
Begitu duduk dan melihat Screen, aku langsung “yakin se-yakin yakinnya” kalau
ini Filmny Hanung Bramantyo. Dimana nya coba…? Yah.. tentu saja di gaya
‘candaan’ awal cerita Film di Flat Fahri, ketika Maria masuk Flat dan
kemudian Saiful yang bercelana ¾ harus menariknya ke bawah menutupi
dengkul, atau ketika “Deni Adiswara” yang masih bertelanjang dada,
nekat masuk ruangan kemudian di harus ditutupi sarung. Kalau mo
diartikan secara ‘berat’ ini khas banget dengan gaya Hanung
mengkomunikasikan tentang aturan-etika-kepantasan (baca:
Syariat-Akhlaq) dengan khalayak awam. (Teringat bagaimana gaya Aming di
Get Married yang mengingatkan harus shalat kepada teman temannya yang
main kartu, atau bagaimana seorang Nirina seorang anak SMA berjilbab
ketika sekolah dan ketika dirumah jilbab dibuka , dan rambutnya
berwarna-warni).
Memang, kerasa beban Hanung
untuk membawakan Ayat –Ayat Cinta memenuhi ekspektasi semua orang. Dan
menurutku yang belum baca Novelnya, cukup berani juga Hanung mengambil
resiko dengan pilihan pilihan yang tidak mudah. Bagaimana kemudian dia
memilih gaya ke-Islaman yang cenderung Populis, Inklusif… bukan
eksklusif atau ketat.Sedangkan disisi lain, Hanung cukup berani
menampilkan secara visual dan verbal bagaimana pengalaman rohani
seorang yang beragama Kristen Koptik menjadi Islam (yang di semua
sinetron Religius TV menurutku tidak ada yang berani). Dan … mengambil
posisi tengah jangan dianggap sebagai sebuah pilihan mudah dan moderat,
karena bagiku mengambil posisi tengah adalah posisi yang paling ribet
dan banyak kena fitnah. Karena dalam kenyataannya, akan lebih mudah mengambil posisi ekstrim. (Teringat
nasehat seorang teman.. mengambil posisi ektrim itu cukup memakai
energy dan fikiran, tetapi mengambil posisi tengah itu memakan energy,
fikiran dan juga satu hal…” hati”…). Btw.. bukankah symbol keagamaan
juga sudah sering dipakai di Film Hollywood…? Di Kite Runner.. bahkan
dipertontonkan bagaimana Talliban merajam seorang perempuan….
Aku
tidak ingin berkomentar banyak tentang jalan ceritanya. Toh aku belum
baca Novelnya,.. (lagi mo baca..barusan dikirimi Gindah), namun memang
benar kata beberapa orang..kadang ada alur logika yang sulit dimengerti
bagi penonton. Tapi, aku fikir ini lumrah untuk
sebuah Film berbasis Novel….ketika aku nonton Golden Compass pun harus
mengerinyitkan jidat untuk memahami setting dan isitilah yang ada.
Pengalaman juga terjadi ketika nonton Bourne Supremasi, Identity dan
Ultimatum. Ketiganya juga membutuhkan waktu untuk adaptasi dengan
setting, nama pemain dan Istilah. (Hari Potter juga sama….).
Akhirnya….,
Salut buat Hanung…., sudah berani mengambil inisiatif dengan Ayat Ayat
Cinta ini. Mungkin ada baiknya kalau Film ini mengambil satu Fokus,
karena dalam Film ini tampaknya Hanung mengambil dua Angle….yaitu kasus
persidangan Fahri dan Kasus bagaimana Penikahannya yang ‘ribet’. Sayang..
angle pernikahannya tidak bisa seimbang dengan angle persidangan. He..
ibarat naik gunung….kita diminta naik gunung dengan dua puncak, yang
maksud hati puncak pertama harusnya lebih rendah daripada puncak kedua.
Namun dalam Film ini,.. klimak justru tinggi di puncak pertama (kasus
persidangan).
Oke…, terakhir (lagi)..
tontonlah film ini seperti menonton Film Batman, atau Golden Compass
yang tidak peduli dengan setting ruang dan waktu dimana ini terjadi.
Menurutku akan jauh lebih nyaman begitu daripada masih berharap
menempelkan cerita pada Mesir saat ini. Karena, banyak
gambar yang diambil di ruangan, close up atau memilih menghadap
kelangit. (Tapi … kenapa ini semua terjadi….sudah diterangkan di
blognya Hanung…..).Kata Akhir : Film ini bagus.. berani dibuat dan berani memasuki wilayah perdebatan…..




