
Dahulu aku berfikir bahwa lembaga sensor itu perlu. Namun beberapa
waktu terakhir ini aku memandangnya menjadi sesuatu yang tidak perlu.
Karena keberadaan lembaga sensor menurutku ada karena
‘penguasa’ menerapkan prespektif militeristik. Dimana sebuah ancaman
itu harus dilarang, ditahan, bukan dilokalisasi atau kanalisasi.
Memang, dengan model sensor, larang, cekal kelihatannya mudah dan murah. Namun proses pelarangan, pencekalan atau pensensoran sesungguhnya sebuah proses yang jauh dari logika mendidik dan mendewasakan. Karena
pensensoran, pencekalan dan pelarangan adalah proses dimana penguasa
diasumsikan menjadi ‘manusia suci’ dan ‘kebal kesalahan’ sedangkan
masyarakat dianggap ‘orang bodoh’ yang ‘mudah tergoda syetan’. He..padahal aku yakin, setiap manusia ketika ditanya.. tidak mungkin hal ini terjadi.
Oke.. setiap individu terlahir lengkap dengan
software hati nurani ( ini mengutip pernyataan Dian Sastro di majaah
Madani terbaru). Dengan hati nurani, setiap manusia mengerti ada baik
dan ada buruk. Atau dalam bahasa Al Qur’an, setiap manusia lahir
setelah berkomitmen ‘beriman’ kepada Allah SWT. Nah…
masih perlukan sensor bila setiap manusia ternyata sudah lahir dengan
perangkat selengkap itu ? Setahuku sih kalau dalam pandangan Islam,
yang membedakan befungsinya hati nurani atau belum adalah baligh atau
belum baligh. Atau dalam bahasa agama, setiap anak lahir seperti kertas
putih… tergantung orang tuanya (dimasa belum baligh) akan membawa
anaknya ke Nasrani, Majusi, dsb. Dan kalau memakai norma agama….. tidak
ada pemaksaan dalam beragama,… (karena menurutku pemaksaan adalah cara
berfikir dalam cara pandang militeristik, jadi Islam dalam kondisi
normal, jauh dari militeristik).
Dalam konteks perlu tidaknya sensor, yang kemudian
menjadi masalah adalah bagaimana Negara melakukan pendidikan kepada
rakyatnya, bukan memilihkan tayangan yang cocok atau yang tidak.
Pendidikan adalah bagaimana memberdayakan rakyatnya untuk bisa
berpengetahuan, punya karakter dan menggali value-value untuk membangun
kearifan dan integritas. Pendidikan bukan indoktrinasi, bukan menjejali
setiap hari dengan hafalan hafalan tentang kebaikan, dan bukan dengan
membuat mereka terkungkung dari ‘godaan syetan’. Mungkin
lebih baik membiasakan anak didik siap berhadapan dengan syetan
daripada ‘mengisolasi’ mereka dari syetan. (karena tidak akan mungkin,
syetan bisa masuk ke pembuluh darah, bahkan bisa dalam bentuk guru,
tembok sekolah, teman sekolah dsb).
Nah…. Kesimpulannya.. selama negeri ini masih ada
Lembaga Sensor Film, ada Pemblokiran Situs oleh Kominfo, masih ada
Pencekalan Dewi Persik dkk…. Maka bisa dinyatakan bahwa pemerintah
mendeklarasikan dirinya gagal melakukan pendidikan kepada rakyatnya.
Kalau MUI dan para ulama masih mendukung adanya lembaga lembaga itu,
berarti para ulama menyatakan dirinya gagal dalam dakwah mereka. Yah…
seperti buruk muka cermin dibelah….
Permasalahannya, kefrustasian penguasa dan para juru dakwah ini sampai
kapan terus memakan korban dua fihak. Fihak pertama… masyarakat yang
terus terusan tidak terdidik dan terdewasakan, fihak kedua adalah para
seniman, penyanyi dsb yang kreatifitasnya juga tidak berkembang karena
selalu tesensor dan tecekal. Bagiku sih masalah dewi
persik atau film Indonesia yang berbau seks dsb bukan masalah besar
bila pemerintah memang mau terus melakukan pendidikan, dan para ulama
tidak mengambil cara berdakwah instan. Bukankah kalau masyarkat kita
sudah pandai memilih, suasana menjadi dialogis dan sehat ? bukankah
cara paling efektif agar dewi persik merubah goyangnya dengan
kesepakatan para laki-laki untuk tidak menonton dan menjadi laki-laki
baik-baik yang menjaga pandangan dan kehormatan perempuan ? Bukankah
demikian bentuk Baldatun Toyibatun Warobun Ghofur….? Bukan dengan
memasang larangan dimana mana… dilarang ini dilarang itu.. gak boleh in gak boleh itu….. (Temenku menyebut negeri seperti ini sebagai negeri kaum frustasi…..).
Oke..pemberdayaan…pendidikan… ini harus menjadi pilihan bagi pendakwah dan pemerintah…..
Akhirnya ada sebuah analogi dalam kasus pelacuran……..
Sebuah pelacuran (sebagai idiom paling ekstrim)
akan habis bila tidak ada laki-laki yang mau melakukannya. Jadi mengapa
harus merusak lokalisasi ? Bukan mensweeping para laki-laki
hidung belang..? Ah.. sepertinya memang beginilah sifat laki-laki,
kalau ada kaumnya yang salah yang disalahkan adalah para
perempuannya….Padahal dimana mana yg rajin datang pengajian ya para
perempuan (Dalam bahasa agama, pelacur dan ‘pembelinya’ sama sama berdosa, namun dalam prespektif sosial harusnya laki-laki , dan yg berkuasa, yang salah karena mereka mau melakukannya dan tidak mampu melakukan pendidikan dan pemberdayaan rakyatnya).
Satu hal lagi, dalam kasus celana perempuan pemijat yang dipasangi
gembok di Batu, Malang. Mengapa lagi-lagi perempuan yang disalahkan
bila terjadi pelecehan seksual…, atau pelayanan pijat plus ? Mengapa
bukan laki-lakinya yang digembok celananya…, bukankah tidak ada sebuah
pemerkosaan bila laki-lakinya tidak mampu ‘melakukan’ ? Bahkan
kalaupun bicara kejadianm ekstrim.. bukankah secara fisiologis syarat
wajib terjadinya coitus tergantung dari laki-lakinya ? Ah…kenapa bangsa ini menjadi bangsa Instan sih……
(Sepertinya tulisan diatas terpengaruh Dialog Riri Reza dan Adyaksa
Dault di Topik SCTV malam ini dan Wawancara Madina Magazine dengan Dian
Sastro di edisi April ini)
hi, hallo
bismillah….I think i never meet you,but anyway we are friend already by this situs:)
emmm saya panggilnya mas rip aja ya…..hehehe
wooo….oke saya mo comment dengan positive mind since at the beginning…..
Setau saya pemerintah (daulah) punya kewajiban untuk memaslahatkan umatnya….mengatur bagaimana sebuah negara berjalan sebagai mana mestinya termasuk bagaimana SDM nya tumbuh menjadi manusia ’sehat’
nha lembaga sensor salah satu upaya pemerintah untuk itu….
‘membunuh kreativitas’….kreativitas yang mana? adegan asusila, goyangan yang bikin dizzy, pakaian seronok, itu kreativitas?…wow…nggak ada yang lebih arif kah untuk mendefinisikan sebuah kreatifitas?….
ok setiap individu terlahir lengkap dengan software hati nurani(opo kuwi…heheh), orang mungkin bisa mebedakan mana yang ok mana yang nggak…tapi yang menggerakkan hati untuk tidak mengikuti yang buruk itu hanya hidayah bung….dan hidayah mah nggak cuma2, nggak gretongan…musti diusahakan dan dirawat….mungkinkah itu klo setiap hari kita berkutat dengan maksiat (mungkin tanpa kita sadari).
sekarang sisi pandang yang berbeda
kita wajib nggak saling mengingatkan?….
na klo pemerintah melarang mencekal dewi persik (karena memang setau saya dewi persik nggak mau merubah penampilan dan goyangannya to) itu juga salah satu bentuk selain ingin menyelamatkan umat juga menyelamatkan dewi persiknya kaleee….sama ma adegan2 nggak pantes di film…..jadi para sutradara dan dewi persik atau siapapun yang katanya seniman ya nggak perlu marah, malah harusnya makasi dah diingetin.karena standar norma klo kita mo merujuk ke agama tu dah jelas kok….jadi jangan berdalih lagi
klo lokalisasi ditutup, or soal patung itu, saya aja yang cewek nggak merasa dihakimi kok….itu justru bentuk perlindungan terhadap kaum wanita….
trus klo ‘Mungkin lebih baik membiasakan anak didik siap berhadapan dengan syetan daripada ‘mengisolasi’ mereka dari syetan, nha kasian amat yang kebagian peran ngundangin syaiton, iya khan….semua pengen masuk surga kalee..
untuk kasus yang mas rip angkat diatas saya melihat untuk kondisi masyarakat kita sekarang memang larangan yg masih efektif….klo mengandalkan ‘bukankah cara paling efektif agar dewi persik merubah goyangnya dengan kesepakatan para laki-laki untuk tidak menonton dan menjadi laki-laki baik-baik yang menjaga pandangan dan kehormatan perempuan?’ anda yakin akan bisa dilakukan dalam waktu cepat…selak dewi persiknya nanggung dosa bergunung2 kali ya,….kasian dia :(.
bangsa instan…sepakaaaaat…kebanyakan student suka buku2 instan, berfikir juga instan,…..makanya jarang ada yang mo belajar science…hehehe…tapi klo ada sesuatu yang instan karena sudah jelas ya jangan dibik nggak instan alias jelimet hanya untuk sekedar mencari celah permisivitas….heheheh
gtu mas rip
hehehe cuma bertukar opini
so peace always ya
see u:)
Salam
Makasih Afni, salam kenal
Sebenernya sepakat-sepakat saja sih dengan pelarangan dsb…dalam konteks darurat
Btw,.. aku gak setuju saja dengan dengan model-model seperti ini, karena akan mewariskan mental instan dalam mendidik masyarakat. Masyarakat dibiasakan dipasang pager-pager larangan dimana mana itu tidak mendewasakan. harusnya masyarakat diajarai belajar dan terus belajar bagaimana memilih. Kalau mereka sadar dan tersadarkan mereka tidak akan membodohi dirinya dengan menonton orang orang seperti dewi persik dsb.
Saya tidak membela dewi persik,…. saya menyalahkan pemerintah yang lebih sering menggunakan kata pelarangan bukan pendidikan dan pemberdayaan. Memang, kerja-kerja pemberdayaan dan pendidikan akan lebih mahal dan lebih lama, serta biasa makan ati, dan juga tidak gagah (karena kerja -kerja ini kerjqakerja sepi, minim publisitas.. dibanding FPI yang merusak tempat maksiat misalnya). Namun, harusnya semua ‘kamu moralis’ memilih cara ini sekuat tenaga. Sehingga software nurani tadi bisa terasah…., dan tidak bodoh dengan memilih maksiat sebagai pilihan merekan.
terus terang, cara berfikir pemerintah dengan pelarangan demi pelarangan itu cara berfikir militeristik yang hanya bisa berlaku sebentar, tergantung figur dan tidak memecahkan masalah fundamental, yaitu kesadaran positif masyarakat.
Wassalam