dia kampanye tentang tidak pentingnya
seseorang untuk berpoligami, karena bagi dia Rasulullah SAW saja lebih
lama bermonogami dari pada berpoligami, Poligami kadang jadi punya
target politis dan sebagainya….. ( Buya HAMKA juga cukup emosional
memandang praktek Poligami….., bahkan sampai ‘bermusuhan’ dengan
Ayahnya yang dianggapnya ‘menjajah’ perasaan ibundanya dengan
berpoligami. Tapi Buya HAMKA tidak mengusik hukum kebolehan poligami
yang kadang mau digugat Embak yg satu ini).
Nah..
sepertinya.. ungkapan ungkapan embak yang satu ini dianggap tidak biasa
oleh kalangan milis. Pertama, karena tema yang diangkat tidak biasa dan
seperti menyerang ‘kemapanan’ kajian di milis, dan yang kedua banyak
yang tidak tahan lagi ketika si Embak menyerang dengan cukup gigih ttg
pelaku poligami, ttg Partai Dakwah dan sebagainya.
Pagi
ini, akhirnya para laki-laki yang mengaku alim itu kelihatan aslinya.
Setelah tidak mampu membungkam si Embak dengan debat-debat rasional dan
logis akhirnya kelaki-lakiannya muncul. Si embak di pojokkan dengan
pembunuhan karakter. Muncul posting posting layaknya para laki-laki di
perempatan jalan ketika perempuan coba mengutarakan pendapatnya.
Tepatnya, ketika ada seseorang memposting ttg penolakan Sumsel untuk menjadi ajang Miss Indonesia….terus para laki-laki memposting tanggapan –tanggapan yang menurutku kampungan :
Tanggapan Pertama :
Dananya bisa dialihkan untuk mencerdaskan kaum feminis. itu baru ok.
salam,
Tanggapan Kedua:
Wah, maksudnya apa nih, pak XXX? Emang kaum feminis itu kurang
cerdas? Hati2 lho, ada feminis di milis ini ;))
Wassalam,
Tanggapan Ketiga :
Wah,
maksudnya apa nih, pak YYY? Emang kaum feminis itu kurang kerjaan?
Emang apa sih makna feminis bagi loe, emang feminis itu bermakna
tunggal? Hati2 lho, (mungkin) ada pria feminis di milis ini ;))
Tabik,
Tanggapan Keempat:
Siapa bilang kaum feminis kurang kerjaan sehingga ngurus Partai ZZZ terus?
hehehehe
Sepertinya
beginilah nasib para perempuan di milis yang didominasi laki-laki.
Dimana dia yang mencoba bersuara dan berargumen sesuai dengan kemampuan
dia, ketika perempuan itu memenangkan perdebatan akhirnya para laki-laki ‘kampungan’ itu menggunakan ‘kata-kata’ pembunuhan karakter dengan :
Dananya bisa dialihkan untuk mencerdaskan kaum feminis (ini pelecehan thd kapasitas intelektual sang Feminis tentunya).
Emang kaum feminis itu kurang cerdas? (Ini juga pelecehan thd kapasitas intelektual)
Hati2 lho, ada feminis di milis ini ;)) (Coba…seakan Feminis sama derajatnya dengan Anjing Galak..)
Emang kaum feminis itu kurang kerjaan? ( Ini pelecehan.. seakan isu Feminisme itu isu yang tidak berguna)
Hati2 lho, (mungkin) ada pria feminis di milis ini ;)) (
Ini juga pelecehan, lagi-lagi sepertinya pria yang feminis itu
sederajat dengan anjing galak….dan juga laki-laki feminis itu seperti
berbeda dengan laki-laki tidak feminis).
Sangat
disayangkan, milis kaum yang mengaku Shalih dan Ahli Ibadah itu
ternyata dihuni laki-laki yang tidak bisa meneladani teladan Rasulullah
SAW dalam memperlakukan perempuan. Apakah pernah Rasulullah memilih
diksi yang menyakitkan dan berpotensi membunuh karakter seperti itu…?
Kalau seandainya Rasulullah Muhammad SAW pernah, tentunya tidak mungkin
akan ada periwayat Hadis yang begitu cerdas dan terpercaya, yaitu
Aisyah.
Ketika
sebagian aktifis Islam sedang bekerja keras membangun etika cyber
dengan menggunakan Islam sebagai landasan, modal social dan juga basis
wacana dan komunitas, ternyata harus dicoreng para laki-laki yang bodoh
dan kampungan seperti ini. Islam gak akan maju kalau para laki-lakinya
tidak menjaga kata-katanya ketika berhadapan dengan para perempuan.
—–
Catatan
: saya sebenarnya juga berbeda pendapat tajam dengan wacana feminisme
si Embak itu,..juga tentang pandangannya thd ‘realitas’ Partai Dakwah
yang emosional banget kayaknya…..tapi kayaknya hari ini aku harus
bersimpati dengan si Embak ( dan suaminya yang sabar banget), karena
masih sabar dan terus konsisten memperjuangkan apa yang dia yakini dan
apa yang dianggapnya benar. Apalagi dia masih konsisten mendakwahi para
laki-laki di milis ‘orang shalih’ itu untuk menyadari bahwa Islam itu
diturunkan untuk laki-laki dan perempuan, dan dihadapan Allah laki-laki
dan perempuan sama derajatnya tergantung amalannya dia. Terus berjuang
mbak…..!