"Coba kamu buka komunikasi..mungkin mereka akan mengerti.. setidaknya
ada negosiasi" aku coba katakan itu, sementara isak tangis di seberang
telpon sana bersaing dengan suara kereta malam BIMA yang kutumpangi.
"Aku
kan sudah bilang…! Sejak kecil aku tidak pernah bisa mengatakan
perasaanku kepada mereka !", demikian suara perempuan itu.
Aku
memilih tidak mendebatnya, aku biarkan dia terus meracau, mengumpat dan
menangis di telpon. Sementara aku ketar-ketir pulsa SIMPATI PeDe-ku
akan segera habis. "Mungkin aku aku hanya bisa membantu mendengarkan
tangis dan racauannya malam ini" demikian batinku. Batinku yang
seharusnya ikut menangis dan bahkan mungkin seharusnya akulah yang
menangis lebih keras.
Jari-jariku terus menyentuh keyboard untuk
menyelesaikan proposal sambil sekali-kali membuka window bahan
presentasiku. Aku khawatir lap top ini akan kehabisan baterai,
sedangkan propsal in ibelum selesai kuedit. Belum lagi masih harus debugging
yang tidak mungkin cepat kulakukan. Sementara sudah dua kali sejak
meninggalkan Stasiun tugu tadi petugas Kereta memperingatkanku untuk
menjaga barang inventaris kantor ini agar tidak senasib dengan para
penumpang KA sebelumnya yang sudah jamak kehilangan Lap top.
Beberapa
kali suara di kejauhan sana terputus. Entah .. mungkin barusaja kereta
melewati terowongan Ijo, tempat si Kliwon di Daun Di Atas Bantal mati.
Sehingga sinyal hilang. Aku beberapa kali redial dan
dia masih menangis di kejauhan sana. Bahkan aku tak berani bertanya
dimana posisi tepatnya dia. "Mungkin dia menginap di kantornya" batinku
setelah ngobrol dengan otakku ketika logikaku menyimpulkan bahwa dia
tidak mungkin menangis keras jam 11 malam seperti ini, kalau dia masih
di rumahnya. Sementara perang dingin masih terjadi di rumahnya. Bahkan
aku khawatir sudah terjadi perang terbuka.
Kereta masih terus bergerak. Perempuan di seberang sana masih terus menangis, dan aku seperti biasa, munafik,
membalasnya dengan kata-kata bijak yang kumaksudkan agar dia tenang.
He… benar hanya sekedar obat penenang bukan penyelesai masalah.
Kepalaku sedikit demi sedikit terasa berdenyut, pusing. Perutku mulai
terasa meilit. "Kamu stress.." begitu biasanya ibukku membalas kalau
aku mulai mengirim sms keluhanku itu. Dan beliau kemudian akan
menelponku, menanyakan presensiku shalat lima waktuku.Puasa senin
kemisku. Dan selalu aku jawab dengan jawaban bohong. Aku yakin ibuku
mengerti kalau aku bohong, namun kemudian istri setia bapakku itu
berpesan kepadaku "Ambi air wudhu dulu le’….. dunia akan terasa
cerah.. akhirat juga ". Biasanya air mata munafikku kemudian menetes.
"Ah seandainya ibuku ada disini…." kataku kemudian di handfree
yang tersambung ke SE K610i ku. "Ibuku akan benar-benar menjadi teman
yang tepatmu malam ini " kataku spekulatif. Perempuan yang masih
menangis di seberang sana itupun menimpali " kamu beruntung bisa
mendapatkan ibu seperti itu" .
Sejenak aku merasa serba salah.
Aku berfikir, kalau perempuan yang sedang kalut di seberang sana ini
akan lebih baik bicara dengan ibuku, perempuan tehebat daam hidupku
yang benar-benar mengerti apa itu cobaan. Paling tidak mereka
sama-sama perempuan yang mungkin akan lebih tepat berbicara sebagai
sesama perempuan. Namun disatu sisi, aku sama saja membuat perbandingan
dengan ibunya, yang sampai saat ini bahkan tidak mau bertemu denganku.
Ibunya yang sedang menggunakan otoritas agama, adat, rahim dan nafkah
demi menuruti apa yang dianggapnya benar untuk anaknya. Namun.. sungguh
aku tidak bermaksud untuk membuat perbandingan itu. Dan aku sejujurnya
muak dengan masalah ini…. Ini karena penyakit bawaan kamu, Introvert !
Aku
ingin mengumpat kepada perempuan yang sudah kubuat susah tiga tahun
terakhir ini karena kupolitisir untuk mengenalku dan mencintaiku. Aku
ingin mengumpat karena dialah sumber masalah. Karena dia terlahir
dengan cacat yang selalu membuatnya bermasalah.Cacat yang seharusnya
bisa dia atasi hanya dengan memaafkan nasibnya, memaafkan ayahnya,
ibunya dan dunianya. Dan saat ini ketika saat genting, dimana semu
aharus dibicarakan dan benar-benar tidak ada jalan lain kecuali
berbicara, dia hanya bisa menagis, kabur dari masalah.
Lagi-lagi..
perutku melilit. Jatah makan malam Kereta Eksekutif ini tak kusentuh.
Nasi dingin dengan sayur kacang panjang yang menurutku tidak ada logika
manusia sehat akalnya yang memilih menu untuk jam 11 malam, seperti
ini. Inilah kereta eksekutif di pulau paling maju infrastruktunya ini.
Namun aku yakin, perutku melilit karena aku benar-benar merasa
tertekan. Perempuan di seberang sana masih terus menangis. Hampir
kubanting Lap Top di pangkuanku karena tiba-tiba Hang dan memaksaku
harus me restatnya lagi. Ingin aku lari dari semua ini. Pulang ke
lereng sindoro-sumbing sana. Memilih mengurus bunga-bunga di kebun
bapakku. Pergi dari idealisme-idealisme yang terus kuucapkan,
kudfakwahkan, kuketikkan dan kuperjuangkan ini. Pergi dari cintaku yang
tidak mungkin kupertahankan lagi ini. Pergi dari MOU-MOU yang setiap
hari harus ku kejar realisasinya ini. Menghianati semua
komitmen-komitmenku denga yang namanya perubahan…..
Dan aku
baru sadar.. kalau di gerbong 13 ini aku satu-satunya penumpang. Atau
aku sudah benar-benar dalam kondisi tidak sadar……..?
aq jg prnah gt, nlp org d tngah mlm hanya utk denegerin aq nangis. tp aq g introvert loh! skr g mau lg deh nangis smlmn. hbsny keesokn paginy wajahny jd horor bgt, kyk sadako. hehe nangis musuh kecantikan!
ah, gak papa nangis..
kan paginya trus pake kacamata,
no problemo