24
Mar
08

Vantage Point (2008) : Cerita Agen Amerika yang India Banget

Vantage_point_poster
Bagi yang belum Nonton Film ini , mendingan Jangan Baca Review ini
Karena akan kehilangan efek terpenting dari Film ini, Serius….!
   

Btw..
bagi yg ngeyel pengen baca review ini, atau memang sudah nonton Film
ini silahkan lah baca Review Film yang menurutku film cerita biasa
dengan teknik bercerita luar biasa.

 

Awalnya, aku bareng Mahe, Rori, Odong ma Gindah spontan saja memutuskan nonton Film ini. Tadi
malam begitu salah satu dari kami ada yg ngajak nonton, kami langsung
saja berangkat tanpa berfikir mo nonton Film apa. Namun, berdasarkan
referensi dari www.21cineplex.com,
kami memutuskan akan menonton Vantage Point, tanpa ngerti detail-detail
bahwa itu Film yang buat siapa, bintangnya siapa, dan tentang apa. ( yg
kami ngerti ya… semacam agen-agen rahasia
gitu…., maklum kalau ‘squadranya tukang nonton’ seperti kami, Film yang
paling kami hindari adalah Film Horor,Karena ada satu orang diantara
kami yang benar-benar benci /trauma nonton Film Horor…….he..he..)

 

Adegan diawali dengan musik yang mirip Borne Ultimatum (Aku, Mahe, Odong langsung spontan menyepakatinya..). Kemudian layar mengetengahkan sebuah gambar bagaimana suasana KTT Negara-Negara Koalisi baru penentang Terorisme pimpinan
Amerika Serikat lengkap dengan demonstran penentangnya. Disisi lain
gigambarkan bagimana kesibukan sebuah mobil liputan stasiun TV GNN.
Cerita ini settingnya di Spanyol.

 

Sesaat kemudian, Layar mengisahkan bagaimana
presiden Amerika Serikat bernama Ashton ( gak ngerti.. ini presiden
Amerika kapan..) yang datang ke Acara yang berlangsung di lapangan
terbuka tersebut dan kemudian tertembak di podium, yang selanjutnya ada
dua peledakan bom. Cerita Film ini kemudian berlanjut dengan bagaimana
agen rahasia Amerika berusaha menyelamatkan presiden, mengejar
penembak, dan mengungkap konspirasi terrorisme ini dalam tempo yang
cepat. He…. Saat inilah tempo yang mirip seperti dalam Bourne Ultimatum
berhasil dihidupkan Pete Travis, Sutradara Film ini.  Bagi
anda yang belum nonton Film ini,.. saya sarankan jangan sekali-kali
melengos dari layar atau bahkan telat datang ke bioskop, atau sekedar
ke kamr kecil. Tahan……..! Karena kalau anda melakukan itu.. saya jamin…
potongan Puzle yang menjadi pembangun cerita Film ini akan hilang dan
anda akan salah faham…..( uring –uringan dan bingung… melihat cerita
Film ini…..).

 

Puzle…….!?

 

Begitulah..
kesimpulanku. Pantas kalau poster Filmnya juga bergambar sosok
laki-laki berpistol yang terangkai Puzle karakter-karakter yang ada di
Film ini.

 

Namun,  Sekali
lagi kunyatakan, Film ini ceritanya biasa, namun teknik berceritanya
yang luar biasa. Karena kemudian ceritanya mundur ke jam 12.00 , 15
menit sebelum penembakan, yang diulang-ulang. Dengam menampilkan sudut
pandang cerita dari masing-masing tokoh. He…he… penonton selalu
berteriak Huu… ketika sebuah sudut pandang cerita seorang tokoh berakhir hingga
meledaknya Bom pasca penembakan presiden. Namun, setelah film berakhir
aku mikir… ketika layar menampilkan gambaran Rewind kembali ke jam
12.00 dengan ganti sudut pandang kisah pada tokoh yang lain inilah
penonton diberi kesempatan untuk menghela nafas dan menyiapkan
diri untuk memperhatikan detail berikutnya, dari tokoh yang akan
diceritakan untuk 15 menit berikutnya. Dari sinilah ketika di
awal proses kami celetukan, di ulangan kisah kedua kami kaget (karena
kok ada rewind segala) , di ulangan kisah ketiga kami sudah melotot
untuk tidak mau ketinggalan detail-detail cerita, untuk menyatukan dan
menyusul Puzle-Puzle cerita yang ada dalam isi kepala kami. Setiap
tokoh presiden AS, agen rahasia, pengawal, turis amerika, anak kecil
spanyol bernama Anna, polisi kota, perempuan kekasih polisi, OB sebuah
Hotel, dan Seorang berwajah Arab  yang
diceritakan dalam ulangan cerita ini semua penting dan menjadi benang
merah cerita. Katakanlah.. satu tokoh dihilangkan… rangkaian cerita
akan menjadi kacau. Puzle itu hanya akan terangkai dengan utuh diu
akhir Film dengan kata kunci underpass.

 

Namun pagi ini aku tersadar, kok teknik berceritanya mirip Long Road to Heaven (LRTH)-nya Enison Sinaro (kalyanashira, 2006), bahkan temanya mirip… sama-sama tentang Terorisme.
Cuman beda tempo ceritanya. Wah…, jangan-jangan Pete Travis
terinspirasi dengan Film Indonesia ini….., dan dia bisa membuat Film
dengan gambar yang bagus, figuran yang jauh lebih banyak, cerita yang
lebih kuat karena Pete Travis menggarapnya dengan cara, anggaran dan dukungan industri film sebesar Colombia Pictures, Holywood. Atau mungkin saja motifnya beda, di  LRTH
adalah menghadirkan kisah nyata dengan pesan humanis yang pengen banget
di kisahkan, sedangkan di Vantage Point adaah film yang bermotif jadi
Film Hiburan dengan unsur  dramatisasi yang dilakukan sekuat mungkin  (namun tetap logis). Bisa jadi Film ini terinspirasi denga adanya Bom Madrid (11 Maret 2004).

 

Hal
yang mengganggu ya tetap saja ketika penggambaran teroris yang mereka
sebut Kelompok Mujahid. Ada gambaran bom bunuh diri yang dilakukan
seorang OB di Spanyol yang sebelum bunuh diri memandangi foto keluarga
Arab. Dan ..lagi-lagi cerita heroiknya seorang agen rahasia Amerika
dalam menyelamatkan presiden Amerika ( diceritakan bagaimana Presiden
Amerika ternyata punya Kembaran yang gentian tampil di publik…). Ketika
semua pertahanan, kawalan berlapis, hingga multi  skenario
tampilnya preseiden Amerika Serikat ternyata ditembus oleh teroris yang
menurutku beraksi mirip cerrita The A Team atau Mission Imposible itu,
akhirnya bisa diselesaikan seorang pengawal presiden seorang diri.  Btw… mengingat cerita ini aku  jadi teringat cerita-cerita Film India….( bukan teknik bercerita nya) dimana ada seorang Hero yang
ketika banyak teman dia kalah terus, giliran dia khir Film ketika dia
hanya sendirian akan memenangkan pertarungan ( Biasanya kelahinya
diiringi hujan –hujanan…. dan pukul-pukulan dengan efek pukulan
hiperbolis ha..ha….). 

 

Gindah sempat  berkometar….., teroris yang berhasil menembus keamanan
Amerika Serikat itu ternyata bisa dikalahkan hanya karena takut
menabrak anak kecil di tengah jalan. Rori koment.. kok jadi teroris gak
serius..menembak orang jedar jeder.. mosok nabrak anak kecil tidak
berani….?  Yah.., cerita ini memang diakhiri
dengan mobil ambulan yang jadi alat untuk menculik Presiden Amerika
Asli (bukan kembaran) terbalik Karena menghindari menabrak anak kecil
spanyol bernama Anna. (Tak fikir di awal cerita.. anak kecil yang
diceritakan es krimnya jatuh karena menabrak turis Amerika ini hanya
hiasan Film…. Ternyata malah penyelesai cerita). Mungkin ada missi
humanis juga, bahwa seteroris terorisnya seseorang.. juga cinta
anak-anak…..

 

Akhirnya, bagi yang belum
nonton. Tonton saja. Namun jangan salahkan saya, kalau efek terpenting
dalam Film ini (rasa penasaran) akan berkurang, bahkan hilang gara-gara
baca Review ini. ( Salah sendir udah diperingatkan diawal ..malah
ngeyel….he..he.). Yang jelas , anda akan melihat teknik bercerita yang lain…, walaupun mirip LRTH tadi. Paling tidak…, aku merasakan sensasi nonton Vantaga Point ini mirip merasakan sensasi nonton Petualangan Luar Angkasa  di Dufan ( Coba saja seandainya 21 kursinya bisa gerak-gerak kayak di Dufan….he..he…).

————–
Cast

Dennis Quaid, Matthew Fox, Forest Whitaker, Sigourney Weaver, William Hurt, Zoe Saldana
Director(s)

Pete Travis

Writer(s) Barry L. Levy
Status In theaters (wide)
Genre(s) Action/Adventure
Release Date Feb. 22, 2008
Running Time 90 minutes
(movies.go.com)




0 Responses to “Vantage Point (2008) : Cerita Agen Amerika yang India Banget”


  1. No Comments

Leave a Reply