
Ibu itu berbicara dengan putrinya sesaat setelah
akad nikah berlangsung. Ibu itu berkali-kali minta maaf kepada putrinya
karena dalam setahun belakangan ini dia terus mendesak putrinya untuk
menerima calon suami putrinya berdasarkan amanat mendiang suaminya. Ibu
tiri tersebut meras terpaksa mendesak putrinya karena sudah berjanji
dengan mendiang suaminya untuk menikahkan putri mereka dengan seorang
putra kerabat jauhnya yang sudah disiapkan sejak 3 tahun yang lalu.
Airmata
terus mengalir di muka ibu tersebut. Dia sangat mengerti kalau putrinya
akan sulit menerima calon suami yang ditetapkan mendiang suaminya itu. Namun
dia tidak punya pilihan lain, kecuali harus mengabulkan permintaan
suaminya itu. Ibu yang baik itu terpaksa mengambil resiko untuk terus
mendesak putri tirinya, bahkan harus dihardik putri-putri kandungnya
sendiri karena dianggapnya ketinggalan jaman. Bahkan seorang putri
kandungnya mengatakan ” Ibu hanya ibu tiri, tidak berhak memaksa.
Kasihan kakak”. Namun istri yang setia dengan amanat suaminya itu terus
mendesak putri tirinya untuk menunaikan amanat mendiang suaminya.
Pengantin wanita yang belum terjamah pengantin laki-laki itu terus merapalkan zikir. Dia
memang selama ini tidak bisa memahami maksud amanat bapaknya. Diapun
tidak bisa langsung menerima desakan ibu tirinya setahun belakangan
ini. Namun, ditengah rapal zikirnya dia terus mencoba berfikir positif
dan memandang pengantin pria disampingnya sebagai amanah tuhan yang
harus diterimanya, setelah ikrar suci yang hanya dia dengar dari mulut
laki-laki disampingnya dengan seorang pamannya.
Pengantin
wanita itu terus membangun bayangan tentang kisah khidir dan musa, dan
dia terus berdo’a untuk menjadi sosok yang lebih dari Musa, yang tidak
banyak protes dengan khidir yang sulit difahaminya. Pengantin wanita
yang dokter gigi tersebut meredam daya kritis yang selama ini dia
fahami dan pelajari. Ternyata ketika dia harus menentukan siapa
pendamping hidupnya, dia harus benar-benar pasrah, meredam
keingintahuan tentang maksud ini, menyimpan metode-metode penelitian
yang selama ini dia pelajari dan terus memikirkan bagaimana sosok
bapaknya yang semua orang yang mengenalnya pasti akan mengatakan dia
adalah orang hebat, masih menasehatinya untuk menerima suami yang telah
dipersiapkan.
Pengantin
Wanita tersebut kemudian membangun presepsi dalam dirinya bahwa dirinya
juga menikah dengan cinta, bukan cinta kepada laki-laki yang kemuan
akan dia panggil dengan panggilan ” Kang Imam” disisinya, namun dia
menikah karena cintanya kepada sang ayah. Dan dia terus meyakinkan
dirinya untuk meyakini hal ini. Dia terus membangun hal-hal yang selama
ini dianggapnya sebagai mitos, dimana perempuan baik dimanapun adalah
perempuan yang mampu menjadi pendamping suami, dan haram baginya untuk
menolak anugerah suami yang telah datang, bahkan telah memberiya mas
kawin kalung berlian yang sudah dia pakai sat ini.
Ibu
tirinya masih menangis entah bahagia, menyesal atau mungkin sedih
teringat mendiang suaminya, bapak anak tirinya yang hari ini menikah.
Pengantin wanita masih terus merapalkan zikir disamping laki-laki
yangsecara sariat sudah menjadi suaminya itu. Sedang laki-laki
disampingnya masih mencoba memahami keadaan setelah
pernikahannya. Dia masih bingung dengan keadaan yang terjadi
dihadapannya. Keluarga besarnya sudah meninggalkannya. Istri sahnya
disampingnya, dan terus memejamkan mata sambil berkomat-kamit tidak
jelas. Ibu mertuanya terus menangis. Laki-laki tersebut kemudian
memilih memasuki kamar pengantinnya sendiri tanpa berani mengganggu dua
perempuan ’asing’ yang saat ini hidup serumah dengannya. Dia memilih
merebahkan diri dan berusaha memejamkan mata. Dia malam itu merasa
menjadi laki-laki bodoh yang gagal memahami keadaan. Dan sampai pagi
mata terpejam, namun sedetikpuin jasadnya tidak bisa menikmati
nikmatnya kematian kecil, tidur malam ini.
———-
Bukan kisah nyata…serius….
Hahahhahaha, mau kisah palsu ato mengarang bebas sekalipun tetep aja persepsi ku 1 yaitu ……
Wakakakakakakakkkkk…
Tapi its ok kok, keep in touch bro.
Haduh… aku lagi belajar ngarang bebas nih .. siapa tahu Hanung Bramantyo tertarik jadiin Film.. he..he..