
Novel berjudul De Winst ini
awalnya menarik karena sampulnya, ketika berjalan jalan di Islamic Book
Fair Jogja kemarin. Sampulnya lumayan mengundang penasaran, kesannya ‘dalem’. Ketika melihat nama penulis dan penerbit, bagiku ini asing. Afifah Afra dan
penerbitnya namanya Afra Publishing. Setelah kulihat sampul
belakangnya, aku baru ngeh….kenapa nama ini asing…, karena memang sudah
lama aku tidak berinteraksi dengan Novel-Novel terbitan FLP. (Terakhir
aku baca novel komunitas FLP karangan Gola Gong…sebuha trilogy novel
kalau gak salah……, soalnya dulu bosen karena kebanyakan memprovokasi
diriku untuk menikah…..he..he..).
Oke…
setelah tak coba masukkan nama Afifah Afra ke ‘mbah’ Google ( Dukun
paling ngerti apapun di dunia Internet), akhirnya didapat jatidiri
penulis sbb:
Afifah
Afra adalah nama pena Yeni Mulati. Belakangan, penulis kelahiran
Purbalingga, 18 Februari 1979 ini, mulai diakui keberadaannya di dunia
perbukuan, terutama fiksi. Salah satu novelnya, Bulan Mati di Javasche Oranje, menjadi salah satu karya terbaik FLP Award 2002.
Oke.. kembali ke De Winst....
Novel
terbitan Januari 2008 ini menarik. Alur konflik yang dibangun dalam
Novel ini cukup mengambarkan bagaimana setting pada jaman pergerakan
nasional sedang bergolak di Indonesia. Diceritakan bagaimana seorang
tokoh bernama Rangga Puruhita yang masih cucu Pakubuwono X, pulang
belajar Ekonomi dari Negeri Belanda, dan pulang ke Indonesia harus
mengalami ‘benturan peradaban’ antara status kepangeranannya,
mimpi-mimpi modernisasinya, Islamnya dan Cintanya. (He..he.. nih mbak
Yeni Muliati memang menganut pakem bahwa cerita Revolusi paling pedihpun harus disertai dengan cerita Cinta..dan kalau perlu juga pedih he..he..).
Sang
Tokoh Rangga Puruhita, kemudian kerja di pabrik Gula De Winst, yang
sahamnya 20 % milik ayahnya. Di Pabrik inilah dialektika referensi
penulis Novel menjadi sebuah dialog antar tokoh-tokoh besar Dunia yang
diwakili ucapan-ucapan dan pemikiran tokoh-tokoh yang ada di Novel ini.
Muncullah seorang Karl Marx, muncul Adam Smith, muncul Spinoza, muncul
Hegel dan juga muncul Haji Samanhudi, Soekarno, Hatta, dan juga
Muhammad SAW. Dalam sebuah paragraf tak lupa ada narasi tentang tokoh
Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna. Sepertinya penulis punya afiliasi
ideologis dengan tokoh terakhir ini…..seperti kebanyakan (sependek
pengetahuan saya) tentang para penulis di FLP… (Sesuatu yang sah
saja..seperti orang Muhammadiyah dengan Kyai Dahlan dan orang NU
dengan Hasyim Asyari..)
Menariknya,
selain tokoh–tokoh tersebut….penulis juga mencoba mengangkat tentang
bagaimana repotnya pencarian identitas diri sebagai seorang Muslim yang
bersentuhan dengan Modernisme sekaligus Nasionalisme dalam
narasi-narasi besar Liberalisme dan Marxisme. Menurutku adalah
beruntung bila sebelum membaca Novel ini kita sudah terbiasa membaca
sejarah pergerakan Nasional, tepatnya setelah Pemberontakan PKI atau
pecahnya Sarikat Islam dengan adanya SI Merah Semarang. Tentu saja akan
lebih enak kalau sebelumnya kita juga sudah mengerti siapa itu Karl
Marx, Spinoza, Hegel, Adam Smith, Hasan Al Banna, Haji samanhudi,
Cokroamonoto, Soekarno, Hatta dan tulisan atau pemikiran mereka.
Seorang tokoh kunci yang menurutku tertinggal dalam Novel ini adalah
sosok Haji Misbah yang terkenal dengan Kyai Kiri.
Hal ini menurutku penting karena setting Novel ini adalah sebuah
sejarah nyata bangsa ini dan bertempat di Solo, dimana di masa itu
setahuku Haji Misbah menjadi salah satu penggerak perlawanan
‘Islam-Kiri’ di Solo.
Dalam
membangun cerita Cinta, Novel ini cukup cantik menggambarkan cerita
yang tidak melulu ceramah menjelang pernikahan (he.he.. ini kesanku
jaman dulu ketika membaca novel novel FLP). Diceritakan adanya perasaan
seorang Bangsawan Jawa yang tertarik dengan kecantikan seorang Noni
Belanda yang baru dia kenal, namun harus kandas karena Orang tua sang
Noni Belanda harus merelakan pernikahan anaknya karena hutang (
He..he.. Siti Nurbaya Banget…), terus ada kisah bagaimana perasaan
Cinta seorang Sekar Prembayun kepada Jatmiko dan Pratiwi kepada Kresna
karena pertimbangan “Lelaki Pemimpin Revolusi yang Cerdas itu Seksi”
(seperti Lana Lane yang memimpikan Superman yang diangapnya krisis
eksistensi), dan juga diungkap bagaimana definisi kehormatan dan
pengabdian perempuan Jawa dimasa itu, bagaimana cinta harus terpisah
karena tirani dan politik. Dan yang terakhir bagaimana sebuah
pernikahan yang sah secara Syariat (antara Rangga dan Nonon Belanda
yang menjadi Islam), namun dalam benak sang Laki-laki masih teringat
seorang perempuan lain. Mungkin ungkapan “Cinta dan Perasaan untuk
Memiliki menjadi sesuatu yang berbeda” (seperti kata-kata Maria di Film Ayat Ayat Cinta) sejalan dengan kasus ini.
Novel ini menurutku kurang dalem dalam mengungkap dialektika naras narasi besar yang menjadi content
Novel diatas, dan kuakui ini hal yang sulit karena harus mencari cara
membahasakan konsep para idealis dalam bahasa populis. Mungkin kita
bisa bandingkan dengan konflik dalam Novel-Novel
Hamka seperti Dibawah Lindungan Ka’bah dimana ada dialektika cantik dan
‘dalem’ antara Islam, Isu Feminsime dan Adat sekaligus cerita cinta
yang mendalam dan mengundang tangis..he.he…
Adalah
akan mejadi hal yang sangat menarik seandainya detail yang
menggambarkan eksotiknya kota Solo jaman tersebut, Kraton, Budaya
Eropa, Arab dan Cina , Kampung Batik Laweyan serta kehidupan Buruh Pabrik Tebu , sehingga Novel ini menjadi Filmis…
Satu
lagi..penulis sepertinya lupa ketika menceritakan Pesta Dansa yang
berlangsung di Batavia. Dimana diceritakan bahwa pesta dansa itu di
Hotel, namun seorang tokoh ada yang mengatakan ketika ada ancaman
kepada seseorang yang dianggap pengganggu bahwa dia akan dilaporkan ke
petugas Kapal…..
Akhirnya,
Novel ini perlu dibaca oleh semua orang yang ingin mengenal dirinya
sebagai orang Indonesia. Bagaimana dialektika menjadi seorang Indonesia
seutuhnya bisa diawali dengan membaca Novel ini. Keresahan spiritual,
benturan realitas dan idealitas, serta kebingungan para pecinta menjadi
hal-hal yang teramu menarik dalam Novel ini. Sayang.. tampilan novel
keren ini menurutku harus terganggu dengan tulisan di cover depan
bagian bawah : Sebuah Novel Pembangkit Idealisme. ( he.he.. lagi-lagi
tulisan seperti inilah yang menyebabkan aku tidak tertarik membaca
Novel Ayat-Ayat Cinta….)
Assalamualaikum.
Alhamdulillah, saya baru membeli novel itu (plus tanda tangan mba’ Afra. ^_^ ) kemarin dalam suatu seminar yang dilaksanakan oleh FLP Jember. Temanya adalah “How to be a Smart Writer”. Pematerinya adalah mbak Afra, Bapak Ayu S. (anggota tetap Majelis Sastra Asia Tenggara), dan mas Kukuh s. (ketua FLP wilayah Jatim). Sampai detik ini saya sudah membaca sampai bab 4.
“Satu
lagi..penulis sepertinya lupa ketika menceritakan Pesta Dansa yang
berlangsung di Batavia. Dimana diceritakan bahwa pesta dansa itu di
Hotel, namun seorang tokoh ada yang mengatakan ketika ada ancaman
kepada seseorang yang dianggap pengganggu bahwa dia akan dilaporkan ke
petugas Kapal…..”
Apa yang Anda katakan sangatlah benar. Tokoh itu adalah Rangga yang berniat membantu Kareen dari gangguan si bandit.
Satu lagi, mungkin saya tidak sependapat dengan Anda tentang covernya yang menurut Anda itu terkesan ‘dalem’. Jujur, waktu pertama kali saya melihat covernya, terlintas dalam benak saya itu adalah novel misteri (karena warnanya yang suram/gelap). Baru ketika membaca sinopsisnya ternyata saya keliru.