Archive for April, 2008

16
Apr

Kenapa Dewi Pesik Disalahkan ?

E760donotenter
Dahulu aku berfikir bahwa lembaga sensor itu perlu. Namun beberapa
waktu terakhir ini aku memandangnya menjadi sesuatu yang tidak perlu.
Karena keberadaan lembaga sensor menurutku ada karena
‘penguasa’ menerapkan prespektif militeristik. Dimana sebuah ancaman
itu harus dilarang, ditahan, bukan dilokalisasi atau kanalisasi.

Memang, dengan model sensor, larang, cekal kelihatannya mudah dan murah. Namun proses pelarangan, pencekalan atau pensensoran sesungguhnya sebuah proses yang jauh dari logika mendidik dan mendewasakan. Karena
pensensoran, pencekalan dan pelarangan adalah proses dimana penguasa
diasumsikan menjadi ‘manusia suci’ dan ‘kebal kesalahan’ sedangkan
masyarakat dianggap ‘orang bodoh’ yang ‘mudah tergoda syetan’. He..padahal aku yakin, setiap manusia ketika ditanya.. tidak mungkin hal ini terjadi.

Oke.. setiap individu terlahir lengkap dengan
software hati nurani ( ini mengutip pernyataan Dian Sastro di majaah
Madani terbaru). Dengan hati nurani, setiap manusia mengerti ada baik
dan ada buruk. Atau dalam bahasa Al Qur’an, setiap manusia lahir
setelah berkomitmen  ‘beriman’ kepada Allah SWT. Nah…
masih perlukan sensor bila setiap manusia ternyata sudah lahir dengan
perangkat selengkap itu ? Setahuku sih kalau dalam pandangan Islam,
yang membedakan befungsinya hati nurani atau belum adalah baligh atau
belum baligh. Atau dalam bahasa agama, setiap anak lahir seperti kertas
putih… tergantung orang tuanya (dimasa belum baligh) akan membawa
anaknya ke Nasrani, Majusi, dsb. Dan kalau memakai norma agama….. tidak
ada pemaksaan dalam beragama,… (karena menurutku pemaksaan adalah cara
berfikir dalam cara pandang militeristik, jadi Islam dalam kondisi
normal, jauh dari militeristik).

Dalam konteks perlu tidaknya sensor, yang kemudian
menjadi masalah adalah bagaimana Negara melakukan pendidikan kepada
rakyatnya, bukan memilihkan tayangan yang cocok atau yang tidak.
Pendidikan adalah bagaimana memberdayakan rakyatnya untuk bisa
berpengetahuan, punya karakter dan menggali value-value untuk membangun
kearifan dan integritas. Pendidikan bukan indoktrinasi, bukan menjejali
setiap hari dengan hafalan hafalan tentang kebaikan, dan bukan dengan
membuat mereka  terkungkung dari ‘godaan syetan’. Mungkin
lebih baik membiasakan anak didik siap berhadapan dengan syetan
daripada ‘mengisolasi’ mereka dari syetan. (karena tidak akan mungkin,
syetan bisa masuk ke pembuluh darah, bahkan bisa dalam bentuk guru,
tembok sekolah, teman sekolah dsb).

Nah…. Kesimpulannya.. selama negeri ini masih ada
Lembaga Sensor Film, ada Pemblokiran Situs oleh Kominfo, masih ada
Pencekalan Dewi Persik dkk…. Maka bisa dinyatakan bahwa pemerintah
mendeklarasikan dirinya gagal melakukan pendidikan kepada rakyatnya.
Kalau MUI dan para ulama masih mendukung adanya lembaga lembaga itu,
berarti para ulama menyatakan dirinya gagal dalam dakwah mereka. Yah…
seperti buruk muka cermin dibelah….

Permasalahannya, kefrustasian  penguasa dan para juru dakwah ini sampai
kapan terus memakan korban dua fihak. Fihak pertama… masyarakat yang
terus terusan tidak terdidik dan terdewasakan, fihak kedua adalah para
seniman, penyanyi dsb yang kreatifitasnya juga tidak berkembang karena
selalu tesensor dan tecekal.  Bagiku sih masalah dewi
persik atau film Indonesia yang berbau seks dsb bukan masalah besar
bila pemerintah memang mau terus melakukan pendidikan, dan para ulama
tidak mengambil cara berdakwah instan. Bukankah kalau masyarkat kita
sudah pandai memilih, suasana menjadi dialogis dan sehat ? bukankah
cara paling efektif agar dewi persik merubah goyangnya dengan
kesepakatan para laki-laki untuk tidak menonton dan menjadi laki-laki
baik-baik yang menjaga pandangan dan kehormatan perempuan ? Bukankah
demikian bentuk Baldatun Toyibatun Warobun Ghofur….? Bukan dengan
memasang larangan dimana mana… dilarang ini dilarang itu.. gak boleh in gak boleh itu….. (Temenku menyebut negeri seperti ini sebagai negeri  kaum frustasi…..).

Oke..pemberdayaan…pendidikan… ini harus menjadi pilihan bagi pendakwah dan  pemerintah…..

Akhirnya ada sebuah analogi dalam kasus pelacuran……..

Sebuah pelacuran (sebagai idiom paling ekstrim)
akan habis bila tidak ada laki-laki yang mau melakukannya. Jadi mengapa
harus merusak lokalisasi ? Bukan mensweeping para laki-laki
hidung belang..? Ah.. sepertinya memang beginilah sifat laki-laki,
kalau ada kaumnya yang salah yang disalahkan adalah para
perempuannya….Padahal dimana mana yg rajin datang pengajian ya para
perempuan  (Dalam bahasa  agama, pelacur dan ‘pembelinya’ sama sama berdosa, namun dalam prespektif sosial harusnya laki-laki , dan yg  berkuasa, yang salah karena mereka mau melakukannya dan tidak mampu melakukan pendidikan dan pemberdayaan rakyatnya).

Satu hal lagi, dalam kasus celana perempuan pemijat yang dipasangi
gembok di Batu, Malang. Mengapa lagi-lagi perempuan yang disalahkan
bila terjadi pelecehan seksual…, atau pelayanan pijat plus ? Mengapa
bukan laki-lakinya yang digembok celananya…, bukankah tidak ada sebuah
pemerkosaan bila laki-lakinya tidak mampu ‘melakukan’ ?  Bahkan
kalaupun bicara kejadianm ekstrim.. bukankah secara fisiologis syarat
wajib terjadinya coitus tergantung dari laki-lakinya ? Ah…kenapa bangsa ini menjadi bangsa Instan sih……

(Sepertinya tulisan diatas terpengaruh Dialog Riri Reza dan Adyaksa
Dault di Topik SCTV malam ini dan Wawancara Madina Magazine dengan Dian
Sastro di edisi April ini)

10
Apr

Three Kingdom : Penghianatan Itu Sakit, Keikhlasan juga Sakit

610x
Nonton Film Andy Lau…..! 

Begitu batinku itu, ketika berniat mencari film untuk ditonton. Film yang tadinya kutunggu sebenarnya Forbidden Kingdom, pengen ngerti gimanba bentuknya kalau Jet Li dan Jacky Chan main.

 

Film Tri Kingdom menarik karena memperlihatkan gambar-gambar yang indah.Adegan perkelahiannya keren. Detail Kostumnya juga keren,
kostum raja, kostum tentara, kostum panglima, kostum jagoan.Semuanya
Keren. Tentu saja bukan dalam cara pandang realis, dimana kostum di
Film itu mewakili kejadian disaat legenda “Tri Kingdom” itu terjadi.
Anggap saja sedang nonton Film ala komik Tapak Sakti….. ( Kapan
yah…terakhir ketemu komik itu..).

 

Ceritanya, heroik. Mungkin mirip dengan cerita Aria Kamandanu di
sandiwara radio Saur Sepuh jaman dulu. Dimana seorang biasa yang hebat
dalam ‘olah kanuragan’, terus mendapat momentum untuk memperlihatkan
kehebatan sekaligus kebaikannya di depan Raja. Dan Kemudian diangkat
menjadi pejabat kerajaan, tepatnya menjadi Punggawa kerajaan yang juga
memperlihatkan sebuah kesetiaan terhadap kehormatan kerajaannya.

 

Polemiknya
mirip dengan cerita jagoan biasanya, tugas Negara, idealisme tentang
perdamaian, janji untuk kembali kepada seorang wanita, perhabatan
sekaligus penghianatan. Seakan.. .. inilah patron sebuah Film jagoan.
Dan setiap Film jagoan.. seakan belomba untuk mendramatisir konflik itu dalam pertempuran sengit, kharisma personal dan pengorbanan…

 

Film ini kurang berhasil mengangkat tema antara sang jagoan dengan perempuannya. Seakan kisah pertemuan dan
kemudian pengikatan janji setia antara Zhao Zilong (Andy Lau) dan
perempuannya (kayaknya bernama Zhao Bao) menjadi tidak begitu penting
dalam penuntasan teka-teki permasalahan yang dihadapi Zhao Zilong  di
akhir cerita. Seandainya eksistensi komitmen dua hati itu lebih
diangkat, mungkin kisah tragis di akhir cerita (khas Film Andy Lau..
jagoannya mati di akhir cerita he..he…) tidak sekedar menginspirasi
penonton tentang kepahlawanan, tentang kesetiaan teerhadap tugas,
tentang hutang budi, namun juga ttg komitmen laki-laki thd
perempuannya……. Jujur… di Film ini, karakter  Maggie Q yang berperan menjadi Cao Ying cukup membuatku terkesima. Entah
mungkin karena dia cantik ( he.he. jelas lah…) atau karena perannya
sebagai sosok ‘pahlawan’ juga, yang diceritakan cerdas dalam siasat
perang, jago kelahi dan yang tergambar khas.. perempuan yang kejam…..

 

Sempat
kepikiran juga, kok sosok jagoan ceweknya ‘agak bule’ ( Maggie Q kan
Cina kelahiran Amerika..yg kalo diliat ada bule bulenya…),
cuman…lagi-lagi aku memang berniat menonton Film ini seperti membaca
Komik Tapak Sakti.. atau Street Fighter… yang mungkin adanya
karakter-karakter yang ‘subhat’ ada dalam tokoh-tokoh Film berseting
Mandarin ini.

Akhirnya.., sebagai sebuah Film, film ini cukup
menghibur. Gambar gambar cantik, kostum-kostum menarik. Kalau bicara
ttg Inspirasi….., film ini agaknya bisa menginspirasi bahawa kesetiaan
adalah segalanya. Entah itu kepada Negara, pasangan, sahabat atau
bahkan ‘aturan perang’. Kehormatan adalah segalanya, dan yang terakhir
menjadi pahlawan atau pengecut adalah pilihan.. bukan keterpaksaan…..

03
Apr

Kite Runner : Mencari Definisi Kejantanan

Kiterunner2
Sebelumnya aku belum jelas kebayang bagaimana kondisi kota Kabul , Afgahnistan sebelum menonton Film ini. Kota Kabul menjelang Soviet datang, dan kota Kabul ketika Thaliban berkuasa. Sebagai orang Islam, jujur emosiku teraduk
aduk melihat Film ini. Karena Film ini menyuguhkan Islam dalam
kenyataan manusia modern. (Karena Film… tentu saja kenyataan disini
berarti kenyataan hasil tafsir para sineas).   

Islam sebagai sebuah background cerita akhir –akhir ini memang cukup menarik. Mungkin inilah hikmah
dibalik tragedi 11/9 , yang membawa Simbol Islam kedalam kesadaran
publik. Inilah kejadian di era informasi ini, Islam sebagai sebuah
entitas yang masuk ke kesadaran public dalam pesan yang controversial
akan memenangkan rating ‘kata kunci’ diskusi, pembicaraan, bahkan
(mungkin) frekuensi pencarian dalam mesin pencari di Internet.

Ketika melihat Kite Runner, disuguhkan dihadapan kita drama anak manusia yang mengalamai
konflik layaknya manusia-manusia lain di dunia. Disuguhkan kepada kita
bagaimana seorang anak laki laki afghan yang harus menjadi obyek obsesi
bapaknya, dimulai obsesi bapaknya bahwa anaknya harus memenangkan adu
laying-layang se Kabul karena bapaknya ketika kecil juga Juara. Diceritakan juga laki-laki kecil yang harus terusir dari negaranya, pindah ke Amerika, karena ayah yang idealis, dan menjadi kritikus Soviet dan sekaligus Thaliban. Kemudian
diceritakan seorang anak laki-laki yang berhasil (dengan terpaksa)
membahagiakan ayahnya, dengan menjadi seorang sarjana, walaupun
kemudian bekerja di pusat ‘pemulung’ (Tentu saja gaya
Amerika…). Cerita berlanjut pada kisah seorang laki-laki muda yang
memperjuangkan Cintanya walaupun ‘hanya’ menjadi penulis. Dan terakhir
diceritakan bagaimmana seorang laki-laki dewasa migrant di Amerika yang
rindu tanah kelahirannya , Afghanistan, namun dia harus berbesar hati
untuk melihat kenyataan bagaimana Negara-nya dikuasai saudara
se-agamanya (Islam-Thaliban) dengan tafsir lain yang jauh dari yang dia
fahami. Terjadilah dialog melalui gambar tentang bagaimana Islamnya
seorang Imigran di Amerika dengan Islamnya para Pejuang Thaliban.
Sebuah konflik inter Islam yang menarik untuk dibahas, dan disuguhkan
kepada khalayak. Tentunya sah –sah saja kalau ada sekelompok orang yang
menganggap lebih benar Islam ala Thaliban, namun bisa jadi ada
sekelompok orang yang menganggap nilai-nilai Islam yang difahami oleh
Migran Afghan di Amerika itu yang benar. Semua sah, karena wahyu sudah
berhenti turun, dan Islam agar menjadi agama ‘operasional’ berhak untuk
ditafsirkan oleh banyak khalayak. Kita Runner
ini bisa mengingatkan kita bagaimana melihat bahwa Islam yang Rahmatan
Lil Alamin itu difahami oleh dua kelompok menjadi sesuatu yang berbeda. 

 

Dalam
Film yang mengetengahkan tokoh utama dua anak kecil ini dimulai dengan
obsesi ( buatan) untuk memenangkan pertandingan adu layangangan se Kota
Kabul. Kedua laki-laki kecil itu diperankan actor bocah yang ber acting
dengan baik. Keduanya sebagai dua orang teman dekat, kemudian terlibat
masalah yang berakhir dengan pemfitnahan salah satu oleh yang lain,
hanya karena laki-laki yang memfitnah merasa tidak adal pilihan lain
untuk menyelamatkan kepentingan yang (dianggapnya) lebih besar.

Di
Film ini juga seakan aku dipaksa merenungkan definisi Maskulinitas,
dimana di FIlm ini tergambarkan seorang anak laki-laki dengan ayah
obsesif yang cenderung ‘kurang jantan’, dengan sahabat (yg ternyata
anak selinkuhan ayah dan pembantunya) yang ’sangat jantan’. Atau ketika
disuguhkan definisi kejantanan dalam bentuk sosok ayah yang idealis
dengan keyakinan, seorang laki-laki teman ayah anak itu yang bijak,
seorang laki-laki mudah penulis Novel yang memperjuangkan perempuannya,
kejantanan seorang pengasuh anak-anak Afghan yang terpaska menjual satu
demi satu anak untuk menghidupi anak-anak yang lain, atau seorang
laki-laki yang merasa bertanggungjawab dengan mempertaruhkan nyawa
menyusup ke Afghanistan hanya untuk mempertangungjawabkan kesalahan
masa lalu bapaknya. He..memang Film ini bercerita tentang para
laki-laki dengan pergulatan definisi kejantanan. Bahkan di Film ini
tergambar kejantanan dalam bentuk perilaku seorang pemerkosa ’sodomi’
kepada anak-anak Afghan atau perilaku seorang ‘ningrat’ yang ‘idealis’
namun dia menyembunyikan kesalahan masa lalunya dengan berselingkuh
dengan pembantunya, demi kemuliaan dirinya.   

Sebagai
sebuah cerita, film menurutku film ini berhasil membuat penontonnya
berddiskusi ( minimal dengan diri dan referensi referensi) tentang
Islam, Manusia dan Agama, dan berbagai masalah kemanusiaan yang
melingkupinya. Film ini memang mengetengahkan citra Thaliban yang
irasional dan kejam, bahkan menampilkan bagaimana seorang perempuan
‘pendosa’ yang di rajam sesaat setelah
pertandingan sepak bola di sebuah stadion. Mungkin juga akan mengusik
emosi sementara golongan dari ummat Islam yang memiliki simpati kepada
Thaliban dengan cara dan apa yang mereka yakini. Namun, menurutku,
tidaklah benar untuk berbondong-bondong marah membela Thaliban dengan
alasan emosi dan penghinaan ketika menonton Film ini. Katakanlah apa
yang digambarkan di Film ini tentang Thaliban benar, tentunya kita
cerdas untuk mencari tahu kenapa Thaliban melakukannya seperti itu.
Bila ternyata kita tidak sepakat, tinggalkan saja, toh thaliban
sekarang sudah turun dari kekuasaan.

Yang
kumengerti. Manusia, walupun itu Muslim, walaupun itu berjenggot dan
bejubah, walaupun itu bergamis, walaupun dia ulama, tetaplah dia
seorang Manusia yang memiliki kelemahan. Kebenaran ada dimana saja,
walaupun itu ada di tangan orang kafir. Karena bagiku, cukuplah Allah
pelindungku dengan keyakinanku bahwa setiap manusia sebelum lahir semua
sudah melakukan baiat kepada Allah SWT. Tidak perlu berfanatik kepada
satu faham atau tafsir keagamaan yang dibawa siapapun. Cukuplah berfikir positif untuk memandang segala sesuatu, ucapkan Allahumma Arinal Haqqo-Haqqo warzuqnatibaa, waarinal baatila baatila warzuqnatinaba….

 

Akhirnya,
tontonlah Film bagus ini dengan obyektif…, bedakan mana kebenaran dan
mana fanatisme kebenaran. Termasuk kebenaran tentang Kejantanan