
Sebelumnya aku belum jelas kebayang bagaimana kondisi kota Kabul , Afgahnistan sebelum menonton Film ini. Kota Kabul menjelang Soviet datang, dan kota Kabul ketika Thaliban berkuasa. Sebagai orang Islam, jujur emosiku teraduk
aduk melihat Film ini. Karena Film ini menyuguhkan Islam dalam
kenyataan manusia modern. (Karena Film… tentu saja kenyataan disini
berarti kenyataan hasil tafsir para sineas).
Islam sebagai sebuah background cerita akhir –akhir ini memang cukup menarik. Mungkin inilah hikmah
dibalik tragedi 11/9 , yang membawa Simbol Islam kedalam kesadaran
publik. Inilah kejadian di era informasi ini, Islam sebagai sebuah
entitas yang masuk ke kesadaran public dalam pesan yang controversial
akan memenangkan rating ‘kata kunci’ diskusi, pembicaraan, bahkan
(mungkin) frekuensi pencarian dalam mesin pencari di Internet.
Ketika melihat Kite Runner, disuguhkan dihadapan kita drama anak manusia yang mengalamai
konflik layaknya manusia-manusia lain di dunia. Disuguhkan kepada kita
bagaimana seorang anak laki laki afghan yang harus menjadi obyek obsesi
bapaknya, dimulai obsesi bapaknya bahwa anaknya harus memenangkan adu
laying-layang se Kabul karena bapaknya ketika kecil juga Juara. Diceritakan juga laki-laki kecil yang harus terusir dari negaranya, pindah ke Amerika, karena ayah yang idealis, dan menjadi kritikus Soviet dan sekaligus Thaliban. Kemudian
diceritakan seorang anak laki-laki yang berhasil (dengan terpaksa)
membahagiakan ayahnya, dengan menjadi seorang sarjana, walaupun
kemudian bekerja di pusat ‘pemulung’ (Tentu saja gaya
Amerika…). Cerita berlanjut pada kisah seorang laki-laki muda yang
memperjuangkan Cintanya walaupun ‘hanya’ menjadi penulis. Dan terakhir
diceritakan bagaimmana seorang laki-laki dewasa migrant di Amerika yang
rindu tanah kelahirannya , Afghanistan, namun dia harus berbesar hati
untuk melihat kenyataan bagaimana Negara-nya dikuasai saudara
se-agamanya (Islam-Thaliban) dengan tafsir lain yang jauh dari yang dia
fahami. Terjadilah dialog melalui gambar tentang bagaimana Islamnya
seorang Imigran di Amerika dengan Islamnya para Pejuang Thaliban.
Sebuah konflik inter Islam yang menarik untuk dibahas, dan disuguhkan
kepada khalayak. Tentunya sah –sah saja kalau ada sekelompok orang yang
menganggap lebih benar Islam ala Thaliban, namun bisa jadi ada
sekelompok orang yang menganggap nilai-nilai Islam yang difahami oleh
Migran Afghan di Amerika itu yang benar. Semua sah, karena wahyu sudah
berhenti turun, dan Islam agar menjadi agama ‘operasional’ berhak untuk
ditafsirkan oleh banyak khalayak. Kita Runner
ini bisa mengingatkan kita bagaimana melihat bahwa Islam yang Rahmatan
Lil Alamin itu difahami oleh dua kelompok menjadi sesuatu yang berbeda.
Dalam
Film yang mengetengahkan tokoh utama dua anak kecil ini dimulai dengan
obsesi ( buatan) untuk memenangkan pertandingan adu layangangan se Kota
Kabul. Kedua laki-laki kecil itu diperankan actor bocah yang ber acting
dengan baik. Keduanya sebagai dua orang teman dekat, kemudian terlibat
masalah yang berakhir dengan pemfitnahan salah satu oleh yang lain,
hanya karena laki-laki yang memfitnah merasa tidak adal pilihan lain
untuk menyelamatkan kepentingan yang (dianggapnya) lebih besar.
Di
Film ini juga seakan aku dipaksa merenungkan definisi Maskulinitas,
dimana di FIlm ini tergambarkan seorang anak laki-laki dengan ayah
obsesif yang cenderung ‘kurang jantan’, dengan sahabat (yg ternyata
anak selinkuhan ayah dan pembantunya) yang ’sangat jantan’. Atau ketika
disuguhkan definisi kejantanan dalam bentuk sosok ayah yang idealis
dengan keyakinan, seorang laki-laki teman ayah anak itu yang bijak,
seorang laki-laki mudah penulis Novel yang memperjuangkan perempuannya,
kejantanan seorang pengasuh anak-anak Afghan yang terpaska menjual satu
demi satu anak untuk menghidupi anak-anak yang lain, atau seorang
laki-laki yang merasa bertanggungjawab dengan mempertaruhkan nyawa
menyusup ke Afghanistan hanya untuk mempertangungjawabkan kesalahan
masa lalu bapaknya. He..memang Film ini bercerita tentang para
laki-laki dengan pergulatan definisi kejantanan. Bahkan di Film ini
tergambar kejantanan dalam bentuk perilaku seorang pemerkosa ’sodomi’
kepada anak-anak Afghan atau perilaku seorang ‘ningrat’ yang ‘idealis’
namun dia menyembunyikan kesalahan masa lalunya dengan berselingkuh
dengan pembantunya, demi kemuliaan dirinya.
Sebagai
sebuah cerita, film menurutku film ini berhasil membuat penontonnya
berddiskusi ( minimal dengan diri dan referensi referensi) tentang
Islam, Manusia dan Agama, dan berbagai masalah kemanusiaan yang
melingkupinya. Film ini memang mengetengahkan citra Thaliban yang
irasional dan kejam, bahkan menampilkan bagaimana seorang perempuan
‘pendosa’ yang di rajam sesaat setelah
pertandingan sepak bola di sebuah stadion. Mungkin juga akan mengusik
emosi sementara golongan dari ummat Islam yang memiliki simpati kepada
Thaliban dengan cara dan apa yang mereka yakini. Namun, menurutku,
tidaklah benar untuk berbondong-bondong marah membela Thaliban dengan
alasan emosi dan penghinaan ketika menonton Film ini. Katakanlah apa
yang digambarkan di Film ini tentang Thaliban benar, tentunya kita
cerdas untuk mencari tahu kenapa Thaliban melakukannya seperti itu.
Bila ternyata kita tidak sepakat, tinggalkan saja, toh thaliban
sekarang sudah turun dari kekuasaan.
Yang
kumengerti. Manusia, walupun itu Muslim, walaupun itu berjenggot dan
bejubah, walaupun itu bergamis, walaupun dia ulama, tetaplah dia
seorang Manusia yang memiliki kelemahan. Kebenaran ada dimana saja,
walaupun itu ada di tangan orang kafir. Karena bagiku, cukuplah Allah
pelindungku dengan keyakinanku bahwa setiap manusia sebelum lahir semua
sudah melakukan baiat kepada Allah SWT. Tidak perlu berfanatik kepada
satu faham atau tafsir keagamaan yang dibawa siapapun. Cukuplah berfikir positif untuk memandang segala sesuatu, ucapkan Allahumma Arinal Haqqo-Haqqo warzuqnatibaa, waarinal baatila baatila warzuqnatinaba….
Akhirnya,
tontonlah Film bagus ini dengan obyektif…, bedakan mana kebenaran dan
mana fanatisme kebenaran. Termasuk kebenaran tentang Kejantanan
mas Arif is back!!!!
Thanks for writing this.