Islam mengajarkan bahwa yg namanya Iman itu
berkaitan langsung dengan penolakan terhadap kemungkaran. Dimana ketika
ada kemungkaran orang yg beriman harus merubah dengan tangannya, bila
ternyata tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya dan apabila tidak
mampu silahkan rubah dengan do’a. Namun merubah dengan do’a ini disebut
sebagai selemah-lemahnya iman.
Nah…kadang
kita lupa kalau ber Islam itu ada dua sayap, sayap pertama itu Amar
Ma’aruf dan sayap yg lain Nahi mungkar. Artinya, orang beriman itu
ternyata tidak cukup hanya menjadi ‘orang baik’ saja, namun juga harus
menjadi ‘orang pemeberani’ untuk menggerakkan tangan, lisan dan do’a
kita kalau ada kemungkaran.
Merubah
dengan tangan bisa diartikan merubah dengan kekuasaan. Artinya,
ternyata kalau mau menikmati keberimanan tingkat tinggi kita harus
memiliki kekuasaan. Sayangnya sebagai manusia kita juga punya kelemahan
kalau menjadi penguasa. Mungkin inilah mengapa Islam juga mengajarkan
bahwa beruntunglah orang yang berani mengatakan kebenaran di depan
penguasa, walau itu pahit. Dan di Indonesia ini mungkin bentuk
’kekuasaan’ ini bisa dalam bentuk penguasaan thd politik,
modal/kekayaan, atau ilmu yg tinggi. Nah…untuk menguasai ini semua yg
memang butuh kesabaran. Bahkan dalam AL Qur’an disebutkan tipikal para
penguasa politik, intelektual dan modal dalam simbol Firaun, Qorun dan
Balam (Ali Syariati: menjadi manusia haji). Dengan tiga simbol penguasa
ini… kita diberi alat baca yaitu untuk membedakan mana kawan dan mana
lawan sekaligus untuk memberi peringatan agar kita kalau berkuasa (agar
keimanan bisa maksimal), jangan sampai terperosok pada tiga bentuk
tersebut. Nah ….. kadang repotnya.. kita salah juga membedakan
perubahan dengan kekeuasaan/pemerintahan/sistem yg rapi dan perubahan
denganbergerak sendiri-sendiri seperti pada perusakan masjid
orang-orang Ahmadiyah….adn bom bali.. .karena kita lupa bahwa Islam
juga mengajarkan untuk saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan
kesabaran.
Bentuk
ekspresi keimanan kedua adalah dengan melawan kemungkaran melalui
‘lisan’. Disinilah posisi demonstrasi di jalanan, nulis di koran,
nge-blog, protes ke DPR dan sebagainya. Hanya
pada peringkat kedua. Namun, inipun kadang tidak banyak yang berani
terlibat. Demonstrasi walaupun ’diberitakan’ berakhir kericuhan…. ini
hanya simbolik bukan benar-benar ricuh. Setiap aksi pasti bukan diisi
orang-orang bodoh yg berdemo dengan memilih anarkhi (Kecuali
orang-orang yg memang tidak menegrti manajemen aksi itu sebenarnya).
Setiap perangkat aksi dan jalannya aksi adalah sebuah upaya
tersistematis untuk menyampaikan simbol-simbol aspirasi. Dan
target utama tetap media massa, mengikuti konsep bola salju….. yg
demo simbolik.. dan isu bisa tersampaikan ke fihak yg dituju dan juga
khalyak yg ’dicerahkan’. Jadi mirip bermain Film atau sandiwara di
pangung.. target pesan tersampaikan… Namun memang sayang..kadang ada
provokator yg membuat massa aksi terprovokasi….karena kadang kita
saking semangatnya lupa kalau massa aksi itu harus satu komando dan
disiplin
Bentuk
ekspresi keimanan terakhir adalh berdo’a. Ini adalah selemah-lemahnya
iman. Namun harus diakui akan terjamin ke-Ikhlasannya karena tidak
peduli dengan liputan media dan investasi politik. Namun secara
sunnatullah yg dirubah juga tidak akan banyak, atau secara matematis
tidak banyak berubah. Kata AAGym.. konsep berdo’a itu bukan setelah
berdo’a lantas pasrah.. namun setelah berdo’a itulah yg kemudian
menimbulkan spirit untuk berbicara dan bergerak. Dalam konteks ’nahi
munkar’ setelah berdo’a maka akan menjadi spiirit untuk berkata dan
berbuat. Wallahualam bissawab.
