17
Mar
08

Agama untuk Cinta, Atau Cinta untuk Agama

175pxpartition
Film Partition (2007) menurutku Film
yang cukup menarik untuk dilihat, dimana isu ‘asmara’ harus berkelidan
dengan isu politik dan agama. Dari Film ini kita bisa belajar bahwa ternyata di tataran realitas, Agama
(teks normatif..historis), yang oleh sebagian kita dianggap sebagai
alat baca benar-salah realitas tidak sepenuhnya mudah. Dalam Film ini
kita disuguhkan bahwa Agama sebagai sebagai sebuah keyakinan personal,
harus memiliki legitimasi kesukuan-ras, politik (negara). Agama dan
Politik dalam film ini digambarkan sebagai sebuah dialog yang gagal
(menurutku) sehingga mengorbankan banyak orang lemahdalamperpisahan
(partition) India dan Pakistan pada tahun 1947. Walaupun begitu aku
sangat menghormati pikiran-pikiran Muhammad Iqbal yang menggagas negeri
Pakistan dan aku juga mencoba terus mengapresiasi kearifan Gandi, sang
bapak India Modern.
   

Secara
garis besar sih Film ini menceritakan percintaan dua orang anak manusia
berbeda jenis, berbeda agama dan status kenegaraan. Tergambar ,
bagaimana orang Muslim dikejar kejar orang Hindu dan mereka berlarian
ke arah Pakistan (sekarang).
Kemudian ada seorang muslimah tertinggal dari  rombongan, ditolong laki-laki India (Sikh) dan kemudian mereka
saling naksir. Mereka menikah dengan agama tetap masing-masing
(kayaknya kita belum melihat Fiqh mahzab apa yang dianut), dankemudian
memiliki anak.

   

Suatu
saat, sang perempuan ingin mencari keluarganya di Pakistan, dan istri
berangkat sendiri. Setelah beberapa waktu ditunggu, sang perempuan
tidak pulang-pulang, karena ternyata di sandera keluarganya yang Muslim
dan tidak boleh kembali ke India. Kemudian, sang suami dan anak yang
kangen ibunya menyusul ke Pakistan, namun dia harus menjadi beragama
Islam sebelum masuk Pakistan. Pada sesi inilah kita harus melihat
terjadi dialektika antara agama dan cinta personal. Dan dalam Film ini
akhirnya agama (laki-laki) memilih menjadi Islam.

   

Bapak
dan anak itu mencari ibunya, dan terjadilah konflik antara keluarga
sang perempuan dan suaminya. Kekuatan cinta yang selama ini mereka coba bangun dengan menafikkan isu agama dan politik (serta dendam) ternyata harus diuji.
Ibu
sang perempuan dan kakak-kakak laki-lakinya terus menekan si perempuan.
Terjadilah kejadian tragis dalam konflik ini, dan kemudian sang
laki-laki terbunuh oleh keluarga perempuan. Pembunuhan muslim atas
muslim akibat dendam dan kesukuan

   

Isu
agama yang kadang jadi pembenaran egoisme dan dendam kesumat dalam Film
ii coba diangkat. Perpecahan, pertarungan dan perselisihan yang sering
memperalat agama sebagai pembenar oleh Film ini dikritik habis. Bukan
menempatkan cinta diatas agama menurutku, namun coba membuka realitas
bahwa ternyata seorang Muslim juga bisa gelap mata, terus menyimpang
dendam dan itu dilegitimasi oleh ke-Islamannya. Sehingga borok itu
terkuak ketika musuh dari suku lain itu kemudian masuk Islam, mereka
tetap memandangnya sebagai hutang darah dibayar dengan darah. Sehingga
sejatinya permusuhan mereka disini bukan atas nama agama lagi. Cerita
ALi bin Abi Thalib yang membatalkan menebas leher musuh karena diludahi
musuh tidak terjadi disini. Emosi, egoisme dan dendam menjadi utama
disini. Dan lagi-lagi memiliki pembenarannya…

   

Permusuhan
sejatinya adalah pertarungan ego manusia semata, namun kadang agama
sering diperalat untuk membenarkan egoismenya semata.




0 Responses to “Agama untuk Cinta, Atau Cinta untuk Agama”


  1. No Comments

Leave a Reply