Archive for March, 2008

24
Mar

Vantage Point (2008) : Cerita Agen Amerika yang India Banget

Vantage_point_poster
Bagi yang belum Nonton Film ini , mendingan Jangan Baca Review ini
Karena akan kehilangan efek terpenting dari Film ini, Serius….!
   

Btw..
bagi yg ngeyel pengen baca review ini, atau memang sudah nonton Film
ini silahkan lah baca Review Film yang menurutku film cerita biasa
dengan teknik bercerita luar biasa.

 

Awalnya, aku bareng Mahe, Rori, Odong ma Gindah spontan saja memutuskan nonton Film ini. Tadi
malam begitu salah satu dari kami ada yg ngajak nonton, kami langsung
saja berangkat tanpa berfikir mo nonton Film apa. Namun, berdasarkan
referensi dari www.21cineplex.com,
kami memutuskan akan menonton Vantage Point, tanpa ngerti detail-detail
bahwa itu Film yang buat siapa, bintangnya siapa, dan tentang apa. ( yg
kami ngerti ya… semacam agen-agen rahasia
gitu…., maklum kalau ‘squadranya tukang nonton’ seperti kami, Film yang
paling kami hindari adalah Film Horor,Karena ada satu orang diantara
kami yang benar-benar benci /trauma nonton Film Horor…….he..he..)

 

Adegan diawali dengan musik yang mirip Borne Ultimatum (Aku, Mahe, Odong langsung spontan menyepakatinya..). Kemudian layar mengetengahkan sebuah gambar bagaimana suasana KTT Negara-Negara Koalisi baru penentang Terorisme pimpinan
Amerika Serikat lengkap dengan demonstran penentangnya. Disisi lain
gigambarkan bagimana kesibukan sebuah mobil liputan stasiun TV GNN.
Cerita ini settingnya di Spanyol.

 

Sesaat kemudian, Layar mengisahkan bagaimana
presiden Amerika Serikat bernama Ashton ( gak ngerti.. ini presiden
Amerika kapan..) yang datang ke Acara yang berlangsung di lapangan
terbuka tersebut dan kemudian tertembak di podium, yang selanjutnya ada
dua peledakan bom. Cerita Film ini kemudian berlanjut dengan bagaimana
agen rahasia Amerika berusaha menyelamatkan presiden, mengejar
penembak, dan mengungkap konspirasi terrorisme ini dalam tempo yang
cepat. He…. Saat inilah tempo yang mirip seperti dalam Bourne Ultimatum
berhasil dihidupkan Pete Travis, Sutradara Film ini.  Bagi
anda yang belum nonton Film ini,.. saya sarankan jangan sekali-kali
melengos dari layar atau bahkan telat datang ke bioskop, atau sekedar
ke kamr kecil. Tahan……..! Karena kalau anda melakukan itu.. saya jamin…
potongan Puzle yang menjadi pembangun cerita Film ini akan hilang dan
anda akan salah faham…..( uring –uringan dan bingung… melihat cerita
Film ini…..).

 

Puzle…….!?

 

Begitulah..
kesimpulanku. Pantas kalau poster Filmnya juga bergambar sosok
laki-laki berpistol yang terangkai Puzle karakter-karakter yang ada di
Film ini.

 

Namun,  Sekali
lagi kunyatakan, Film ini ceritanya biasa, namun teknik berceritanya
yang luar biasa. Karena kemudian ceritanya mundur ke jam 12.00 , 15
menit sebelum penembakan, yang diulang-ulang. Dengam menampilkan sudut
pandang cerita dari masing-masing tokoh. He…he… penonton selalu
berteriak Huu… ketika sebuah sudut pandang cerita seorang tokoh berakhir hingga
meledaknya Bom pasca penembakan presiden. Namun, setelah film berakhir
aku mikir… ketika layar menampilkan gambaran Rewind kembali ke jam
12.00 dengan ganti sudut pandang kisah pada tokoh yang lain inilah
penonton diberi kesempatan untuk menghela nafas dan menyiapkan
diri untuk memperhatikan detail berikutnya, dari tokoh yang akan
diceritakan untuk 15 menit berikutnya. Dari sinilah ketika di
awal proses kami celetukan, di ulangan kisah kedua kami kaget (karena
kok ada rewind segala) , di ulangan kisah ketiga kami sudah melotot
untuk tidak mau ketinggalan detail-detail cerita, untuk menyatukan dan
menyusul Puzle-Puzle cerita yang ada dalam isi kepala kami. Setiap
tokoh presiden AS, agen rahasia, pengawal, turis amerika, anak kecil
spanyol bernama Anna, polisi kota, perempuan kekasih polisi, OB sebuah
Hotel, dan Seorang berwajah Arab  yang
diceritakan dalam ulangan cerita ini semua penting dan menjadi benang
merah cerita. Katakanlah.. satu tokoh dihilangkan… rangkaian cerita
akan menjadi kacau. Puzle itu hanya akan terangkai dengan utuh diu
akhir Film dengan kata kunci underpass.

 

Namun pagi ini aku tersadar, kok teknik berceritanya mirip Long Road to Heaven (LRTH)-nya Enison Sinaro (kalyanashira, 2006), bahkan temanya mirip… sama-sama tentang Terorisme.
Cuman beda tempo ceritanya. Wah…, jangan-jangan Pete Travis
terinspirasi dengan Film Indonesia ini….., dan dia bisa membuat Film
dengan gambar yang bagus, figuran yang jauh lebih banyak, cerita yang
lebih kuat karena Pete Travis menggarapnya dengan cara, anggaran dan dukungan industri film sebesar Colombia Pictures, Holywood. Atau mungkin saja motifnya beda, di  LRTH
adalah menghadirkan kisah nyata dengan pesan humanis yang pengen banget
di kisahkan, sedangkan di Vantage Point adaah film yang bermotif jadi
Film Hiburan dengan unsur  dramatisasi yang dilakukan sekuat mungkin  (namun tetap logis). Bisa jadi Film ini terinspirasi denga adanya Bom Madrid (11 Maret 2004).

 

Hal
yang mengganggu ya tetap saja ketika penggambaran teroris yang mereka
sebut Kelompok Mujahid. Ada gambaran bom bunuh diri yang dilakukan
seorang OB di Spanyol yang sebelum bunuh diri memandangi foto keluarga
Arab. Dan ..lagi-lagi cerita heroiknya seorang agen rahasia Amerika
dalam menyelamatkan presiden Amerika ( diceritakan bagaimana Presiden
Amerika ternyata punya Kembaran yang gentian tampil di publik…). Ketika
semua pertahanan, kawalan berlapis, hingga multi  skenario
tampilnya preseiden Amerika Serikat ternyata ditembus oleh teroris yang
menurutku beraksi mirip cerrita The A Team atau Mission Imposible itu,
akhirnya bisa diselesaikan seorang pengawal presiden seorang diri.  Btw… mengingat cerita ini aku  jadi teringat cerita-cerita Film India….( bukan teknik bercerita nya) dimana ada seorang Hero yang
ketika banyak teman dia kalah terus, giliran dia khir Film ketika dia
hanya sendirian akan memenangkan pertarungan ( Biasanya kelahinya
diiringi hujan –hujanan…. dan pukul-pukulan dengan efek pukulan
hiperbolis ha..ha….). 

 

Gindah sempat  berkometar….., teroris yang berhasil menembus keamanan
Amerika Serikat itu ternyata bisa dikalahkan hanya karena takut
menabrak anak kecil di tengah jalan. Rori koment.. kok jadi teroris gak
serius..menembak orang jedar jeder.. mosok nabrak anak kecil tidak
berani….?  Yah.., cerita ini memang diakhiri
dengan mobil ambulan yang jadi alat untuk menculik Presiden Amerika
Asli (bukan kembaran) terbalik Karena menghindari menabrak anak kecil
spanyol bernama Anna. (Tak fikir di awal cerita.. anak kecil yang
diceritakan es krimnya jatuh karena menabrak turis Amerika ini hanya
hiasan Film…. Ternyata malah penyelesai cerita). Mungkin ada missi
humanis juga, bahwa seteroris terorisnya seseorang.. juga cinta
anak-anak…..

 

Akhirnya, bagi yang belum
nonton. Tonton saja. Namun jangan salahkan saya, kalau efek terpenting
dalam Film ini (rasa penasaran) akan berkurang, bahkan hilang gara-gara
baca Review ini. ( Salah sendir udah diperingatkan diawal ..malah
ngeyel….he..he.). Yang jelas , anda akan melihat teknik bercerita yang lain…, walaupun mirip LRTH tadi. Paling tidak…, aku merasakan sensasi nonton Vantaga Point ini mirip merasakan sensasi nonton Petualangan Luar Angkasa  di Dufan ( Coba saja seandainya 21 kursinya bisa gerak-gerak kayak di Dufan….he..he…).

————–
Cast

Dennis Quaid, Matthew Fox, Forest Whitaker, Sigourney Weaver, William Hurt, Zoe Saldana
Director(s)

Pete Travis

Writer(s) Barry L. Levy
Status In theaters (wide)
Genre(s) Action/Adventure
Release Date Feb. 22, 2008
Running Time 90 minutes
(movies.go.com)

23
Mar

De Winst by Afifah Afra

Dewinst
Novel berjudul De Winst ini
awalnya menarik karena sampulnya, ketika berjalan jalan di Islamic Book
Fair Jogja kemarin. Sampulnya lumayan mengundang penasaran, kesannya ‘dalem’. Ketika melihat nama penulis dan penerbit, bagiku ini asing. Afifah Afra dan
penerbitnya namanya Afra Publishing. Setelah kulihat sampul
belakangnya, aku baru ngeh….kenapa nama ini asing…, karena memang sudah
lama aku tidak berinteraksi dengan Novel-Novel terbitan FLP. (Terakhir
aku baca novel komunitas FLP karangan Gola Gong…sebuha trilogy novel
kalau gak salah……, soalnya dulu bosen karena kebanyakan memprovokasi
diriku untuk menikah…..he..he..).
   

Oke…
setelah tak coba masukkan nama Afifah Afra ke ‘mbah’ Google ( Dukun
paling ngerti apapun di dunia Internet), akhirnya didapat jatidiri
penulis  sbb:

 

Afifah
Afra adalah nama pena Yeni Mulati. Belakangan, penulis kelahiran
Purbalingga, 18 Februari 1979 ini, mulai diakui keberadaannya di dunia
perbukuan, terutama fiksi. Salah satu novelnya,
Bulan Mati di Javasche Oranje, menjadi salah satu karya terbaik FLP Award 2002.

      

Oke.. kembali ke De Winst....
Novel
terbitan Januari 2008 ini menarik. Alur konflik yang dibangun dalam
Novel ini cukup mengambarkan bagaimana setting pada jaman pergerakan
nasional sedang bergolak di Indonesia. Diceritakan bagaimana seorang
tokoh bernama Rangga Puruhita yang masih cucu Pakubuwono X, pulang
belajar Ekonomi dari Negeri Belanda, dan pulang ke Indonesia harus
mengalami ‘benturan peradaban’ antara status kepangeranannya,
mimpi-mimpi modernisasinya, Islamnya dan Cintanya. (He..he.. nih mbak
Yeni Muliati memang menganut pakem bahwa cerita Revolusi paling pedihpun harus disertai dengan cerita Cinta..dan kalau perlu juga pedih he..he..).

   

Sang
Tokoh Rangga Puruhita, kemudian kerja di pabrik Gula De Winst, yang
sahamnya 20 % milik ayahnya. Di Pabrik inilah dialektika referensi
penulis Novel menjadi sebuah dialog antar tokoh-tokoh besar Dunia yang
diwakili ucapan-ucapan dan pemikiran tokoh-tokoh yang ada di Novel ini.
Muncullah seorang Karl Marx, muncul Adam Smith, muncul Spinoza, muncul
Hegel dan juga muncul Haji Samanhudi, Soekarno, Hatta, dan juga
Muhammad SAW. Dalam sebuah paragraf tak lupa ada narasi tentang tokoh
Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna. Sepertinya penulis punya afiliasi
ideologis dengan tokoh terakhir ini…..seperti kebanyakan (sependek
pengetahuan saya) tentang para penulis di FLP…  (Sesuatu yang sah
saja..seperti  orang  Muhammadiyah dengan Kyai Dahlan dan  orang NU
dengan  Hasyim Asyari..)

   

Menariknya,
selain tokoh–tokoh tersebut….penulis juga mencoba mengangkat tentang
bagaimana repotnya pencarian identitas diri sebagai seorang Muslim yang
bersentuhan dengan Modernisme sekaligus Nasionalisme dalam
narasi-narasi besar Liberalisme dan Marxisme. Menurutku adalah
beruntung bila sebelum membaca Novel ini kita sudah terbiasa membaca
sejarah pergerakan Nasional, tepatnya setelah Pemberontakan PKI atau
pecahnya Sarikat Islam dengan adanya SI Merah Semarang. Tentu saja akan
lebih enak kalau sebelumnya kita juga sudah mengerti siapa itu Karl
Marx, Spinoza, Hegel, Adam Smith, Hasan Al Banna, Haji samanhudi,
Cokroamonoto, Soekarno, Hatta dan tulisan atau pemikiran mereka.
Seorang tokoh kunci yang menurutku tertinggal dalam Novel ini adalah
sosok Haji Misbah yang terkenal dengan Kyai Kiri.
Hal ini menurutku penting karena setting Novel ini adalah sebuah
sejarah nyata bangsa ini dan bertempat di Solo, dimana di masa itu
setahuku Haji Misbah menjadi salah satu penggerak perlawanan
‘Islam-Kiri’ di Solo. 

   

Dalam
membangun cerita Cinta, Novel ini cukup cantik menggambarkan cerita
yang tidak melulu ceramah menjelang pernikahan (he.he.. ini kesanku
jaman dulu ketika membaca novel novel FLP). Diceritakan adanya perasaan
seorang Bangsawan Jawa yang tertarik dengan kecantikan seorang Noni
Belanda yang baru dia kenal, namun harus kandas karena Orang tua sang
Noni Belanda harus merelakan pernikahan anaknya karena hutang (
He..he.. Siti Nurbaya Banget…), terus ada kisah bagaimana perasaan
Cinta seorang Sekar Prembayun  kepada Jatmiko dan Pratiwi kepada Kresna
karena pertimbangan “Lelaki Pemimpin Revolusi yang Cerdas itu  Seksi”
(seperti Lana Lane yang memimpikan Superman yang diangapnya krisis
eksistensi), dan juga diungkap bagaimana definisi kehormatan dan
pengabdian perempuan Jawa dimasa itu, bagaimana cinta harus terpisah
karena tirani dan politik. Dan yang terakhir bagaimana sebuah
pernikahan yang sah secara Syariat (antara Rangga dan Nonon Belanda
yang menjadi Islam), namun dalam benak sang Laki-laki masih teringat
seorang perempuan lain. Mungkin ungkapan “Cinta dan Perasaan untuk
Memiliki menjadi sesuatu yang berbeda” (seperti kata-kata Maria di Film Ayat Ayat Cinta) sejalan dengan kasus ini.   

   

Novel ini menurutku kurang dalem dalam mengungkap dialektika naras narasi besar yang menjadi content
Novel diatas, dan kuakui ini hal yang sulit karena harus mencari cara
membahasakan konsep para idealis dalam bahasa populis. Mungkin kita
bisa bandingkan dengan konflik  dalam  Novel-Novel
Hamka seperti Dibawah Lindungan Ka’bah dimana ada dialektika cantik dan
‘dalem’ antara Islam, Isu Feminsime dan Adat sekaligus cerita cinta
yang mendalam dan mengundang tangis..he.he…

   

Adalah
akan mejadi hal yang sangat menarik seandainya  detail yang
menggambarkan eksotiknya kota Solo jaman tersebut, Kraton, Budaya
Eropa, Arab dan  Cina , Kampung Batik Laweyan serta kehidupan Buruh Pabrik Tebu , sehingga Novel ini menjadi Filmis…

   

Satu
lagi..penulis sepertinya lupa ketika menceritakan Pesta Dansa yang
berlangsung di Batavia. Dimana diceritakan bahwa pesta dansa itu di
Hotel, namun seorang tokoh ada yang mengatakan ketika ada ancaman
kepada seseorang yang dianggap pengganggu bahwa dia akan dilaporkan ke
petugas Kapal…..

   

Akhirnya,
Novel ini perlu dibaca oleh semua orang yang ingin mengenal dirinya
sebagai orang Indonesia. Bagaimana dialektika menjadi seorang Indonesia
seutuhnya bisa diawali dengan membaca Novel ini. Keresahan spiritual,
benturan realitas dan idealitas, serta kebingungan para pecinta menjadi
hal-hal yang teramu menarik dalam Novel ini. Sayang.. tampilan novel
keren ini menurutku harus terganggu dengan tulisan di cover depan
bagian bawah : Sebuah Novel Pembangkit Idealisme. ( he.he.. lagi-lagi
tulisan seperti inilah yang menyebabkan aku tidak tertarik membaca
Novel  Ayat-Ayat Cinta….)

   

 

Lihat : http://www.afifahafranews.blogspot.com/

17
Mar

Agama untuk Cinta, Atau Cinta untuk Agama

175pxpartition
Film Partition (2007) menurutku Film
yang cukup menarik untuk dilihat, dimana isu ‘asmara’ harus berkelidan
dengan isu politik dan agama. Dari Film ini kita bisa belajar bahwa ternyata di tataran realitas, Agama
(teks normatif..historis), yang oleh sebagian kita dianggap sebagai
alat baca benar-salah realitas tidak sepenuhnya mudah. Dalam Film ini
kita disuguhkan bahwa Agama sebagai sebagai sebuah keyakinan personal,
harus memiliki legitimasi kesukuan-ras, politik (negara). Agama dan
Politik dalam film ini digambarkan sebagai sebuah dialog yang gagal
(menurutku) sehingga mengorbankan banyak orang lemahdalamperpisahan
(partition) India dan Pakistan pada tahun 1947. Walaupun begitu aku
sangat menghormati pikiran-pikiran Muhammad Iqbal yang menggagas negeri
Pakistan dan aku juga mencoba terus mengapresiasi kearifan Gandi, sang
bapak India Modern.
   

Secara
garis besar sih Film ini menceritakan percintaan dua orang anak manusia
berbeda jenis, berbeda agama dan status kenegaraan. Tergambar ,
bagaimana orang Muslim dikejar kejar orang Hindu dan mereka berlarian
ke arah Pakistan (sekarang).
Kemudian ada seorang muslimah tertinggal dari  rombongan, ditolong laki-laki India (Sikh) dan kemudian mereka
saling naksir. Mereka menikah dengan agama tetap masing-masing
(kayaknya kita belum melihat Fiqh mahzab apa yang dianut), dankemudian
memiliki anak.

   

Suatu
saat, sang perempuan ingin mencari keluarganya di Pakistan, dan istri
berangkat sendiri. Setelah beberapa waktu ditunggu, sang perempuan
tidak pulang-pulang, karena ternyata di sandera keluarganya yang Muslim
dan tidak boleh kembali ke India. Kemudian, sang suami dan anak yang
kangen ibunya menyusul ke Pakistan, namun dia harus menjadi beragama
Islam sebelum masuk Pakistan. Pada sesi inilah kita harus melihat
terjadi dialektika antara agama dan cinta personal. Dan dalam Film ini
akhirnya agama (laki-laki) memilih menjadi Islam.

   

Bapak
dan anak itu mencari ibunya, dan terjadilah konflik antara keluarga
sang perempuan dan suaminya. Kekuatan cinta yang selama ini mereka coba bangun dengan menafikkan isu agama dan politik (serta dendam) ternyata harus diuji.
Ibu
sang perempuan dan kakak-kakak laki-lakinya terus menekan si perempuan.
Terjadilah kejadian tragis dalam konflik ini, dan kemudian sang
laki-laki terbunuh oleh keluarga perempuan. Pembunuhan muslim atas
muslim akibat dendam dan kesukuan

   

Isu
agama yang kadang jadi pembenaran egoisme dan dendam kesumat dalam Film
ii coba diangkat. Perpecahan, pertarungan dan perselisihan yang sering
memperalat agama sebagai pembenar oleh Film ini dikritik habis. Bukan
menempatkan cinta diatas agama menurutku, namun coba membuka realitas
bahwa ternyata seorang Muslim juga bisa gelap mata, terus menyimpang
dendam dan itu dilegitimasi oleh ke-Islamannya. Sehingga borok itu
terkuak ketika musuh dari suku lain itu kemudian masuk Islam, mereka
tetap memandangnya sebagai hutang darah dibayar dengan darah. Sehingga
sejatinya permusuhan mereka disini bukan atas nama agama lagi. Cerita
ALi bin Abi Thalib yang membatalkan menebas leher musuh karena diludahi
musuh tidak terjadi disini. Emosi, egoisme dan dendam menjadi utama
disini. Dan lagi-lagi memiliki pembenarannya…

   

Permusuhan
sejatinya adalah pertarungan ego manusia semata, namun kadang agama
sering diperalat untuk membenarkan egoismenya semata.

13
Mar

Penjara Laut+Karang Rapuh

Karang malam ini mengerti kalau Laut yang
tampak angkuh, dengan umpatan-umpatan feminisnya  itu terjadi bukan
karena Laut itu benar benar ingin angkuh dan mengumpat selama ini.

 

Ternyata
dibalik semua itu ada kehendak tertahan yang membuat Laut seakan
terpenjara dalam jeruji-jeruji beruwujud klaim atas kesucian patriakhi dan kebenaran laki-laki disekelilingnya yang selalu mengatakan “ kami lakukan ini demi kebaikanmu”. Tamparan, dan bentakan yang menjadi makanan dia selama ini itulah yang ternyata menyebabkan Laut membangun proteksi yang sulit ditembus. Proteksi yang membuatnya tersiksa, tidak bisa memilih dan membuatnya terkunci dalam jeruji–jeruji kehendak yang selalu bukan dirinya yang meminta. Kadang dia terus protes….”Mengapa
walau aku  belajar hingga negeri para Firaun, dan  aku berhasil
mengupas seluk beluk jiwa manusia.. tetapi  jiwaku sendiri masih
terkurung ego kalian….?! apa karena aku perempuan ..?”   

 

Karang  hari ini mengerti kalau para pemuja Laut
satu demi satu sudah menyatakan mundur dan memilih untuk tidak
mendekati Laut lagi. Bahkan ingin mengubur kenangan sosok laut dalam
dirinya. Bukan karena laut menghempaskan mereka, namun Karena Laut
selalu mengombang ambingkan para pemujanya. Walaupun  Laut selalu
menangis dalam dirinya…tidak ada maksud sedikitpun untuk mengombang
ambingkan mereka…. Laut hanya tidak tahu harus menjawab apa ketika
para laki-laki itu kelak harus berhadapan dengan para laki-laki yang
selama ini selalu sok tahu dengan dirinya…..

 Wajar bila para laki-laki patah hati itu kemudian memilih memulai hidup baru, walaupun sejujurnya  mereka
tetap tidak bisa melupakan Laut. Laut yang angkuh, yang tampak sinis,
dan terus menjadi ‘hantu cantik’ dalam mimpi tidur mereka. Laut yang
dekat tapi tak bisa disentuh, Laut yang membisu dan terus mengunci
rapat perasaannya. Laut yang selalu menantang dan siap berteriak ketika ada yang mengusiknya tentang hatinya….. Yah… hatinya yang selalu dia rahasiakan untuk siapa….

 

Laut….  ! Kacamata itu yang teringat dimata  Karang.

 

Bukan…!  bukan kacamata, tapi wajah angkuhnya.

 

Tapi lagi-lagi Karang kembali menolak bahwa wajah angkuh itu yang membuatnya tdak bisa melupakan Laut. Tapi apa….?

 

Karang kembali memikirkan. “ Oh Qosim Amin…!” , ha..ha…iya…, Karang teringat nama orang itu yang sering disebut Laut  dalam umpatan-umpatan femisnisnya . Umpatan  pemberontakan
terhadap masa kecilnya, terhadap laki-laki yang disayanginya.. terhadap
banyak hal ya dianggapnya ‘bersalah tapi baik’ dengan dirinya lagi.

 

Karang tersadar…, masih panjang jalannya untuk menjemput Laut.
Masih butuh banyak hal….karena Laut bukan sekedar butuh laki-laki… tapi
butuh manusia yang bisa membebaskan dia, atau sekedar  sedikit berjarak
dengan laki-laki di sekelilingnya. Para laki-laki yang selalu
mengaturnya, menamparnya dan membentaknya atas nama cinta, atas alasan
dia bungsu, dan atas alasan dia perempuan. Karang harus datang untuk
menjemput laut dalam kondisi tidak sekedar memenangkan hati Laut. Namun
juga harus memenangkan dialektika ego dengan para laki-laki di
sekeliling Laut…….

 

Tidak ada pilihan lain bagi Karang kecuali harus datang dan menang, karena tidaklah lucu bila ada “Karang kehilangan Lautnya….? “

09
Mar

Menghadapi Perempuan Bisu

Kemarin, ketika aku menulis ttg. Sosok Feminis  yang Sexy, ada beberapa teman perempuan kemudian berkomentar (via off line)
ttg ketidak sukaan mereka atas klaim ku bahwa mereka yang berani teriak
teriak ttg Feminisme itu Sexy. Mereka yang bukan aktifis itu
berkomentar bahwa pilihan untuk diam adalah
sebuah pilihan yang harus dihormati. Karena toh orang-orang yang teriak
teriak ttg Feminisme itu bisa-bisa lebih tidak tahu tentang realitas,
atau mereka memilih aliran Feminis yang bisa jadi tidak sesuai dengan
kondisi para perempua. Yah.. coba deh… pledoinya tak tulis…

 

Bagiku tetap saja, sepintar peintarnya orang kalau dia hanya diam, aku berhak mengatakan bahwa dia sebenarnya bodoh. Bagiku
sepeduli-pedulinya seseorang terhadap ‘nasib perempuan’ (atau ketidak
adilan yang lain) namun dia diam, sama saja aku berhak mengatakan bahwa
dia sebenarnya penakut. Bagaimanapun orang-orang bisu biasanya adalah orang-orang yang tidak berani mengambil resiko. Jadi: diam bukanlah pilihan.. diam adalah ketidakberdayaan.

 

Menurutku,
setiap manusia (tidak harus perempuan) yang memilih menjadi orang
kebanyakan, dia sama saja membohongi bisikan nuraninya bahwa
disekelilingnya ada masalah yang harus diatasi. Dan repotnya, secara
salah kaprah, mereka berlindung dalam prinsip “lebih baik diam kalau tidak bisa berkata baik ?”

 

Ma’af..walaupun prinsip itu benar, tapi itu prinsip manusia tertindas. Itu hanya standar minimal manusia baik, bukan manusia bermanfaat.  Ketika harus survival. Kalau ingin berubah menjadi mansia maju, pakailah prinsip… “sebaik baik orang adalah ketika banyak berkata dan semua perkatannya adalah perkataanm benar , baik, berguna dan bermanfaat”. Jadi, sekedar menjadi orang baik adalah baik, tapi bukankah sebaik-baiknya orang adalah orang yang bisa berguna untuk orang lain ? ( Sebaik baiknya muslim adalah yag berguna bagi muslim yang lain). Kalau menggunakan prinsip lebh baik diam.. terus bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain….?

 

Teringat jaman dahulu ketika aku masih sering menjadi instruktur pelatihan peningkatan kapasitas mahasiswa. Target
pertama pelatihan di kalangan mahasaiswa adalah bagaimana mereka mau
mengatakan apa yang difikirannya, itu saja (perkataannya benar atau
salah itu masalah lain). Betapa susahnya membuat mereka berbicara,
mayoritas mahasiswa adalah manusia-manusia bisu. Sehingga kami harus
mengeluarkan berbagai cara untuk membuat mereka berani berbicara, atau
sekedar menuliskan pikirannya. Mereka selalu menggunakan dalil dalil
khas manusia tertindas tersebut diatas , ditambah lagi dalil: bahwa berdebat adalah pekerjaan sia-sia….itu pekerjaan kaum yahudi….

 

Waktu
itu, kami berbekal asumsi bahwa setiap peserta pelatihan adalah
orang-orang yang datang dengan truma-trumanya sendiri. Dan lucunya
hampir semua memiliki trauma dimasa kecilnya seperti  dia pernah
diolok-olok temannya, kakaknya, bapak atau ibunya ketika berpendapat.
Kadang mereka mengaku kalau dia takut berpendapat karena dia merasa
ilmunya masih rendah. Namun..kami (instruktur) sepakat bahwa mereka
adalah manusia-manusia sakit secara sosial dimana mereka tidak memiliki
keberanian…bahkan hanya untuk mengatakan kata: tidak….! (Merekalah.. manusia manusia yang pasrah dirinya diperkosa secara sosial…)

 

Terus
terang, bagiku manusia-manusia seperti itulah manusia-manusia yang
bermental inlander, bangsa terjajah. Mereka merasa bahwa hal terbaik
dalam dunia ini adalah ketika kita menjadi manusia ‘sekedar’ baik..
untuk dirinya saja..Jadi boro-boro mereka berwacana tentang feminism
dan sebagainya, mau mengatakan makanan apa yang dia paling inginkan
saja bisa-bisa tercekat bibrnya. (Gila..
sejak ‘penjajahan’  Sriwijaya, Majapahit, jaman Belanda sampai jaman
Jepang.. ternyata telah membuat cara berfikir terjajah bersemai sampai
beranak pinak..
.)

 

Mengapa banyak orang yang tidak mau berani ikut dalam barisan bicara…?

 

Karena bagi mereka mereka
adalah sosok-sosok egois. Kadang mereka menganut cara fikir, bahwa
rubahlah dirimu sebelum merubah orang lain. Jujur,.. aku mangkel dan
jengkel ketika ada orang sok suci mengatakan hal ini ,..hanya untuk
membenarkan kepengecutannya dan keegoisannya…

 

Perubahan
tidak mungkin terjadi ketika menunggu manusia-manusia sempurna lahir.
Karena manusia ya tidak mungkin sempurna. Jadi orang-orang yang berfikir seperti diatas hanya akan menambah beban masalah, dan kebisuannya adalah masalah terbesar dalam hidupnya.

 

Ngomonglah…, dan
berbuatlah….., tidak perlu takut dan tidak perlu berfikir negative
dengan orang-orang yang berani berbicara. Karena ketika kita berfikir
negatif  thd mereka, saat itulah kita termasuk menjadi barusan manusia manusia pengecut dan penakut.

Manusia
akan menjadi sepenuhnya manusia kalau berani berfikir, berani berkata
dan berani berbuat. Kaidah kaidah teologis, akhlak dan etika itu jangan
dianggap pembatas, anggaplah semacam aturan balap mobil. Mobil harus
digeber.. sekenceng mungkin, aturan, etika, ahlak itu ada untuk menjaga
kita tidak bersinggungan dengan pembalap lain.. bukan untuk membuat
kita berhenti menekan gas mobil atau bahkan keluar dari lintasan.. Fastabiq…!

Laut, teruslah bicara, teruslah berbuat, teruslah menggungat kenyataan..!
Biarkan perempuan-perempuan bisu itu terhempas dengan ketidakberdayaan mereka

07
Mar

10.000 BC: Cerita Cinta ‘Gak’ Pandang Ruang dan Waktu

Cantik
Ternyata
yang namanya kisah cinta selalu menarik, bahkan ketika dibawa ke
setting negeri antah berantah dengan setting waktu yang ‘tidak
mungkin’, yaitu sepuluh ribu tahun ‘sebelum masehi’. Atau mungkin
karena Roland Emmerich yang memang cerdas mengolah sisi-sisi kemanusiaan yang paling mendasar, yaitu Cinta.
 

Btw…selama nonton memang aku coba hanyutkan saja konsentrasiku pada kisah cinta , D’Leh (Steven Strait) dan Evolet (Camilla Belle)
serta heroisme ‘para pemburu’ dan ‘tombak’ sebagai kaum tertindas untuk
menhancurkan tiran yang mengaku ‘Tuhan’. Hem….ketika melihat dari sisi
heroisme ini, mirip cerita Firaun dan Musa, bahkan lengkap dengan
symbol tirannya yaitu Gunung Para Dewa… atau Piramid.

 

Scene  yang membekas dengan diriku adalah ketika Pemburu Tic Tac menceritakan kepada D’Leh : bahwa ada dua macam laki-laki, pertama ada laki-laki baik
yang dengan tanggungjawabnya dia harus melindungi keluarganya dan juga
kelompok dan kerabatnya. Dan laki-laki yang kedua adalah laki-laki tidak baik yang
akan jadi orang besar, dimana dia tidak sekedar memikirkan keluarga dan
kerabatnya, namun berani menagmbil resiko  untuk memikirkan
bangsa-ummatnya.
 (kok..laki-laki saja….?  he.he.)

 

He,..
selain itu jelas yang menarik tentu saja gambar-gambar ‘khayal’ yang
mampu dihadirkan dengan benar-benar cantik, smooth dan serasa kembali
ke ‘jaman yang dimaksud’ dimana orang-orang masih berburu dan meramu,
takjub dengan bercocok tanam, dan bagaimana mereka harus menjadi
orang-orang yang tergantung dengan para laki-laki perkasa.. (Loh…
kayanya ada yg pengen mendebat nih.. he..he.).

 

Di
sisilain, sepertinya ada pesan ‘khas kiri’ dari Film ini, tentang
bagaimana definisi manusia yang ketika ingin mendapatkan haknya
haruslah memperjuangkan sendiri. Bagaimana ketika setiap pemimpin
ternyata harus memiliki fungsi profetis… atau mirip
istilah anak-anak muda (yang sekarang sepertinya udah sepi dan jarang
aku mendengarnya..) Sebagai Agen of Change. Terganbar dalam Film ini
bagaimana ‘Musa’ dan ‘Bani Israel’ yang harus disadarkan bahwa mereka
akan mendapatkan perubahan kalau berani merebut hak mereka, karena (
ini kata Tic tac) : Jauh lebih banyak yang dipaksa tunduk… daripada
yang memaksa tunduk. ( Dalam setiap rumus gerakan social memang begitu…
tiran selalu berkongsi dengan ‘orang pintar’, ‘kapitalis’ dan
‘penguasa tafsir teologis’ yang semuanya menghagemoni, membodohi dan
memperalat mereka yang malas berfikir…. (Yaa Ayyuhal Muddatstsir……Qum…!)

 

He.. lagi laku konsep profetis dalam
film-film akahir-akhir ini memang menjadi cukup manusia dan romantis,
disbanding dengan konsep manusia super yang tanpa cacat. D’ Leh yang
mewakili sosok Messias, Ratu Adil atau Pemimpin yang Dijanjikan timbul
sebagai sosok pemuda yatim-piatu, langganan patah hati, tukang mimpi,
perenung dan juga peragu. Dan seperti sebuah rumus besar para pemimpin
besar Revolusi, dimana di sampingnya ada seorang mentor bernama
‘Pemburu Tic Tac’ ( Aku selalu berkeyakinan tidak ada revolusi tanpa
mentor yang bijak), ada seorang perempuan cantik yang harus dikejarnya
(Aku juga berkeyakinan tanpa kisah ginian.. akan jadi garing
banget…he…he..). Dan harus ada kondisi dimana sang hero mengalami
depresi, kebimbangan dan dia harus berkomunikasi langsung dengan yang
dinamakan Tuhan ( Religiusitas ala Sufisme…..bukan religiusitas ala
penegak Syariat). Dalam film ini juga tergambar bagaimana sang Hero
adalah sosok yang haus mencari ilmu, tergambar dengan berhasilnya dia
mengadopsi ilmu dari suku lain dengan menanam padi.

 

Btw…
revolusi harus selalu meniti jalan-jalan sunyi, dimana ada kebimbangan,
ada kerinduan akan Tuhan dan Belahan Jiwa, selalu berada dalam batas
–batas optimisme dan keputusasaan, dan bagaimana ilmu, refleksi dan
merelakan diri menjadi milik ummat. Dia terpaksa tidak hanya menjadi
orang.. baik….tapi juga menjadi orang  yang dipaksa sejarah menjadi orang besar.

   

Laut.. Aku Janji akan menjemputmu…Kita Bangun Revolusi kita
Jangan Hanya Bisa Mimpi..!
(Ditulis sambil nonton Republik Mimpi )

03
Mar

Ketika Feminis Menjadi Sexy (Ttg Laut itu)

Dulu aku pernah berfiki tentang wacana Feminisme
yang waktu itu menurutku Absurd. Mereka berdebat tentang hal-hal yang
menurutku tidak perlu dan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Namun
lucunya, ketika aku bertemu perempuan-perempuan yang gemar berteriak tentang Feminisme ini… aku merasa ada yang lain dengan perempuan ini.

 

Pernah
beberapa kali aku mencoba memahami apa yang diperjuangkan kaum-kaum
feminis ini. Mereka dengan gagah berani ternyata membawa misi tentang
kesetaraan gender ( yg definisinya sampe sekarang aku juga tidak
yakin)…,,,juga tentang hal-hal yang berkaitan dengan penindasan
perempuan baik dalam konteks cultural, struktural (Negara), atau juga agama (baca= tafsir Agama). 

 

Sekilas
aku merasa ada yang benar dari banyak perdebatan yang berlaku di dunia
feminsime itu. Namun, karena memang sejak kecil aku diajari bapak untuk
tidak pernah memutlakkan semua pendapat manusia, maka aku coba nikmati
saja beberapa perdebatan yang mereka jalankan. Dan kemudian aku merasa
nyaman untuk masuk dalam dunia perdebatan feminism ini.

 

Paling
tidak, ketika aku memasuki dunia ini, aku mendapatkan banyak alat baca
terhadap fenomena dunia sekelilingku. Ketika ada fenomena kekerasan
terhadap seorang istri, ketika ada penyiksaan TKW, ketika ada perempuan
cantik yang dijadikan komoditas dan juga banyak hal…… Yah..
lumayan..aku bisa mencoba membacanya dari berbagai prespektif…

 

Btw,…
secara personal.. perempuan yang mampu mempresentasikan sebuah
keyakinan Feminis menurutku saat ini menjadi jauh lebih sexy disbanding
dengan perempuan yang tidak berani, bahkan tidak mampu, atau lebih
parah lagi tidak mengerti masalah-masalah demikian. Atau..(he..he..)
karena  sosok ‘Laut’ ku yang pernah duduk di Jok belakang itu ternyata  seorang Feminis….? Ah…. Selalu saja.. begini… aku selalu saja berniat memasuki dunia idealis dengan motif romantis…. Btw.. sah-sah saja kan…? He….he.. lagi –lagi gak ada Revolusi tanpa Cinta..

Mampir ke sini yah……

02
Mar

Episode Penculikan Hanung

Hanung_sendiri
Jam 19.45 aula ‘Gedoeng Moehammadijah
di Jl KHA Dahlan 103 sudah penuh dengan peserta “Dialog dengan Hanung”.
Undangan yang disebar kurang dari 24 jam sebelum acara berlangsung ini,
tenyata cukup ampuh. Padahal hanya via SMS dan Yahoo Messenger, bisa terkumpul audience sekitar 120-an orang.

Pak Budi Setiawan, ketua Lembaga Pustaka Informasi (LPI) PP Muhammadiyah sudah berada di ruangan bareng
anak-anak website. Mbak Trias, sekretaris PP Aisyiyah, juga sudah
berada di ruangan bersama putra-putrinya. Demikian juga mBak Evi, Ketua
PP Nasyiah sudah siap di ruangan bersama mBak Wiwit, Sekjen PP Nasyiah,
dan juga aktifis Nasyiah lainnya. Aktifis tingkat pusat  Muhammadiyah
ini bercampur dengan peserta dialog yang berasal dari anak-anak muda
Muhammadiyah, anak IMM, IRM, mahasiswa yang mengaku dari UGM, UNY, UIN,
UMY, UAD, STIKES Aisyiyah, siswa SMA Muh, Santri Mualimin dan Mualimat
dan juga Musrif dan Musrifahnya. Ternyata, banyak dari mereka yang
membawa teman-teman mereka untuk ikut datang, ngakunya sih teman kost
mereka, adik atau saudara mereka (Karena banyak yang tanya
sebelumnya….njajak teman boleh nggak……)

   

Jam 19.50 Hanung
Bramantyo datang di gedung yang berdiri tahun 1925 ini dengan dibonceng
motor, menembus hujan rintik-rintik. Di gerbang dia disambut Pak
Budi dan Mas Iwan (orang LPI juga). Sesaat hanung terbelalak melihat
keramaian di aula malam ini. “Wah tak fikir cuman sepuluh orang …”
demikian kira-kira ungkapan Hanung ketika masuk sambil melepas sepatu
sebelum ikut duduk lesehan. Ternyata dia nenteng bungkusan roti terang
bulan yang dia siapkan sebagai snack
pertemuan malam ini. Dia fikir hanya akan bertemu sekitar sepuluh orang
malam ini. He..he…sukseslah skenario kami menodong Hanung bertemu
komunitas muda Muhammadiyah malam ini.

   

Setelah sambutan sebentar dari Pak Budi yang juga Ketua Takmir Masjid Gedhe Kraton
tersebut, Hanung mengawali dari cerita yang mungkin pada dasarnya mirip
yang di tulisnya di Multiply-nya. Tentang motifasinya, tentang
bagaimana dia menekankan beda novel dengan film dan bagaimana  dia
menemui kesulitan-kesulitan dalam penggarapannya. Termasuk mencari
sosok  Fahri yang dia akui sangat sulit. 

   

Rupanya, audience
malam ini tidak sabar untuk memberondong Hanung dengan berbagai
pertanyaan. Ketika sesi tanya jawab dibuka, peserta menyambutnya dengan
antusias untuk menanyakan apa yang mereka ingin tanyakan. Mahendra,
yang jadi moderator malam itu terpaksa memilih beberapa penanya saja,
dengan (tentu saja) mengecewakan banyak yang ingin bertanya.

   

Diantara
pertanyaan yang terungkap adalah pertanyaan mengapa di Film itu
dianggap mereka kurang Islami. Ada yang bertanya dimana religiusitasnya
karena lebih banyak cerita cintanya. Ada yang  menanyakan tentang mengapa di Film itu ada adegan shalat Aisa di
Rumah Sakit yang tidak melepas cadarnya (menurutnya diwaktu shalat
cadar harus dilepas).
Ada
yang menanyakan juga tentang mengapa dengan orang Kristen kok Fahri
yang muslim saling berjawab salam (Menurut pemahaman penanya, ini tidak
boleh). Dan lagi-lagi banyak yang menyisipkan pertanyaan yang (mungkin)
membuat Hanung gemes :  Kenapa kok Filmnya beda dengan Novel……( ha..ha.. banyak yang bandel ternyata..padahal udah diwanti wanti sejak awal……).

   

Hanung
kembali menegaskan bahwa dia tidak memfilmkan Novel. Dia juga
menegaskan bahwa Film adalah sebuah media, dan jangan dianggap sebagai
sebuah (akhir) pencapaian. " Jadi kalau ada pesan di Film, mari kita
cari pembandingnya dari pesan Film yang lain" ungkapnya. Walaupun
begitu,   Hanung  tetap mengatakan bahwa bila penonton masih mau membanding-bandingkan Novel dengan Filmnya silahkan saja.

Sempat
juga dia menyayangkan dengan banyaknya yang nonton bajakan.. dan
kemudian mencacat filmnya. Dengan setengah bercanda dia mengatakan
bahwa menonton bajakan adalah mendholimi dirinya….”Jangan, karena habis nonton bajakan terus menghasut kiri kanan, ojo nonton Filme elek…..” Sukurlah,
dari para penonton banyak yang membuat pengakuan kalau mereka juga
menonton Filmya langsung di bioskop. (Walaupun ternyata banyak juga
yang  menonton bajakan….wah…payah….).

   

Pengakuan Hanung
Hanung
sempat membuat pengakuan bahwa dia dengan filmnya biasanya memiliki
keterkaitan dengan pengalaman hidupnya. Termasuk mengapa di Film
Catatan Akhir Sekolah ada nama kepala sekolah yang bernama Kastolani (
he..he. buat anak Moehi Jogja sebelum angkatan 2000 pasti ngerti beliau
siapa….).

Yang
menarik, malam ini Hanung membuat pengakuan kalau tidak pernah lagi
menonton Film Ayat-Ayat Cinta secara utuh. Dia mengaku tidak kuat
melihatnya. Ada pesan dalam Ayat-Ayat Cinta yang sangat personal dengan
dia, yaitu  tentang bagaimana dia harus kehilangan dan berpisah dengan
orang-orang yang sangat dia cintai. " Saya harus
menghadapi sendiri, (bahwa) cinta dan perasaan untuk memiliki itu
berbeda" ungkapnya.  "Tidak sama…!" ( hik ..hik…). Ternyata ada
kisah, disaat dia menyelesaikan Ayat-Ayat Cinta, ada orany-orang
tercinta yang meninggalkan dia. " Inilah bagaimana saya harus bertemu
bentuk Sabar dan Ikhlas,….." . Ungkapnya seakan ingin mengingatkan
kita dengan adegan ketika Fahri dipenjara ( Pada saat Hanung mengatakan
ini, tepuk tangan menggema di Aula ….).

Tentang
pesan Islam, menurut Hanung dengan Film ini Hanung ingin menjawab
sebuah gambaran Islam yang sering dilecehkan oleh orang bukan Islam.
Inilah bagian Islam menurut Hanung. Hanung menyatakan dia ingin
menampilkan bahwa Islam tidak hanya agama yang mengedepankan Jihad
dengan pedang dan bom, namun sebagai agama yang mengedepankan Cinta.

   

Minta Dukungan untuk Ketika Cinta Bertasbih
Diakhir
acara, sekitar jam 22.00 Hanung mohon doa restu agar Novel Kang Abik
selanjutnya, Ketika Cinta Bertasbih, bisa diserahkan kepadanya. Hal ini
Hanung katakan ketika menanggapi usul salah satu peserta yang meminta
Novel itu juga difilmkan. Kata Hanung, bila dia mendapatkan Novel itu
sebagai project Film selanjutnya, ini akan menjadikan dia menambal
kekurangannya yang pernah dilakukan di Ayat Ayat Cinta. " Saya
benar-benar ingin shooting di Mesir…" ungkapnya, sambil mengenang
kegagalannya mendapat kesempatan shooting di Mesir.

Selepas
acara Hanung berfoto-foto dengan anak-anak, dengan Pak Budi yang juga
guru Drum Band PMY, kelompok Drum Band yang diikuti Hanung  ketika
masih sekolah di SD Muhammadiyah Ngupasan 1-2. Malam itu ternyata
datang juga seorang  guru Hanung ketika di SMA Muhammadiyah I
Prambanan.  Diujung pertemuan, Anak-anak web  mendapat kenang-kenangan
coretan Hanung di Kanvas dengan tulisan ”Gurumu adalah diri kamu sendiri, Sahabat setia kamu itu waktu, Rumah kamu adalah ilmu”.

—————————————————————————————————————————————
Bagi
saya, ketika ada orang dengan kreativitasnya menjelek-jelekkan Islam,
maka kemudian itu saya anggap sebagai sebuah otokritik. Kecuali dia
terang-terangan menyerang saya. mengebom saya, menyerang agama saya,
sampai kemudian terjadi pertumpahan darah. Maka saya harus membela.
Kalau dia mengeluarkan tantangan dengan sebuah wacana, dialog, karya.
Maka saya harus menyambutnya dengan sebuah karya, sebuah dialog. (Hanung Bramantyo)
—————————————————————————————————————————————-

Foto - fotonya disini…………….