08
May
08

Jangan Larang Aku Bangun Atlantis di Dasar Lautku

Atlantis_sm
Aku pernah kehilangan buku berjudul Biografi Politik  Ali
Syariati. Buku yang cukup tebal itu bagiku sangat penting bukan saja
karena isinya yang memang belum selesai kubaca, namun juga karena buku
itu dibeli saat aku benar –benar mengalami transformasi ketika
‘tiba-tiba’ menjadi Area Manager Posko Bencana Gempa Jogja di PP
Muhammadiyah. Buku itu juga terbeli ketika aku harus tiap hari
mati-matian meyakinkan seorang perempuan yang menjadi pilihanku. Dari
buku itu aku belajar banyak yang namanya perjuangan, yang namanya
idealisme, yang namanya keterpurukan, terabaikan dan yang namanya cinta. 

Dari
buku itu aku belajar tentang eksistensi. Bagaimana seorang Ali Syariati
terbentuk menjadi pemuda cerdas, menganalisis dengan tajam dan berani
bersikap dan bergerak karena keberadaan dirinya yang jauh-jauh hari
‘diakui’ ayahnya. Yah.. diakui. Artinya keberadaannya yang seakan
terabaikan oleh kesibukan ayahnya, nyatanya adalah ‘teraakui’.
Bagaimana dia dibiarkan ayahnya membaca buku apapun di perpustakaan
ayahnya sejak kecil. Bagaimana dia ditunggui dengan sabar oleh ayahnya
ketika melewati krisis demi krisis (entah krisis keagamaan, ideologi,
intelektual) tanpa harus cepat-cepat dihakimi oleh ayahnya sebagai
‘anak sesat’ atau’ anak tidak jelas’. Aku menangkap bagaimana ayah
seorang Ali Syariati yang tidak memotong proses ‘krisis’ yang dialami
anaknya seperti orang tua kebanyakan yang atas nama nama baik keluarga
dengan semena mena memotong proses bahkan menghardik anaknya yang
tiba-tiba kebingungan dengan dirinya, keranjingan membaca, keranjingan
berdiskusi, keranjingan berdemonstrasi, mempertanyakan diri, Tuhan dan
kemapanan. Benar-benar sebuah interaksi cerdas (bahkan super cerdas)
antara ayah dan anak yang (mungkin) sadar akan melahirkan orang besar.

 

Saat
itu aku buai perempuan itu dengan mimpi-mimpi seperti Ali Syariati dan
Ayahnya terjadi. Kadang aku berfikir eksistensiku kubangun dari
preposisi wacana demi wacana, dari kopsepsi demi konsepsi, dari
mimpi-mimpi yang kadang nihilis atau kadang fatalis. Ha..ha… aku paksa
perempuan itu terbang bersama ide-ide yang bertebaran. Tiap hari kuajak
dia berbicara seakan akulah Ali Syariati dan perempuan itu, gadis yang
AlI Syariati taksir saat kuliah. Aku terus membuatnya berfikir bahwa
gadis bodohlah yang tidak mau menjadi gadis yang membuat Ali Syariati
tergila-gila karena kecerdasan dan sambung-menyambung wacana yang
mereka berdua bangun. Dan ketika ide -ide bergumul dengan cinta sudah
mulai mendapatkan formulanya, dunia ide dan rasa seakan tak akan ada
yang mampu memisahkannya.

 

Namun,
eksistensi  yang terbangun ternyata hancur bukan bersama buku yang
belum selesai kubaca itu. Eksistensi itu hancur karena tangan kekuasaan
yang memaksa perempuan cerdas itu menutup buku-bukunya tentang dunia
ide. Eksistensi itu hilang ketika ada kekuasaan yang tak bisa kusaingin
legitimasinya dan memaksakan perempuan itu melihat kenyataan sebagai
kenyataan. Kelaparan sebagai sebuah kelaparan. Dan Kematian sebagai
sebuah kematian.

 

Luluh, lantak dan bangunan ide yang
tidak hanya terbangun semalam itu hilang begitu saja bagaikan istana
pasir yang kubuat dimasa kecil dulu. Benarkah cinta yang terbangun dari
ide-ide yang meloncat-loncat tak beraturan diantara dua kepala itu
serapuh itu ? Atau inikah konsekuensi sebuah perjuangan ide layaknya
seorang Ali Syariati yang harus terasing  dari negeri sendiri dan kemudian mati muda. Benarkah para pembangun cinta atas ide akan mati muda ?

 

Entahlah. Buktinya ketika ide-ide itu kembali coba kubangun  lagi dan kutawarkan kepada sosok cantik di borneo sana, ternyata aku harus  mendapatkan jawaban  bahwa
aku hanya pembangun Istana Pasir. Aku tidak berani memaksanya mengerti
ide-ideku lagi padanya, aku takut ada penguasa dirinya yang memaksanya
untuk menutup dunia ide yang kubangun menjadi bagian dari hidupnya. Dan
sosok cantik itu kusimpulkan tidak akan mau tinggal di istana yang
dianggap orang rapuh. Benarkah cinta yang kubangun dari ide-ide ini harus kuakhiri  ?

 

Kadang
aku mau mengutuk Marx, karena dia mengajarkan bahwa pandanglah perut
sebagai perut, kelaparan sebagai kelaparan, dan kemiskinan sebagai
kemiskinan. Akupun ingin menghutuk Darwin yang mengajarkan manusia
modern itu bahwa kemenangan adalah mematikan
lawan. Akupun ingin memaksa Comte merevisi semua teroinya. Ha..ha..
tapi mungkin saja Marx, Darwin, Comte hanya memetakan konflik manusia
sejak Qobil dan Habil ?

 

Atau mungkin aku
belum bisa ketemu dengan mereka yang tidak merasa lelah dengan ide demi
ide …? Jujur aku takut ketika ide-ide ini coba kurangkai dan memasuki
kepala “Laut” ku saat ini. Aku takut hanya akan kembali mendapat jawaban  “Hentikan mimpimu membangun Atlantis di dasar lautku”.

 

Ya Allah.. semoga itu tidak terjadi. Dan aku belum berani beranjak dari reruntuhan Istana pasirku.




0 Responses to “Jangan Larang Aku Bangun Atlantis di Dasar Lautku”


  1. No Comments

Leave a Reply