Archive for February, 2008

28
Feb

AAC Benar Benar Filmnya Hanung !

N655611297_420953_3340
Begitu duduk dan melihat Screen, aku langsung  “yakin se-yakin yakinnya”  kalau
ini Filmny Hanung Bramantyo. Dimana nya coba…? Yah.. tentu saja di gaya
‘candaan’ awal cerita Film di Flat Fahri, ketika Maria masuk Flat dan
kemudian Saiful yang bercelana ¾ harus menariknya ke bawah menutupi
dengkul, atau ketika “Deni Adiswara” yang masih bertelanjang dada,
nekat masuk ruangan kemudian di harus ditutupi sarung. Kalau mo
diartikan secara ‘berat’ ini khas banget dengan gaya Hanung
mengkomunikasikan tentang aturan-etika-kepantasan (baca:
Syariat-Akhlaq) dengan khalayak awam. (Teringat bagaimana gaya Aming di
Get Married yang mengingatkan harus shalat kepada teman temannya yang
main kartu, atau bagaimana seorang Nirina seorang anak SMA berjilbab
ketika sekolah dan ketika dirumah jilbab dibuka , dan rambutnya
berwarna-warni). 

Memang, kerasa beban Hanung
untuk membawakan Ayat –Ayat Cinta memenuhi ekspektasi semua orang. Dan
menurutku yang belum baca Novelnya, cukup berani juga Hanung mengambil
resiko dengan pilihan pilihan yang tidak mudah. Bagaimana kemudian dia
memilih gaya ke-Islaman yang cenderung Populis, Inklusif… bukan
eksklusif atau ketat.Sedangkan disisi lain, Hanung cukup berani
menampilkan secara visual dan verbal bagaimana pengalaman rohani
seorang yang beragama Kristen Koptik menjadi Islam (yang di semua
sinetron Religius TV menurutku tidak ada yang berani). Dan … mengambil
posisi tengah jangan dianggap sebagai sebuah pilihan mudah dan moderat,
karena bagiku mengambil posisi tengah adalah posisi yang paling ribet
dan banyak kena fitnah. Karena dalam kenyataannya, akan lebih mudah mengambil posisi ekstrim. (Teringat
nasehat seorang teman.. mengambil posisi ektrim itu cukup memakai
energy dan fikiran, tetapi mengambil posisi tengah itu memakan energy,
fikiran dan juga satu hal…” hati”…). Btw.. bukankah symbol keagamaan
juga sudah sering dipakai di Film Hollywood…? Di Kite Runner.. bahkan
dipertontonkan bagaimana Talliban merajam seorang perempuan….

Aku
tidak ingin berkomentar banyak tentang jalan ceritanya. Toh aku belum
baca Novelnya,.. (lagi mo baca..barusan dikirimi Gindah), namun memang
benar kata beberapa orang..kadang ada alur logika yang sulit dimengerti
bagi penonton. Tapi, aku fikir ini lumrah untuk
sebuah Film berbasis Novel….ketika aku nonton Golden Compass pun harus
mengerinyitkan jidat untuk memahami setting dan isitilah yang ada.
Pengalaman juga terjadi ketika nonton Bourne Supremasi, Identity dan
Ultimatum. Ketiganya juga membutuhkan waktu untuk adaptasi dengan
setting, nama pemain dan Istilah. (Hari Potter juga sama….). 

Akhirnya….,
Salut buat Hanung…., sudah berani mengambil inisiatif dengan Ayat Ayat
Cinta ini. Mungkin ada baiknya kalau Film ini mengambil satu Fokus,
karena dalam Film ini tampaknya Hanung mengambil dua Angle….yaitu kasus
persidangan Fahri dan Kasus bagaimana Penikahannya yang ‘ribet’.  Sayang..
angle pernikahannya tidak bisa seimbang dengan angle persidangan. He..
ibarat naik gunung….kita diminta naik gunung dengan dua puncak, yang
maksud hati puncak pertama harusnya lebih rendah daripada puncak kedua.
Namun dalam Film ini,.. klimak justru tinggi di puncak pertama (kasus
persidangan).

Oke…, terakhir (lagi)..
tontonlah film ini seperti menonton Film Batman, atau Golden Compass
yang tidak peduli dengan setting ruang dan waktu dimana ini terjadi.
Menurutku akan jauh lebih nyaman begitu daripada masih berharap
menempelkan cerita pada Mesir saat ini. Karena, banyak
gambar yang diambil di ruangan, close up atau memilih menghadap
kelangit. (Tapi … kenapa ini semua terjadi….sudah diterangkan di
blognya Hanung…..).Kata Akhir : Film ini bagus.. berani dibuat dan berani memasuki wilayah perdebatan…..     

24
Feb

Novel Vs Filmnya: Harus Beda

Film ayat-ayat Cinta
berhasil membangun ruang dialog antara Islam (dalam wujud normatif,
histories, relitas kekinian) dengan khalayak, siapapun itu. Mau
dimaknai Dakwah ala Hanung, mau dimaknai tafsir Hanung atas
religiusitas, bukan masalah. Dan dalam komunikasi antara karya seni dan
penikmatnya, film Ayat Ayat Cinta juga membuka ruang diskusi baru
tentang bagaimana mengajak khalayak belajar memebedakan antara Film dan
Novel.

   

Sempat,
aku mendapat kesempatan wawancara via telpon dengan Andrea Hirata untuk
berita website Muhammadiyah, ketika ada penandatanganan Film Laskar
Pelangi dengan Miles Production dan Mizan Cinema. Waktu itu ada
pernyataan Andrea Hirata yang kuranglebih mirip ketika kutanya tentang
potensi perbedaan antara Film dan Novelnya. Andrea menjawab begini :

   

 Menurut Andrea, dia termasuk orang yang tidak setuju kalau Film sama dengan buku. ” Seperti Film English Patient yang ngetop
karena berbeda dengan buku” katanya. Namun Andrea mengakui adanya
presepsi khalayak bahwa buku yang difilimkan akan berpeluang jelek.
Padahal menurutnya kalau Film harus sama dengan buku akan menghilangkan
potensi besar sineas.”Tidak perlu sama, asal tidak menghilangkan Valuenya” terangnya. ” Sineas bisa bebas..misal menceritakan Ikal dewasa dulu, baru kemudian flash back menceritakan ikal kecil” .

   

Begitulah
Andrea Hirata mencoba mengajak pembaca Novelnya untuk tidak menilai
Film Laskar Pelanginya nanti. Belum lagi masalah latar belakang sang
Creator. Setiap Creator (Penulis Novel dan Sutradara) pasti memiliki
latar belakang sendiri –sendiri yang secara personal menjadi miliknya
sendiri. Masing –masing mereka memiliki sejarah hidup sendiri, bacaan
sendiri, trauma hidup sendiri terlepas juga kepentingan sendiri. Jadi
bila Kang Abik membangun Fahri jadi sosok sempurna, sedangkan Hanung
membangun sebagau sosok Rapuh dan mudah bingung itu hal yang
wajar-wajar saja.

   

Ada
kritikan dari seorang yang mengaku ’ikhwan’ tentang Film ini (sayangnya
dia nontonnya via barang haram… VCD Bajakan……Busuk !). Dia
menilai bahwa seorang Fahri ala Hanung Bramantyo tidak mencerminkan
ikhwan sama sekali. Konon katanya, tidak mungkin seorang Fahri yang
Mahasiswa Al Azhar, yang Pandai Ilmu Agama bisa serapuh itu dalam
mengarungi hidup….Terlepas dari realitas yang terjadi aslinya di
kalangan para Ikhwan tersebut, bukankah sah-sah saja kalau Hanung
membangun profil seorang ’Ikhwan’ adalah sosok pencari yang kadang
rapuh, bukan sosok malaikat yang tanpa Emosi….? Mungkin, dalam
konteks lain,  kita bisa mencoba membandingkan
Sirah Nabi Muhammad tidak hanya dari penuturan kalangan dalam Islam
saja, namun bisa kita buka karya Karen Amstrong yang juga menampilkan
Sosok Rasulullah adalah sosok manusia yang Agung karena kemanusiaannya.
Sosok yang masih tetap punya rasa bimbang, kesepian, cemburu dalam
kehidupannya. Keluarlah sejenak dari kotak yang selama ini kita
huni…., lihatlah halaman rumah orang lain dan coba berdialoglah
dengan realitas……..Kalaupun jalan ke surga kita sudah benar, apa
tidak mungkin ada jalanlain ke Surga juga…?

 

Kembali
ke masalah media Film dan Novel. Komentar Andrea Hirata diatas juga
mengena sekali. Jangan hilangkan potensi besar Sineas untuk membuat ide
yang ada di Novel itu menjadi besar dengan cara dia. Kasus English
Patient menurut Andrea bisa sebagai contoh.  Masalah
serupa juga pernah terjadi pada Film Gie. Gie yang sudah menjadi
legenda Indonesia ini ketika diangkat menjadi Film banyak menuai
kritikan juga. Dari aktor yang terlalu ganteng, hingga setting yang
kurang pas dengan kenyataan, menjadikan kita tidak puas disana-sini.

   

Masalah
utama sebenarnya adalah kecerdasan penonton dalam mendudukkan segala
sesuatu. Pertama, media yang berbeda. Media Audio Visual membuat kita
tidak leluasa membayangkan sesuai dengan presepsi kita, sedangkan media
Novel akan memberikan keleluasaan kepada pembaca untuk membayangkan
vusialisasinya. Dalam hal ini kita tempatkan Hanung Bramantyo sebagai
seorang pembaca juga, yang memiliki bayangan visualisasi sendiri,
berdialektika dengan nilai dan referensi yang dia miliki sendiri, dan
kemudian berkomunikasi dengan kepentingan di kanan kirinya, terjadi
’dialog’ juga antara dia, kompetensinya serta biaya dan lahirlah Film.
Sehingga adalah hal yang sangat logis terjadi ketika Film ini menjadi
sangat berbeda dengan presepsi pembaca, termasuk saya.

   

Dalam sebuah
pelatihan (ESQ dsb…), para instruktur kadang harus bekerja keras
untuk membongkar presepsi peserta pelatihannya sebelum mencoba
mengkomunikasikan pengetahuan dan nilai yang akan dia dialektikakan
kepada peserta , yang harapannya di akhir pelatihan akan terbangun
presepsi baru tentang realitas hasil dialektika antara presepsi awal
peserta pelatihan dengan ’sesuatu’ yang berasal dari dia. Beda
instruktur, beda presepsi. Dalam kasus menonton Film dan membaca Novel
juga sama, audience dihadapkan kepada dua instruktur yang berbeda,
penulis Novel dan Sutradara Film. Entah itu Andrea Hirata dan Riri
Reza, atau  Kang Abik dan Hanung Bramantyo. Atau antara Hamka dan Asrul Sani dengan Dibawah Lindungan Ka’bah.

   

Selamat membaca dan selamat menonton. Jadilah bagian kebangkitan Sastra dan Sinema Indonesia.

   

( Ditulis dengan tetap belum nonton Film Ayat Ayat Cinta….he.he..)

Btw, mampirlah kesini : Layar Cerita

21
Feb

Krisis Ayat Ayat Cinta

   

W3_1024Hari
ini aku coba memasukkan kata kunci ‘Film Ayat Ayat Cinta’ kedalah
google search. Motifku, aku ingin melihat masih antusiaskah khalayak
menanti Film ini dirilis secara resmi di Bioskop setelah perjalanan
panjang Film ini ‘lahir’ dan harus berdialog dengan kenyataan. (Buat
yang sudah membajak…. dan yg nonton bajakan……terserahlah…)
 

Sebelumnya. Aku berpresepsi, bahwa lahirnya Film Ayat Ayat Cinta adalah kelahiran perdana ‘bayi’ Film Budaya Posmo Islam Indonesia. Artinya sebuah Film hasil dialektika antara Islam Normatif, Realitas Posmo (Era Informasi, Keruntuhan Modernisme) dan Sejarah Indonesia.

Bayi ini bukan dalam arti bayi yang lahir natural, tapi ibarat bayi
hasil rekayasa genetika (yang harus lahir dan tidak daa alternatif
lain, akibat tuntutan jaman), sehingga menjadi hal yang lumrah jika
kemudian sejenak pasca kelahirannya akan menimbulkan ketidak puasan,
kontroversi dan banyak hal selain ekspektasi akan kesempurnaan dan juga
berbagai harapan melambung yang sebelumnya juga dibarengi suara suara
sinis dan ketidakpecayaan. Termasuk dengan kenyataan khas abad
informasi : Pembajakan….

‘Bayi’
ini menurutku bagaimanapun harus direkayasa untuk terlahir, karena
menghindari kelahirannya sama saja dengan menjadikan kita terlindas
dari realitas peradaban. Dan terlepas dari kelemahan dan kelebihannya,
Hanung Bramantyo harus diakui sebagai salah satu generasi yang berani
mengambil resiko untuk membidani kelahirannya….(Salut Mas
Hanung…..jalan terus..).
   

Film Islami,.. sesuatu yang sungguh menakutkan bagi sementara orang di kehidupan kosmopolit
dengan setting keadaan yang sangat berbeda dari keadaan ketika Islam
Normatif itu diturunkan di Makkah dahulu. Menakutkan bagi orang-orang
yang merasa terancam kalau Islam menjadi
kekuatan yang mengancam kepentingan mereka, seperti dalam kepentingan
ekonomi dan politik. Menakutkan bagi mereka yang menganggap (Sejarah)
Islam sebagai kekuatan sejarah yang pernah gemilang, pernah berwajah
berperadaban tinggi dan juga sempat berlumuran darah. Dan menakutkan
bagi generasi Islam sekarang yang takut kalau-kalau Film sebagai hasil
tafsir visual atas ‘kebaikan Islam’ ini berbeda antara presepsi
ke-Islaman satu dengan yang lain.

Mungkin kalau bicara strategi dakwah, film-film ‘Umum’ Dedy Miswar akan dianggap lebih baik
(baca : Islami) dibanding Film Ayat Ayat Cinta yang berniat berlabel
Islami ini. Artinya, Dedy Miswar akan lebih ‘lepas’ membuat adegan
berciuman, pakaian modern tanpa harus mempesoalkan berkerudung atau
tidak dan sebagainya karena dia tidak melabeli Filmnya dengan label
Islam. Sedangkan Ayat Ayat Cinta akan menuai hujatan banyak fihak bila
berani mengeksploitasi adegan-adegan dan casting tersebut, karena
presepsi penonton akan melihat ke symbol – symbol Islam Syariat.
   

Menurutku tidak ada yang salah dengan kontorversi ini. Semua realitas pemahaman ummat Islam Indonesia akan menemukan tema dialog dari keberanian Hanung Bramantyo membuat
Film Ayat Ayat Cinta ini. Sebuah karya seorang Muslim Indonesia yang
memiliki kompetensi membuat Film dan  akses terhadap modal  yang akan membawa Islam  Indonesia akan memasuki wilayah publik.

 

Akhirnya,
menarik untuk mengikuti resensi-resensi dari penonton Film Ayat Ayat
Cinta di blog-blog yang ada. Menyitir Filsafat Kuno Cina, disetiap
krisis pasti ada harapan,.. maka bila Film ini berhasil lahir dan
menghadapi kenyataan.. maka lahirah sebuah kenyataan dimana Islam Indonesia
akan berdialog dengan Realitas Posmo. Harapanku…. Teuslah mendebat film
Ayat Ayat Cinta.. dengan begini kita akan terbuka pintu dialog sehingga
akan membantu Ummat Islam Indonesia era pasca keruntuhan Modernisme  ini membangun Identitasnya sendiri.

 

Menurutku,
Islam tidak akan mati bila terus berwujud dialog antara Wahyu, Sejarah,
Kekinian, Manusia dan Alam…, jangan takut hasil akhir dialog yang tidak
akan mungkin memuaskan kita….takutlah kalau tidak mampu lagi
berdialog….karena Islam hanya akan menyisakan pedang, wajah-wajah
bengis dan klaim-klaim pembenaran

 

Note : Aku belum nonton,…termasuk yg bajakan….

17
Feb

So Would You Let Me Be

Aku kebagian jadi supir. Tanggal sudah harus berganti karena malam
sudah memasuki dini hari. Beberapa saat yang lalu aku terbangun bunyi
telpon dari teman yang membangunkanku untuk memintaku mengantar
temannya untuk ke solo, malam ini juga.

   

Bensin mobil diisi di pom bensin. Teman yang membangunkanku tadi diantar ke rumahnya.  Aku merasa senang saja bisa jalan-jalan malam
ini, karena memang tidurku tidak nyenyak. Mobil yang diisi 3 orang
perempuan dan 2 orang laki-laki termasuk aku. Dan yang aku kenal di
mobil itu hanya laki-laki di sampingku, yang janjinya mau jadi supir
sekembalinya nanti dari solo.

 

Kemudian
kehidupan berjalan dengan begitu cepat. Perempuan-perempuan di
belakangku layaknya para perempuan masih ngobrol ngalor-ngidul. Aku
hanya mendengarkan dan memaklumi itu semua, dengan terus mengalun So Would You Let Me Be nya d’cinnamons dari Sony Ericson K608i -ku.

   

we’ve get along together
i should have known
you’re the best that i can love
til now it’s hard for me to face it
why didn’t we meet each other soon

 

…………………

   

Tak
ulang-ulang lagu itu. He..he.. aku hanya berani mendengarkan dan terus
berkosentrasi menyetir, walau jujur, kadang teringat wajah Laut, salah
satu personal d’cinnamons yang menurutku : cantik. Tiga perempuan di
belakangku masih terus bercerita tentang berbagai hal yang dialaminya
sepanjang siang, dan laki-laki di sampingku sudah tertidur. Halah….anak
ini memang tukang tidur….

   

Tapi,
ketika masuk Klaten, aku merasa kehilangan satu suara. Suara perempuan
yang di tengah. Yah.. perempuan yang ditengah. Aku berusaha melihat di
spion tengah mobil. Bodoh…, mana bia kulihat tiga perempuan itu dalam
gelap seperti ini. Yang terlihat hanya cahaya lampu mobil di belakang
mobil yang kusetir ini yang memenuhi spion.

   

Ya
udah….., aku kembali konsentrasi menyetir. Aku masih membayangkan wajah
Laut D’ Cinnamons yang menurutku cantik. Kacamata dengan frame item
tebal, dan gurat  wajah yang bagiku punya karakter khas bagiku seksi. Dan masih terus diiringi So Would You Let Me Be yang memang hanya ada satu lagu itu di play list HP ku.

   

Kartosuro
masuk. Dua perempuan masih bercerita banyak di belakangku. Tapi kok aku
ngerasa kehilangan suara perempuan yang duduk ditengah. Serius, ..aku
jadi pengen sekali perempuan yang ditengah itu bersuara. Aku sudah
tidak bisa konsen menikmati So Would You Let Me Be nya d’cinnamons. Bahkan wajah Laut yang terbayangpun sudah mulai berubah.

   

Eit…!
Iya… aku dah mulai berfikir kalau perempuan yang ditengah, itu adalah
Laut. Perempuan itu berkacamata. Yah dia satu-satunya perempuan
berkacaata yang ada di mobil ini dini hari ini. Tapi aku jadi bimbang,
wajah Laut yang kusama-samakan dengan dia, atau wajah dia yang
kusama-samakan dengan Laut. Sudahlah.. aku kembali konsentrasi menyetir
menembus

kota

Solo. Tujuan kami malam ini adalah sebuah hotel di depan kampus UNS.

   

Lima


belas menit kemudian setelah sedikit berdiskusi dengan salah satu
perempuan yang masih belum tertidur kami menemukan hotel kecil itu. Dan
setelah cek in, dan mengangkat barang barang dari mobil. Tiga perempuan
itu berpamitan untuk masuk kamar sebentar, kami dua laki-laki ini menunggu di loby kecil hotel sekitar

lima

belas menit.

Lima

belas menit kemudian dua perempuan masuk kembali kemobil, dan satu
perempuan berkacamata tadi ditinggal. “Makasih ya Rip……” kata perempuan
berkacamata tadi.

   

Halah….!
Kenapa aku jadi ngelayang mendengar kata-kata itu. Sepertinya aku
pernah ngerasa seperti ini sebelumnya. Serius….aku yakin perempuan yang
didepanku ini bukanlah Laut D’ Cinnamons, walaupun aku belum pernah
ketemu dia. Dan aku yakin, perempuan di depanku ini bukan perempuan
yang selama in sudah kurelakan energi hidupku untuk terkuras habis
untuknya, bahkan sampe sekarang ketika dia tidak disisiku lagi.

      

Tapi.. rasa ini….
Ha..ha..,
kayak mimpi, jam dua dini hari. (Btw.. mosok mimpi ngerti jam..he..he).
Udahlah.. aku kembali masuk mobil dan kembali menyetir kea rah jogja.
Kami harus sampe sebelum subuh, karena besok pagi ada liputan yang
harus ku kejar. Ajaib…aku menyetir mobil ini dengan bersemangat dan dan
yang paling luar biasa adalah : Aku tidak ngantuk….!

   

your eyes says more than anything
that really means to me
so darling would you now
would you set me free

   

He..he.. tak pikir aku udah gak mungkin lagi ngerasain rasa ini……

16
Feb

Perempuan, Keluarga dan Kehormatan

Logan_lerman_beatrice_bush_skye_mccole_b
Laki-laki hidup di sekeliling
entitas-entitas yang bernama perempuan, keluarga dan kehormatan.
Perempuanpun dalam sudut pandang terbalik sama. Namun, bagaimana
seandainya itu terjadi pada veteran perang beranak tujuh yang ditinggal
mati istrinya ? Itu mungkin yang ingin dishare Roland Emerich  kepada penonton dalam The Patriot (2000). Film yang dibintang Mel Gibson dengan setting perang kemerdekaan bangsa Amerika melawan tentara Inggris ini  cukup menarik dalam menggambarkan konflik entitas itu dalam diri laki-laki.
   

Awalnya
digambarkan Benjamin Martin, seorang veteran perang ‘Milisi Kerajaan
Inggris’ melawan Perancis-Indian yang kembali kepada keluarganya,
setelah istrinya meninggal dengan anak tujuh yang harus diasuhnya. Saat
itu, dia sudah menadi seorang nasionalis yang mengiginkan sebuah Bangsa
Amerika yang Merdeka. Namun dia bersikeras untuk tidak memilih jalan
perang, walaupun hasil votting memilih jalan perang kepada King George,
raja Inggris.

   

Ada
adegan cukup menarik dalam awal film ini, dimana dia digambarkan
sebagai sosok laki-laki yang merelakan dirinya dianggap ‘pengecut’ oleh
masyarakat dan negaranya, demi menjadi seorang bapak yang baik. Bapak
yang harus menjaga anak-anaknya karena ibunya sudah meninggal. Bahkan
dia harus menahan emosi ketika anggapan pengecut datang dari anak
tertuanya yang bergabung dalam tentara continental ( tentara pembebaan
amerika)  dan juga anak keduanya yang
menganggapnya tidak berdaya melihat kakaknya tertangkap pasukan
Inggris. Dia ungkapkan dalam satu kalimat “ Kelak kalau kamu punya
keluarga akan tahu..” . hik….

   

Adegan
perang dan heroisme bangsa Amerika sih bagiku biasa saja. Seorang
veteran perang yang harus terjun perang lagi dan menghadapi seorang kolonel
Inggris yang bengis dan brutal. Tergambar pula bagaimana liciknya sang
Kolonel Milisi Benjamin Martin membodohi Jendral Inggris. Dan bagaimana
konflik antara Jendral Inggris yang membela mahkota kerajaan dengan
Koloniel Bengis yang menghalalkan segala cara, termasuk membakar semua
warga

kota

kecil dalam sebuah gereja ketika mereka kebaktian.

   

Satu
adegan lagi yang menarik adalah ketika Susan, putri terkecil Benjamin
Martin, yang merasa dendam denga sang ayah yang meninggalkannya sejak
kecil untuk berperang. Seakan, ada pembenaran universal bahwa seorang
anak kecil akan sulit mengerti dunia orang dewasa yang membenarkan
dirinya meninggalkan keluarga demi keyakinam, idealisme, kehormatan.
Adegan yang menurutku keren ketika Susan ngambek tidak mau ngomong
dengan sang ayah…, dan ketika ditinggal sang Ayah berangkat berperang..
akhirnya dia berteriak, berlari dan menangis…. “ Ayah.. jangan pergi.
Aku akan mengatakan apapun yang kamu mau…. Aku akan jadi apapun yang
kamu mau….”

   

Suatu
saat ada dialog antara Benjamin Martin dan Gabriele, anak tertuanya,
ttg apa yang membuatnya berubah ? (Tergambarkan dulunya Benjamin Martin
adalah seorang tentara yang juga brutal dan bahkan pernah menjadi
‘penjahat perang’ karena pernah melakukan mutilasi kepada musuhnya yang
sudah menyerah dalam perang melawan Perancis-Indian sebelumnya).
Benjamin Martin menjawab, yang merubah dirinya adalah istrinya, yang
telah menjadi ibu dari ketujuh anaknya. “ Kadang ada saat aku tidak
bisa berkutik di depan ibumu” kenang Benjamin. Satu lagi…. Laki-laki
yang dikala mudanya sudah memperjuangkan mimpi, kehormatan, atau
mungkin sekedar petualangan, ternyata akan merasa  lengkap
ketika dia memiliki perempuan yang mampu membuatnya tidak bisa berkutik
dan anak-anak yang membuat dia punya alasan untuk pulang.

—–

Ditonton lagi tadi malam, di trans TV

07
Feb

Lamaran ke Tujuh Sang Superhero

Superherothumbnail
Dulu dia berprinsip, kalau
tidak akan melamar seorang perempuan untuk yang kedua kalinya. Saat
ini, laki-laki itu harus melanggar prinsipnya. Dia melamar perempuan
Istimewa ini untuk ketujuh kalinya. Dan
harga diri, kekerasan hati hingga
semua idealismenya tentang kehormatan laki-laki luluh lantak ketika dia
ketemu sosok cantik yang banyak orang mengangapnya “public enemy”.
   

 

Ha..ha., yah… laki laki itu mabuk kepayang dengan seorang  ‘musuh
masyarakat’. Sosok perempuan judes, sombong, angkuh dan dingin yang
dikenalnya setahun belakangan ini. Setiap temannya selalu mengingatkan
kalau tidaklah perlu untuk terus berharap dengan perempuan itu. Namun
baginya, segala definisi cantik dan sempurna ternyata terwakili dari
sosok judes, angkuh, sombong dan dingin yang menjadi cirri perempuan
itu. Dan repotnya, bapak perempuan itu setali tiga uang, sulit banget
ditembus. Bahkan hingga lamaran ketujuhnya.

   

Ngemis…?
Ha..ha. dia hapus citra negatif dari kata-kata ngemis. Dia fikir, sosok
perempuan alumni Al Ashar mesir ini adalah sosok yang patut untuk
membuatnya jadi pengemis. Toh dalam otak dia, kalau dah dapat nanti,
tinggal diseimbangkan posisi lagi, susah amat. Pengalaman dia sebagai
politisi kampus cukuplah menjadikan dirinya percaya kalau hal itu akan
terjadi. Dia terus berjuang meyakinkan sampai benar-benar tidak ada
harapan lagi, inilah yang dia coba terus kejar.

   

Dulu
dia berkeyakinan, kalau perempuan tidaklah perlu disanjung setinggi
langit. Perempuan kalau sudah dilamar sekali dan kemudian menolak, yah
tinggalkan saja. Karena toh banyak perempuan lain yang masih ada
kemungkinan untuk membuka diri dan akan menerimanya. Dia bahkan sering
membodoh-bodohkan teman -temannya yang patah hati berkepanjangan.
Walaupun sepanjang cerita itu, dia tidak pernah mempraktekkannya untuk
dirinya. Sebabnya simple
perempuan istimewa yang ternyata belakangan definisinya adalah
perempuan ‘musuh lingkungan’ yang galak, judes, sombong, angkuh dan
dingin tidak dia temukan sebelumnya.

   

Memang, perempuan istimewa itu dalam ‘kasta’ primordialisme modern
tidaklah sebanding dengan dirinya. Perempuan itu berasal dari keluarga
yang dianggap masyarakat lebih tinggi, perempuan itu secara title
akademik juga dua level diatasnya, perempuan itu secara karir juga
lebih jelas dan populis dengan dirinya. Namun, laki-laki itu
berkeyakinan,  bahwa perempuan judes itu pasti
tertarik dengan dunianya yang dia yakin adalah dunia unik dan aneh.
Sebuah Dunia ’superhero’ yang baginya perasaan setiap perempuan kalau
mau jujur akan tertarik, dunia yang membuatnya menjadi laki-laki
menjadi tampak seksi di depan setiap perempuan.

   

Laki-laki
itu terus membangun keyakinan itu pada dirinya, dan dia yakin sekali
iniliah daya tawar dia kepada perempuan pujaannya. Kecerdasan tanpa
sertifikasi, keindahan tanpa pengakuan khalayak, akan menyentuh
perempuan itu dari sisi paling manusiawi yang dia punya.

   

Perempuan
itu tetap datar menanggapi perjuangan laki-laki itu. Bapaknya juga
tetap menolak walaupun kemudian malah mengajak laki-laki itu jadi
rekanan bisnis ‘kompetensi anehnya’. (Mungkin sang bapak mengaggap
bahwa laki-laki ini seperti seekor binatang sirkus yang aneh dan perlu
dilestarikan untuk kepentingan pertunjukan).

   

Dan
sekarang laki-laki itu terus berkisah kepada dunia yang dia buat
sendiri saat ini. Tentang kehebatannya untuk terus berjuang walaupun
sudah tertolak hingga tujuh kali. Dan mahluk-mahluk yang berhasi dia
rayu dan yakinkan menjadi bagian dari dunianya setiap hari selalu
menyanjungnya dan menyatakannya hebat dan hebat.
Laki-laki itu terus membangun kepercayaan dirinya, karena dia sekarang
merasa sebagai raja di dunia yang dibuatnya.  Dunia  yang dianggap orang awam "hebat
tapi  semu" ini.


Saat ini, dia sedang mengkonsturksi dirinya sebagai seorang Superman yang naksir seorang  putri ulama besar pujaannya, dan dunia superheronya tidak mungkin mudah diterima bapak dan gadis itu, walaupun mereka juga akan mengatakan bahwa dirinya hebat.


Laki-laki yang diangap temannya malang itu terus maju dengan tterus  memutar lagu Ku Yakin Cintanya d’cinnamons…..ha..ha..

05
Feb

Sebuah Pergulatan Tentang Kepribadian

Lyra3_1024
Manusia terlahir bersama kecerdasan, hasrat untuk berbuat baik, cinta dalam kesempurnaan penciptaan. Sedangkan kebodohan, kejahatan, kebencian bukanlah bawaan lahir, karena kita tidak akan pernah melihat bayi yang bodoh, jahat dan pembenci (Bahkan seburuk apapun sang ibu). Kemudian, manusia mencoba membentuk kepribadian dirinya dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Setiap hari dia belajar, berfikir dan terus berproses. Semuanya tidak mudah. Namun setiap manusia tidak ada pilhan lain, kecuali bergerak maju untuk terus membentuk dirinya. Dan setiap manusia pasti akan memasuki kondisi bahwa kepribadiannya itu akan tetap dan dianggap tidak akan berubah lagi.

Mungkin proses itu paralel dengan fase-fase seksual Freud. Dan pergulatan untuk menuju kepribadian tetap itu yang tidak mudah, kadang sakit, kadang menggelisahkan, dan kadang membutuhkan zig-zag yang tidak mudah. Dan yang paling tidak beruntung adalah ketika proses menuju bentuk kepribadian tetap itu tidak menemukan referensi-referensi bentuk kepribadian yang cukup, walaupun dengan menemukan berbagai macam bentuk kepribadian bukan berarti memudahkan proses pembentukan kepribadian.

Itu, yang berkesan dalam sesaat setelah Film Golden Compass selesai kutonton. Film yang kutonton bareng Barori, Ima dan Gindah ditenggah kegilaan anak-anak Jogja mengantri untuk melihat Tukul (Otomatis Romantis) ini memang cukup Filosofis. Film fantasi yang mungkin tidak mudah dicerna begitu saja. Film yang menurutku jangan ditonton hanya sekali bagi kita yang memiliki sifat ‘telmi=telat mikir” he..he…

Film ini menyajikan sebuah dunia yang secara visual tidak sama dengan dunia kita. Film itu mengetengahkan manusia-manusia yang berinteraksi sebagaimana manusia di dunia nyata yang harus makan, minum, belajar dan juga berambisi, ingin menindas dan satu lagi : Protes terhadap nasib. ( Hal yang sangat manusiawi).

Dalam film ini, dikenalkan sebuah dunia fantasi dimana setiap manusia selalu didampingi ‘sosok’ yang disebutkan sebagai daemon. Disini daemon digambarkan ‘seperti’ seekor binatang piaraan yang menyatu dengan manusia, secara lahir dan batin. Keduanya digambarkan sebagai sebuah entitas yang satu, dan tidak mungkin terpisahkan. Dan daemon yang selalu berbentuk hewan ini, ketika manusianya masih dalam proses pencarian kepribadian, daemonnya akan belum berbentuk tetap. Namun, ketika sudah dalam usia kedewasaan dengan kepribadian tetap, daemonnya akan berbentuk tetap. Jadi dalam film ini tergambar bagaimana sebuah ruang pertemuan manusia yang sekaligus mirip kebun binatang karena setiap orang didampingi satu daemon yang berbentuk binatang.

Tokoh sental film yang diangkat dari Novel adalah anak kecil yang bernama Lyra Belacqua dengan Daemonnya yang bernama Pantalaimon. Dia punya paman Lord Asriel (Daniel Craig) dengan daemonnya yang berbentuk Snow Leopard akan meneliti sesuatu yang disebut Dust. Dust adalah sejenis partikel yang mampu menghubungkan antara dunia satu dengan dunia lainnya, sekaligus sesuatu yang selama ini dilarang disebut-sebut oleh otoritas ‘kebenaran’ yang disebut Magisterium. Karena dimitoskan sebagai sumber malapetaka yang akan menghancurkan ilmu pengetahuan yang telah mereka sebarkan sejak lama.

Hadir Mrs Coulter (Nicole Kidman) dengan daemonnya seekor monyet bisu berbulu keemasan, mengajak Lyra berpetualang menjelajah dunia. Akan tetapi Lyra dijebak oleh institusi kebenaran yang disebut Magisterium diatas. Mrs Coulter yang ketua sebuah dewan di Magisterum yang disebut G.O.B menginginkan Golden Compass yang dimiliki Lyra. Golden Kompass inilah yang kemudian menjadi alat pesaing institusi kebenaran, karena selalu bisa menjawab semua pertanyaan yang dibutuhkan Lyra.

Petualangan Lyra melawan Mrs Coulter, Magisterum dan G.O.B yang berusaha ‘melawan takdir’ dengan proyek pemisahan anak-anak dari daemonnya kemudian mejadi gambaran cantik film yang diharamkan Vatikan karena diambil dari Trilogy novel His Dark Material yang dianggap mengajarkan Atheisme (Mirip kasus Harry Potter).

Polanya biasa, orang-orang lemah dan tertindas melawan orang-orang kuat, berkuasa dan penindas. Lyra dengan dibantu kawan-kawan yang ditemui sepanjang perjalanannya akhirnya bisa melepaskan anak-anak dari sebuah camp experimentasi yang bernama Bolvangar. Mirip film-fim sains fiksi atau mirip cerita novel Anomalinya Santopay. Muncul tokoh-tokoh Ma Costa dari kaum Gyptians, Serafina Pekkala (Eva Green) seorang penyihir yang daemonnya bisa berbisah jauh, Aeronauts bernama Lee Scoresby (Sam Elliott) yang punya balon udara, dan seekor beruang es berperisai bernama Iorek Byrnison. Beruang Es karena bukan manusia, jadi tidak punya daemon.

Jadi. Coba renungkan… Daemonmu bentuknya apa…? Cerucut…? Coro..? Atau Singga…? He..he.. : Jangan Bunuh Daemonmu Kalau Ternyata Sejelek Kepribadianmu

03
Feb

Terimalah Dia dan Kegelisahannya

Spiral_1
Ibu itu berbicara dengan putrinya sesaat setelah
akad nikah berlangsung. Ibu itu berkali-kali minta maaf kepada putrinya
karena dalam setahun belakangan ini dia terus mendesak putrinya untuk
menerima calon suami putrinya berdasarkan amanat mendiang suaminya. Ibu
tiri tersebut meras terpaksa mendesak putrinya karena sudah berjanji
dengan mendiang suaminya untuk menikahkan putri mereka dengan seorang
putra kerabat jauhnya yang sudah disiapkan sejak 3 tahun yang lalu.

   

Airmata
terus mengalir di muka ibu tersebut. Dia sangat mengerti kalau putrinya
akan sulit menerima calon suami yang ditetapkan mendiang suaminya itu.
Namun
dia tidak punya pilihan lain, kecuali harus mengabulkan permintaan
suaminya itu. Ibu yang baik itu terpaksa mengambil resiko untuk terus
mendesak putri tirinya, bahkan harus dihardik putri-putri kandungnya
sendiri karena dianggapnya ketinggalan jaman. Bahkan seorang putri
kandungnya mengatakan ” Ibu hanya ibu tiri, tidak berhak memaksa.
Kasihan kakak”. Namun istri yang setia dengan amanat suaminya itu terus
mendesak putri tirinya untuk menunaikan amanat mendiang suaminya.

   

Pengantin wanita yang belum terjamah pengantin laki-laki itu terus merapalkan zikir. Dia
memang selama ini tidak bisa memahami maksud amanat bapaknya. Diapun
tidak bisa langsung menerima desakan ibu tirinya setahun belakangan
ini. Namun, ditengah rapal zikirnya dia terus mencoba berfikir positif
dan memandang pengantin pria disampingnya sebagai amanah tuhan yang
harus diterimanya, setelah ikrar suci yang hanya dia dengar dari mulut
laki-laki disampingnya dengan seorang pamannya.

   

Pengantin
wanita itu terus membangun bayangan tentang kisah khidir dan musa, dan
dia terus berdo’a untuk menjadi sosok yang lebih dari Musa, yang tidak
banyak protes dengan khidir yang sulit difahaminya. Pengantin wanita
yang dokter gigi tersebut meredam daya kritis yang selama ini dia
fahami dan pelajari. Ternyata ketika dia harus menentukan siapa
pendamping hidupnya, dia harus benar-benar pasrah, meredam
keingintahuan tentang maksud ini, menyimpan metode-metode penelitian
yang selama ini dia pelajari dan terus memikirkan bagaimana sosok
bapaknya yang semua orang yang mengenalnya pasti akan mengatakan dia
adalah orang hebat, masih menasehatinya untuk menerima suami yang telah
dipersiapkan.

   

Pengantin
Wanita tersebut kemudian membangun presepsi dalam dirinya bahwa dirinya
juga menikah dengan cinta, bukan cinta kepada laki-laki yang kemuan
akan dia panggil dengan panggilan ” Kang Imam” disisinya, namun dia
menikah karena cintanya kepada sang ayah. Dan dia terus meyakinkan
dirinya untuk meyakini hal ini. Dia terus membangun hal-hal yang selama
ini dianggapnya sebagai mitos, dimana perempuan baik dimanapun adalah
perempuan yang mampu menjadi pendamping suami, dan haram baginya untuk
menolak anugerah suami yang telah datang, bahkan telah memberiya mas
kawin kalung berlian yang sudah dia pakai sat ini.

   

Ibu
tirinya masih menangis entah bahagia, menyesal atau mungkin sedih
teringat mendiang suaminya, bapak anak tirinya yang hari ini menikah.
Pengantin wanita masih terus merapalkan zikir disamping laki-laki
yangsecara sariat sudah menjadi suaminya itu. Sedang laki-laki
disampingnya masih mencoba memahami keadaan setelah
pernikahannya. Dia masih bingung dengan keadaan yang terjadi
dihadapannya. Keluarga besarnya sudah meninggalkannya. Istri sahnya
disampingnya, dan terus memejamkan mata sambil berkomat-kamit tidak
jelas. Ibu mertuanya terus menangis. Laki-laki tersebut kemudian
memilih memasuki kamar pengantinnya sendiri tanpa berani mengganggu dua
perempuan ’asing’ yang saat ini hidup serumah dengannya. Dia memilih
merebahkan diri dan berusaha memejamkan mata. Dia malam itu merasa
menjadi laki-laki bodoh yang gagal memahami keadaan. Dan sampai pagi
mata terpejam, namun sedetikpuin jasadnya tidak bisa menikmati
nikmatnya kematian kecil,  tidur malam ini.

 

———-

 

Bukan kisah nyata…serius….

01
Feb

Kritik Laki-Laki Jogja atas Perempuan Jakarta

De2d1ec2120070728616343

Judul
Filmnya Otomatis Romantis. Sekejab ketika mendengar judul film ini
terbayang sosok Tukul sang Tokoh Antihero di Empat Mata Trans 7. Sosok yang
diformat sebagai seorang laki-laki dengan definisi kesempurnaannya sendiri yang
unik, bukan sempurna sebagaimana Fahri di (Penggalan Awal)  Ayat ayat
cinta, atau seorang pencari kesempurnaan sebagaimana film-film tentang
laki-laki Indonesia yang menyandarkan diri dalam proses menuju kesempurnaan.
Bukan pula sosok laki-laki tua yang selalu membuat pengakuan bahwa dirinya
bukanlah laki-laki sempurna seperti dalam sosok Nagabonar.

Awalnya, tidak banyak yang
kuharapkan dari Film ini dari sekedar ingin tertawa lepas dan bioskop yang
memutar Film Komedi bagiku adalah tempatnya. Namun, harus kuakui yang kudapat
tidak sekedar tertawa.

Film diawali dengan intervensi terhadap para perempuan modern yang sukses dalam karirinya. Dimana perempuan ‘jakarta banget’ yang ditekan keluarganya dengan tekanan paling telak : Inget umur nduk..! Secara
visualpun digambarkan dala bentuk adegan peringatan ulang tahun ke 29
yang dianggap keluarga besar itu adalah usia yang harus segera menikah.
He.. settingnya memang keluarga jawa, keluarga yang para
perempuannya sepakat kalau mereka seakan dikutuk. Dikutuk untuk
mendapatkan pasangan para lelaki yang seara fisik mereka sebut : Kurang.

Nadia (Marsya Timothy), sosok perempuan cantik,
sukses dan cerdas ini yang sedang mendapat tekanan. Bahkan ditokohkan tidak
hanya cerdas, di meja kerja sang Pimpinan Redaksi majalah Wanita Kini ini tergeletak
buku Metode Penelitian dan Analisi Sosial, walaupun mereka mengakui kalau
artikel di majalah mereka ini sebenarnya hanya mentranslate tips-tips tentang
lifestyle wanita yang ada di internet. ( Terus kenapa harus membaca buku
analisis social dan metopen segala…?).

Pendek kata Nadia bertemu
seorang Bambang (Tora Sudiro) yang  menjadi karyawan bagian administrasi
di kantornya, yang dulunya mantan reporter majalas KOMPENSASI, sebuah majalah
pertanian di Jogja. Si Bambang sebagai symbol lelaki Jogja yang polos,
penyanyang, dan ideqalis dibenturkan dengan perempuan Jakarta yang dinamis,
keras dan cenderung ‘ sok mandiri’.He.., kenapa kemudian symbol yang dibeturkan
adalah identitas Jogja dan Jakarta ? Kenapa kemudian laki-laki baik yang
berhasil membuat naksir Bos Nadia yang ‘Jakarta Banget’  adalah lelaki
bernama Bambang dari ‘Jogja” ? Dan kenapa kata Jogja selalu disebut sebut
sebagai simbul udik yang baik ( Gak selalu ding…, ada juga karakter Trisno ,
kakak Bambang sebagai lelaki Jogja yang tidak bertanggung jawab dan licik).

 Oke..,
kisah cinta Nadia dan Bambang kemudian mengalir. Kelucuan terbangun dari
stersnya Nadia untuk mengungkapkan cintanya kepada Bambang. Tips-tips di
Majalahnya sendiri tentang cara menyatakan cinta ternyata tidak mempan. Bahkan
ketika mereka penganut ‘Wanita Modern’ yang boleh memilih kehidupan, termasuk
sah-sah saja ketika perempuan menyatakan cintanya kepada laki-laki juga tidak
mudah.             

Secara
umum, menurutku Film ini cukup sukses mengajak penonton tertawa ( Sorry Tora
masih tampak sebagai Tora di Extravaganza….). Film ini juga menurutku mencoba
mengintervensi penoton untuk memikirkan tentang bagaimana seharusnya sebuah
perkawinan. Film ini juga mencoba mengkritik hipokritnya kalangan A+ bangsa
ini, khusunya para perempuannya dengan menghadirkan cinta dan kepolosan dalam
hidupnya. Dan akhirnya menurutku : Hidup memang wajib memilih bagaimana kita
akan hidup, namun hidup tidak perlu menutupi cara hidup orang lain yang mungkin
saja bisa menjadikan diri kita belajar.

Ada sms dari temen perempuanku yang jadi
wartawan  di Jakarta yang ku sms tentang Film ini hari ini. Isi sms itu :  “Sayang
Rip,  cowok Jogja yang baik dan lucu emang banyak,  tapi yang
seganteng Tora kok aku belum ketemu yah…he..he.. peace…

—–

Makasih
Mahe dan Gindah, dah nemeni nonton hari ini.