Archive for January, 2008

28
Jan

Setrum Tapa Tunggu datang Sedikit Lambat

Spiralclock
Laki-laki
itu pernah ‘berprestasi’ jadi pejuang yang cukup heroik untuk
mendapatkan hati seorang perempuan pujaannya. Beberapa kawan bahkan
memberinya predikat pejuang sejati. Tapi apapun predikatnya, tetep saja
dia menjadi sosok yang gagal mendapatkan perempuan pujaannya, karena
kemudian kenyataannya perempuannya menikah dengan orang lain.

Laki-laki
itu pernah ‘berprestasi’ menjadi laki-laki yang ‘dilamar’ seorang
karibnya yang sangat baik. Cantik dan Shalihah. Namun sayang, lamaran
ini datang pada waktu yang tidak tepat. Dia belum siap menikah dan kemudian karibnya yang dia sangat sayangi itu menikah dengan orang lain.    

Dia
pernah berjuang meyakinkan seorang perempuan yang kemudian mengisi
hatinya. Dia yakin sekali bahwa inilah sosok yang dia akan pilih,
walaupun belum pernah bertemu. Dan inilah sosok cantik yang dia katakan
akan menjadi perempuan tercantik dalam hidupnya. Kali ini dia gagal
meyakinkan perempuannya…..

Laki-laki ini kemudian berfikir, dia masih yakin bahwa dalam hidup ini pasti ada ’jatah’
perempuan Cantik-Shalihah yang akan menjadi bagian hidupnya. Dan dia
kali ini memilih bersabar untuk menanyakan lagi kepada hatinya,
sesungguhnya mana perempuan cantik-shalihah yang akan menjadi bagian
dari hidupnya. Dan sama dengan banyak laki-laki dimana-mana, dia
bingung untuk menentukan perempuan Cantik-Shalihah mana yang harus dia
yakinkan kemudian.   

Laki-laki
ini punya kriteria yang konon berstandar tinggi. Ini kata teman
–temannya. Padahal laki-laki ini hanya mencari kriteria perempuan
Cantik-Shalihah yang nyambung saja dengan hidupnya. Jadi, dia masih
tidak mengerti darimana kriteria tinggi itu dipandang teman-temannya.
Padahal kriteria nyambung yang diartikan laki-laki itu adalah sekedar
nyambung dalam obrolan tentang Film, obrolan tentang Naik Gunung, dan
obrolan tentang Novel-Novel. Itu saja…..gak ribet kan…?

Akhirnya laki-laki itu memilih untuk menunggu ’setrum’ menghampiri dia. Dia  memilih pasif dan memilih ’tapa tunggu’. Tentu saja ’tapa tunggu’ untuk setrum Cantik-Shalihah yang nyambung dengan Film, Novel dan Gunungnya. Dan
dia yakin… Tuhan mengijinkan dia mengidealkan sosok
Cantik-Shalihah-Film-Novel dan Gunungnya itu berarti Tuhan akan
mengirimkannya cepat atau ’sedikit’ lambat (he..he..laki-laki itu tidak
mau menggunakan kata lambat, dia lebih senang menggunakan kata-kata
’sedikit’ lambat…).

25
Jan

Penindasan Perempuan di Milis Orang Alim

Aku
ikut sekitar sembilan Milis komunitas kaum Islam, mahasiswa Islam, atau
Partai dan Ormas Islam. Namun, pagi ini aku menemukan satu
ketidakenakan di sebuah milis, yang isinya orang-orang yang mengaku
Islam dan taat beragama. Milis itu ‘dihuni’ laki-laki dan perempuan.
Mungkin perbandingannya sekitar 70-30 dengan total populasi ( alamat
email) 1050.
   

Entah
kenapa, di milis tersebut yang rajin posting dari kalangan perempuan
hanya sedikit sekali. Mungkin hanya satu atau dua orang. Bahkan sebulan
ini hanya satu orang perempuan yang rajin ikut posting. Dan kebetulan,
dia berseberangan terus dengan member milis lain, khususnya ketika dia
sedang ‘gemes’ sama aktifitas sebuah Partai Politik berlabel Islam,
yang menurut dia sudah berubah jadi partai para ustadz yang Hipokrit
(yah partai kan buatan manusia mbak.…..jadi yah..maklum saja kalau
kadang-kadang terkena godaan Syetan…godaaan duit….repotnya kita kadang
lebih toleran sama partai yang jelas-jelas partai preman…jadi lebih
jujur kalau berbuat maksiat dan lebih ‘gak muna’).

Mbak yang satu ini juga rajin posting wacana-wacana yang bertema besar kesetaraan Gender. Dia kampanye tentang tidak pentingnya
seseorang untuk berpoligami, karena bagi dia Rasulullah SAW saja lebih
lama bermonogami dari pada berpoligami, Poligami kadang jadi punya
target politis dan sebagainya….. ( Buya HAMKA juga cukup emosional
memandang praktek Poligami….., bahkan sampai ‘bermusuhan’ dengan
Ayahnya yang dianggapnya ‘menjajah’ perasaan ibundanya dengan
berpoligami. Tapi Buya HAMKA tidak mengusik hukum kebolehan poligami
yang kadang mau digugat Embak yg satu ini).
   

Nah..
sepertinya.. ungkapan ungkapan embak yang satu ini dianggap tidak biasa
oleh kalangan milis. Pertama, karena tema yang diangkat tidak biasa dan
seperti menyerang ‘kemapanan’ kajian di milis, dan yang kedua banyak
yang tidak tahan lagi ketika si Embak menyerang dengan cukup gigih ttg
pelaku poligami, ttg Partai Dakwah dan sebagainya.
   

Pagi
ini, akhirnya para laki-laki yang mengaku alim itu kelihatan aslinya.
Setelah tidak mampu membungkam si Embak dengan debat-debat rasional dan
logis akhirnya kelaki-lakiannya muncul. Si embak di pojokkan dengan
pembunuhan karakter. Muncul posting posting layaknya para laki-laki di
perempatan jalan ketika perempuan coba mengutarakan pendapatnya.

Tepatnya, ketika ada seseorang memposting ttg penolakan Sumsel untuk menjadi ajang Miss Indonesia….terus para laki-laki memposting tanggapan –tanggapan yang menurutku kampungan :       

 Tanggapan Pertama :
Dananya bisa dialihkan untuk mencerdaskan kaum feminis. itu baru ok.
salam,

Tanggapan Kedua:
Wah, maksudnya apa nih, pak XXX? Emang kaum feminis itu kurang
cerdas? Hati2 lho, ada feminis di milis ini ;))
Wassalam,

Tanggapan Ketiga :
Wah,
maksudnya apa nih, pak YYY? Emang kaum feminis itu kurang kerjaan?
Emang apa sih makna feminis bagi loe, emang feminis itu bermakna
tunggal? Hati2 lho, (mungkin) ada pria feminis di milis ini ;))
Tabik,

Tanggapan Keempat:
Siapa bilang kaum feminis kurang kerjaan sehingga ngurus Partai ZZZ  terus?
hehehehe

 

Sepertinya
beginilah nasib para perempuan di milis yang didominasi laki-laki.
Dimana dia yang mencoba bersuara dan berargumen sesuai dengan kemampuan
dia, ketika perempuan itu  memenangkan perdebatan akhirnya para laki-laki ‘kampungan’ itu menggunakan ‘kata-kata’ pembunuhan karakter dengan :

 

Dananya bisa dialihkan untuk mencerdaskan kaum feminis (ini pelecehan thd kapasitas intelektual sang Feminis tentunya).

 

Emang kaum feminis itu kurang cerdas? (Ini juga pelecehan thd kapasitas  intelektual)

 

Hati2 lho, ada feminis di milis ini ;)) (Coba…seakan Feminis sama derajatnya dengan Anjing Galak..)

 

Emang kaum feminis itu kurang kerjaan?  ( Ini pelecehan.. seakan isu Feminisme itu isu yang tidak berguna)

 

Hati2 lho, (mungkin) ada pria feminis di milis ini ;))  (
Ini juga pelecehan, lagi-lagi sepertinya pria yang feminis itu
sederajat dengan anjing galak….dan juga laki-laki feminis itu seperti
berbeda dengan laki-laki tidak feminis).

 

Sangat
disayangkan, milis kaum yang mengaku Shalih dan Ahli Ibadah itu
ternyata dihuni laki-laki yang tidak bisa meneladani teladan Rasulullah
SAW dalam memperlakukan perempuan. Apakah pernah Rasulullah memilih
diksi yang menyakitkan dan berpotensi membunuh karakter seperti itu…?
Kalau seandainya Rasulullah Muhammad SAW pernah, tentunya tidak mungkin
akan ada periwayat Hadis yang begitu cerdas dan terpercaya, yaitu
Aisyah.

Ketika
sebagian aktifis Islam sedang bekerja keras membangun etika cyber
dengan menggunakan Islam sebagai landasan, modal social dan juga basis
wacana dan komunitas, ternyata harus dicoreng para laki-laki yang bodoh
dan kampungan seperti ini. Islam gak akan maju kalau para laki-lakinya
tidak menjaga kata-katanya ketika berhadapan dengan para perempuan.
—–

Catatan
: saya sebenarnya juga berbeda pendapat tajam dengan wacana feminisme
si Embak itu,..juga tentang pandangannya thd ‘realitas’ Partai Dakwah
yang emosional banget kayaknya…..tapi kayaknya hari ini aku harus
bersimpati dengan si Embak ( dan suaminya yang sabar banget), karena
masih sabar dan terus konsisten memperjuangkan apa yang dia yakini dan
apa yang dianggapnya benar. Apalagi dia masih konsisten mendakwahi para
laki-laki di milis ‘orang shalih’ itu untuk menyadari bahwa Islam itu
diturunkan untuk laki-laki dan perempuan, dan dihadapan Allah laki-laki
dan perempuan sama derajatnya tergantung amalannya dia. Terus berjuang
mbak…..!

    

20
Jan

Cerucut-Cerucut Pengecut

Pernah
ngerasa sendiri..? Ketika dalam kondisi krisis dan darurat kita tiba tiba
ngerasa sendiri…. Orang-orang disekeliling kita tiba-tiba memilih menyingkir
dan yang paling menyakitkan adalah memandang kita yang ‘terjepit’ dengan belas
kasihan. Seakan mereka ingin mengatakan “ Kamu hebat, kamu pahlawan.. tapi
kalau aku ikut kamu..berarti aku bodoh….”

Bersyukurlah
menjadi orang yang mau terus mengikuti apa kata nurani, yang sering
diterjemahkan orang lain menjadi : Egois. Berbahagaialah menjadi orang yang terus menjaga komitmen, yang sering
dikatakan orang dengan kata : konyol. Berbahagialah menjadi orang terakhir
ketika cerucut-cerucut pengecut meninggalkanmu begitu saja.

Kadang
orang menyanjungmu dengan kata-kata untuk memggembirakanmu “ kamu kelak akan menjadi
orang besar…..” ketika dia meninggalkanmu dalam lorong idealisme sepi yang akan
terus semakin sepi. Sementara kamu masih terus memilih untuk menjaga kehormatan
yang hanya akan difahami orang-orang yang bukan bermental cerucut,
cerucut-cerucut itu meningalkan kamu dengan alasan bahwa mimpi-mimpi perubahan
itu baginya sudah berlalu seiring dengan pelukan istri mereka yang manja dan
membutakan nuraninya.

Kamu
akan terus disanjung, ketika kamu akan menjadi manusia berhasil..apalagi
berhasil melalui krisis yang luar biasa. Namun bersiaplah kamu melalui krisis itu
dengan sepi, karena cerucut-cerucut itu memilih untuk tidak mendekat ke kamu. Mereka
takut bertemu kamu, karena kamu yang menjadi masa lalu mereka seperti membawa
cermin dan memantulkan wajah mereka yang berubah menjadi cerucut yang pengecut.

Padahal
kamu sudah kebal dengan ejekan tentang ide-ide sepi kamu, dan komitmen-komitmen
setia kamu yang dianggap konyol dari musuh-musuh kamu. Kamu hanya tidak kuat
untuk marah, mengumpat bahkan ingin membakar atau  menikam karena  mereka  bekas-bekas temanmu yang berubah jadi
cerucut-cerucut pengecut dengan meninggalkanmu dalam sepi dan berkata : “Kasihan
Kamu….” Seakan kata –kata itu dianggap mereka bisa merubah muka cerucut mereka
untuk sekedar jadi primata…? Tidak akan.! Kalian cerucut tetaplah cerucut, jadi primatapun  tidak…

Tapi,..maklumi
saja. Mereka jadi cerucut karena memang tidak terlahir dari manusia-manusia
hebat seperti orang tua kamu. Orang tua kamu mengerti benar bagaimana mendidik
seorang yang bukan sekedar ‘seekor’ cerucut. Jadi berbanggalah, ketika orang
tua kamu masih terus bercerita kepada teman-teman mereka bahwa kamu adalah
sosok manusia besar, pejuang yang berhasil tidak jadi cerucut. Karena mereka
mengerti benar apa yang dimasukkan ke kepala kamu, apa itu kebenaran, apa itu
idealisme. Dan Apa yang dibisikkan ketelinga kamu sedetik setelah kelahiran kamu.

Kebanggaan orang tuamu adalah kejujuran, dan tidak perlu merasa
sepi karena bersamamu masih ada do’a-do’a bapakmu yang setiap malam shalat
malam dan puasa senin kamis, dan peluk cium ibumu ketika menyambutmu pulang
dan selalu siap mendengar cerita-cerita tentang ide-idemu, mimpi-mimpimu dan umpatan-umpatanmu kepada cerucut-cerucut itu. Dan mereka sampai kapanpun
akan mengatakan: Anakku yang hebat, anakku yang bukan Cerucut….!

15
Jan

Ternyata Motret di 21 itu Bisa !

21b
Ternyata motret di 21 itu boleh.., asal gak ketahuan he..he… 

Malam ini kami harus  ditegur
keamanan untuk kedua kalinya setelah siang tadi tertangkap polisi
karena gak bawa STNK. Setelah kami nekat jeprat-jepret, akhirnya
keamanan pun muncul ‘menertibkan’ kami.

Malam
ini kami berempat (Aku, Machendra, Putra, ‘plus Gindah) memutuskan
untuk menikmati My Wife is Gangster 3. Film ini menurutku keren….,
karakter pemain pemainnya jadi dan bisa menghidupkan cerita
komedi-drama yang dilengkapi adegan laga layaknya film gangster
mandarin. Em…, mungkin bagi penggemar Film film  Stephen Chow (nulisnya bener gak sih)  bisa menemukan film yang cocok. Dan bagi penggemar My Wife is Gangster 1 dan 2, Sekuel ini cukup memuaskanlah.   

Film ini menurutku berhasil mengocok perut penonton.
Sejak detik awal hingga akhir, seakan penonton diajak terus tertawa dan
bersiap untuk terus tertawa. Memang, ceritanya Klise… tentang seorang
perempuan jagoan yang akhirnya ‘menyerahkan hatinya’  kepada
seorang preman kelas teri yang sangat perhatian ( Wahai.. para
perempuan… benarkah rumusnya selalu begitu…?). Kelucuannyapun
sebenarnya juga menggunakan ide ide lama dalam film film baik Hollywood
maupun Asia21_1

Kelucuan yang tidak berhenti sejak awal hingga akhir
ya adegan bagaimana miskomunikasi karena perbedaan bahasa (Ceritanya
ada seorang perempuan anak Bos Gangster Hongkong yang berbahasa Cina,
memiliki body guard para preman kelas teri yang berbahasa

Korea).Apalagi ada seorang penerjemah perempuan yang hampir selalu menerjemahkan sesuai dengan kepentingan dirinya.

Mungkin
memang menjadi rumus sebuah Film Komedi, Kekonyolan, Kebodohan akan
menjadi rumus umum sebuah Komedi yang akan mudah difahami sebagai
komedi universal. Dan juga cerita kekonyolan laki laki yang ‘harus’
merasa hero di depan perempuan, yang bagaimana beratnya seorang laki
laki harus mengakui kehebatan seorang perempuan. Sengaja atau tidak,
ada satu scene yang menyerang budaya patriakhi ketika ada penyataan anak buah bos preman kelas teri kepada perempuan penerjemah  di
awal film “ Di Rumah ini ada dua perempuan sehat, pantaskah aku harus
memasak ?” . Namun dia khir Film si preman itu malah menjadi pelayan ‘perempuan gangster’ dan ‘perempuan penerjemah’.

Benarkah
ketika seorang laki laki kalah dengan perempuan itu sebuah kelucuan ?
(Anehnya aku merasa iya…). Atau kelucuan itu timbul ketika ada fenomena
laki laki yang terus ‘jaim’ dihadapan perempuan yang sudah benar benar
telah mengalahkannya ? ( jujur..ini juga sangat lucu). Jadi,.. benarkah
laki laki adalah obyek sebuah kelucuan…? (kalau ini sepertinya…..)

Yang jelas, jalan jalan malam ini cukup memuaskan. Apalagi ada pengalaman yang mungkin hanya akan terjadi malam ini. Nonton Film di Bioskop dengan cemilan : Jagung Rebus. (Bukan karena Popcorn Mahal…., tapi demi menyelamatkan oleh-oleh yang dibawa Gindah ke ruang Website malam ini…)

14
Jan

Souvenir Terakhir untuk Muhammadiyah

Insya Allah, keterlibatanku di admin website Muhammadiyah
adalah souvenir terakhirku untuk Muhammadiyah. Sebuah organisasi, gerakan Islam
yang telah memberikesempatan padaku untuk berinteraksi, belajar, beramal dan
juga menggali berbagai pengalaman. Semua bisa dikatakan indah, keren dan
menjadi hal yang aku yakin akan tidak pernah terlupa.

Masa enam bulan ke depan (atau bisa jadi  kurang dari itu)adalah hari hari terakhirku
bersama Persyarikatan yang didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Disinilah ada
sosok Amien Rais, Syafi’i Ma’arif, Din Syamsuddin yang Alhamdulillah aku bisa
sekedar mengenal mereka, walau tidak semua dari mereka mengenalku. Disini ada
banyak orang cerdas, orang muda, orang pintar yang dalam keseharianku telah
mengukir cerita yang tidak sedikit. Kadang mungkin debat, kadang bisa jadi
berbeda pendapat, bahkan hingga bersitegang. Namun, hal yang tak mungkin
terlupa adalah ketika kami berdiskusi bersama, mencari Tuhan bersama, dan terus
berdialog dengan keresahan demi keresahan yang kami rasakan. Aku yakin, nanti
pasti akan menjadi sesuatu yang akan membuatku kangen.

Dalam
perenunganku, aku memang harus meninggalkan komunitas ini. Aku harus menuju
perjalanan hidupku selanjutnya ”Toh aku sudah meninggalkan Souvenir cukup
berkesan untuk Muhammadiyah” kataku meyakinkan diriku sendiri.

Bukan karena
organisasi ini ada masalah. Atau bukan karena organisasi ini telah membuatku
kecewa berkepanjangan. Namun, feelingku berkata, keterlibatanku di organisasi
ini selanjutnya hanya akan membebani organisasi ini selanjutnya. Aku harus
terus terbang, dan tidak dengan berbaju organisasi ini. Aku harus melanjutkan
perjalanan, dan tidak dengan membawa organisasi ini.

Feelingku
mengatakan, masa produktifku di organisasi ini sudah habis. Bila kupertahankan,
hanya akan membuat coretan coretan buruk di organisasi ini dan juga dengan diriku
sendiri. Karena ternyata setiap orang sebenarnya mengerti kapan dia harus
berhenti, dan bila dia mengabaikan feeling itu, dia hanya akan menjadi manusia
manusia yang terperangkap dengan egoismenya.

Kepada semua
teman temanku di website Muhammadiyah, ma’af…., semoga 6 bulan ke depan
menjadi saat dimana kita bisa mengukir sejarah manis sebelum kita berpisah.

08
Jan

Kita Sama Sama Mencari Tuhan, Sayang…

Kita terlahir dalam sebuah kesempurnaan, namun kesempurnaan
yang tidak kekal. Bayi yang terlahir putih dan kemudian ‘terwarnai’ oleh orang
tuanya yang kita tidak bisa memilih itu masih menyimpan memori kesucian janji
dengan Tuhan-nya. Kesucianpun mengalir dari air susu ibu, siapapun dan bagaimananpun
 ibu itu. Kesucian dan kesempurnaan masih
menjadi milik kita , hingga kita kemudian mengenal apa yang kita sebut dosa.

Dosa kata Al Ghazali seperti noda dalam cermin putih sebagai
metafora hati. Semakin banyak melakukan dosa, berarti semakin menutup cermin
yang kemudian sulit kita harapkan bisa memantulkan cahaya. Sulit merefleksikan
kejujuran, dan sulit membuat kita sadar bahwa kita sosok sosok yang sombong. “Bukankah
Iblis masuk neraka karena sombong….? Padahal dia jelas jelas mengakui dan
meyaksikan adanya Tuhan” nasehat seorang ibu kepada  anaknya. “ Ingat bukan karena tidak mengakui
adanya Tuhan, Iblis terlaknat ‘hanya’ karena dia mengingkari sebuah perintah
saja, bahkan tidak ada cerita Iblis menyekutukan Tuhan” tegas ibu baik itu
kepada anak laki lakinya ketika menjenguknya di tahanan polisi. “Sholat…, Jaga
Sholatmu “ bapaknya melanjutkan singkat.

Kita harusnya tersadar, bahwa Iblis bahkan sudah ‘melihat’
Tuhan, sedangkan kita masih mencari Tuhan. Kita masih terus meraba fitrah hidup
kita, kita terus mencari tahu apakah yg harus dilakukan untuk mendekati fitrah
diri kita.

Sayang,….bukan keadaan saat ini yang menjadi sangat penting.
Kita bisa saja saat ini sama sama menjadi sosok ‘rapuh’ di hadapan Tuhan, atau
bahkan Tuhan sudah sangat bermurah sehingga mau menghadapi kita. Mari kita
terus saling mengingatkan, saling mendukung agar Tuhan tersenyum kepada kita.
Karena bagiku, hanya ‘senyum’ Tuhan yang bisa membuat kita nyaman untuk terus
hidup. Untuk terus mengisi bolong bolong
kebodohan, dan sedikit demi sedikit menghapus noda noda yang terlanjur menutupi
sebagian bahkan mungkin sebagian besar hati kita.

Aku yakin, Tuhan akan tersenyum pada hamba-Nya yang terus
mencari-Nya. Mencari dengan cara menjadikan dunia damai, dan berawal dari rumah
kita. Aku tidak akan menyeret hidup ini ke dunia fatalis, walaupun mungkin aku
sekarang berawal dari keadaan itu. Aku tidak akan membuat hidup kita membuat tetangga kita ketakutan, hanya
karena kita merasa paling disayang Tuhan. Aku tidak akan membuat rizki kita tidak mampu menyantuni kanan kiri kita. Tapi,.. aku ingin mengejarnya
bersamamu Sayang…..

(Pamit TIdak Nge
Blognya.. mundur.., jadi hari ini…)

07
Jan

Menghadapi Kematian Sendiri

Pernah terfikir bagaimana rasanya mengerti dirinya akan mati
namun masih tetap bisa optimis ? Mungkin tidak banyak yang berkesempatan
mengalaminya, banyak yang menghadapi kematian dengan mendadak seperti
kecelakaan lalu lintas, banyak yang menghadaoi kematian dengan ketidak relaan,
banyak pula yang menghadapi kematian dengan ketakutan.

Kalau sekedar ‘bercerai’ dengan pasangan hidupnya mungkin
hanya sebuah ‘kematian’ kecil, yang itu saja banyak yang melalui dengan
emosional, ketakutan akan masa depan dan ketidak relaan. Kalau sekedar
menghadapi masa ‘pemecatan’ dari pekerjaan, itu juga banyak yang menghadapinya
dengan emosional dan perusakan diri. Dan banyak pula orang yang menghadapi ‘kematian – kematian kecil’ dengan perilaku ‘anti
produktif’ dan ‘perusakan diri’. Sehingga bisa saja terjadi efek karambol
sebuah ‘kematian kecil’ yang menyebabkan ‘kematian kecil’ lainnya terjadi.

Hadapi saja… ! Kata Iwan Fals

Hadapi kematian dengan tetap semangat, berfikir positif,
tidak sombong dan tetap bertasbih, apalagi bila tetap masih bisa menyemangati
orang lain, berguna bagi orang lain walaupun sejarah akan menyebutmu sebagai “Pahlawan
Konyol”.

Ternyata paling sulit itu adalah : Mati dengan tidak Sombong

( Ma’af.. pamit tidak nge blog untuk sementara……..)

Mampir di blog ku yg lain deh: "18 Interaksi Sains, Islam dan Kemanusiaan"

06
Jan

Untuk Sahabat Hebat yg Merasa Kalah

Dscn0008_1
Pagi ini seorang sahabat kirim sms “ Gak rela mas..
ketenangan selama ini yg kubangun terusik kedatangannya “.

Hem.. aku langsung connect. Sahabatku ini sedang dalam
depresi. Dia merasa selama ini selalu terancam oleh seseorang yang dianggapnya
membuat catatan hitam dalam hidupnya. Yah.. semacam relasi yang pernah sambung
dan kemudian gagal… begitulah kira kira.

Pernah ada teman mengatakan bahwa seseorang yang selalu
khawatir dan terancam itu adalah mental mental orang orang kalah. Juga dendam
yang lama menjadi bagian hidupnya. Orang kalah pada dasarnya adalah orang orang
yang tidak bisa memaa’fkan dirinya, dan dia selalu menganggap dirinya bodoh di
masa lalu.

Memang, kesalahan harus diakui sebagai sebuah kesalahan.
Kekalahanpun ( seandainya mau dimaknai begitu) juga harus diakui sebagai sebuah kekalahan. Namun, tidaklah perlu
kemudian kesalahan dan kekalahan yang terjadi dalam suatu waktu itu harus
menjadi hantu sepanjang hidupnya. Hidup terlalu singkat kalau hanya untuk
selalu meratapi kesahalan dan kekalahannya. Waktu yang disediakan untuk
mempersiapkan ‘kematian’ tidaklah cukup hanya untuk menuruti maksud hati yang
selalu ingin membuai diri dengan mengasihani diri, mendendam dan menolak
kenyataan.

Impian dan keinginan ketika menempuh jalan dan menghadapi kenyataan
memang sering  mengalami reduksi reduksi.
Bahkah,tanpa sadar kita mendendam pada seseorang dengan cara merusak diri kita.
Kita terus terbelenggu dengan masa lalu, kita seakan terus menjadi hamba masa
lalu, kita selalu ingin menjadikan masa lalu sebagai pembenaran kehancuran kita
saat ini.

Kalau memang kita menjadi sosok seperti itu, janganlah
berharap kita menjadi pemimpin, presiden atau sekedar ketua RT di komunitas
kita. Atau bagi teman teman perempuan, tidaklah adil seorang anak terlahir dan
dirawat seorang ibu yang selalu merusak diri, traumatis dan mendendam karena
selalu terbelenggu masa lalu. M’afkanlah masa lalu, jangan mendendam masa lalu.
Karena kata seseorang pemain di Film “Tentang
Dia” ( dah lupa gy ngomong siapa…. Sory..) :

"Masa lalu itu
tidak untuk dimusuhi, atau ditinggal lari. Karen a walaupun kita bisa berlari meninggalkan
masa lalu, namun tidak ada jaminan masa lalu akan meninggalkan kita"
( He..he..
kayaknya gak persis gitu deh..).

Oke…, untuk sahabatku yang semua orang mengatakan kamu
Hebat, jangan terus bersedih dan terus membelenggu masa lalu. Menyesali
kejadian yang sudah lewat, mengakui kesalahan dan mengakui kekalahan ( kalaupun
kamu merasa begitu…. Walaupun menurutku tidak…) hanya akan merusak diri dan
menjauhkan dirimu dari Tuhan-Mu.

Memang, kita tidak sempurna. Namun dengan ketidaksempurnaan
inilah maka Tuhan itu ada. Orang yang merasa dirinya tidak sempurna,
seharusnyalah mengejar kesempurnaan dengan mengingat Tuhan. Dan seseorang yang
merasa dirinya sempurna, segeralah bertobat karena kesempurnaan hany a milik
Tuhan. 

Jangan bersedih Sahabat…, ma’afkan dirimu dan masa lalumu.
Coba kamu hampiri anak anak jalanan, banci banci di perempatan atau sejenak
kamu bisa melihat bagaimana saudara saudara kita yang harus menanggung penyakit
‘tak tersembuhkan’. Mereka mungkin jauh lebih tidak beruntung disbanding kamu.
Dan seandainya memang mendendam itu dibolehkan, akankah mereka harus mendendam
kepada Tuhan ?

(Ditulis..untuk menasehati diri…., dan juga seorang sahabat
baik yang masih belum bisa mema’afkan masa lalunya….., makasih…pagi ini
kamu
berhasil membuatku berfikir dan juga tersadar tentang banyak hal….,
sayang… aku sering menjadi sosok tersadar yang tetap bebal…)

—-

Mampir di blog ku yg lain deh: "18 Interaksi Sains, Islam dan Kemanusiaan"

04
Jan

“Ibumu Tidak Mungkin Sepintar Kamu Le..!”

   

Seorang teman yang bekerja sebagai Supervisor  sebuah
program tanggap bencana untuk sebuah lembaga Zakat nasional pernah
mengeluh, ketika dia harus membatalkan janji dengan anaknya untuk
liburan akhir pekan. Waktu itu, ada kewajiban darurat ketika ternyata
harus melakukan koordinasi karena lembaganya harus melakukan fundrising
untuk penanggulangan bencana banjir di beberapa
daerah di pulan jawa baru baru ini ( dan sekarang masih terjadi). Bapak
satu anak itu bercerita kepadaku via yahoo messenger bahwa kali
ini dia harus mengingkari janji dengan anaknya untuk yang ketiga
kalinya. “ Aku hanya berharap, Istriku bisa membuat anakku mengerti
resiko ini, toh kami kenal juga di Aceh waktu itu…” ceritanya. (Aku
berfikir….bagaimana Istrinya bisa membuat anaknya mengerti….anaknya
saja baru berumur 3 tahun…)

 

Baginya, katanya  dia
sangat mengeti rasanya ditinggal bapaknya dulu ketika dia membutuhkan
bapaknya. “Aku ingat waktu itu, ada pembagian raport di sekolah.. bapak
ibuku tidak ada yang bisa mengambilkan Raport….., aku menangis walaupun
aku selalu mendapat hadiah karena rangking satu di sekolahkan..” cerita
bapak muda yang usianya lebih muda dariku itu. “He..he…, jadi pas kecil
aku sempat merasa gak ada gunanya.. menjadi juara kelas…., karena tidak
pernah bisa melihat bapakku yang menerimanya…” kisahnya . “Sampai aku
SMA aku juara  terus.., tapi belum pernah sekalipun bapakku yang guru
SD itu sempat mengambilkan rapotku…”.  

 

Hem…..,
mungkin kadang memang repot menjadi bapak dari seorang anak. Pengalaman
anak ketika kecil tentang bapaknya ternyata sangat sensitif bagi
anaknya. Dan setiap anak kadang ketika menjadi bapak berjanji pada diri
(dan mungkin juga kepada anaknya) untuk tidak mengulangi apa yang
terjadi pada dirinya dulu. Namun, apa daya.. bagi temanku itu .. (Konon dia sedang belajar dengan temannya bagaimana mensiasati ritme kerja  yang memungkinkan dia untuk tidak banyak punya hari libur..….)

 

Teringat
juga seorang teman ( sebenarnya kakak kelas jauh..) di SMA dulu. Dia
hidup berkecukupan, bahkan berlebih menurutku. Namun ketika aku terus
mengenalnya, ternyata dia memiliki trauma masa kecil juga. Dia seperti
membenci bapaknya, bahkan hingga kini. Dia hanya selalu mengingat
bagaimana bapaknya yang bertugas di kedutaan besar meninggalkan dia dan
ibunya, dan dia seperti protes kalau dia kehilangan moment
bersama dengan bapaknya ( padahal ibunya yg tidak mau diajak pindah ke
Amerika saat itu, bukankarena sang bapak yang ingin meninggalkan
mereka).

 

Mungkin dalam kasus yang berbeda,
aku teringat cerita seorang teman perempuan yang bercerai dengan
suaminya beberapa saat ketika dia mau melahirkan, padahal dia harus
menyelesaikan studi ‘profesi dokter’ nya yang masih cukup panjang
(Selepas SMA di amenikah). Sehingga setelah cukup besar anaknya
memanggilnya dengan panggilan ‘Mbak’ karena sejak kecil di titipkan
pada ibunya di kota asalnya. Gak ngerti bagaimana rasanya sang anak
nanti ketika dewasa,..

 

Namun, tidak
sedikit cerita sukses bagaimana sebuah keluarga yang mengalami moment
moment ‘terpisah’ anaknya bisa tumbuh normal. Bahkan kadang beberapa
temanku yang bapaknya orang tambang, dan tidak banyak bisa bertemu
keluarga juga, menjadi sosok pribadi yang hebat dan mandiri. Mungkin
saja, ini terjadi karena kecerdasan orang tua untuk mengatur kualitas
pertemuan yang sedikit itu.

 

Seorang teman sering (dan sering banget) mengingatkan bahwa  memiliki anak harus hat-hati, karena semua yang terjadi pada masa kecil akan selalu teringat dan
menjadi pondasi masa depan anak itu. Namun aku juga teringat pesan
seorang ibu ketika anak laki lakinya waktu itu akan bersekolah SMA (dan
kemudian Kuliah) di Jogja, beliau berpesan “ nanti kalau sudah pinter..
jangan gampang emosi ya kalau ibumu tidak gampang faham
omonganmu..maklum ibu tidak sempat sekolah setinggi kamu…”

 

Jadi
anak juga ternyata harus mema’afkan orang tuanya. Karena orang tuanya
bukanlah sosok yang bisa melalui semua masalah dengan baik. Dan tidak
lah perlu membanding bandingkan orang tua kita dengan orang tua orang
lain yang mungkin kita (kadang) anggap lebih cerdas.

    

03
Jan

Muslim Muslim Pinggiran

Setiap orang Islam aku yakin pernah tidak nyaman
ketika mendengar kesimpulan orang lain tentang dirinya. Apalagi ketika
berkaitan dengan masalah keagamaannya. ( Paling tidak bagi manusia di Indonesia).
Ketika ada seseorang disimpulkan sebagai seorang ‘abangan’, dalam
hatinya akan berontak “Aku tidak sekedar abangan, aku juga ingin
ber-Islam..!”. Ketika seseorang disimpulkan sebagai seorang yang ‘tipis
keagamaannya’ , dia juga akan berteriak “ Aku juga ingin Ber Islam
dengan ‘tebal’ ! “. Dan ketika seseorang
disimpulkan orang lain bahwa dia adalah sosok yang ‘dangkal’, lagi lagi
dalam hatinya dia akan juga berteriak ‘aku juga pengen ‘deep’!’

Itulah
ekspresi sosok Muslim yang merasa mereka pinggiran. Atau dipinggirkan.
Mereka seakan berada di kasta lebih rendah dibanding lawan kata dari
Abangan, Tipis dan Dangkal. Namun, yang kadang menjadi masalah, banyak
orang yang kemudian disimpulkan oleh masyarakat sebagai ‘Santri’, ‘Ber
Islam Tebal’, dan ‘ Ber Islam Dalem’ malah menjelma menjadi sosok sosok
yang sombong.  Mereka mengaleniasi diri dalam
sebuah kelompok eksklusif, dan kemudian menjadikan orang orang diluar
mereka menjadi Muslim Muslim Pinggiran.   

Sudahlah,
tidak perlu kiranya saya bahas siapa dahulu yang akan masuk surga…,
namun akan lebih baik kita bahas bagaimana setiap Muslim ( termasuk
saya) terhindar dari perasaan sombong atas predikat kita. Kemudian,
bagaimana komunikasi antar berbagai predikat ‘duniawi’ itu terus
terjadi dan positif. Dan bagaimana semuanya bergandeng tangan untuk
terus ‘Mencari Jalan Tuhan Otentis’ yang mungkin bisa saja keluar dari
mulut anjing sekalipun.

Hidup hanya sekali, jangan sampai salah memilih jalan…! 
Itu kata seorang kawan

Namun ada teman lain yang bilang,  

Jalan yang salah adalah jalan yang salah tujuannya, Jalan yang benar banyak macamnya

Dan ada yang bilang juga 

Jalan
yang benar adalah jalan yang dipilih setelah penelitian, jadi tidak ada
istilah ’terperosok’ ke jalan yang benar, atau  ’terpaksa’ memilih
jalan yang benar

Bagiku,
Allah SWT akan tersenyum melihat hamba hamba-Nya yang setiap hari
meneliti, memilih dan meniti jalan jalan yang semua menuju kepada –Nya.
 

Bagiku,
Allah akan marah dengan hamba hamba-Nya yang sok tahu dan menyalahkan
jalan yang diteliti, dipilih dan dititi oleh hamba-Nya yang lain.

 

Bagiku,
Allah memberi jatah umur, rizki dan kesempatan yang cukup kepada setiap
hamba-Nya sama untuk meneliti, memilih dan meniti jalan jalan yang
menuju pada-Nya.

Jangan
mengaku kekasih-Nya, bila kamu tidak pernah resah ketika meneliti,
memilih dan meniti jalan jalannya. Merugilah kita kalau memilih begitu
saja jalan jalan yang dipilih orang lain Dan tidak perlu sedih hati
kepada saudara saudara ’Muslim Pinggiran’……., mereka yang pinggiran
adalah mereka yang menganggap jalannya adalah jalan satu satunya yang
paling benar. Dan mereka yang pinggiran adalah mereka yang tidak
mencoba melihat jalan pilihan orang lain. Karena Pinggiran adalah
kesombongan dan kepicikan…..