Archive for May, 2008

21
May

Melihat Keimanan Kita

Islam mengajarkan bahwa yg namanya Iman itu
berkaitan langsung dengan penolakan terhadap kemungkaran. Dimana ketika
ada kemungkaran orang yg beriman harus merubah dengan tangannya, bila
ternyata tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya dan apabila tidak
mampu silahkan rubah dengan do’a. Namun merubah dengan do’a ini disebut
sebagai selemah-lemahnya iman.

   

Nah…kadang
kita lupa kalau ber Islam itu ada dua sayap, sayap pertama itu Amar
Ma’aruf dan sayap yg lain Nahi mungkar. Artinya, orang beriman itu
ternyata tidak cukup hanya menjadi ‘orang baik’ saja, namun juga harus
menjadi ‘orang pemeberani’ untuk menggerakkan tangan, lisan dan do’a
kita kalau ada kemungkaran.

   

Merubah
dengan tangan bisa diartikan merubah dengan kekuasaan. Artinya,
ternyata kalau mau menikmati keberimanan tingkat tinggi kita harus
memiliki kekuasaan. Sayangnya sebagai manusia kita juga punya kelemahan
kalau menjadi penguasa. Mungkin inilah mengapa Islam juga mengajarkan
bahwa beruntunglah orang yang berani mengatakan kebenaran di depan
penguasa, walau itu pahit. Dan di Indonesia ini mungkin bentuk
’kekuasaan’ ini bisa dalam bentuk penguasaan thd politik,
modal/kekayaan, atau ilmu yg tinggi. Nah…untuk menguasai ini semua yg
memang butuh kesabaran. Bahkan dalam AL Qur’an disebutkan tipikal para
penguasa politik, intelektual dan modal dalam simbol Firaun, Qorun dan
Balam (Ali Syariati: menjadi manusia haji). Dengan tiga simbol penguasa
ini… kita diberi alat baca yaitu untuk membedakan mana kawan dan mana
lawan sekaligus untuk memberi peringatan agar kita kalau berkuasa (agar
keimanan bisa maksimal), jangan sampai terperosok pada tiga bentuk
tersebut. Nah ….. kadang repotnya.. kita salah juga membedakan
perubahan dengan kekeuasaan/pemerintahan/sistem yg rapi dan perubahan
denganbergerak sendiri-sendiri seperti pada perusakan masjid
orang-orang Ahmadiyah….adn bom bali.. .karena kita lupa bahwa Islam
juga mengajarkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan
kesabaran.

   

Bentuk
ekspresi keimanan kedua adalah dengan melawan kemungkaran melalui
‘lisan’. Disinilah posisi demonstrasi di jalanan, nulis di koran,
nge-blog, protes ke DPR  dan sebagainya. Hanya
pada peringkat kedua. Namun, inipun kadang tidak banyak yang berani
terlibat. Demonstrasi walaupun ’diberitakan’ berakhir kericuhan…. ini
hanya simbolik bukan benar-benar ricuh. Setiap aksi pasti bukan diisi
orang-orang bodoh yg berdemo dengan memilih anarkhi (Kecuali
orang-orang yg memang tidak menegrti manajemen aksi itu sebenarnya).
Setiap perangkat aksi dan jalannya aksi adalah sebuah upaya
tersistematis untuk menyampaikan simbol-simbol aspirasi.  Dan
target utama tetap media massa, mengikuti konsep bola salju….. yg
demo simbolik.. dan isu bisa tersampaikan ke fihak yg dituju dan juga
khalyak yg ’dicerahkan’. Jadi mirip bermain Film atau sandiwara di
pangung.. target pesan tersampaikan… Namun memang sayang..kadang ada
provokator yg membuat massa aksi terprovokasi….karena  kadang kita
saking semangatnya lupa kalau  massa aksi itu harus satu komando dan
disiplin

   

Bentuk
ekspresi keimanan terakhir adalh berdo’a. Ini adalah selemah-lemahnya
iman. Namun harus diakui akan terjamin ke-Ikhlasannya karena tidak
peduli dengan liputan media dan investasi politik. Namun secara
sunnatullah yg dirubah juga tidak akan banyak, atau secara matematis
tidak banyak berubah. Kata AAGym.. konsep berdo’a itu bukan setelah
berdo’a lantas pasrah.. namun setelah berdo’a itulah yg kemudian
menimbulkan spirit untuk berbicara dan bergerak. Dalam konteks ’nahi
munkar’ setelah berdo’a maka akan menjadi spiirit untuk berkata dan
berbuat. Wallahualam bissawab.

11
May

Mahluk Introvert Itu

"Coba kamu buka komunikasi..mungkin mereka akan mengerti.. setidaknya
ada negosiasi" aku coba katakan itu, sementara isak tangis di seberang
telpon sana bersaing dengan suara kereta malam BIMA yang kutumpangi.

"Aku
kan sudah bilang…! Sejak kecil aku tidak pernah bisa mengatakan
perasaanku kepada mereka !", demikian suara perempuan itu.

Aku
memilih tidak mendebatnya, aku biarkan dia terus meracau, mengumpat dan
menangis di telpon. Sementara aku ketar-ketir pulsa SIMPATI PeDe-ku
akan segera habis. "Mungkin aku aku hanya bisa membantu mendengarkan
tangis dan racauannya malam ini" demikian batinku. Batinku yang
seharusnya ikut menangis dan bahkan mungkin seharusnya akulah yang
menangis lebih keras.

Jari-jariku terus menyentuh keyboard untuk
menyelesaikan proposal sambil sekali-kali membuka window bahan
presentasiku. Aku khawatir lap top ini akan kehabisan baterai,
sedangkan propsal in ibelum selesai kuedit. Belum lagi masih harus debugging
yang tidak mungkin cepat kulakukan. Sementara sudah dua kali sejak
meninggalkan Stasiun tugu tadi petugas Kereta memperingatkanku untuk
menjaga barang inventaris kantor ini agar tidak senasib dengan para
penumpang KA sebelumnya yang sudah jamak kehilangan Lap top.

Beberapa
kali suara di kejauhan sana terputus. Entah .. mungkin barusaja kereta
melewati terowongan Ijo, tempat si Kliwon di Daun Di Atas Bantal mati.
Sehingga sinyal hilang. Aku beberapa kali redial dan
dia masih menangis di kejauhan sana. Bahkan aku tak berani bertanya
dimana posisi tepatnya dia. "Mungkin dia menginap di kantornya" batinku
setelah ngobrol dengan otakku  ketika logikaku menyimpulkan bahwa dia
tidak mungkin menangis keras jam 11 malam seperti ini, kalau dia masih
di rumahnya. Sementara perang dingin masih terjadi di rumahnya. Bahkan
aku khawatir sudah terjadi perang terbuka.

Kereta masih terus bergerak. Perempuan di seberang sana masih terus menangis, dan aku seperti biasa, munafik,
membalasnya dengan kata-kata bijak yang kumaksudkan agar dia tenang.
He… benar hanya sekedar obat penenang bukan penyelesai masalah.
Kepalaku sedikit demi sedikit terasa berdenyut, pusing. Perutku  mulai
terasa meilit. "Kamu stress.." begitu biasanya ibukku membalas  kalau
aku mulai mengirim sms keluhanku itu. Dan  beliau  kemudian akan
menelponku, menanyakan presensiku shalat lima waktuku.Puasa senin
kemisku. Dan selalu aku jawab dengan jawaban bohong. Aku yakin ibuku
mengerti kalau aku bohong, namun kemudian istri setia bapakku itu
berpesan kepadaku "Ambi air wudhu dulu le’….. dunia akan terasa
cerah.. akhirat juga ". Biasanya air mata munafikku kemudian menetes.

"Ah seandainya ibuku ada disini…." kataku kemudian di handfree
yang tersambung ke SE K610i ku. "Ibuku akan benar-benar menjadi teman
yang tepatmu malam ini " kataku spekulatif. Perempuan yang masih
menangis di seberang sana itupun menimpali " kamu beruntung bisa
mendapatkan ibu seperti itu" .

Sejenak aku merasa serba salah.
Aku berfikir, kalau perempuan yang sedang kalut di seberang sana ini
akan lebih baik bicara dengan  ibuku, perempuan tehebat daam hidupku
yang benar-benar mengerti apa itu  cobaan. Paling  tidak mereka
sama-sama perempuan yang mungkin akan lebih tepat berbicara sebagai
sesama perempuan. Namun disatu sisi, aku sama saja membuat perbandingan
dengan ibunya, yang sampai saat ini bahkan tidak mau bertemu denganku.
Ibunya yang sedang menggunakan otoritas agama, adat, rahim dan nafkah
demi menuruti apa yang dianggapnya benar untuk anaknya. Namun.. sungguh
aku tidak bermaksud untuk membuat perbandingan itu. Dan aku sejujurnya
muak dengan masalah ini…. Ini karena penyakit bawaan kamu, Introvert !

Aku
ingin mengumpat kepada perempuan yang sudah kubuat susah tiga tahun
terakhir ini karena kupolitisir untuk mengenalku dan mencintaiku. Aku
ingin mengumpat karena dialah sumber masalah. Karena dia terlahir
dengan cacat yang selalu membuatnya bermasalah.Cacat yang seharusnya
bisa dia atasi hanya dengan memaafkan nasibnya, memaafkan ayahnya,
ibunya dan dunianya. Dan saat ini ketika saat genting, dimana semu
aharus dibicarakan dan benar-benar tidak ada jalan lain kecuali
berbicara, dia hanya bisa menagis, kabur dari masalah.

Lagi-lagi..
perutku melilit. Jatah makan malam Kereta Eksekutif ini tak kusentuh.
Nasi dingin dengan sayur kacang panjang yang menurutku tidak ada logika
manusia sehat akalnya yang memilih menu untuk jam 11 malam, seperti
ini.  Inilah kereta eksekutif di pulau paling maju infrastruktunya ini.

Namun aku yakin, perutku melilit karena aku benar-benar merasa
tertekan. Perempuan di seberang sana masih terus menangis. Hampir
kubanting Lap Top di pangkuanku karena tiba-tiba Hang dan memaksaku
harus me restatnya lagi. Ingin aku lari dari semua ini. Pulang ke
lereng sindoro-sumbing sana. Memilih mengurus bunga-bunga di kebun
bapakku. Pergi dari idealisme-idealisme yang terus kuucapkan,
kudfakwahkan, kuketikkan dan kuperjuangkan ini. Pergi dari cintaku yang
tidak mungkin kupertahankan lagi ini. Pergi dari MOU-MOU yang setiap
hari harus ku kejar realisasinya ini. Menghianati semua
komitmen-komitmenku denga yang namanya perubahan…..

Dan aku
baru sadar.. kalau di gerbong 13 ini aku satu-satunya penumpang. Atau
aku sudah benar-benar dalam kondisi tidak sadar……..?

08
May

Jangan Larang Aku Bangun Atlantis di Dasar Lautku

Atlantis_sm
Aku pernah kehilangan buku berjudul Biografi Politik  Ali
Syariati. Buku yang cukup tebal itu bagiku sangat penting bukan saja
karena isinya yang memang belum selesai kubaca, namun juga karena buku
itu dibeli saat aku benar –benar mengalami transformasi ketika
‘tiba-tiba’ menjadi Area Manager Posko Bencana Gempa Jogja di PP
Muhammadiyah. Buku itu juga terbeli ketika aku harus tiap hari
mati-matian meyakinkan seorang perempuan yang menjadi pilihanku. Dari
buku itu aku belajar banyak yang namanya perjuangan, yang namanya
idealisme, yang namanya keterpurukan, terabaikan dan yang namanya cinta. 

Dari
buku itu aku belajar tentang eksistensi. Bagaimana seorang Ali Syariati
terbentuk menjadi pemuda cerdas, menganalisis dengan tajam dan berani
bersikap dan bergerak karena keberadaan dirinya yang jauh-jauh hari
‘diakui’ ayahnya. Yah.. diakui. Artinya keberadaannya yang seakan
terabaikan oleh kesibukan ayahnya, nyatanya adalah ‘teraakui’.
Bagaimana dia dibiarkan ayahnya membaca buku apapun di perpustakaan
ayahnya sejak kecil. Bagaimana dia ditunggui dengan sabar oleh ayahnya
ketika melewati krisis demi krisis (entah krisis keagamaan, ideologi,
intelektual) tanpa harus cepat-cepat dihakimi oleh ayahnya sebagai
‘anak sesat’ atau’ anak tidak jelas’. Aku menangkap bagaimana ayah
seorang Ali Syariati yang tidak memotong proses ‘krisis’ yang dialami
anaknya seperti orang tua kebanyakan yang atas nama nama baik keluarga
dengan semena mena memotong proses bahkan menghardik anaknya yang
tiba-tiba kebingungan dengan dirinya, keranjingan membaca, keranjingan
berdiskusi, keranjingan berdemonstrasi, mempertanyakan diri, Tuhan dan
kemapanan. Benar-benar sebuah interaksi cerdas (bahkan super cerdas)
antara ayah dan anak yang (mungkin) sadar akan melahirkan orang besar.

 

Saat
itu aku buai perempuan itu dengan mimpi-mimpi seperti Ali Syariati dan
Ayahnya terjadi. Kadang aku berfikir eksistensiku kubangun dari
preposisi wacana demi wacana, dari kopsepsi demi konsepsi, dari
mimpi-mimpi yang kadang nihilis atau kadang fatalis. Ha..ha… aku paksa
perempuan itu terbang bersama ide-ide yang bertebaran. Tiap hari kuajak
dia berbicara seakan akulah Ali Syariati dan perempuan itu, gadis yang
AlI Syariati taksir saat kuliah. Aku terus membuatnya berfikir bahwa
gadis bodohlah yang tidak mau menjadi gadis yang membuat Ali Syariati
tergila-gila karena kecerdasan dan sambung-menyambung wacana yang
mereka berdua bangun. Dan ketika ide -ide bergumul dengan cinta sudah
mulai mendapatkan formulanya, dunia ide dan rasa seakan tak akan ada
yang mampu memisahkannya.

 

Namun,
eksistensi  yang terbangun ternyata hancur bukan bersama buku yang
belum selesai kubaca itu. Eksistensi itu hancur karena tangan kekuasaan
yang memaksa perempuan cerdas itu menutup buku-bukunya tentang dunia
ide. Eksistensi itu hilang ketika ada kekuasaan yang tak bisa kusaingin
legitimasinya dan memaksakan perempuan itu melihat kenyataan sebagai
kenyataan. Kelaparan sebagai sebuah kelaparan. Dan Kematian sebagai
sebuah kematian.

 

Luluh, lantak dan bangunan ide yang
tidak hanya terbangun semalam itu hilang begitu saja bagaikan istana
pasir yang kubuat dimasa kecil dulu. Benarkah cinta yang terbangun dari
ide-ide yang meloncat-loncat tak beraturan diantara dua kepala itu
serapuh itu ? Atau inikah konsekuensi sebuah perjuangan ide layaknya
seorang Ali Syariati yang harus terasing  dari negeri sendiri dan kemudian mati muda. Benarkah para pembangun cinta atas ide akan mati muda ?

 

Entahlah. Buktinya ketika ide-ide itu kembali coba kubangun  lagi dan kutawarkan kepada sosok cantik di borneo sana, ternyata aku harus  mendapatkan jawaban  bahwa
aku hanya pembangun Istana Pasir. Aku tidak berani memaksanya mengerti
ide-ideku lagi padanya, aku takut ada penguasa dirinya yang memaksanya
untuk menutup dunia ide yang kubangun menjadi bagian dari hidupnya. Dan
sosok cantik itu kusimpulkan tidak akan mau tinggal di istana yang
dianggap orang rapuh. Benarkah cinta yang kubangun dari ide-ide ini harus kuakhiri  ?

 

Kadang
aku mau mengutuk Marx, karena dia mengajarkan bahwa pandanglah perut
sebagai perut, kelaparan sebagai kelaparan, dan kemiskinan sebagai
kemiskinan. Akupun ingin menghutuk Darwin yang mengajarkan manusia
modern itu bahwa kemenangan adalah mematikan
lawan. Akupun ingin memaksa Comte merevisi semua teroinya. Ha..ha..
tapi mungkin saja Marx, Darwin, Comte hanya memetakan konflik manusia
sejak Qobil dan Habil ?

 

Atau mungkin aku
belum bisa ketemu dengan mereka yang tidak merasa lelah dengan ide demi
ide …? Jujur aku takut ketika ide-ide ini coba kurangkai dan memasuki
kepala “Laut” ku saat ini. Aku takut hanya akan kembali mendapat jawaban  “Hentikan mimpimu membangun Atlantis di dasar lautku”.

 

Ya Allah.. semoga itu tidak terjadi. Dan aku belum berani beranjak dari reruntuhan Istana pasirku.