Archive Page 2

13
Mar

Penjara Laut+Karang Rapuh

Karang malam ini mengerti kalau Laut yang
tampak angkuh, dengan umpatan-umpatan feminisnya  itu terjadi bukan
karena Laut itu benar benar ingin angkuh dan mengumpat selama ini.

 

Ternyata
dibalik semua itu ada kehendak tertahan yang membuat Laut seakan
terpenjara dalam jeruji-jeruji beruwujud klaim atas kesucian patriakhi dan kebenaran laki-laki disekelilingnya yang selalu mengatakan “ kami lakukan ini demi kebaikanmu”. Tamparan, dan bentakan yang menjadi makanan dia selama ini itulah yang ternyata menyebabkan Laut membangun proteksi yang sulit ditembus. Proteksi yang membuatnya tersiksa, tidak bisa memilih dan membuatnya terkunci dalam jeruji–jeruji kehendak yang selalu bukan dirinya yang meminta. Kadang dia terus protes….”Mengapa
walau aku  belajar hingga negeri para Firaun, dan  aku berhasil
mengupas seluk beluk jiwa manusia.. tetapi  jiwaku sendiri masih
terkurung ego kalian….?! apa karena aku perempuan ..?”   

 

Karang  hari ini mengerti kalau para pemuja Laut
satu demi satu sudah menyatakan mundur dan memilih untuk tidak
mendekati Laut lagi. Bahkan ingin mengubur kenangan sosok laut dalam
dirinya. Bukan karena laut menghempaskan mereka, namun Karena Laut
selalu mengombang ambingkan para pemujanya. Walaupun  Laut selalu
menangis dalam dirinya…tidak ada maksud sedikitpun untuk mengombang
ambingkan mereka…. Laut hanya tidak tahu harus menjawab apa ketika
para laki-laki itu kelak harus berhadapan dengan para laki-laki yang
selama ini selalu sok tahu dengan dirinya…..

 Wajar bila para laki-laki patah hati itu kemudian memilih memulai hidup baru, walaupun sejujurnya  mereka
tetap tidak bisa melupakan Laut. Laut yang angkuh, yang tampak sinis,
dan terus menjadi ‘hantu cantik’ dalam mimpi tidur mereka. Laut yang
dekat tapi tak bisa disentuh, Laut yang membisu dan terus mengunci
rapat perasaannya. Laut yang selalu menantang dan siap berteriak ketika ada yang mengusiknya tentang hatinya….. Yah… hatinya yang selalu dia rahasiakan untuk siapa….

 

Laut….  ! Kacamata itu yang teringat dimata  Karang.

 

Bukan…!  bukan kacamata, tapi wajah angkuhnya.

 

Tapi lagi-lagi Karang kembali menolak bahwa wajah angkuh itu yang membuatnya tdak bisa melupakan Laut. Tapi apa….?

 

Karang kembali memikirkan. “ Oh Qosim Amin…!” , ha..ha…iya…, Karang teringat nama orang itu yang sering disebut Laut  dalam umpatan-umpatan femisnisnya . Umpatan  pemberontakan
terhadap masa kecilnya, terhadap laki-laki yang disayanginya.. terhadap
banyak hal ya dianggapnya ‘bersalah tapi baik’ dengan dirinya lagi.

 

Karang tersadar…, masih panjang jalannya untuk menjemput Laut.
Masih butuh banyak hal….karena Laut bukan sekedar butuh laki-laki… tapi
butuh manusia yang bisa membebaskan dia, atau sekedar  sedikit berjarak
dengan laki-laki di sekelilingnya. Para laki-laki yang selalu
mengaturnya, menamparnya dan membentaknya atas nama cinta, atas alasan
dia bungsu, dan atas alasan dia perempuan. Karang harus datang untuk
menjemput laut dalam kondisi tidak sekedar memenangkan hati Laut. Namun
juga harus memenangkan dialektika ego dengan para laki-laki di
sekeliling Laut…….

 

Tidak ada pilihan lain bagi Karang kecuali harus datang dan menang, karena tidaklah lucu bila ada “Karang kehilangan Lautnya….? “

09
Mar

Menghadapi Perempuan Bisu

Kemarin, ketika aku menulis ttg. Sosok Feminis  yang Sexy, ada beberapa teman perempuan kemudian berkomentar (via off line)
ttg ketidak sukaan mereka atas klaim ku bahwa mereka yang berani teriak
teriak ttg Feminisme itu Sexy. Mereka yang bukan aktifis itu
berkomentar bahwa pilihan untuk diam adalah
sebuah pilihan yang harus dihormati. Karena toh orang-orang yang teriak
teriak ttg Feminisme itu bisa-bisa lebih tidak tahu tentang realitas,
atau mereka memilih aliran Feminis yang bisa jadi tidak sesuai dengan
kondisi para perempua. Yah.. coba deh… pledoinya tak tulis…

 

Bagiku tetap saja, sepintar peintarnya orang kalau dia hanya diam, aku berhak mengatakan bahwa dia sebenarnya bodoh. Bagiku
sepeduli-pedulinya seseorang terhadap ‘nasib perempuan’ (atau ketidak
adilan yang lain) namun dia diam, sama saja aku berhak mengatakan bahwa
dia sebenarnya penakut. Bagaimanapun orang-orang bisu biasanya adalah orang-orang yang tidak berani mengambil resiko. Jadi: diam bukanlah pilihan.. diam adalah ketidakberdayaan.

 

Menurutku,
setiap manusia (tidak harus perempuan) yang memilih menjadi orang
kebanyakan, dia sama saja membohongi bisikan nuraninya bahwa
disekelilingnya ada masalah yang harus diatasi. Dan repotnya, secara
salah kaprah, mereka berlindung dalam prinsip “lebih baik diam kalau tidak bisa berkata baik ?”

 

Ma’af..walaupun prinsip itu benar, tapi itu prinsip manusia tertindas. Itu hanya standar minimal manusia baik, bukan manusia bermanfaat.  Ketika harus survival. Kalau ingin berubah menjadi mansia maju, pakailah prinsip… “sebaik baik orang adalah ketika banyak berkata dan semua perkatannya adalah perkataanm benar , baik, berguna dan bermanfaat”. Jadi, sekedar menjadi orang baik adalah baik, tapi bukankah sebaik-baiknya orang adalah orang yang bisa berguna untuk orang lain ? ( Sebaik baiknya muslim adalah yag berguna bagi muslim yang lain). Kalau menggunakan prinsip lebh baik diam.. terus bagaimana bisa bermanfaat bagi orang lain….?

 

Teringat jaman dahulu ketika aku masih sering menjadi instruktur pelatihan peningkatan kapasitas mahasiswa. Target
pertama pelatihan di kalangan mahasaiswa adalah bagaimana mereka mau
mengatakan apa yang difikirannya, itu saja (perkataannya benar atau
salah itu masalah lain). Betapa susahnya membuat mereka berbicara,
mayoritas mahasiswa adalah manusia-manusia bisu. Sehingga kami harus
mengeluarkan berbagai cara untuk membuat mereka berani berbicara, atau
sekedar menuliskan pikirannya. Mereka selalu menggunakan dalil dalil
khas manusia tertindas tersebut diatas , ditambah lagi dalil: bahwa berdebat adalah pekerjaan sia-sia….itu pekerjaan kaum yahudi….

 

Waktu
itu, kami berbekal asumsi bahwa setiap peserta pelatihan adalah
orang-orang yang datang dengan truma-trumanya sendiri. Dan lucunya
hampir semua memiliki trauma dimasa kecilnya seperti  dia pernah
diolok-olok temannya, kakaknya, bapak atau ibunya ketika berpendapat.
Kadang mereka mengaku kalau dia takut berpendapat karena dia merasa
ilmunya masih rendah. Namun..kami (instruktur) sepakat bahwa mereka
adalah manusia-manusia sakit secara sosial dimana mereka tidak memiliki
keberanian…bahkan hanya untuk mengatakan kata: tidak….! (Merekalah.. manusia manusia yang pasrah dirinya diperkosa secara sosial…)

 

Terus
terang, bagiku manusia-manusia seperti itulah manusia-manusia yang
bermental inlander, bangsa terjajah. Mereka merasa bahwa hal terbaik
dalam dunia ini adalah ketika kita menjadi manusia ‘sekedar’ baik..
untuk dirinya saja..Jadi boro-boro mereka berwacana tentang feminism
dan sebagainya, mau mengatakan makanan apa yang dia paling inginkan
saja bisa-bisa tercekat bibrnya. (Gila..
sejak ‘penjajahan’  Sriwijaya, Majapahit, jaman Belanda sampai jaman
Jepang.. ternyata telah membuat cara berfikir terjajah bersemai sampai
beranak pinak..
.)

 

Mengapa banyak orang yang tidak mau berani ikut dalam barisan bicara…?

 

Karena bagi mereka mereka
adalah sosok-sosok egois. Kadang mereka menganut cara fikir, bahwa
rubahlah dirimu sebelum merubah orang lain. Jujur,.. aku mangkel dan
jengkel ketika ada orang sok suci mengatakan hal ini ,..hanya untuk
membenarkan kepengecutannya dan keegoisannya…

 

Perubahan
tidak mungkin terjadi ketika menunggu manusia-manusia sempurna lahir.
Karena manusia ya tidak mungkin sempurna. Jadi orang-orang yang berfikir seperti diatas hanya akan menambah beban masalah, dan kebisuannya adalah masalah terbesar dalam hidupnya.

 

Ngomonglah…, dan
berbuatlah….., tidak perlu takut dan tidak perlu berfikir negative
dengan orang-orang yang berani berbicara. Karena ketika kita berfikir
negatif  thd mereka, saat itulah kita termasuk menjadi barusan manusia manusia pengecut dan penakut.

Manusia
akan menjadi sepenuhnya manusia kalau berani berfikir, berani berkata
dan berani berbuat. Kaidah kaidah teologis, akhlak dan etika itu jangan
dianggap pembatas, anggaplah semacam aturan balap mobil. Mobil harus
digeber.. sekenceng mungkin, aturan, etika, ahlak itu ada untuk menjaga
kita tidak bersinggungan dengan pembalap lain.. bukan untuk membuat
kita berhenti menekan gas mobil atau bahkan keluar dari lintasan.. Fastabiq…!

Laut, teruslah bicara, teruslah berbuat, teruslah menggungat kenyataan..!
Biarkan perempuan-perempuan bisu itu terhempas dengan ketidakberdayaan mereka

07
Mar

10.000 BC: Cerita Cinta ‘Gak’ Pandang Ruang dan Waktu

Cantik
Ternyata
yang namanya kisah cinta selalu menarik, bahkan ketika dibawa ke
setting negeri antah berantah dengan setting waktu yang ‘tidak
mungkin’, yaitu sepuluh ribu tahun ‘sebelum masehi’. Atau mungkin
karena Roland Emmerich yang memang cerdas mengolah sisi-sisi kemanusiaan yang paling mendasar, yaitu Cinta.
 

Btw…selama nonton memang aku coba hanyutkan saja konsentrasiku pada kisah cinta , D’Leh (Steven Strait) dan Evolet (Camilla Belle)
serta heroisme ‘para pemburu’ dan ‘tombak’ sebagai kaum tertindas untuk
menhancurkan tiran yang mengaku ‘Tuhan’. Hem….ketika melihat dari sisi
heroisme ini, mirip cerita Firaun dan Musa, bahkan lengkap dengan
symbol tirannya yaitu Gunung Para Dewa… atau Piramid.

 

Scene  yang membekas dengan diriku adalah ketika Pemburu Tic Tac menceritakan kepada D’Leh : bahwa ada dua macam laki-laki, pertama ada laki-laki baik
yang dengan tanggungjawabnya dia harus melindungi keluarganya dan juga
kelompok dan kerabatnya. Dan laki-laki yang kedua adalah laki-laki tidak baik yang
akan jadi orang besar, dimana dia tidak sekedar memikirkan keluarga dan
kerabatnya, namun berani menagmbil resiko  untuk memikirkan
bangsa-ummatnya.
 (kok..laki-laki saja….?  he.he.)

 

He,..
selain itu jelas yang menarik tentu saja gambar-gambar ‘khayal’ yang
mampu dihadirkan dengan benar-benar cantik, smooth dan serasa kembali
ke ‘jaman yang dimaksud’ dimana orang-orang masih berburu dan meramu,
takjub dengan bercocok tanam, dan bagaimana mereka harus menjadi
orang-orang yang tergantung dengan para laki-laki perkasa.. (Loh…
kayanya ada yg pengen mendebat nih.. he..he.).

 

Di
sisilain, sepertinya ada pesan ‘khas kiri’ dari Film ini, tentang
bagaimana definisi manusia yang ketika ingin mendapatkan haknya
haruslah memperjuangkan sendiri. Bagaimana ketika setiap pemimpin
ternyata harus memiliki fungsi profetis… atau mirip
istilah anak-anak muda (yang sekarang sepertinya udah sepi dan jarang
aku mendengarnya..) Sebagai Agen of Change. Terganbar dalam Film ini
bagaimana ‘Musa’ dan ‘Bani Israel’ yang harus disadarkan bahwa mereka
akan mendapatkan perubahan kalau berani merebut hak mereka, karena (
ini kata Tic tac) : Jauh lebih banyak yang dipaksa tunduk… daripada
yang memaksa tunduk. ( Dalam setiap rumus gerakan social memang begitu…
tiran selalu berkongsi dengan ‘orang pintar’, ‘kapitalis’ dan
‘penguasa tafsir teologis’ yang semuanya menghagemoni, membodohi dan
memperalat mereka yang malas berfikir…. (Yaa Ayyuhal Muddatstsir……Qum…!)

 

He.. lagi laku konsep profetis dalam
film-film akahir-akhir ini memang menjadi cukup manusia dan romantis,
disbanding dengan konsep manusia super yang tanpa cacat. D’ Leh yang
mewakili sosok Messias, Ratu Adil atau Pemimpin yang Dijanjikan timbul
sebagai sosok pemuda yatim-piatu, langganan patah hati, tukang mimpi,
perenung dan juga peragu. Dan seperti sebuah rumus besar para pemimpin
besar Revolusi, dimana di sampingnya ada seorang mentor bernama
‘Pemburu Tic Tac’ ( Aku selalu berkeyakinan tidak ada revolusi tanpa
mentor yang bijak), ada seorang perempuan cantik yang harus dikejarnya
(Aku juga berkeyakinan tanpa kisah ginian.. akan jadi garing
banget…he…he..). Dan harus ada kondisi dimana sang hero mengalami
depresi, kebimbangan dan dia harus berkomunikasi langsung dengan yang
dinamakan Tuhan ( Religiusitas ala Sufisme…..bukan religiusitas ala
penegak Syariat). Dalam film ini juga tergambar bagaimana sang Hero
adalah sosok yang haus mencari ilmu, tergambar dengan berhasilnya dia
mengadopsi ilmu dari suku lain dengan menanam padi.

 

Btw…
revolusi harus selalu meniti jalan-jalan sunyi, dimana ada kebimbangan,
ada kerinduan akan Tuhan dan Belahan Jiwa, selalu berada dalam batas
–batas optimisme dan keputusasaan, dan bagaimana ilmu, refleksi dan
merelakan diri menjadi milik ummat. Dia terpaksa tidak hanya menjadi
orang.. baik….tapi juga menjadi orang  yang dipaksa sejarah menjadi orang besar.

   

Laut.. Aku Janji akan menjemputmu…Kita Bangun Revolusi kita
Jangan Hanya Bisa Mimpi..!
(Ditulis sambil nonton Republik Mimpi )

03
Mar

Ketika Feminis Menjadi Sexy (Ttg Laut itu)

Dulu aku pernah berfiki tentang wacana Feminisme
yang waktu itu menurutku Absurd. Mereka berdebat tentang hal-hal yang
menurutku tidak perlu dan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Namun
lucunya, ketika aku bertemu perempuan-perempuan yang gemar berteriak tentang Feminisme ini… aku merasa ada yang lain dengan perempuan ini.

 

Pernah
beberapa kali aku mencoba memahami apa yang diperjuangkan kaum-kaum
feminis ini. Mereka dengan gagah berani ternyata membawa misi tentang
kesetaraan gender ( yg definisinya sampe sekarang aku juga tidak
yakin)…,,,juga tentang hal-hal yang berkaitan dengan penindasan
perempuan baik dalam konteks cultural, struktural (Negara), atau juga agama (baca= tafsir Agama). 

 

Sekilas
aku merasa ada yang benar dari banyak perdebatan yang berlaku di dunia
feminsime itu. Namun, karena memang sejak kecil aku diajari bapak untuk
tidak pernah memutlakkan semua pendapat manusia, maka aku coba nikmati
saja beberapa perdebatan yang mereka jalankan. Dan kemudian aku merasa
nyaman untuk masuk dalam dunia perdebatan feminism ini.

 

Paling
tidak, ketika aku memasuki dunia ini, aku mendapatkan banyak alat baca
terhadap fenomena dunia sekelilingku. Ketika ada fenomena kekerasan
terhadap seorang istri, ketika ada penyiksaan TKW, ketika ada perempuan
cantik yang dijadikan komoditas dan juga banyak hal…… Yah..
lumayan..aku bisa mencoba membacanya dari berbagai prespektif…

 

Btw,…
secara personal.. perempuan yang mampu mempresentasikan sebuah
keyakinan Feminis menurutku saat ini menjadi jauh lebih sexy disbanding
dengan perempuan yang tidak berani, bahkan tidak mampu, atau lebih
parah lagi tidak mengerti masalah-masalah demikian. Atau..(he..he..)
karena  sosok ‘Laut’ ku yang pernah duduk di Jok belakang itu ternyata  seorang Feminis….? Ah…. Selalu saja.. begini… aku selalu saja berniat memasuki dunia idealis dengan motif romantis…. Btw.. sah-sah saja kan…? He….he.. lagi –lagi gak ada Revolusi tanpa Cinta..

Mampir ke sini yah……

02
Mar

Episode Penculikan Hanung

Hanung_sendiri
Jam 19.45 aula ‘Gedoeng Moehammadijah
di Jl KHA Dahlan 103 sudah penuh dengan peserta “Dialog dengan Hanung”.
Undangan yang disebar kurang dari 24 jam sebelum acara berlangsung ini,
tenyata cukup ampuh. Padahal hanya via SMS dan Yahoo Messenger, bisa terkumpul audience sekitar 120-an orang.

Pak Budi Setiawan, ketua Lembaga Pustaka Informasi (LPI) PP Muhammadiyah sudah berada di ruangan bareng
anak-anak website. Mbak Trias, sekretaris PP Aisyiyah, juga sudah
berada di ruangan bersama putra-putrinya. Demikian juga mBak Evi, Ketua
PP Nasyiah sudah siap di ruangan bersama mBak Wiwit, Sekjen PP Nasyiah,
dan juga aktifis Nasyiah lainnya. Aktifis tingkat pusat  Muhammadiyah
ini bercampur dengan peserta dialog yang berasal dari anak-anak muda
Muhammadiyah, anak IMM, IRM, mahasiswa yang mengaku dari UGM, UNY, UIN,
UMY, UAD, STIKES Aisyiyah, siswa SMA Muh, Santri Mualimin dan Mualimat
dan juga Musrif dan Musrifahnya. Ternyata, banyak dari mereka yang
membawa teman-teman mereka untuk ikut datang, ngakunya sih teman kost
mereka, adik atau saudara mereka (Karena banyak yang tanya
sebelumnya….njajak teman boleh nggak……)

   

Jam 19.50 Hanung
Bramantyo datang di gedung yang berdiri tahun 1925 ini dengan dibonceng
motor, menembus hujan rintik-rintik. Di gerbang dia disambut Pak
Budi dan Mas Iwan (orang LPI juga). Sesaat hanung terbelalak melihat
keramaian di aula malam ini. “Wah tak fikir cuman sepuluh orang …”
demikian kira-kira ungkapan Hanung ketika masuk sambil melepas sepatu
sebelum ikut duduk lesehan. Ternyata dia nenteng bungkusan roti terang
bulan yang dia siapkan sebagai snack
pertemuan malam ini. Dia fikir hanya akan bertemu sekitar sepuluh orang
malam ini. He..he…sukseslah skenario kami menodong Hanung bertemu
komunitas muda Muhammadiyah malam ini.

   

Setelah sambutan sebentar dari Pak Budi yang juga Ketua Takmir Masjid Gedhe Kraton
tersebut, Hanung mengawali dari cerita yang mungkin pada dasarnya mirip
yang di tulisnya di Multiply-nya. Tentang motifasinya, tentang
bagaimana dia menekankan beda novel dengan film dan bagaimana  dia
menemui kesulitan-kesulitan dalam penggarapannya. Termasuk mencari
sosok  Fahri yang dia akui sangat sulit. 

   

Rupanya, audience
malam ini tidak sabar untuk memberondong Hanung dengan berbagai
pertanyaan. Ketika sesi tanya jawab dibuka, peserta menyambutnya dengan
antusias untuk menanyakan apa yang mereka ingin tanyakan. Mahendra,
yang jadi moderator malam itu terpaksa memilih beberapa penanya saja,
dengan (tentu saja) mengecewakan banyak yang ingin bertanya.

   

Diantara
pertanyaan yang terungkap adalah pertanyaan mengapa di Film itu
dianggap mereka kurang Islami. Ada yang bertanya dimana religiusitasnya
karena lebih banyak cerita cintanya. Ada yang  menanyakan tentang mengapa di Film itu ada adegan shalat Aisa di
Rumah Sakit yang tidak melepas cadarnya (menurutnya diwaktu shalat
cadar harus dilepas).
Ada
yang menanyakan juga tentang mengapa dengan orang Kristen kok Fahri
yang muslim saling berjawab salam (Menurut pemahaman penanya, ini tidak
boleh). Dan lagi-lagi banyak yang menyisipkan pertanyaan yang (mungkin)
membuat Hanung gemes :  Kenapa kok Filmnya beda dengan Novel……( ha..ha.. banyak yang bandel ternyata..padahal udah diwanti wanti sejak awal……).

   

Hanung
kembali menegaskan bahwa dia tidak memfilmkan Novel. Dia juga
menegaskan bahwa Film adalah sebuah media, dan jangan dianggap sebagai
sebuah (akhir) pencapaian. " Jadi kalau ada pesan di Film, mari kita
cari pembandingnya dari pesan Film yang lain" ungkapnya. Walaupun
begitu,   Hanung  tetap mengatakan bahwa bila penonton masih mau membanding-bandingkan Novel dengan Filmnya silahkan saja.

Sempat
juga dia menyayangkan dengan banyaknya yang nonton bajakan.. dan
kemudian mencacat filmnya. Dengan setengah bercanda dia mengatakan
bahwa menonton bajakan adalah mendholimi dirinya….”Jangan, karena habis nonton bajakan terus menghasut kiri kanan, ojo nonton Filme elek…..” Sukurlah,
dari para penonton banyak yang membuat pengakuan kalau mereka juga
menonton Filmya langsung di bioskop. (Walaupun ternyata banyak juga
yang  menonton bajakan….wah…payah….).

   

Pengakuan Hanung
Hanung
sempat membuat pengakuan bahwa dia dengan filmnya biasanya memiliki
keterkaitan dengan pengalaman hidupnya. Termasuk mengapa di Film
Catatan Akhir Sekolah ada nama kepala sekolah yang bernama Kastolani (
he..he. buat anak Moehi Jogja sebelum angkatan 2000 pasti ngerti beliau
siapa….).

Yang
menarik, malam ini Hanung membuat pengakuan kalau tidak pernah lagi
menonton Film Ayat-Ayat Cinta secara utuh. Dia mengaku tidak kuat
melihatnya. Ada pesan dalam Ayat-Ayat Cinta yang sangat personal dengan
dia, yaitu  tentang bagaimana dia harus kehilangan dan berpisah dengan
orang-orang yang sangat dia cintai. " Saya harus
menghadapi sendiri, (bahwa) cinta dan perasaan untuk memiliki itu
berbeda" ungkapnya.  "Tidak sama…!" ( hik ..hik…). Ternyata ada
kisah, disaat dia menyelesaikan Ayat-Ayat Cinta, ada orany-orang
tercinta yang meninggalkan dia. " Inilah bagaimana saya harus bertemu
bentuk Sabar dan Ikhlas,….." . Ungkapnya seakan ingin mengingatkan
kita dengan adegan ketika Fahri dipenjara ( Pada saat Hanung mengatakan
ini, tepuk tangan menggema di Aula ….).

Tentang
pesan Islam, menurut Hanung dengan Film ini Hanung ingin menjawab
sebuah gambaran Islam yang sering dilecehkan oleh orang bukan Islam.
Inilah bagian Islam menurut Hanung. Hanung menyatakan dia ingin
menampilkan bahwa Islam tidak hanya agama yang mengedepankan Jihad
dengan pedang dan bom, namun sebagai agama yang mengedepankan Cinta.

   

Minta Dukungan untuk Ketika Cinta Bertasbih
Diakhir
acara, sekitar jam 22.00 Hanung mohon doa restu agar Novel Kang Abik
selanjutnya, Ketika Cinta Bertasbih, bisa diserahkan kepadanya. Hal ini
Hanung katakan ketika menanggapi usul salah satu peserta yang meminta
Novel itu juga difilmkan. Kata Hanung, bila dia mendapatkan Novel itu
sebagai project Film selanjutnya, ini akan menjadikan dia menambal
kekurangannya yang pernah dilakukan di Ayat Ayat Cinta. " Saya
benar-benar ingin shooting di Mesir…" ungkapnya, sambil mengenang
kegagalannya mendapat kesempatan shooting di Mesir.

Selepas
acara Hanung berfoto-foto dengan anak-anak, dengan Pak Budi yang juga
guru Drum Band PMY, kelompok Drum Band yang diikuti Hanung  ketika
masih sekolah di SD Muhammadiyah Ngupasan 1-2. Malam itu ternyata
datang juga seorang  guru Hanung ketika di SMA Muhammadiyah I
Prambanan.  Diujung pertemuan, Anak-anak web  mendapat kenang-kenangan
coretan Hanung di Kanvas dengan tulisan ”Gurumu adalah diri kamu sendiri, Sahabat setia kamu itu waktu, Rumah kamu adalah ilmu”.

—————————————————————————————————————————————
Bagi
saya, ketika ada orang dengan kreativitasnya menjelek-jelekkan Islam,
maka kemudian itu saya anggap sebagai sebuah otokritik. Kecuali dia
terang-terangan menyerang saya. mengebom saya, menyerang agama saya,
sampai kemudian terjadi pertumpahan darah. Maka saya harus membela.
Kalau dia mengeluarkan tantangan dengan sebuah wacana, dialog, karya.
Maka saya harus menyambutnya dengan sebuah karya, sebuah dialog. (Hanung Bramantyo)
—————————————————————————————————————————————-

Foto - fotonya disini…………….

28
Feb

AAC Benar Benar Filmnya Hanung !

N655611297_420953_3340
Begitu duduk dan melihat Screen, aku langsung  “yakin se-yakin yakinnya”  kalau
ini Filmny Hanung Bramantyo. Dimana nya coba…? Yah.. tentu saja di gaya
‘candaan’ awal cerita Film di Flat Fahri, ketika Maria masuk Flat dan
kemudian Saiful yang bercelana ¾ harus menariknya ke bawah menutupi
dengkul, atau ketika “Deni Adiswara” yang masih bertelanjang dada,
nekat masuk ruangan kemudian di harus ditutupi sarung. Kalau mo
diartikan secara ‘berat’ ini khas banget dengan gaya Hanung
mengkomunikasikan tentang aturan-etika-kepantasan (baca:
Syariat-Akhlaq) dengan khalayak awam. (Teringat bagaimana gaya Aming di
Get Married yang mengingatkan harus shalat kepada teman temannya yang
main kartu, atau bagaimana seorang Nirina seorang anak SMA berjilbab
ketika sekolah dan ketika dirumah jilbab dibuka , dan rambutnya
berwarna-warni). 

Memang, kerasa beban Hanung
untuk membawakan Ayat –Ayat Cinta memenuhi ekspektasi semua orang. Dan
menurutku yang belum baca Novelnya, cukup berani juga Hanung mengambil
resiko dengan pilihan pilihan yang tidak mudah. Bagaimana kemudian dia
memilih gaya ke-Islaman yang cenderung Populis, Inklusif… bukan
eksklusif atau ketat.Sedangkan disisi lain, Hanung cukup berani
menampilkan secara visual dan verbal bagaimana pengalaman rohani
seorang yang beragama Kristen Koptik menjadi Islam (yang di semua
sinetron Religius TV menurutku tidak ada yang berani). Dan … mengambil
posisi tengah jangan dianggap sebagai sebuah pilihan mudah dan moderat,
karena bagiku mengambil posisi tengah adalah posisi yang paling ribet
dan banyak kena fitnah. Karena dalam kenyataannya, akan lebih mudah mengambil posisi ekstrim. (Teringat
nasehat seorang teman.. mengambil posisi ektrim itu cukup memakai
energy dan fikiran, tetapi mengambil posisi tengah itu memakan energy,
fikiran dan juga satu hal…” hati”…). Btw.. bukankah symbol keagamaan
juga sudah sering dipakai di Film Hollywood…? Di Kite Runner.. bahkan
dipertontonkan bagaimana Talliban merajam seorang perempuan….

Aku
tidak ingin berkomentar banyak tentang jalan ceritanya. Toh aku belum
baca Novelnya,.. (lagi mo baca..barusan dikirimi Gindah), namun memang
benar kata beberapa orang..kadang ada alur logika yang sulit dimengerti
bagi penonton. Tapi, aku fikir ini lumrah untuk
sebuah Film berbasis Novel….ketika aku nonton Golden Compass pun harus
mengerinyitkan jidat untuk memahami setting dan isitilah yang ada.
Pengalaman juga terjadi ketika nonton Bourne Supremasi, Identity dan
Ultimatum. Ketiganya juga membutuhkan waktu untuk adaptasi dengan
setting, nama pemain dan Istilah. (Hari Potter juga sama….). 

Akhirnya….,
Salut buat Hanung…., sudah berani mengambil inisiatif dengan Ayat Ayat
Cinta ini. Mungkin ada baiknya kalau Film ini mengambil satu Fokus,
karena dalam Film ini tampaknya Hanung mengambil dua Angle….yaitu kasus
persidangan Fahri dan Kasus bagaimana Penikahannya yang ‘ribet’.  Sayang..
angle pernikahannya tidak bisa seimbang dengan angle persidangan. He..
ibarat naik gunung….kita diminta naik gunung dengan dua puncak, yang
maksud hati puncak pertama harusnya lebih rendah daripada puncak kedua.
Namun dalam Film ini,.. klimak justru tinggi di puncak pertama (kasus
persidangan).

Oke…, terakhir (lagi)..
tontonlah film ini seperti menonton Film Batman, atau Golden Compass
yang tidak peduli dengan setting ruang dan waktu dimana ini terjadi.
Menurutku akan jauh lebih nyaman begitu daripada masih berharap
menempelkan cerita pada Mesir saat ini. Karena, banyak
gambar yang diambil di ruangan, close up atau memilih menghadap
kelangit. (Tapi … kenapa ini semua terjadi….sudah diterangkan di
blognya Hanung…..).Kata Akhir : Film ini bagus.. berani dibuat dan berani memasuki wilayah perdebatan…..     

24
Feb

Novel Vs Filmnya: Harus Beda

Film ayat-ayat Cinta
berhasil membangun ruang dialog antara Islam (dalam wujud normatif,
histories, relitas kekinian) dengan khalayak, siapapun itu. Mau
dimaknai Dakwah ala Hanung, mau dimaknai tafsir Hanung atas
religiusitas, bukan masalah. Dan dalam komunikasi antara karya seni dan
penikmatnya, film Ayat Ayat Cinta juga membuka ruang diskusi baru
tentang bagaimana mengajak khalayak belajar memebedakan antara Film dan
Novel.

   

Sempat,
aku mendapat kesempatan wawancara via telpon dengan Andrea Hirata untuk
berita website Muhammadiyah, ketika ada penandatanganan Film Laskar
Pelangi dengan Miles Production dan Mizan Cinema. Waktu itu ada
pernyataan Andrea Hirata yang kuranglebih mirip ketika kutanya tentang
potensi perbedaan antara Film dan Novelnya. Andrea menjawab begini :

   

 Menurut Andrea, dia termasuk orang yang tidak setuju kalau Film sama dengan buku. ” Seperti Film English Patient yang ngetop
karena berbeda dengan buku” katanya. Namun Andrea mengakui adanya
presepsi khalayak bahwa buku yang difilimkan akan berpeluang jelek.
Padahal menurutnya kalau Film harus sama dengan buku akan menghilangkan
potensi besar sineas.”Tidak perlu sama, asal tidak menghilangkan Valuenya” terangnya. ” Sineas bisa bebas..misal menceritakan Ikal dewasa dulu, baru kemudian flash back menceritakan ikal kecil” .

   

Begitulah
Andrea Hirata mencoba mengajak pembaca Novelnya untuk tidak menilai
Film Laskar Pelanginya nanti. Belum lagi masalah latar belakang sang
Creator. Setiap Creator (Penulis Novel dan Sutradara) pasti memiliki
latar belakang sendiri –sendiri yang secara personal menjadi miliknya
sendiri. Masing –masing mereka memiliki sejarah hidup sendiri, bacaan
sendiri, trauma hidup sendiri terlepas juga kepentingan sendiri. Jadi
bila Kang Abik membangun Fahri jadi sosok sempurna, sedangkan Hanung
membangun sebagau sosok Rapuh dan mudah bingung itu hal yang
wajar-wajar saja.

   

Ada
kritikan dari seorang yang mengaku ’ikhwan’ tentang Film ini (sayangnya
dia nontonnya via barang haram… VCD Bajakan……Busuk !). Dia
menilai bahwa seorang Fahri ala Hanung Bramantyo tidak mencerminkan
ikhwan sama sekali. Konon katanya, tidak mungkin seorang Fahri yang
Mahasiswa Al Azhar, yang Pandai Ilmu Agama bisa serapuh itu dalam
mengarungi hidup….Terlepas dari realitas yang terjadi aslinya di
kalangan para Ikhwan tersebut, bukankah sah-sah saja kalau Hanung
membangun profil seorang ’Ikhwan’ adalah sosok pencari yang kadang
rapuh, bukan sosok malaikat yang tanpa Emosi….? Mungkin, dalam
konteks lain,  kita bisa mencoba membandingkan
Sirah Nabi Muhammad tidak hanya dari penuturan kalangan dalam Islam
saja, namun bisa kita buka karya Karen Amstrong yang juga menampilkan
Sosok Rasulullah adalah sosok manusia yang Agung karena kemanusiaannya.
Sosok yang masih tetap punya rasa bimbang, kesepian, cemburu dalam
kehidupannya. Keluarlah sejenak dari kotak yang selama ini kita
huni…., lihatlah halaman rumah orang lain dan coba berdialoglah
dengan realitas……..Kalaupun jalan ke surga kita sudah benar, apa
tidak mungkin ada jalanlain ke Surga juga…?

 

Kembali
ke masalah media Film dan Novel. Komentar Andrea Hirata diatas juga
mengena sekali. Jangan hilangkan potensi besar Sineas untuk membuat ide
yang ada di Novel itu menjadi besar dengan cara dia. Kasus English
Patient menurut Andrea bisa sebagai contoh.  Masalah
serupa juga pernah terjadi pada Film Gie. Gie yang sudah menjadi
legenda Indonesia ini ketika diangkat menjadi Film banyak menuai
kritikan juga. Dari aktor yang terlalu ganteng, hingga setting yang
kurang pas dengan kenyataan, menjadikan kita tidak puas disana-sini.

   

Masalah
utama sebenarnya adalah kecerdasan penonton dalam mendudukkan segala
sesuatu. Pertama, media yang berbeda. Media Audio Visual membuat kita
tidak leluasa membayangkan sesuai dengan presepsi kita, sedangkan media
Novel akan memberikan keleluasaan kepada pembaca untuk membayangkan
vusialisasinya. Dalam hal ini kita tempatkan Hanung Bramantyo sebagai
seorang pembaca juga, yang memiliki bayangan visualisasi sendiri,
berdialektika dengan nilai dan referensi yang dia miliki sendiri, dan
kemudian berkomunikasi dengan kepentingan di kanan kirinya, terjadi
’dialog’ juga antara dia, kompetensinya serta biaya dan lahirlah Film.
Sehingga adalah hal yang sangat logis terjadi ketika Film ini menjadi
sangat berbeda dengan presepsi pembaca, termasuk saya.

   

Dalam sebuah
pelatihan (ESQ dsb…), para instruktur kadang harus bekerja keras
untuk membongkar presepsi peserta pelatihannya sebelum mencoba
mengkomunikasikan pengetahuan dan nilai yang akan dia dialektikakan
kepada peserta , yang harapannya di akhir pelatihan akan terbangun
presepsi baru tentang realitas hasil dialektika antara presepsi awal
peserta pelatihan dengan ’sesuatu’ yang berasal dari dia. Beda
instruktur, beda presepsi. Dalam kasus menonton Film dan membaca Novel
juga sama, audience dihadapkan kepada dua instruktur yang berbeda,
penulis Novel dan Sutradara Film. Entah itu Andrea Hirata dan Riri
Reza, atau  Kang Abik dan Hanung Bramantyo. Atau antara Hamka dan Asrul Sani dengan Dibawah Lindungan Ka’bah.

   

Selamat membaca dan selamat menonton. Jadilah bagian kebangkitan Sastra dan Sinema Indonesia.

   

( Ditulis dengan tetap belum nonton Film Ayat Ayat Cinta….he.he..)

Btw, mampirlah kesini : Layar Cerita

21
Feb

Krisis Ayat Ayat Cinta

   

W3_1024Hari
ini aku coba memasukkan kata kunci ‘Film Ayat Ayat Cinta’ kedalah
google search. Motifku, aku ingin melihat masih antusiaskah khalayak
menanti Film ini dirilis secara resmi di Bioskop setelah perjalanan
panjang Film ini ‘lahir’ dan harus berdialog dengan kenyataan. (Buat
yang sudah membajak…. dan yg nonton bajakan……terserahlah…)
 

Sebelumnya. Aku berpresepsi, bahwa lahirnya Film Ayat Ayat Cinta adalah kelahiran perdana ‘bayi’ Film Budaya Posmo Islam Indonesia. Artinya sebuah Film hasil dialektika antara Islam Normatif, Realitas Posmo (Era Informasi, Keruntuhan Modernisme) dan Sejarah Indonesia.

Bayi ini bukan dalam arti bayi yang lahir natural, tapi ibarat bayi
hasil rekayasa genetika (yang harus lahir dan tidak daa alternatif
lain, akibat tuntutan jaman), sehingga menjadi hal yang lumrah jika
kemudian sejenak pasca kelahirannya akan menimbulkan ketidak puasan,
kontroversi dan banyak hal selain ekspektasi akan kesempurnaan dan juga
berbagai harapan melambung yang sebelumnya juga dibarengi suara suara
sinis dan ketidakpecayaan. Termasuk dengan kenyataan khas abad
informasi : Pembajakan….

‘Bayi’
ini menurutku bagaimanapun harus direkayasa untuk terlahir, karena
menghindari kelahirannya sama saja dengan menjadikan kita terlindas
dari realitas peradaban. Dan terlepas dari kelemahan dan kelebihannya,
Hanung Bramantyo harus diakui sebagai salah satu generasi yang berani
mengambil resiko untuk membidani kelahirannya….(Salut Mas
Hanung…..jalan terus..).
   

Film Islami,.. sesuatu yang sungguh menakutkan bagi sementara orang di kehidupan kosmopolit
dengan setting keadaan yang sangat berbeda dari keadaan ketika Islam
Normatif itu diturunkan di Makkah dahulu. Menakutkan bagi orang-orang
yang merasa terancam kalau Islam menjadi
kekuatan yang mengancam kepentingan mereka, seperti dalam kepentingan
ekonomi dan politik. Menakutkan bagi mereka yang menganggap (Sejarah)
Islam sebagai kekuatan sejarah yang pernah gemilang, pernah berwajah
berperadaban tinggi dan juga sempat berlumuran darah. Dan menakutkan
bagi generasi Islam sekarang yang takut kalau-kalau Film sebagai hasil
tafsir visual atas ‘kebaikan Islam’ ini berbeda antara presepsi
ke-Islaman satu dengan yang lain.

Mungkin kalau bicara strategi dakwah, film-film ‘Umum’ Dedy Miswar akan dianggap lebih baik
(baca : Islami) dibanding Film Ayat Ayat Cinta yang berniat berlabel
Islami ini. Artinya, Dedy Miswar akan lebih ‘lepas’ membuat adegan
berciuman, pakaian modern tanpa harus mempesoalkan berkerudung atau
tidak dan sebagainya karena dia tidak melabeli Filmnya dengan label
Islam. Sedangkan Ayat Ayat Cinta akan menuai hujatan banyak fihak bila
berani mengeksploitasi adegan-adegan dan casting tersebut, karena
presepsi penonton akan melihat ke symbol – symbol Islam Syariat.
   

Menurutku tidak ada yang salah dengan kontorversi ini. Semua realitas pemahaman ummat Islam Indonesia akan menemukan tema dialog dari keberanian Hanung Bramantyo membuat
Film Ayat Ayat Cinta ini. Sebuah karya seorang Muslim Indonesia yang
memiliki kompetensi membuat Film dan  akses terhadap modal  yang akan membawa Islam  Indonesia akan memasuki wilayah publik.

 

Akhirnya,
menarik untuk mengikuti resensi-resensi dari penonton Film Ayat Ayat
Cinta di blog-blog yang ada. Menyitir Filsafat Kuno Cina, disetiap
krisis pasti ada harapan,.. maka bila Film ini berhasil lahir dan
menghadapi kenyataan.. maka lahirah sebuah kenyataan dimana Islam Indonesia
akan berdialog dengan Realitas Posmo. Harapanku…. Teuslah mendebat film
Ayat Ayat Cinta.. dengan begini kita akan terbuka pintu dialog sehingga
akan membantu Ummat Islam Indonesia era pasca keruntuhan Modernisme  ini membangun Identitasnya sendiri.

 

Menurutku,
Islam tidak akan mati bila terus berwujud dialog antara Wahyu, Sejarah,
Kekinian, Manusia dan Alam…, jangan takut hasil akhir dialog yang tidak
akan mungkin memuaskan kita….takutlah kalau tidak mampu lagi
berdialog….karena Islam hanya akan menyisakan pedang, wajah-wajah
bengis dan klaim-klaim pembenaran

 

Note : Aku belum nonton,…termasuk yg bajakan….

17
Feb

So Would You Let Me Be

Aku kebagian jadi supir. Tanggal sudah harus berganti karena malam
sudah memasuki dini hari. Beberapa saat yang lalu aku terbangun bunyi
telpon dari teman yang membangunkanku untuk memintaku mengantar
temannya untuk ke solo, malam ini juga.

   

Bensin mobil diisi di pom bensin. Teman yang membangunkanku tadi diantar ke rumahnya.  Aku merasa senang saja bisa jalan-jalan malam
ini, karena memang tidurku tidak nyenyak. Mobil yang diisi 3 orang
perempuan dan 2 orang laki-laki termasuk aku. Dan yang aku kenal di
mobil itu hanya laki-laki di sampingku, yang janjinya mau jadi supir
sekembalinya nanti dari solo.

 

Kemudian
kehidupan berjalan dengan begitu cepat. Perempuan-perempuan di
belakangku layaknya para perempuan masih ngobrol ngalor-ngidul. Aku
hanya mendengarkan dan memaklumi itu semua, dengan terus mengalun So Would You Let Me Be nya d’cinnamons dari Sony Ericson K608i -ku.

   

we’ve get along together
i should have known
you’re the best that i can love
til now it’s hard for me to face it
why didn’t we meet each other soon

 

…………………

   

Tak
ulang-ulang lagu itu. He..he.. aku hanya berani mendengarkan dan terus
berkosentrasi menyetir, walau jujur, kadang teringat wajah Laut, salah
satu personal d’cinnamons yang menurutku : cantik. Tiga perempuan di
belakangku masih terus bercerita tentang berbagai hal yang dialaminya
sepanjang siang, dan laki-laki di sampingku sudah tertidur. Halah….anak
ini memang tukang tidur….

   

Tapi,
ketika masuk Klaten, aku merasa kehilangan satu suara. Suara perempuan
yang di tengah. Yah.. perempuan yang ditengah. Aku berusaha melihat di
spion tengah mobil. Bodoh…, mana bia kulihat tiga perempuan itu dalam
gelap seperti ini. Yang terlihat hanya cahaya lampu mobil di belakang
mobil yang kusetir ini yang memenuhi spion.

   

Ya
udah….., aku kembali konsentrasi menyetir. Aku masih membayangkan wajah
Laut D’ Cinnamons yang menurutku cantik. Kacamata dengan frame item
tebal, dan gurat  wajah yang bagiku punya karakter khas bagiku seksi. Dan masih terus diiringi So Would You Let Me Be yang memang hanya ada satu lagu itu di play list HP ku.

   

Kartosuro
masuk. Dua perempuan masih bercerita banyak di belakangku. Tapi kok aku
ngerasa kehilangan suara perempuan yang duduk ditengah. Serius, ..aku
jadi pengen sekali perempuan yang ditengah itu bersuara. Aku sudah
tidak bisa konsen menikmati So Would You Let Me Be nya d’cinnamons. Bahkan wajah Laut yang terbayangpun sudah mulai berubah.

   

Eit…!
Iya… aku dah mulai berfikir kalau perempuan yang ditengah, itu adalah
Laut. Perempuan itu berkacamata. Yah dia satu-satunya perempuan
berkacaata yang ada di mobil ini dini hari ini. Tapi aku jadi bimbang,
wajah Laut yang kusama-samakan dengan dia, atau wajah dia yang
kusama-samakan dengan Laut. Sudahlah.. aku kembali konsentrasi menyetir
menembus

kota

Solo. Tujuan kami malam ini adalah sebuah hotel di depan kampus UNS.

   

Lima


belas menit kemudian setelah sedikit berdiskusi dengan salah satu
perempuan yang masih belum tertidur kami menemukan hotel kecil itu. Dan
setelah cek in, dan mengangkat barang barang dari mobil. Tiga perempuan
itu berpamitan untuk masuk kamar sebentar, kami dua laki-laki ini menunggu di loby kecil hotel sekitar

lima

belas menit.

Lima

belas menit kemudian dua perempuan masuk kembali kemobil, dan satu
perempuan berkacamata tadi ditinggal. “Makasih ya Rip……” kata perempuan
berkacamata tadi.

   

Halah….!
Kenapa aku jadi ngelayang mendengar kata-kata itu. Sepertinya aku
pernah ngerasa seperti ini sebelumnya. Serius….aku yakin perempuan yang
didepanku ini bukanlah Laut D’ Cinnamons, walaupun aku belum pernah
ketemu dia. Dan aku yakin, perempuan di depanku ini bukan perempuan
yang selama in sudah kurelakan energi hidupku untuk terkuras habis
untuknya, bahkan sampe sekarang ketika dia tidak disisiku lagi.

      

Tapi.. rasa ini….
Ha..ha..,
kayak mimpi, jam dua dini hari. (Btw.. mosok mimpi ngerti jam..he..he).
Udahlah.. aku kembali masuk mobil dan kembali menyetir kea rah jogja.
Kami harus sampe sebelum subuh, karena besok pagi ada liputan yang
harus ku kejar. Ajaib…aku menyetir mobil ini dengan bersemangat dan dan
yang paling luar biasa adalah : Aku tidak ngantuk….!

   

your eyes says more than anything
that really means to me
so darling would you now
would you set me free

   

He..he.. tak pikir aku udah gak mungkin lagi ngerasain rasa ini……

16
Feb

Perempuan, Keluarga dan Kehormatan

Logan_lerman_beatrice_bush_skye_mccole_b
Laki-laki hidup di sekeliling
entitas-entitas yang bernama perempuan, keluarga dan kehormatan.
Perempuanpun dalam sudut pandang terbalik sama. Namun, bagaimana
seandainya itu terjadi pada veteran perang beranak tujuh yang ditinggal
mati istrinya ? Itu mungkin yang ingin dishare Roland Emerich  kepada penonton dalam The Patriot (2000). Film yang dibintang Mel Gibson dengan setting perang kemerdekaan bangsa Amerika melawan tentara Inggris ini  cukup menarik dalam menggambarkan konflik entitas itu dalam diri laki-laki.
   

Awalnya
digambarkan Benjamin Martin, seorang veteran perang ‘Milisi Kerajaan
Inggris’ melawan Perancis-Indian yang kembali kepada keluarganya,
setelah istrinya meninggal dengan anak tujuh yang harus diasuhnya. Saat
itu, dia sudah menadi seorang nasionalis yang mengiginkan sebuah Bangsa
Amerika yang Merdeka. Namun dia bersikeras untuk tidak memilih jalan
perang, walaupun hasil votting memilih jalan perang kepada King George,
raja Inggris.

   

Ada
adegan cukup menarik dalam awal film ini, dimana dia digambarkan
sebagai sosok laki-laki yang merelakan dirinya dianggap ‘pengecut’ oleh
masyarakat dan negaranya, demi menjadi seorang bapak yang baik. Bapak
yang harus menjaga anak-anaknya karena ibunya sudah meninggal. Bahkan
dia harus menahan emosi ketika anggapan pengecut datang dari anak
tertuanya yang bergabung dalam tentara continental ( tentara pembebaan
amerika)  dan juga anak keduanya yang
menganggapnya tidak berdaya melihat kakaknya tertangkap pasukan
Inggris. Dia ungkapkan dalam satu kalimat “ Kelak kalau kamu punya
keluarga akan tahu..” . hik….

   

Adegan
perang dan heroisme bangsa Amerika sih bagiku biasa saja. Seorang
veteran perang yang harus terjun perang lagi dan menghadapi seorang kolonel
Inggris yang bengis dan brutal. Tergambar pula bagaimana liciknya sang
Kolonel Milisi Benjamin Martin membodohi Jendral Inggris. Dan bagaimana
konflik antara Jendral Inggris yang membela mahkota kerajaan dengan
Koloniel Bengis yang menghalalkan segala cara, termasuk membakar semua
warga

kota

kecil dalam sebuah gereja ketika mereka kebaktian.

   

Satu
adegan lagi yang menarik adalah ketika Susan, putri terkecil Benjamin
Martin, yang merasa dendam denga sang ayah yang meninggalkannya sejak
kecil untuk berperang. Seakan, ada pembenaran universal bahwa seorang
anak kecil akan sulit mengerti dunia orang dewasa yang membenarkan
dirinya meninggalkan keluarga demi keyakinam, idealisme, kehormatan.
Adegan yang menurutku keren ketika Susan ngambek tidak mau ngomong
dengan sang ayah…, dan ketika ditinggal sang Ayah berangkat berperang..
akhirnya dia berteriak, berlari dan menangis…. “ Ayah.. jangan pergi.
Aku akan mengatakan apapun yang kamu mau…. Aku akan jadi apapun yang
kamu mau….”

   

Suatu
saat ada dialog antara Benjamin Martin dan Gabriele, anak tertuanya,
ttg apa yang membuatnya berubah ? (Tergambarkan dulunya Benjamin Martin
adalah seorang tentara yang juga brutal dan bahkan pernah menjadi
‘penjahat perang’ karena pernah melakukan mutilasi kepada musuhnya yang
sudah menyerah dalam perang melawan Perancis-Indian sebelumnya).
Benjamin Martin menjawab, yang merubah dirinya adalah istrinya, yang
telah menjadi ibu dari ketujuh anaknya. “ Kadang ada saat aku tidak
bisa berkutik di depan ibumu” kenang Benjamin. Satu lagi…. Laki-laki
yang dikala mudanya sudah memperjuangkan mimpi, kehormatan, atau
mungkin sekedar petualangan, ternyata akan merasa  lengkap
ketika dia memiliki perempuan yang mampu membuatnya tidak bisa berkutik
dan anak-anak yang membuat dia punya alasan untuk pulang.

—–

Ditonton lagi tadi malam, di trans TV