
Jam 19.45 aula ‘Gedoeng Moehammadijah’
di Jl KHA Dahlan 103 sudah penuh dengan peserta “Dialog dengan Hanung”.
Undangan yang disebar kurang dari 24 jam sebelum acara berlangsung ini,
tenyata cukup ampuh. Padahal hanya via SMS dan Yahoo Messenger, bisa terkumpul audience sekitar 120-an orang.
Pak Budi Setiawan, ketua Lembaga Pustaka Informasi (LPI) PP Muhammadiyah sudah berada di ruangan bareng
anak-anak website. Mbak Trias, sekretaris PP Aisyiyah, juga sudah
berada di ruangan bersama putra-putrinya. Demikian juga mBak Evi, Ketua
PP Nasyiah sudah siap di ruangan bersama mBak Wiwit, Sekjen PP Nasyiah,
dan juga aktifis Nasyiah lainnya. Aktifis tingkat pusat Muhammadiyah
ini bercampur dengan peserta dialog yang berasal dari anak-anak muda
Muhammadiyah, anak IMM, IRM, mahasiswa yang mengaku dari UGM, UNY, UIN,
UMY, UAD, STIKES Aisyiyah, siswa SMA Muh, Santri Mualimin dan Mualimat
dan juga Musrif dan Musrifahnya. Ternyata, banyak dari mereka yang
membawa teman-teman mereka untuk ikut datang, ngakunya sih teman kost
mereka, adik atau saudara mereka (Karena banyak yang tanya
sebelumnya….njajak teman boleh nggak……)
Jam 19.50 Hanung
Bramantyo datang di gedung yang berdiri tahun 1925 ini dengan dibonceng
motor, menembus hujan rintik-rintik. Di gerbang dia disambut Pak
Budi dan Mas Iwan (orang LPI juga). Sesaat hanung terbelalak melihat
keramaian di aula malam ini. “Wah tak fikir cuman sepuluh orang …”
demikian kira-kira ungkapan Hanung ketika masuk sambil melepas sepatu
sebelum ikut duduk lesehan. Ternyata dia nenteng bungkusan roti terang
bulan yang dia siapkan sebagai snack
pertemuan malam ini. Dia fikir hanya akan bertemu sekitar sepuluh orang
malam ini. He..he…sukseslah skenario kami menodong Hanung bertemu
komunitas muda Muhammadiyah malam ini.
Setelah sambutan sebentar dari Pak Budi yang juga Ketua Takmir Masjid Gedhe Kraton
tersebut, Hanung mengawali dari cerita yang mungkin pada dasarnya mirip
yang di tulisnya di Multiply-nya. Tentang motifasinya, tentang
bagaimana dia menekankan beda novel dengan film dan bagaimana dia
menemui kesulitan-kesulitan dalam penggarapannya. Termasuk mencari
sosok Fahri yang dia akui sangat sulit.
Rupanya, audience
malam ini tidak sabar untuk memberondong Hanung dengan berbagai
pertanyaan. Ketika sesi tanya jawab dibuka, peserta menyambutnya dengan
antusias untuk menanyakan apa yang mereka ingin tanyakan. Mahendra,
yang jadi moderator malam itu terpaksa memilih beberapa penanya saja,
dengan (tentu saja) mengecewakan banyak yang ingin bertanya.
Diantara
pertanyaan yang terungkap adalah pertanyaan mengapa di Film itu
dianggap mereka kurang Islami. Ada yang bertanya dimana religiusitasnya
karena lebih banyak cerita cintanya. Ada yang menanyakan tentang mengapa di Film itu ada adegan shalat Aisa di
Rumah Sakit yang tidak melepas cadarnya (menurutnya diwaktu shalat
cadar harus dilepas). Ada
yang menanyakan juga tentang mengapa dengan orang Kristen kok Fahri
yang muslim saling berjawab salam (Menurut pemahaman penanya, ini tidak
boleh). Dan lagi-lagi banyak yang menyisipkan pertanyaan yang (mungkin)
membuat Hanung gemes : Kenapa kok Filmnya beda dengan Novel……( ha..ha.. banyak yang bandel ternyata..padahal udah diwanti wanti sejak awal……).
Hanung
kembali menegaskan bahwa dia tidak memfilmkan Novel. Dia juga
menegaskan bahwa Film adalah sebuah media, dan jangan dianggap sebagai
sebuah (akhir) pencapaian. " Jadi kalau ada pesan di Film, mari kita
cari pembandingnya dari pesan Film yang lain" ungkapnya. Walaupun
begitu, Hanung tetap mengatakan bahwa bila penonton masih mau membanding-bandingkan Novel dengan Filmnya silahkan saja.
Sempat
juga dia menyayangkan dengan banyaknya yang nonton bajakan.. dan
kemudian mencacat filmnya. Dengan setengah bercanda dia mengatakan
bahwa menonton bajakan adalah mendholimi dirinya….”Jangan, karena habis nonton bajakan terus menghasut kiri kanan, ojo nonton Filme elek…..” Sukurlah,
dari para penonton banyak yang membuat pengakuan kalau mereka juga
menonton Filmya langsung di bioskop. (Walaupun ternyata banyak juga
yang menonton bajakan….wah…payah….).
Pengakuan Hanung
Hanung
sempat membuat pengakuan bahwa dia dengan filmnya biasanya memiliki
keterkaitan dengan pengalaman hidupnya. Termasuk mengapa di Film
Catatan Akhir Sekolah ada nama kepala sekolah yang bernama Kastolani (
he..he. buat anak Moehi Jogja sebelum angkatan 2000 pasti ngerti beliau
siapa….).
Yang
menarik, malam ini Hanung membuat pengakuan kalau tidak pernah lagi
menonton Film Ayat-Ayat Cinta secara utuh. Dia mengaku tidak kuat
melihatnya. Ada pesan dalam Ayat-Ayat Cinta yang sangat personal dengan
dia, yaitu tentang bagaimana dia harus kehilangan dan berpisah dengan
orang-orang yang sangat dia cintai. " Saya harus
menghadapi sendiri, (bahwa) cinta dan perasaan untuk memiliki itu
berbeda" ungkapnya. "Tidak sama…!" ( hik ..hik…). Ternyata ada
kisah, disaat dia menyelesaikan Ayat-Ayat Cinta, ada orany-orang
tercinta yang meninggalkan dia. " Inilah bagaimana saya harus bertemu
bentuk Sabar dan Ikhlas,….." . Ungkapnya seakan ingin mengingatkan
kita dengan adegan ketika Fahri dipenjara ( Pada saat Hanung mengatakan
ini, tepuk tangan menggema di Aula ….).
Tentang
pesan Islam, menurut Hanung dengan Film ini Hanung ingin menjawab
sebuah gambaran Islam yang sering dilecehkan oleh orang bukan Islam.
Inilah bagian Islam menurut Hanung. Hanung menyatakan dia ingin
menampilkan bahwa Islam tidak hanya agama yang mengedepankan Jihad
dengan pedang dan bom, namun sebagai agama yang mengedepankan Cinta.
Minta Dukungan untuk Ketika Cinta Bertasbih
Diakhir
acara, sekitar jam 22.00 Hanung mohon doa restu agar Novel Kang Abik
selanjutnya, Ketika Cinta Bertasbih, bisa diserahkan kepadanya. Hal ini
Hanung katakan ketika menanggapi usul salah satu peserta yang meminta
Novel itu juga difilmkan. Kata Hanung, bila dia mendapatkan Novel itu
sebagai project Film selanjutnya, ini akan menjadikan dia menambal
kekurangannya yang pernah dilakukan di Ayat Ayat Cinta. " Saya
benar-benar ingin shooting di Mesir…" ungkapnya, sambil mengenang
kegagalannya mendapat kesempatan shooting di Mesir.
Selepas
acara Hanung berfoto-foto dengan anak-anak, dengan Pak Budi yang juga
guru Drum Band PMY, kelompok Drum Band yang diikuti Hanung ketika
masih sekolah di SD Muhammadiyah Ngupasan 1-2. Malam itu ternyata
datang juga seorang guru Hanung ketika di SMA Muhammadiyah I
Prambanan. Diujung pertemuan, Anak-anak web mendapat kenang-kenangan
coretan Hanung di Kanvas dengan tulisan ”Gurumu adalah diri kamu sendiri, Sahabat setia kamu itu waktu, Rumah kamu adalah ilmu”.
—————————————————————————————————————————————
Bagi
saya, ketika ada orang dengan kreativitasnya menjelek-jelekkan Islam,
maka kemudian itu saya anggap sebagai sebuah otokritik. Kecuali dia
terang-terangan menyerang saya. mengebom saya, menyerang agama saya,
sampai kemudian terjadi pertumpahan darah. Maka saya harus membela.
Kalau dia mengeluarkan tantangan dengan sebuah wacana, dialog, karya.
Maka saya harus menyambutnya dengan sebuah karya, sebuah dialog. (Hanung Bramantyo)
—————————————————————————————————————————————-
Foto - fotonya disini…………….